Gagal

Gagal
69


__ADS_3

Jennie duduk seperti yang diperintahkan oleh MUAnya.


“Wah cantiknya calon pengantin.” MUA berusaha menggoda Jennie, ditanggapi senyuman saja dari Jennie.


“Mau make up tebal atau natural?”


“Natural saja, saya lebih suka make up tipis.” Jennie memang suka dengan make up tipis, terkesan lebih natural dan saat akan dihapus tidak terlalu bersusah payah karena memang tipis. Jennie dikantor juga make upnya tipis.


MUA itu mulai melukis kan banyak bahan untuk menjadikan wajah Jennie menjadi lebih cantik. Sekitar satu jam setengah make up tipis itu jadi, padahal cuman tipis tapi membutuhkan waktu banyak. Gabriel membuka pintu ruangan dandan.


Gabriel yang baru membuka pintu dan menatap kearah cermin langsung terpana dengan kecantikan dari kakaknya sendiri.


“Kakak sejak kapan cantik?” Gabriel baru nyadar kalau Jennie sangatlah cantik.


Jennie memberengut kesal, dasar adik laknat dari dahulu kala Jennie sudah cantik. “Kakak dari dulu udah cantik kamu aja yang gak pernah peka.”


“Tapi hari ini kakak bener bener kayak princess.” Jennie malah jyjyk sekali terlalu dilebih lebihkan.


“Dihhh kok jadi kakak kayak boneka mampang dong?”


“Aku bukan nyamain kakak sama boneka mampang tapi sama princess disney.”


“Bener kan kakak mu tanpa make up aja udah cantik,”


“Saya dengar anda juga calon idol yah? kamu pasti visual dalam grup, kamu juga ganteng.” lanjut MUA itu.


Gabriel mengangguk, “doakan saja semoga grup saya sukses.”



Jennie meremat jari jari tangannya, dari tadi Jennie tidak berhenti gugup. Jennie menoleh dimana Gabriel sedang duduk disofa dan menatap ponselnya, kakaknya gugup tapi mengapa Gabriel biasa saja.


“Gabriel.” Jennie mencoba memanggil Gabriel.


Gabriel menoleh, “ada apa kak?”


“Kamu tidak gugup?” tanya Jennie kepada Gabriel.


Gabriel terkekeh, “memangnya aku yang nikah? kenapa harus gugup.”


“Kakak gugup sekali, tolong dong bantu kakak ketoilet.”


Gabriel membantu mengangkat gaun milik kakaknya yang super duper megah, dipikiran Gabriel sedang bertanya tanya apakah tidak berat jika membawa gaun sebegitu besarnya?.


Ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan, “masuk.” ucap Jennie.


Orang yang mengetuk pintu itu masuk, “maaf kak acara akan dimulai sebentar lagi.” mendengar ini Jennie jadi tambah gugup

__ADS_1



Acara pernikahan akan dilaksanakan dua jam setelah ini, Mark masih sibuk didalam agensi menyiapkan comeback grup.


Manajer tergopoh gopoh masuk kedalam studio perekaman, “oii mark, dua jam lagi acara pernikahan mu, oma mu sudah menelepon menyuruh kamu untuk segera kerumah.” ujar manajer yoo dengan ngos ngosan.


Mark merebahkan bahunya disandaran kursi, “ou ayok lah Mark nanti oma mu bisa memarahi ku padahal kamu yang memang tidak mau menikah.”


“Aku belum mau melepas status lajang ku saja.”


“Mark, kali ini aku meminta kamu serius, acara pernikahan kamu akan segera digelar gak ada waktu buat kamu untuk kabur.” ucap manajer yoo panjang lebar.


Mark membuang tatapannya yang tadinya kemanajer sekarang menatap jendela ruang studio.


“Aku akan membuat satu lagu terlebih dahulu nanti aku akan menyusul mu tolong jangan ganggu aku.” ungkap mark.


“Membuat satu lagu!?” manajer yoo kaget diwaktu yang mepet ini mark malah ingin membuat satu lagu, apa ide ide mark datang karena kepepet?.


“Kamu membuat lagu tidak sampai dua jam bukan?”


Mark mengangguk, “tenang saja akan aku percepat manajer.”


“Kamu yakin bisa selesai?” Mark kembali mengangguk.


