Gagal

Gagal
51


__ADS_3

"Kalo begitu ayok cepat masuk kemobil." Mark berkata dan langsung meninggalkan Jennie yang masih duduk dipinggiran tembok.


"Dasar cowok gak peka banget." Gumam Jennie lirih tidak terdengar ditelinga Mark. Jennie bangkit tanpa dibantu oleh Mark. Jennie membuka pintu mobil Mark sendiri, biasanya kalo ada cowok cewek yang mau keluar bersama pasti ceweknya dibukakan pintu oleh sang kekasih, ternyata itu tidak berlaku bagi calon suami istri ini. Jennie menatap kearah Mark yang sudah sibuk mengendarai mobil.


'Apakah aku bisa mendapatkan perhatianmu seutuhnya Mark?' Batin Jennie bertanya tanya.


'Semakin kesini jiwa ku menginginkan mu Mark' Batin Jennie.


Keadaan didalam mobil hening karena Mark juga tidak ingin berbicara kepada Jennie, Mark merasa masih canggung jika sedang bersama dengan Jennie. Mark juga berusaha membuat Jennie untuk sadar bahwa tidak ada jalan masuk untuk kedalam hati Mark. Jennie menatap kesamping dan tersenyum, Jennie akan mencoba menjadi pembuka percakapan agar hubungan mereka berdua tidak terlalu canggung.


"Aku dengar dari adikku bahwa kamu dan anggota grup NT sedang merencanakan comeback?" Tanya Jennie kepada Mark dengan senyuman yang tidak pudar. Mark yang sedang fokus menyetir, menoleh beberapa detik menatap Jennie. Mark mengerutkan kening 'jadi Jennie punya adik yang tau berita diagensi ku?' Mark jadi penasaran.


"Apa adik kamu seorang staf diagensi yang menaungi ku?"


Jennie menggeleng, "adik ku bukan seorang staf, dia seorang trainee yang baru diangkut untuk kontrak diagensi itu." Jawab Jennie.


"Seorang trainee?" Jennie mengangguk.


"Bentar bentar," Mark tampak tertarik dengan topik yang sedang dibicarakan. Akhirnya Jennie bisa membuat Mark berbicara banyak kepadanya dan melupakan kemarah saat oma Rose mengatakan bahwa JJ adalah wanita murahan. Semoga saja Mark melupakan kejadian itu.


"Bukannya yang tersisa hanya trainee yang akan didebutkan sebentar lagi? Trainee yang akan debut menjadi sebuah band." Lanjut Mark.

__ADS_1


"Yups benar sekali adikku disana bernama Gabriel mungkin semuanya mengenal Gabriel dengan nama Riel." Ungkap Jennie.


"Aku pernah mendengar nama nama itu tapi aku tidak pernah bertemu mereka."


"Gabriel mengatakan memang jarang sekali bertemu dengan seniornya, hanya beberapa idol yang pernah Gabriel temui,"


"Kau terlalu sibuk dengan kekasihmu" Lanjut Jennie dengan senyumnya. Mark menoleh sebentar kaget kenapa Jennie bisa tau tentang berita bahwa Mark dan JJ adalah sepasang kekasih.


"Kamu dengar berita itu dari mana? kamu tau aku berpacaran dengan siapa?" Tanya Mark was was.


"Aku mendengar dari Gabriel sendiri, sepertinya satu agensi sudah tau berita itu." Mobil yang dibawa Mark berhenti secara mendadak, perut Jennie hampir saja menghantam dashboard mobil jika saja Jennie tidak melindungi perutnya dengan tangannya.


"Maaf aku kaget mendengar penuturanmu."


Mobil kembali melaju sekarang keadaan kembali seperti semula canggung.


Jennie dan Mark keluar dari mobil, tidak lupa Mark memakai masker dan juga topi agar masyarakat tidak mengetahui keberadaan Mark. Jika sampai ketahuan pasti berita itu heboh dan membuat jadwal comeback akan terulur. Jennie melangkah terlebih dahulu, melihat banyak perhiasan yang dipajang membuat insting perempuan Jennie berkobar dan ingin segera membeli semua perhiasan itu, tapi Luna sadar bahwa uangnya tidak cukup untuk membeli semua perhiasan itu. Seorang pelayan datang mendekat kearah Jennie dan Mark.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu.


"Saya mau membeli cinci pernikahan." Sebenarnya Mark enggan mengucapkan kata pernikahan.

__ADS_1


Sang pelayan toko perhiasan itu tersenyum menatap calon suami istri itu, "baiklah ikuti saya." Mark dan Jennie mengikuti langkah pelayan.


Jennie dan Mark terdiam menatap banyak cincin yang memang sangat bagus bagus. Mark membawa Jennie beli disini karena memang sudah direkomendasikan oleh Oma Rose. Jennie terpana dengan keindahan yang dipancarkan dari banyaknya perhiasan.


"Kakak mau pilih cincin yang seperti apa? saya akan berusaha mencarikan." Ucap pelayan itu ramah. Mark menatap Jennie, Jennie juga menatap Mark. "Kamu mau seperti apa?" Tanya Mark.


Jennie menatap kembali perhiasan berjejeran, "Kamu punya ide?"


"Aku mau ngikutin mau kamu aja, buat apa aku sibuk mikirin cincin." Jika Mark berkata seperti maka pernikahan yang akan dilaksanakan tidak ada artinya. Jennie memaksa senyuman berusaha untuk tidak apa apa padahal dalam Jennie sangat sedih.


"Aku mau yang simple tapi indah kak." Ungkap Jennie. Pelayan itu tersenyum kemudian pamit untuk mencari cincin yang seperti keinginan Jennie. Saat menunggu pelayan itu menyiapkan cincin, Jennie berkeliling dahulu, mungkin Jennie hanya bisa memandang perhiasan itu sekarang tapi entah dihari kebesokannya apakah Jennie akan membawa satu dari perhiasan yang dipajang ditoko ini?


Mark juga mendekat dan sesekali menatap perhiasan itu, senyum Mark mengembang.


"Jen." Mark memanggil nama Jennie.


Jennie menoleh dan tersenyum baru pertama mendengar Mark memanggil namanya. "Kenapa?"


"Menurut kamu cincin ini bagus gak?" Tanya Mark sambil menoleh kearah Jennie. Jennie tersenyum apakah Mark akan membeli cincin yang ditunjuknya untuk pesta pernikahan mereka, Jennie kembali menatap cincin yang ditunjuk Mark, memang selera Mark bukan kaleng kaleng cincin itu tampak elegan dan mewah pas mungkin jika dipakai dijari Jennie.


"Cantik elegan dan megah desainnya." Jawab Jennie jujur.

__ADS_1


"Benarkah?" Mark begitu antusias membuat Jennie semakin mengembangkan senyumnya.


__ADS_2