
Liam menggeleng, "Kami para idol boleh berpacaran setelah tiga tahun debut, Agensi takut jika diawal tahun debut ada skandal yang bakal bikin merugi agensi." Ungkap Liam.
Jennie semakin menunduk, apakah hubungannya dengan Mark tidak akan terendus publik?. Jika terundus publik apakah kebanyakan fans Mark akan marah? Jennie takut duluan setelah membayangkan kemungkinan kemungkinan buruk lainnya.
"Tapi tenang kami sudah lebih dari 3 tahun debut." Ujar Liam.
"Tapi pasti fans kalian akan marah besar bukan?"
"Tergantung sih, tapi kalo kita diam diam posting foto dan mengkode kalo kita sudah punya pasangan, pasti fans akan tau dan memakluminya." Ungkap Liam.
"Ternyata jadi idol susah juga, untung aku memutuskan menjadi manajer daripada jadi idol, dulu sempat sih kepikiran mau ikut audisi tapi bakat aku gak ada yah mundur."
"Padahal jika kamu debut pasti kamu jadi visual dalam grup." Liam menatap wajah Jennie yang sangat cantik tidak kalah dengan artis artis lainnya. "Emangnya aku beneran cantik?" Liam dengan semangatnya mengangguk. Jennie masih kurang yakin dengan pengakuan Liam, mungkin Liam berbohong agar Jennie tidak sedih. Jennie menunduk Liam yang melihatnya, meletakan tangannya dipipi putih Jennie, "hey kamu cantik, semua wanita itu cantik." Liam berucap manis.
Hening karena Jennie sedang terpaku dengan tindakan Liam. Liam mengapai ponselnya kemudian mengecek entah apa Jennie tidak tau. Liam tiba tiba bangkit lalu tangannya mengapai tangan Sabrina yang masih duduk, "ayok princessnya paman kita pulang."
Sabrina menatap Liam dengan tatapan sedihnya, "aku gak mau pulang."
"Paman sedang sibuk Sabrina, nanti Sabrina dicariin mami gimana nanti paman jawabnya?" Sabrina menatap Jennie kemudian menggeleng kembali, "Sabrina gak mau berpisah sama kak jen jen."
Liam ikutan menatap Jennie, "tapi kak jen jen juga setelah ini mau pulang." Liam berusaha memberikan pengertian kepada keponakannya ini.
"Udah biar nanti Sabrina sama aku aja, bakal aku anter kerumahmu kok."
"Kamu mau kerja bukan?" Tanya Liam kepada Jennie. Jennie mengangguk memang setelah pertemuan ini Jennie masih sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Tuh kan kakak jen jen masih sibuk kerja. princes sama paman Liam pulang yah?" Liam berusaha membujuk Sabrina. Sabrina menggeleng dan melipatkan kedua tangannya didada. Sabrina berlari kemudian menubruk tubuh Jennie yang sedang santai duduk.
"Gak apa apa kali Liam, jangan khawatir."
"Aku bukan khawatir Jen, aku takut buat kamu kerepotan sama ulah Sabrina."
Sabrina berdecih bukannya membuat Liam marah, Liam malah merasa sangat gemas dengan Sabrina. "Emangnya Sabrina itu nakal? Sabrina bisa jaga sikap kok."
"Udah tinggal aja."
"Yakin?" Jennie mengangguk tapi kemudian ponsel Jennie tiba tiba berdering, Jennie mengecek siapa yang meneleponnya ternyata Oma Rose. Jennie menatap Liam, "maaf Liam aku ijin angkat telepon dulu yah." Jennie menjauh dari Liam.
Ditempat yang jauh dari Liam Jennie mulai mengakhat telepon itu, "halo Oma." Sapa Jennie.
"Maaf Oma, Jennie sedang bertemu dengan teman Jennie."
'Maafin Jennie oma berbohong, kalo oma tau kalo Jennie bertemu Liam Jennie takut oma marah.' Batin Jennie.
"Oma sudah beberapakali meneleponmu tapi tidak diangkat."
"Maaf Oma." Hening sebentar.
"Oma mau tanya apakah Kamu dengan Mark sudah beli cincin pernikahan?"
"Belum oma, Mark selalu sibuk dan Jennie juga sibuk."
__ADS_1
"Hadeuh kalian gimana sih? kan kalian sendiri yang mau menikah? apa oma harus kerasin Mark?" Kesal Oma Rose.
"Tapi kita berdua memang sedang sibuk sibuknya oma." Jennie mencoba membuat alasan. Jennie takut jika nanti Mark akan disalahkan.
"Tidak, hari pernikahan kalian sudah dekat, sebaiknya oma akan memaksa Mark."
"Jangan Oma, sepertinya Mark tidak suka dipaksa."
"Tapi jika kamu tetap menunggu Mark pasti tidak akan jadi. sudahlah kamu besok harus siap siap oma akan menelepon Mark." Oma Rose mengakhiri telepon. Jennie merasa Oma Rose sedang marah kepada Jennie dan Mar yang mengulur waktu mencari cincin.
JJ maju dan langsung memeluk Mark, Mark yang baru sampai distudio tersentak kaget. Mark berusaha melepaskan pelukan JJ, JJ menatap Mark dengan mata tajamnya. "Kamu kenapa lepasin pelukan aku Mark?"
"Nggak enak dilihatin lainnya."
"Kamu kenapa sih sekarang? suka ngejauhin aku gitu?,"
"Lagian disini itu sepi tau gak ada orang." Lanjut JJ.
Mark menatap JJ dengan mata teduhnya, "bukan gitu tapi disini juga ada cctv, banyak staf yang melihat tingkah kita JJ, takutnya ada staf yang memang tau dan membeberkan kepublik." Ungkap Mark.
JJ menggeleng, "alasan aja terus, aku sampai bosan sama kamu Mark."
Mark meraih tangan JJ, "maafin aku tapi semua ini untuk kebaikan kita berdua, karier mu aman karier ku juga aman."
"Biarin aja semuanya tau Mark lagian kan memang benar harusnya kisah cinta kita itu sudah didengar publik." Kesal JJ.
__ADS_1