Gagal

Gagal
76


__ADS_3

Jennie membuka pintu apartemen, Indra penciuman milik Jennie mencium bau bau gosong dari dalam apartemennya. Jennie segera berlari takut jika apartemennya ada kebakaran. Jennie semakin mempercepat langkahnya, dan setelah tau penyebab bau gosong Jennie menghentikan langkahnya.


“Gabriel!” Jennie berteriak sangat keras mungkin bisa didengar oleh para tetangga.


Gabriel menoleh memasang wajah terkejutnya, “kakak?, kenapa kakak disini?” Gabriel berusaha tetap mempertahankan masakannya.


“Itu apinya dimatiin aja!” perintah Jennie dengan suara menggelegar.


Gabriel menuruti perintah dari kakaknya, “emangnya kenapa harus dimatiin kak?”


Jennie geleng geleng, “kamu itu gimana sih, udah tau gak bisa masak terus aja, lihat nih sampai gosong.”


Gabriel menatap masakannya, “gak gosong deh, aku gak cium bau gosong.” ungkap Gabriel.


“Kok bisanya kamu gak cium bau gosong sih?” Jennie jadi merasa aneh.


“Iya kak,  karena Gabriel masih flu.” jawab Gabriel.


“Aduh kalau flu kamu istirahat!.” Jennie sudah persis emak emak.

__ADS_1


Jennie maju untuk mengambil ahli, “udah kamu diam aja dikamar, biar kakak yang masak.” ucap Jennie.


“Iya.” Gabriel pasrah dan duduk dimeja makan.


Jennie langsung berubah ahli menjadi seorang chef, Jennie membuka buku resep yang pernah Jennie tulis. Jennie ingin memasak tumis kankung dan tempe, tahu goreng.


Gabriel jadi penasaran kenapa sekarang kakaknya ada diapartemen? kakaknya sudah punya suami bukan? apa suaminya mau tinggal disini?


“Kak Jen.” Gabriel memanggil nama Jennie.


Jennie menengok kebelakang, “ada apa?”


“Kamu gak salah kok Riel,” “tapi kamu tahu pastilah kesibukan seorang Mark, jadi daripada kakak sendirian diapartemen Mark, kakak melaju kesini aja.” jawab Jennie.


“Tapi apa senior Mark tidak marah?”


Jennie mengedikan bahu, “tidak tahu.”


__ADS_1


Mark menghempaskan tubuhnya disofa apartemen, setelah perekaman lagu dan banyak rangkaian latihan lainnya selesai, Mark langsung melaju keapartemen untuk mengistirahatkan tubuhnya.


“Rasanya tubuh mau remuk aja.” Mark lelah.


Pintu apartemen tiba tiba terbuka, menampakan manajer Yoo.


“Manajer. kenapa kamu masih disini?” tanya Mark kepada Manajer Yoo.


Manajer Yoo mengangkat totebag yang dibawanya, “aku mengambil baju dari laundry.” jawab Manajer Yoo.


“Manajer, baru mengambilnya sekarang?” manajer Yoo mengangguk.


“Kenapa tidak dari kemarin kemarin?”


“Yah bagaimana aku bisa mengambilnya sedangkan jadwal kamu padat merayap. aku itu manajer kamu jelas pasti ngikutin jadwal kamu.” jawab Manajer Yoo.


“kasian sekali manajer jomblo ku.” Mark meledek manajer Yoo.


“Kamu sudah dibaikin malah ngelunjak yah.” kesal manajer Yoo kepada Mark.

__ADS_1


__ADS_2