Gagal

Gagal
61


__ADS_3

Gabriel mengangguk anggukan kepalanya, “rasanya Gabriel pengin bawa senior biar bisa melihat pengorbanan kakak.” celutuk Gabriel. “Buat apa Gabriel, kayaknya dia gak bakal bisa berubah.” “Kakak harus yakin cinta itu bisa berubah kak.”


“Tapi susah buat ngelupain Gabriel, kamu memangnya gak pernah jatuh cinta atau gimana?”


“Yah, Gabrielkan memang belum pernah pacaran kak jadinya gak tau.” lesu Gabriel karena diingatkan jomblo.


Jennie merebahkan tubuhnya dikasur, “kamu mau latihan lagi Riel?”


Gabriel mengangguk, “aku sibuk kak.”


“Yaudah kamu berangkat gih, kakak gak apa apa kok disini sendirian.”


“Gabriel mau menunda latihan dulu deh kak, kasian kakak keadaannya gini.” Jennie mengengam tangan adiknya, “udah jangan khawatir.” Jennie menyakinkan Gabriel.


“Gimana gak khawatir kakak aja kondisinya begini.” keluh kesah Gabriel.


“Nanti kakak kabari deh setiap jamnya, kasian kamu juga kalau ketinggalan pelatihan, dan jangan sampai kamu kena marah manajermu sendiri.”


“Yaudah.” Gabriel bergegas keluar kamar Jennie.


5 menit kemudian Gabriel kembali masuk sudah menenteng tas kembangaannya, “aku latihan dulu yah kak, plus nanti mau kecafe dulu.” ucap Gabriel. Jennie menjawab dengan angukan.


“Maaf yah kakak gak bisa buatin sarapan.”


Gabriel menggeleng, “seharusnya dikeadaan kakak yang lemas ini, Gabriel yang buat sarapan, maafin Gabriel yah kak gak bisa masak buat kakak.”


“Kamu itu kayak sama siapa aja, tenang aja kakak bisa order makanan online.” Jennie berusaha untuk tidak membuat Gabriel khawatir.


Jennie mencoba menghubungi nomer Shura, panggilan pertama tidak diangkat karena sibuk, “Shura sibuk apa sih, sibuk ngapelin pegawai sebelah?” gumam Jennie dengan kekesalan memuncak.


Jennie kembali menghubungi Shura, panggilannya sudah dijawab Shura. “Ada keperluan apa kembaran saya?” cerca Shura.


“Ouh iya kamu kenapa belum sampai kantor, macet?” lanjut Shura.


Jennie menutup matanya berusaha tenang, padahal hati Jennie ingin sekali membalas Shura dengan teriakan. “Aku hari ini gak masuk dulu Ra, kirim kerjaan diemail aku aja.” perintah Jennie.


"Kamu kenapa gak masuk sakit? atau gimana?”

__ADS_1


“Iya hari ini badan aku kayak remuk, udah deh gak usah tanya tanya lagi.” kesal Jennie.


“Dihh kek bumil sensitive aja loh.” seru Shura. ‘Dih emang bumil ini.’ batin Jennie menjawab. Tanpa banyak kata Jennie mengakhiri acara teleponan dengan Shura, biarlah Shura kesal sendiri karena teleponnya diputuskan.


Jennie mandi untung mualnya sudah tidak terlalu parah. Jennie keluar dari apartemen, Jennie akan membeli sarapan dipinggir jalan. Jennie berjalan dengan langkah kecil kecil, Jennie membatasi kegiatan olahraga agar tubuh Jennie tidak terlalu kecapekan. Melihat pejual bubur ayam, tiba tiba Jennie menginginkan bubur ayam itu. Wah ngidam kedua jennie, untung ngidam calon anaknya hanya sekedar makanan, kalau ngidamnya harus peluk papanya jennie harus gimana?


“Pak pesen bubur ayamnya dua yah.” ucap Jennie.


“Siap neng.” jawab bapak penjual bubur itu.


Tidak lama dua mangkok bubur tersaji, jennie jadi tidak sabar mencicipi dua mangkok sekaligus.


“Berapa jadinya bang dua mangkok bubur sama es teh dua kerupuk dua dan sate telurnya tiga.”


Penjual itu tampak kebingungan, “neng makan sendirian? gak ada pacar atau keluarga gitu?” jennie mengangguk membetulkan. “Neng sendirian makan ini? apa habis neng?” kenapa penjual buburnya sewot?


