
Jennie berusaha tetap tersenyum, ternyata berbohong kepada Sabrina tidak mudah butuh perjuangan.
“Maaf yah nanti deh besok besok kakak jen jen bakal main sama Sabrina.” jennie masih berjuang membuat Sabrina percaya.
“Gak mau, maunya kakak jen jen sekarang masih disini.”
“Tuan putri kakak jen jen kan kerja, gak mungkin disini terus nunggu tuan putri.” suster berusaha membantu Jennie.
“Gak mau Sabrina maunya kakak jen jen masih disini.” mata Sabrina mulai berkaca kaca, kalau diteruskan bisa jadi Jennie gak jadi karena luluh dengan tangisan Sabrina.
“Ayo Sabrina pasti bisa diajak kerja sama, maafin kakak jen jen yah lain kali pasti ketemu kok, maaf yah sus aku langsung pergi takut kalau sabrina makin rewel.” mendapati anggukan dari suster pengasuh Sabrina, Jennie langsung berdiri dan membayar uang tagihan.
Saat berbalik jennie melihat Sabrina menangis tergugu dipelukan sang suster, hati jennie tidak tega dan ingin sekali mengajak Sabrina bertemu dengan oma Rose, oma Rose sepertinya penyuka anak kecil, tapi nanti kalau Jennie ditanya ketemu Sabrina pertama kali dimana, Jennie harus menjawab apa? jika pernah keluar dengan seorang laki laki selain Mark, sudah pasti oma Rose akan berpikir negative.
‘Maafin kakak jen jen yah Sabrina’ batin Jennie miris mendengar tangisan sedu dari Sabrina. Jennie jadi membayangkan apa anaknya nanti bakal seperti itu ketika ditinggal Jennie bekerja?. Jennie pasti bakal kerepotan tapi itulah salah satu kebahagian dari punya seorang anak.
Jennie membunyikan klakson, satpam mendekat dan mengetuk jendela mobil milik Jennie.
“Tolong bukain pak, aku disuruh oma kesini.” jennie mengungkapkan alasan mengapa jennie datang. Satpam tidak basa basi dan langsung membukakan pagar rumah.
Jennie masuk kedalam masion, disana sudah ramai pelayan yang berlalu lalang.
“Nona Jennie?” panggil salah satu pelayan yang jennie tidak kenal. Jennie menoleh dan tersenyum, “iya benar saya.”
“Sudah ditunggu nyonya, silakan ikuti saya.” Jennie mengikuti langkah pelayan itu, kenapa juga jennie harus mengikuti pelayan ini padahal jennie hampir mengingat bagian bagian dimasion besar keluarga mark.
Jennie sudah melihat keberadaan oma Rose yang sedang santai membaca majalah, orang kaya santai santai yah karena mau apa uangnya juga masih jalan tidak seperti jennie.
“Selamat siang oma.” jennie menyapa oma Rose terlebih dahulu.
Oma Rose menoleh dan munculah senyum dari bibir oma Rose, “kemarilah jennie, oma sudah tidak sabar bertanya tentang pernikahan kamu.” Jennie mengangguk dan mendekat duduk disamping oma Rose.
Oma Rose tiba tiba mengelus perut jennie, “kemarin jadi pemeriksaan?”
__ADS_1
Jennie mengangguk, “iya oma, kata dokternya janinnya sehat.”
“Mark ikut pemeriksaan atau tidak?” tanya oma rose tiba tiba.
Jennie menggeleng, “tidak oma.” Oma Rose mengangguk anggukan kepala dan tidak melanjutkan bertanya lagi, jennie lega takut nanti ketahuan bahwa jennie tidak mengajak mark.
Pelayan rumah membawa makanan ringan, “silakan dinikmati jennie, makan banyak buat janin kamu.”
“Baik oma.” Jennie mengambil salah satu makanan ringan. Jennie menyuap makanan itu, jennie tersenyum karena makanan yang dimakan sangat enak beda dengan makanan yang biasa jennie beli dipinggir jalan.
“Sudah berapa persen persiapan pernikahan kamu jen?”
Jennie terdiam mulai berpikir, “aku sama mark udah beli cincin dan lain sebagainya oma.” jawab Jennie.
