
"JJ dengerin aku." Mark berbicara lembut kepada JJ.
"Aku udah dengerin semua maumu Mark, aku hanya mau hubungan kita diketahui banyak orang."
"Aku tidak bisa begini JJ. Nanti kalo ada yang tahu lalu kau dan aku terlibat skandal pasti comeback akan terganggu." Mark berusaha menegaskan kepada JJ. JJ melepaskan pelukan dari tubuh Mark, JJ mencebikan bibirnya, Mark tersenyum melihat tingkah JJ. Mark langsung mengelus pipi putih JJ, "kenapa aku begitu gemes banget sama kamu sih." Ungkap Mark.
JJ langsung berubah mood yang tadinya ngambek sekarang tersenyum manis didepan Mark, "kamu itu pasti punya cara buat aku untuk gak marah lagi."
"Aku itu yang selalu tau kamu JJ."
Saat Mark mendekat dan hampir mengelus pipi JJ, JJ menghindar dan mulai menjauh, "kenapa?" Tanya Mark kepada JJ.
"Aku jadi merasa kamu berubah Mark."
"Kamu sudah berkata dari kemarin hanya itu yang honey ungkapkan. apa tidak ada yang lain?" JJ menggeleng, Mark membuang nafas pasrah memang JJ adalah tipe orang yang akan meminta penjelasan jika pertanyaan tidak pernah terjawab. Mark tidak akan pernah lelah untuk selalu menyakinkan JJ bahwa hati Mark hanya milik JJ.
Mark membawa tubuh JJ kepelukannya, "seperti ini udah cukup?"
JJ menatap wajah Mark yang sedang berada diketenangan batin, JJ tersenyum masih percaya bahwa Mark tetap miliknya. "Aku akan tetap berusaha percaya sama kamu Mark." Setelah beberapa menit berpelukan, Mark melepaskan pelukannya.
"Kamu kembali gih keruang pelatihan sepertinya satu grup udah nunggu kamu." JJ menggeleng tubuhnya masih membutuhkan kehangatan dari tubuh Mark.
"Aku gak mau jadi alasan kamu terlambat berlatih JJ." Ungkap Mark.
"Kamu itu bukan jadi alesan aku jadi males Mark. malah kamu itu alesan aku bertahan diagensi ini."
__ADS_1
Mark menyentuh bahu JJ, "udah sana sayangku." Karena diapnggil sayang oleh Mark, JJ senyum senyum sendiri plus salting. JJ keluar dari studio Mark dengan senyum yang tak pudar.
Mark baru saja keluar dari ruang pelatihan, Mark menenteng tasnya kesamping bahu. Manager Yoo berlari mengejar Mark.
"Markkkk." Teriak manajer Yoo
Langkah Markpun terhenti. Mark menoleh dan memutar tubuhnya kearah sumber suara. "Kenapa?" Tanya Mark kepada Manajer Yoo.
Manajer yoo berhenti berlari dan langsung mengambil nafas banyak banyak. Punya tuan seperti Mark ini sangat menyusahkan menurut Manajer Yoo. "Kamu udah tau kalau besok ada jadwal konser?"
"Hah? konser?" Manajer Yoo menganguk membernarkan.
"Kenapa Manajer tidak memberitahu aku dikemarin hari?" Nada suara Mark kesal.
"Aku terlalu pusing karena jadwal comeback mendatang, aku harus mengatur jadwal kamu juga apapun yang akan kamu pakai." Lanjut Manajer Yoo.
"Lalai sekali Manajer." Geram mark.
"Itu juga bukan semuanya salah saya. kamu kenapa enggak melihat buku jadwal bulan ini. aku memang manajer mu tapi bukan semuanya jadwal harus diingatkan saya." Manajer sepertinya sudah lelah dengan Mark.
Mark memperhatikan tubuh Manajer Yoo dari awal sampai akhir, benar sepertinya jika Manajer Yoo sangat lelah dan sibuk karena harus menjadwalkan beberapa kegiatan Mark.
"Aku akan pulang." Mendengar ucapan Mark, Manajer Yoo langsung memegangi tangan Mark. "Jangan lupa yah Mark. Jika kau lupa bisa jadi aku langsung dipecat."
"Tenang aja Manajer Yoo." Mark melangkah meninggalkan Manajer Yoo tersenyum lega, semoga Mark akan menepati janjinya.
__ADS_1
Mark baru merebahkan tubuhnya disofa apartemennya, ponsel Mark berdering. Mark mengapai ponselnya, tertera dilayar Mark bahwa oma Rose meneleponnya. Mark bimbang apakah angkat diangkat atau dibiarkan saja? Jika oma Rose telah menelepon Mark sepertinya ada hal yang penting. Mark masih ragu tapi pada akhirnya Mark tetap mengangkat telepon dari omanya.
"Halo oma." Mark menyapa terlebih dahulu.
"Mark! kenapa kamu belum membeli cincin pernikahan? pernikahanmu dengan Jennie sudah dekat dengan harinya. Kenapa kamu malah sibuk dengan pekerjaanmu!" Mark langsung diberondong banyak pertanyaan dari sang oma. Omanya ini tidak cerewet tapi kalau ada yang membuat oma kesal pasti oma akan langsung menjadi cerewet, sepertinya Mark telah membuat oma kesal, jarang sekali oma memarahi Mark.
"Oma tenanglah terlebih dahulu."
"Bagaimana aku bisa tenang Mark! Nanti jika pernikahanmu tidak ada tukar cincin pasti keluarga kita yang akan malu!" Kesal oma Rose. Rasanya Mark langsung ingin menutupi lubang telinganya.
"Iya baiklah oma, Mark pasti akan membeli cincin pernikahan."
"Kamu memang mengatakan itu dengan mudah Mark. Tapi kapan?" Sepertinya Oma akan terus menekan Mark jika tidak segera diberi jawaban.
"Oma aku memang ingin segera. Tapi jadwal aku dan Jennie sangat sibuk sekarang." Bohong padahal Jennie sudah banyak menyempatkan waktu sedangkan Mark sudah pasti lebih memilih JJ daripada beli cincin perniakahan. Mark memang benar benar tidak tau diuntung.
"Oma tau bukan masalah pada waktu tapi ketersediaan kamu Mark," "Kamu gak pernah bersedia untuk menikah dengan Jennie, begitu bukan?" Lanjut oma Rose.
Benar apa yang dikatakan oma Rose, Mark memang belum sepenuh hati menerima Jennie. Hati Mark masih ragu walaupun memang pernikahan itu dilandasi karena kesalahan Mark. Andai waktu itu Mark tidak mabuk pasti tidak akan terjadi hal buruk seperti ini. Buat apa disesali karena memang semuanya sudah terjadi.
"Maafkan aku oma." Ucap Mark lirih.
"Bukannya semua terjadi karena kesalahanmu Mark? kenapa kamu tidak rela?"
Guys info aja mungkin kedepannya Author tercinta kalian ini gak bisa up sesuai tanggal karena memang Author sedang ada masalah direal life. Patah hati terutama karena itu Author mau menata hati dulu. See you terimakasih telah mampir. Love You.
__ADS_1