
Mark sadar dan langsung melepaskan Jennie dari pelukannya. Jennie tersenyum tapi hatinya sakit karena Mark sudah mengakhiri sesi pelukannya. Mark membuang muka dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Jennie. Benar bukan seperti pemikiran Jennie, jika Mark pasti tidak lagi bisa berpelukan dengan Jennie.
"Kamu berani berjalan sendiri Mark?" Tanya Jennie memastikan.
Mark tetap melanjutkan langkahnya, ada sesosok kuntilanak yang melotot kearah Mark. Mark ngefrezze seketika tubuh Mark tidak bisa digerakan, kuntilanak itu diam bingung dengan keadaan Mark yang menatap kearah kuntilanak tapi hanya diam.
Biasanya para pengunjung akan berteriak tapi kenapa Mark cuman diam. Kuntilanak itu merasa heran, apa memang pengunjungnya ini sedang kerasukan? Kuntilanak itu sudah tidak tertawa seram karena merasa kebingungan.
"Kakak gak apa apa?" Tanya kuntilanak itu.
Belum menjawab pertanyaan dari kunti, Mark sudah berlari kencang meninggalkan Jennie yang baru saja sampai ditempat kejadian.
"Kak itu pacar kakak? kok ninggalin kakak?" Kuntilanak itu bertanya, bahkan kuntilanak seharusnya bekerja jadi kepo dengan Mark.
"Gak tau tuh mbak kun, dia kayaknya gak ngeh sama kehadiran saya."
"Kasian banget, yang sabar yah mbak." Kuntilanak itu jadi prihatin. Jennie merasa mempunyai teman baru, walaupun kerjanya menjadi kuntilanak tapi tetep menjadi teman bukan?.
"Mbak kun saya pamit ngejar pacar saya yah." Jennie meninggalkan mbak kun yang diam dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Mark terduduk karena capek dan kakinya sudah pegal. Mark melewati banyak rintangan sebelum sampai dilorong ini, bahkan pocong pocongan yang menakut nakuti Mark saja, tidak dilirik Mark sama sekali saking takutnya dengan kuntilanak tadi. Jennie yang melihat mark diam langsung menghampiri Mark.
"Kenapa ninggalin aku Mark?" Tanya Jennie.
Mark menoleh kemudian tersenyum kikuk malu dengan Jennie karena ketahuan takut dengan hantu. "Maaf tadi refleks aja lari kenceng."
"Kamu gak takutkan?"
Mark menggeleng jangan sampai Jennie tau, hancur sudah nanti wibawa Mark. Bisa bisa nanti Jennie akan mengungkapkan kejadian ini pada para wartawan dan esok harinya beredar artikel 'Seorang Idol yang takut dengan Hantu'. Mark menggeleng untuk tidak memikirkan itu, semoga Jennie benar benar tidak tau jika Mark takut dengan hantu.
"Kita pulang yah? lewat pintu darurat gimana?" Tawar Mark.
Jennie nampak menimbang nimbang tawaran Mark, "bagaimana jika kita lanjutkan saja explore rumah hantu?" Tawaran Jennie.
Mark menggeleng, Mark sudah sangat lelah apalagi jika akan berurusan dengan para hantu sudah dipastikan nanti ditengah jalan Mark akan pingsan dan membuat Jennie kerepotan. Daripada seperti itu lebih baik Mark mencegah untuk ikuti kemauan calon istrinya.
"Kamu gak ngidam mau nerusin sampai akhir bukan?" Tanya Mark.
"Bisa saja." Jawab Jennie.
__ADS_1
"Jangan begitulah Jen, mending kita keluar aku kebelet nih." Bohong Mark agar segera keluar dari wahana menyeramkan ini.
"Baiklah ayok." Jennie mengikuti Mark yang sudah melangkah kedepan meninggalkan Jennie.
Setelah berhasil keluar Mark bernafas lega, "akhirnya.."
Jennie menoleh kearah Mark, "kamu beneran takut lalu mau keluar atau bagaimana?,"
"Sepertinya kamu takut yah Mark?"
Mark menggeleng, "enggaklah."
Jennie tersenyum, kemudian melangkah terdahulu daripada Mark. Ponsel Mark berdering, notifikasi dari ponsel Mark itu khusus jika JJ yang mengirim pesan. Mark langsung membuka ponsel dan mengecek isi pesan dari JJ.
JJ
Mark kau kemana? kata managermu kau keluar?