“Mungkin tujuhpuluh persen sudah siap.”
“Semuanya sudah siap menurut oma tapi mental kalian yang belum siap untuk menikah.” Jennie menoleh dengan mata membola kaget karena perkataan oma Rose yang memang benar. Jennie tersenyum canggung entah bagaimana menanggapi perkataan oma.
‘Oma Rose benar menghubungi mark? apa oma Rose bakal ngomong tentang pemeriksaan kandungan?’ batin jennie bertanya tanya.
“Mark pasti sibuk oma.” Jennie berpura pura lesu.
Oma Rose mengelus punggung jennie, “tidak apa apa Jennie, kalian pasti bakal dekat kok setelah menikah, yang terpenting kamu itu sabar ketika menjalani kehidupan pernikahan.”
Jennie mengangguk anggukan kepala, “menikah itu sulit gak oma?” jennie bertanya tiba tiba.
Oma Rose tersenyum mendengar pertanyaan Jennie, “tentu sulit karena pernikahan itu menyatukan dua orang yang berbeda.”
“Kalau Jennie tidak bisa membahagiain Mark gimana Oma?”
“Kenapa kamu yang tanya seperti itu, seharusnya mark yang bertanya kepada orang tua mu.”
Jennie tersenyum menanggapi perkataan oma Rose, “oma belum tau kalau aku yatim piatu sejak kecil?
__ADS_1
Oma Rose kaget kemudian menggeleng, “oma sudah tau cuman tadi lupa maklum oma sudah tua.”
“Kamu tenang saja, oma yakin kok kamu dan mark pasti sama sama bahagia.” lanjut oma meyakinkan Jennie.
“Belum tentu oma, aku saja baru bertemu mark berberapa kali aja gak setiap hari.”
“Kamu jangan merasa terbebani dengan itu semua jennie, cinta tumbuh karena terbiasa.” jennie tersenyum menanggapi oma Rose.
“Kamu jangan terlalu stres nanti kalau stres takut membahayakan janin yang kamu kandung.”
‘Jadi mereka butuh janin aku doang atau sekalian dengan aku? apa mereka menikahi aku dengan mark hanya karena penerus keluarga mereka?’ batin Jennie bertanya tanya.
Jennie menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pemikiran buruk itu, mungkin karena Jennie mengandung jennie jadi lebih sensitive.
Jennie melepas penak dengan berjalan jalan dimall, Jennie jalan jalan dimall sebulan sekali dulu sebelum terkena masalah dengan Mark. Jennie tidak ada waktu untuk sekedar jalan jalan, mendingan waktu itu jennie buat untuk berpikir dan mencari uang. Bagaimanapun uang nomer satu dihidup jennie. Jennie membelokan langkahnya
dan masuk kedalam toko produk produk skincare. Jennie memilih milih skincare yang akan dibelinya untuk bulan depan.
“Wah serum ini lagi diskon, tapi walaupun diskon kenapa harganya masih mahal yah?” Jennie tidak jadi membeli serum wajah karena harganya masih tetap mahal. Ego wanita jennie tersengol gak mungkin kan jennie nawar barang, nanti malah bikin malu.
Saat Jennie mau pulang ditengah mall ada panggung besar, sepertinya ada fan metting yang diadakan mall ini. Jennie berusaha mendekat dan mengintip dengan berdiri jinjit. Mata Jennie menyipit membaca salah satu nama idol yang datang, diposter ada nama JJ.
‘Jadi jj yang mana?’ batin Jennie bertanya tanya dan mata jennie fokus menatap kedepan untuk mencari sosok JJ.
Didepan jennie semuanya terlihat cantik, jennie jadi insicure. Mark seorang idol dan JJ juga seorang idol, pantas bersatu daripada mark dengan Jennie. Jennie kembali menatap kedepan dan menebak nebak JJ. Daripada tidak tau, jennie berusaha bertanya keorang sampingnya, mungkin orang disamping Jennie seorang
fans dari grup JJ.
Makasih yang sudah baca novel ini. Author bakal semangat lagi untuk update.
IG: griliyy
Nantikan novel selanjutnya :)
__ADS_1