
"Gak mungkin kita,"
"Tapi kenapa inisial dan grupnya mengarah pada kita." lanjut JJ
Mark mengangguk dan kemudian menoleh kearah produser yang sibuk dengan dunianya sendiri, "aku harap produser bukan orang jahat yang memberitahu media tentang hubungan kita."
Produser yang mendengar namanya disebut berbalik menoleh keMark, "apa kau tidak mempercayaiku Mark?"
Mark mengangguk, "sekarang semuanya seperti musuh bagiku."
JJ mengelus pipi Mark, "jangan berpikiran begitu sayang."
Mark mengangguk berusaha untuk tidak mikir bahwa semua yang ada diagensi adalah musuh. JJ mengecup pipi Mark, sungguh JJ sangat rindu dengan Mark. Semoga hubungan JJ dan Mark langgeng seterusnya.
Gabriel keluar dari ruang latihan. Akhirnya ada tanggal tentu untuk debut band. Gabriel akan memberitahu Jennie bahwa usaha Gabriel membuahkan hasil, ada agensi yang melirik dan akan mendebutkan Bandnya. Gabriel akan kekantin, teman temannya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Gabriel membawa makanan, tapi ternyata meja dikantin sudah penuh. Ada tangan yang melambaikan kearah Gabriel, ternyata Liam seniornya. Gabriel melangkah menuju kearah Liam.
"Duduklah Gabriel," perintah Liam
"Kau baru saja keluar dari ruang latihan?" tanya Liam
Gabriel yang sedang makanpun mengangguk, "benar sekali senior."
"Bekerja keraslah karena debut itu susah." kata Liam
Gabriel mengangguk setuju, "benar sekali band ku sudah hampir empat tahun. dua tahun yang lalu baru dilirik agensi."
"Lumayan lah. kau hanya dua tahun trainee. aku hampir empat tahun trainee dan sempat akan gagal debut."
__ADS_1
"Apa senior bahagia karena telah menjadi idol?" tanya Gabriel
Liam menggeleng intinya menjadi idol tidak sebahagia itu, "kehidupan kita diatur agensi."
Setelah itu keduanya diam merenungi keputusan mereka untuk menjadi idol.
Jennie masuk kedalam ruangannya, perut Jennie mual karena mencium aroma pengharum ruangan.
"Shuraaa." panggil Jennie
Shura masuk kedalam ruangan Jennie dengan nafas ngos ngosan, "kenapa tuan putri?" tanya Shura
"Kenapa pengharumnya bau permen karet?" tanya balik Jennie
Shura bingung bukannya Jennie paling suka dengan pengharum ruangan berbau manis, "bukannya kau suka dengan bau permen karet?"
Shura mendekat meletakan punggung tangannya dikening Jennie, "kau tidak panas, tapi kenapa kau berbeda sekali dengan Jennie dulu."
Jennie menghempaskan tangan Shura dari keningnya, "aku tidak beda."
Shura menggeleng tidak percaya, "dulu Jennie tidak akan percaya diri kalo gak pakai make up," Shura masih menatap Jennie, "sekarang aku lihat Jennie berani keluar tidak memakai make up."
"Enggak. kamu aja yang gak pernah lihat pas aku gak make up."
"Enak aja, tapi bener kalo kamu tuh setiap hari selalu tampil cetar." ungkap Shura
Jennie menoleh kearah Shura, "emang iya?" tanya balik Jennie
__ADS_1
Pastinya tidak, karena Jennie itu sudah cantik natural apalagi ditambah make up jadi makin kelihatan cantik. Kalo Jennie jadi model mungkin juga bakal diterima langsung. Sayangnya Jennie masih jomblo.
Karena niat ingin membuat Jennie marah, Shura mengangguk setuju bahwa Jennie selalu tampil cetar membahana. Mata Jennie berkaca kaca, Shura kelimpungan baru kali ini melihat Jennie menangis. "Jadi selama ini aku enggak cantik yah?" tanya Jennie
Aduh sepertinya ini salah Shura dari awal, "enggak dong Jennie sahabatku tetep cantik kok." Shura berusaha membuat Jennie tenang.
Akhirnya Jennie sudah tenang, ponsel Jennie berbunyi sepertinya ada yang menelepon Jennie.
"Halo," sapa Jennie
"siapa yah?" tanya Jennie kepenelepon yang nomernya tidak dikenali
"Saya Rosean, Jennie." jawab sang penelepon
Ternyata sang penelepon adalah nenek Mark, mampus kalo Jennie jatuhnya tidak sopan.
"ouh iya oma, selamat pagi." kata Jennie mencoba bersikap seperti biasa saja
"Pagi juga, apa kau bekerja Jennie?" tanya Rosean
"Iya oma, aku sedang bekerja kenapa?"
"apa kau bisa datang untuk bertemu denganku dicafe, aku akan memilih cafe yang dekat dengan tempat kerja mu." ajak Rosean
Jennie melihat jadwalnya, sepertinya tidak apa apa jika waktu makan siang Jennie keluar. "Baiklah oma, tapi aku hanya punya waktu pada saat makan siang." jawab Jennie
"Baiklah, aku akan menghubungi mu kembali, semoga cicit oma baik baik saja."
__ADS_1
Panggilan telepon pun berakhir,