“Abang jangan bikin saya jadi kehilangan mood makan, saya bayar kok bang.”


“Heheh maaf yah neng, jadinya semua empat puluh ribu neng.” jennie memberikan uang lima puluh ribu, “kembaliannya untuk abang aja.” ungkap jennie.


“Makasih neng.” penjual itu kembali berdagang. Jennie langsung membawa banyak makanan itu untuk mengeksplor perut Jennie. Setelah semua habis, Jennie langsung meninggalkan tempat penjual bubur itu, “wah kenyang juga.” ucap jennie sambil mengelus perutnya.


“Halo oma ada apa?” tanya Jennie langsung to the point.


“Gak apa apa kok cucu oma, oma cuman mau tanya kamu gak pernah periksa kandungan?” tanya oma rose dengan nada kehati hatian takut membuat jennie sakit hati.


Jennie sempat terdiam, “apa harus aku periksain kandungan oma?”


“Iyalah harus biar kita tua keadaan calon anak kita.” jawab oma rose.


“Jennie sibuk kelupaan padahal dokter udah menyarankan jennie untuk rutin periksa.” diakhiri kekehan oleh jennie.


“Harusnya udah dari kemarin kamu periksa, setelah ini kamu telepon Mark, bilang mark kamu perlu dianter untuk periksa kandungan.” perintah oma rose


“Ah tidak mark pasti sangat sibuk sekarang oma biar jennie sendiri saja yang periksa.” tolak jennie.


Oma Rose sempat terdiam, “dia ayahnya bukan?” ragu oma Rose.

__ADS_1


“Tentu oma, aku tidak pernah berhubungan dengan pria lain selain Mark.” jennie jadi merasa terimindasi, jatuhnya jennie seperti pernah selingkuh padahal punya


pacar aja tidak.


“Jadi mark punya hak dong untuk mengantar kamu kedokter, jennie kamu harus memaksa mark jika dia tidak mau.”


“Tidak oma, mark sangat sibuk dengan jadwalnya, aku tidak akan memaksa jika mark tidak mau.” ungkap Jennie.


“Yasudah oma ikut keputusanmu.”


“Terimakasih oma.” Jennie berpamitan dan memutuskan panggilan telepon.


Jennie tidak menghubungi mark sama sekali, jennie memutuskan untuk memeriksa kandungannya sendiri lagi. Biarlah lagian jennie merasa jika mark tidak akan peduli dengan anak yang dikandung Jennie. Rencananya setelah dari rumah sakit, jennie akan langsung kecafe memberikan lembar kerjaanya yang sudah selesai ke sam.


Jennie sedang menunggu antrian untuk diperiksa, ternyata banyak sekali ibu hamil didunia ini. Jennie merasa sedih karena kebanyakan dari mereka diantar suami, tapi tidak dengan jennie.


'mengapa jadi sedih sih.’ batin Jennie.


‘kamu calon ibu yang kuat jennie jadi jangan sedih hanya karena seperti ini’ mungkin karena pengaruh hormon jennie jadi sensitive kadang juga jennie kesal sendiri dengan dirinya sendiri, jadi ibu hamil susah ternyata.


“Ibu Jennie.” panggil asisten dokter, Jennie berdiri dan mengangkat tanganya keatas, “saya dokter.” seru jennie.


“ibu jennie boleh masuk.” jennie masuk dengan perasaan was was.


Dokter cantik menyapa jennie terlebih dahulu, “udah berapa kali periksa? aku harus panggil siapa nih mbak dek atau ibu?”


“saya lebih muda dari dokter, panggil dek aja dok.” jawab Jennie.


Dokter itu tampak tersenyum, “dek Mahira Putri Jennieya? udah berapa kali periksa kandungan?” tanya dokter.


“Ini kedua kalinya dok.”


“maaf suaminya mana?”


“Sibuk.” jawab jennie lesu mood untuk periksa kandungan langsung hancur setelah ada pertanyaan tentang suami. Kalau bukan suatu keharusan jennie juga enggan memeriksakan diri, biar janinnya tubuh tanpa jennie tahu perkembangannya.


“Dek jennie berbaring dibrankar yah saya akan periksa perutnya.” perintah dokter.

__ADS_1


Jennie mengikuti perintah dokter, jennie berbaring dibrankar, “maaf yah kaosnya saya buka.” ucap dokter meminta izin, jennie mengangguk mengizinkan.


__ADS_2