
Jennie tersenyum mendengar perkataan Gabriel, “kakak memang mau buka cafe.” waktunya Jennie untuk speak up buat apa ditutup tutupi kalau nantinya juga Gabriel akan tahu.
“Beneran?” mata Gabriel berbinar tertarik.
Jennie mengangguk mengiyakan. “Kakak beneran mau buka cafe? uang dari mana?”
“Kalau uangnya sih nanti nunggu ada.” jawab jennie sekenanya.
Gabriel menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir, “nanti Gabriel ikut nanam modal dicafe kakak yah.”
“Iya kalau jadi mungkin cafe itu hanya bayangan saja tanpa terelisasi.”
“Aku akan jadi idol kak tenang saja pasti aku akan membantu kakak.” Jennie hanya mengangguk anggukan kepalanya tidak mau berpikir lagi
Jennie meletakan tasnya dimeja kerja, dan jennie langsung duduk dikursi kerjanya, semakin tua usia kandungan tubuh jennie juga semakin merasa lemas dan tidak bertenaga hanya untuk bekerja.
Drubrak
Suara pintu kerja jennie terbuka, datang lah shura dengan pdnya tanpa merasa bersalah.
“Sepertinya aku akan sakit lagi.” lirih Jennie sambil memijat pelipisnya pusing melihat kelakuan shura.
“Kau masih sakit Jen?” Shura meletakan punggung tangganya dikening Jennie.
“Tapi kamu tidak demam.” lanjut Shura.
Jennie menghela nafas, capek juga punya teman seperti Shura. “Aku memang tidak demam Shura, tapi aku pusing melihat tingkah kamu yang setengah extrem.” jawab Jennie.
Shura mendelik, “extrem? dikira aku menantang gitu!”
“Yah emang gak ada sopan santunnya masuk masuk langsung gubrak pintu lalu tingkah kamu bener bener gak bisa diterima otak aku.”
“Mungkin itu otak kamu aja Jen, kalau orang lain mungkin beda lagi.” Shura tidak mau kalah dari Jennie.
“Terserah kamu!” Jennie jadi kesal.
Shura langsung mendekat dan memeluk tubuh Jennie erat, Jennie bahkan hampir tidak bisa bernafas. “Lepasss aku masih normal Ra, aku gak bisa nafas nih.” mendengar ini Shura melepaskan pelukannya.
“Kamu udah belok Ra karena gak punya pacar lagi?” Jennie bertanya sambil menatap jijik kearah Shura.
__ADS_1
“Iya nih.” Shura mengatakan dengan senyum mengembang.
“Jangan deket deket aku mau nikah sama cowok dan aku masih normal.” Jennie bahkan sampai keceplosan karena takut dengan Shura.
“Kamu mau menikah dengan pria? tapi gak ada calonnya.” Shura tertawa diakhir.
“Kata siapa! aku beneran mau nikah.”
“Ditunggu undangannya bu jennie terhormat.”
Liam sedang duduk dikursi pojokan ruang latihan, sekarang netra Liam fokus satu nomer yang dari tadi digulir oleh Liam.
‘Ditelepon gak yah?’ batin Liam sedang dilema.
“Wisshhhh leader kita sibuk pegang telepon pasti punya gebetan nih, fiks.” Lucas berkata.
Liam menoleh kearah Lucas, dan menggeleng. “Benarkah leader kita terhormat?” Mark bertanya.
“Bukannya kemarin kemarin kalian sudah tau?”
“Yah seperti itu juga hubungan ku, belum jelas.” lesu Liam memberi jawaban.
Lucas menepuk bahu leader grup NT itu, “semangat, pasti dia bakal suka sama leader, percaya sama saya.” Lucas memberi semangat dan dukungan untuk Liam.
“Aku saja tidak seyakin itu Cas.”
Lucas menggeleng, “eitss namaku itu Lucas jangan dipanggil cas aja nanti dikiranya cas casan.”
“Sama aja.” cuek liam.
“Beda.” Lucas tak mau kalah dengan sang leader.
“Sama aja.”
“Eits kalian jangan saling tidak mau kalah begini, lanjutin latihan aja, banyak bacot banget lu pada.” Mark tiba tiba kesal mendengar ocehan para temannya itu.
“Kenapa jadi sensi aja lu, lagi hamil?” tanya Lucas kepada Mark.
“Enak aja, saya laki tulen.”
__ADS_1
Pertengkaran lisan itu dihentikan karena suatu tepukan dari manajer gruup, “ayok lanjut latihannya hari ini setelah latihan akan dilanjut rekam lagu b side.”
“Baik.” ketiganya kompak menjawab dan langsung bangkit untuk melanjutkan latihan mereka.
“OMG hello.” lebay shura berteriak ketika melihat banyak makanan diatas meja kerja Jennie.
“Kamu mau makan semua ini Jen?” tanya Shura dengan tatapan meragukan.
“Kenapa? memangnya salah makan segini banyaknya?” Shura menggeleng.
“Tapi beneran habis?”
“Beneran lah kalau gak habis rugi dong aku ngeluarin uang banyak.” ungkap Jennie.
Shura menggeleng tidak percaya, “kamu gak percaya sama aku Ra?” tentu saja Shura langsung mengangguk, Shura tau Jennie itu bukaan tipe orang yang makan banyak tapi gak gendut gendut, Jennie selalu menjaga pola makannya.
“Kamu dulu gak gini loh.” ragu Shura mengungkapkan.
“Kan sekarang banyak pepatah kalau berisi artinya bahagia.” jawab Jennie sekenanya.
“Jujur kamu kenapa Jen!”
Jennie memandang Shura dengan tatapan tidak mengerti, “emangnya aku kenapa? dari kemarin juga gini gini aja.”
“Kamu beda loh setelah sakit.”
“Beda dari mananya, tangan masih dua kaki juga dua mata dua hidung bolongnya dua, beda dari mananya coba.” Shura mengusap dadanya berusaha sabar.
“Jen yang bener napa, kok makin kesini makin ngeselin.” geram Shura.
“Akukan jawab sesuai isi hati aku Ra, serba salah aja aku sama kamu.” Jennie mencebikan bibirnya persis seperti angsa sedang monyong.
“Yakin bisa habis? kalau gak habis aku siap membantu habisin makanan kamu kok.” dikalimat terakhir Shura menyengir menampilkan deretan gigi putihnya.
“isshhh ngomong kek dari tadi kalau mau minta, baru minta setelah debat gimana sih.” kesal jennie tapi masih membagi makananya untuk shura.
Shura duduk didepan Jennie, “ini nih yang namanya persahabatan yang satu susah pasti saling membantu.”
“Sebahagia mu aja Ra.”
__ADS_1