Mark menarik senyumnya, JJ membuatnya rindu. Mark mengetikan sesuatu diatas ponselnya, Jennie menoleh kebelakang dan tidak menemukan Mark, ternyata Mark sedang sibuk dengan ponselnya. Jennie melangkah mendekat kearah Mark, dari penglihatan Jennie, Mark sedang tersenyum memandang ponsel.
'Apa dia mendapatkan pesan dari JJ?' Batin Jennie.
Mark
Aku keluar sebentar, jangan khawatir JJ
Mark menoleh kearah Jennie, Mark tersenyum dan mendekat kearah Jennie. Jennie membalas senyuman dari Mark, walaupun Jennie tau kalo senyuman itu tidak tulus datang dari hatinya Mark.
"Maaf Jennie sepertinya aku harus pulang keagensi." Mark berbicara seperti ini karena kangen dengan JJ. Mark ingin sekali bermanja manja dengan kekasihnya itu. Jennie mengangguk dan tersenyum, memang seharusnya Jennie jangan terlalu berharap kepada Mark, karna dihati Mark hanya ada JJ.
"Baiklah hati hati dijalan Mark." Mark meninggalkan Jennie yang terdiam menatap punggung Mark yang semakin menjauh.
Jennie tersenyum melihat banyak pedagang jajanan yang sepertinya enak. Jennie akan melupakan kejadian tadi bersama Mark. Jennie harus sadar dengan posisinya yang mungkin tidak menguntungkan bagi Mark. Jennie melangkah mendekat kearah salah satu pedagang yang menjual cumi cumi bakar dan udang bakar.
"Bu aku beli cumi cuminya dua, sama udangnya tiga yah bu." Ucap Jennie, ibu penjual itupun mengangguk dan mempersiapkan pesanan Jennie.
Ibu penjual itu memberikan pesanan Jennie, "jadi berapa bu totalnya?"
__ADS_1
"Empat puluh lima ribu neng." Jenniepun memberikan uang kepada ibu ibu itu.
Jennie melangkah mencari tempat duduk, hampir sepuluh menit Jennie mencari tempat duduk dan akhirnya Jennie bisa duduk dikursi taman. Jennie memakan bakar bakaran itu, kemudian mengelus perutnya.
"Nak maaf yah kita gak bisa makan sama papa, tapi mungkin besok besok kamu bakal makan sama papa."
'Walaupun nanti tanpa mama' Lanjut Jennie dalam hati.
Kenapa setelah mengatakan kata kata itu didalam hati Jennie rasanya ingin menangis, apakah anaknya mendengar kata hati Jennie?.
"Maafin aku Mark yang datang dikehidupanmu." Gumam Jennie sambil menangis dikursi pengunjung.
'Aku janji setelah ini tidak akan menganggu dirimu Mark'
'Tapi apa aku sanggup memberikan anak ini?' Jennie mengelus perutnya.
Jennie menutup matanya menenangkan pikirannya yang terus berkecamuk. Karena calon anaknya sepertinya ngidam, Jennie bangkit dan mencari makanan.
"Kau ingin apa nak?" Jennie berbicara sendiri, orang lain pasti memandang Jennie melas.
"Kasian yah masih muda tapi udah rada gila." Ucap salah satu ibu ibu. Ibu ibu itu tidak tau apa jika Jennie itu manajer salah satu hotel bintang 5, gak mungkin bukan seorang manajer gila?. Mungkin jika ibu ibu tau nanti pasti akan kaget. Jennie tidak mempersalahkan itu dan menunju kepedagang yang diinginkan janin yang berada diperut Jennie.
Jennie menuju kepenjual kue bolu keju, sepertinya enak. Jennie memesan 2 bolu, mungkin satunya bisa Jennie simpan dirumah dan akan Jennie berikan kepada Gabriel. Ouh yah gimana kabarnya Gabriel hari ini?. Setelah menerima bolu keju itu Jennie menjauh dari pasar malam dan menaiki mobilnya, Jennie meraih ponselnya kemudian menelepon Gabriel.
"Halo Gabriel" sapa Jennie setelah telepon tersambung.
"Ada apa kak? aku baru saja tidur diasrama."
"Maaf jika aku menganggu mu Gabriel."
"Tidak apa apa kak, memangnya kakak menelepon ku kenapa?" Tanya Gabreil.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Minal Aidzin Wal Faizin readers, mohon maaf jika author pernah membuat salah.
Happy mudiknya kalo ada yang mudik.
Terimakasih telah membaca IOMH.
__ADS_1