“Baiklah kalau begitu, aku tunggu dikantin.” Manajer yoo berlalu meninggalkan Mark.


Ponsel Mark berdering, Mark tidak menoleh sama sekali keponselnya karena mungkin yang menelepon adalah omanya. Mark sama sekali belum rela kalau harus menikah secepat ini.


Dering ponsel masih menganggu kefokusan mark, dari pada dibiarkan, mark langsung mengangkat telepon tanpa tahu siapa yang menelepon.


“Halo ada apa oma?” Mark mengira bahwa sang oma lah yang menelepon.


“What! oma? aku bukan oma mu mark.” sentak sipenelepon.


Mark tentu tau pemilik suara ini, “maaf maaf JJ, aku tadi baru teleponan sama oma, dan ada sedikit kesalah pahaman.” mark berbohong lagian sudah pasti JJ tidak akan tahu kebenarannya.


“Oke aku percaya, Mark.” JJ diakhir memanggil nama Mark.


“Kenapa sweetie?” Mark mencoba mengoda JJ.


“Ishhh kenapa tiba tiba aku jyjyk yah karena digoda kamu.” terang terangan JJ.


Mark mencebikan bibirnya tapi JJ tidak akan melihat, “biasanya kamu suka dipanggil begitu.”


“Hari ini rasanya aku tidak ingin dipanggil itu.” tolak JJ.


“Ya sudah mau dipanggil apa? hubby? chagi? love? sayang? ayang?” sebelum mark melanjutkan mengoda JJ, JJ sudah berteriak.

__ADS_1


“Aahhhh tidak tidak jangan dilanjutkan Mark.”


“ Kenapa? kamu tidak suka?” tanya Mark kepada JJ.


“Bukan tidak suka tapi kamu terlalu lebay.” ungkap JJ.


“Oke oke, kamu menelepon ku mau apa?”


“Ayok jalan jalan Mark aku sudah bosan berada diasrama.” nada lebay keluar dari mulut JJ.


Mark menghela nafas kalau hari ini mana mungkin mark bisa, “maaf JJ sayangku tapi hari ini aku tidak bisa mengantar mu jalan jalan.”


“Kenapa?” nada suara JJ kecewa.


“Aku ada perlu.” jawab Mark.


“Ya sudah.” tanpa bicara panjang lebar JJ memutuskan telepon.


Mark menatap ponselnya, “aishhh dasar cewek susah banget ditebak.” kesal Mark.


Mark bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan studio.


Mark sampai dikantin netra Mark masih mencari seseorang, Mark mendapati manajernya sedang bersenda gurau dengan seorang staf wanita.


‘Cih dia player ternyata.’ batin Mark.


Mark melangkah mendekat dan langsung mengambil duduk disebelah manajer Yoo, “pacar manajer?” tanya Mark.


Manajer Yoo menoleh langsung kaget karena kedatangan mark, ‘bukannya tadi mau buat lagu? udah jadi? cepet banget gak ada satu jam.’ batin manajer yoo


“Mark? bukannya kamu masih sibuk distudio?” manajer yoo bertanya.


“Aku sudah selesai, ayo pulang.”


Manajer Yoo menatap perempuan yang ada didepannya dengan tatapan sedih, padahal bukan siapa siapa. “Nena aku akan kembali lagi.” ucap manajer Yoo.


“Oke manajer.”


‘Kukira hubungan manajer dengan wanita itu sepasang kekasih, tapi mengapa perempuan itu memanggil yoo dengan panggilan manajer?’ batin Mark.



Jennie menuruni tangga dengan tangan digengam oleh adiknya. Jennie masih saja gugup, padahal pernikahan ini mungkin bukan pernikahan impian Jennie.


“Sudah siap?” tanya Gabriel kepada kakaknya.


Jennie mengangguk siap tidak siap yah harus siap.

__ADS_1


Gabriel menuntuk Jennie untuk turun, para undangan bertepuk tangan ada juga yang terpesona dengan kecantikan jennie begitu juga dengan sang mempelai pria. Mark tidak bisa melepas pandang dari sosok perempuan yang sedang turun dari tangga. Bidadari sekarang turun tangga yah bukan turun dari kahyangan lagi.


__ADS_2