
"Sepertinya hatimu benar benar merindukan Jennie."
"Tidak." Sergah Mark.
"Cepat hubungi, daripada kamu uring uringan seperti ini, dan membuat pekerjaanku menjadi bertambah,"
"Dan ingat nanti setelah menghubungi Jennie jangan lupa merapikan rambut, kau belum upload foto hari ini untuk para fans." Setelah mengatakan itu manajer Yoo meninggalkan Mark sendirian didalam studio.
"Aku malas sekali mengupload foto."
"Kalau kau malas, akupun malas memberikan bayaran dari agensi."
Mark menatap manajer Yoo dengan tatapan kucing kegenjet. "Jangan gitu lah manajer, jahat sekali padaku."
Jennie telah sampai diagensi Mark, Jennie memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Jennie menengok kekanan kiri jangan sampai ada orang asing yang melihat Jennie dengan Mark. Jennie membuka ponsel pintarnya, dan mengetukan pesan untuk Mark agar cepat sampai diparkiran pintu belakang.
Tidak lama terlihat dari kaca mobil Mark sedang berlari menuju kearah mobil Jennie. Mark segera membuka pintu mobil Jennie, Mark melepaskan masker dan topi yang menutupi muka Mark. Mark menoleh kearah Jennie kemudian tersenyum tipis, Jennie yang melihat senyumam Mark walaupun setipis kain senang tidak tertolong. Baru kali ini Jennie melihat Mark tersenyum, pantas banyak perempuan jatuh hati kepada Mark, semanis dan setampan itu Mark apalagi pas senyum. Behhh Jennie langsung meleyot.
Jennie melajukan mobilnya, Mark masih fokus dengan handphone. Mobil milik Jennie sudah sampai diparkiran pasar malam.
"Ayo keluar!" Ajak Jennie
Mark menahan tangan Jennie, "sebentar aku harus memakai masker terlebih dahulu." Mark langsung memakai topi masker dan jaket, persis dengan orang yang sedang sakit flu.
Jennie melangkah mendahului Mark, Mark berlari menyamakan langkah Jennie. Jari jari Mark terpaut kedalam jari jari Jennie. Jennie menoleh dan bingung, kenapa Mark melakukan seperti ini?. Jennie speechless dengan apa yang terjadi.
"Kenapa?" Tanya Jennie pada akhirnya.
"Aku gugup, banyak manusia yang berlalu lalang." Ungkap Mark
Jennie menoleh, benarkah Mark takut kerumunan?. Padahalkan Mark adalah idol sudah pasti biasa menemukan kerumunan manusia yang menonton konser Mark. Jennie jadi kurang yakin.
"Kamu mengidap Agoraphobia?"
~Penderita agoraphobia akan merasa takut dan cemas berlebihan pada beberapa tempat dan kondisi, seperti tempat umum, ruangan tertutup, keramaian, dan kondisi yang membuatnya sulit mendapatkan pertolongan. Biasanya, penderita agoraphobia membutuhkan kerabat atau teman untuk menemaninya ke tempat umum.~
__ADS_1
"Tidak aku tidak menderita Agoraphobia,"
"Hanya saja aku kurang nyaman berada ditempat keramaian." Lanjut Mark
"Bukannya idol juga sering berada dikerumunan? tapi kenapa kamu masih kurang nyaman?"
"Entahlah, pernah kejadian aku hampir saja menubruk salah satu penggemar karena berada dipinggir jalan lalu menghampiri mobilku, otomatis penggemar itu tertabrak, aku shock berat,"
"Setiap melihat kerumunan fans aku menjadi semakin takut dan berujung merambat kepada kehidupan sosial ku."
"Lalu saat fans berkumpul, kamu tetap ikut?"
Mark menggeleng, "aku menemui mereka, tapi tidak bisa menatap mereka, yang berjalan kekerumunan hanya Liam dan Lucas." Jawab Mark.
Liam? nama itu terdengar tidak asing ditelinga Jennie. Jennie menepuk keningnya, Liam memang termasuk anggota NT, kenapa Jennie melupakan kehadiran Liam.
"Kenapa?" Mark menatap Jennie.
"Tidak apa apa."
"Kita disini mau apa? atau cuman mau keliling keliling?"
Jennie menghela nafas, benar seharusnya Jennie menggunakan waktu luang Mark dengan bermain. Mark pasti sudah tidak punya waktu seperti ini.
"Aku akan mengajakmu kerumah hantu, bagaimana?" Tawar Jennie.
Tanpa pikir panjang, Jennie langsung menarik tangan Mark. Tubuh Mark mengikuti Jennie. Mark berpikir apakah rumah hantu akan seram seperti yang kelihatan ditelevisi?. Atau memang televisi itu melebih lebihkan kesan horor rumah hantu? Mark jadi ragu untuk masuk kedalam rumah hantu, Mark belum masuk saja bulu kuduknya sudah berdiri apalagi kalo Mark masuk.
Jennie meninggalkan Mark yang sedang diam menatap pintu masuk kedalam rumah hantu. Jennie akan membeli tiket masuk terlebih dahulu. Jennie sudah membeli dua tiket, tapi Mark masih saja termenung menatap pintu masuk rumah hantu. Jennie menepuk bahu Mark, Mark kaget Jennie membuyarkan lamunan Mark.
"Ayo masuk!" Ajak Jennie. Jennie menarik tangan Mark, tapi tiba tiba Mark melepaskan tangan Jennie. Jennie menoleh dan kaget apakah Mark akan kembali kesikap semula acuh? Jennie seharusnya tidak berharap dengan kedatangan Mark , artinya Mark akan menerima anak yang dikandung Jennie, kenapa Jennie tidak memikirkan kedepannya, bagaimana jika yang ditemuinya Mark bermasut untuk menjauh, bisa jadikan.
Jennie menunduk enggan menatap Mark. Hati Jennie merasa terpotek.
"Maaf, tapi aku takut masuk kedalam sana." Alasan Mark.
__ADS_1
Jennie langsung menghadap kearah Mark, senyum Jennie terbit, ternyata dugaan Jennie itu salah 100%.
"Tidak apa apa, tenang ada aku." Jennie berusaha membujuk Mark.
Mark tetap menggeleng, gelengan Mark membuat Jennie gemas sekali. Mark menggeleng dengan imut, Jennie membayangkan jika anak Jennie dan Mark lahir apakah akan imut seperti papanya?.
"Kau laki laki Mark kenapa harus takut hantu?"
Mark mendelik enak saja dikatakan takut hantu, padahal sih iya. "Saya gak takut hantu, saya takut aja masuk kedalam ruangan gelap."
"Yah kalo terang itu masa depan aku, udah ayok masuk ada aku, lagian kebanyakan hantunya cewek, kalo lihat kamu pasti langsung jatuh cinta dan gak jadi nakut nakutin kamu." Jennie berbohong agar Mark bisa ikut kedalam.
"Gak gitu juga kali, masak setan suka sama saya."
"Kamu kan memang ganteng banyak yang suka mungkin saja banyak makhluk halus yang suka sama kamu." Ucap Jennie.
Jennie tidak mau banyak bicara, dan langsung menarik tangan Mark kedalam kerumah hantu. Pertama kali masuk kedalam rumah hantu.
"Waow." Jennie melihat setan boongan.
"Ahhhh itu apaaaa." Teriak Mark dengan menunjuk salah satu setan boongan.
Jennie tertawa ternyata Mark takut dengan para hantu. "Kamu jangan takut Mark, kamu tinggal bilang suka sama salah satu hantunya, pasti hantunya pasti langsung mleyot."
Mark tidak mendengar ucapan Jennie, Mark langsung memeluk tangan Jennie. Jennie masih ketawa melihat Mark yang ketakutan.
"Kamu kan mau jadi ayah Mark, masak takut sama hantu, gak like banget."
"Apaan sih kamu gak tau yah ini para hantu kenapa serem banget."
"Kalo gak serem bukan hantu kali Mark, tapi malaikat, aneh banget."
Tiba tiba ada sebuntel kain putih melayang diatas Jennie dan Mark, Mark langsung melotot dan teriak begitu juga dengan Jennie yang kaget karena teriakan Mark. Mark otomatis langsung memeluk tubuh Jennie, Jennie kaget tapi enggan melepaskan pelukan dari Mark itu. Hati Jennie menghangat karena pelukan Mark, apakah besoknya Jennie masih bisa merasakan pelukan dari Mark?.
Guys maaf uploadnya terlambat, minal aidzin wal faizin. Mungkin besoknya juga bakal upload terlambat karena memang fokus mau lebaran dulu:)
__ADS_1