Gagal

Gagal
57


__ADS_3

“Tapi pak saya boleh minta kalo saya bekerja pada jam jam


tertentu?” pemilik cafe itu memandangi Jennie dengan wajah yang kebingungan.


Pemilik cafe itu tersenyum manis, Jennie jadi semakin merasa terjatuh kedalam


pesona pemilik cafe yang akan menjadi bosnya itu. “Baiklah aku akan mengabulkan


kemauan mu itu tapi dengan syarat kamu harus membantu para pelayan


menghidangkan makanan bagaimana?” tawaran dari bos.


“Sebelum itu perkenalkan saya Samuel Hagadirka. panggil saya Samuel karna kita


seumuran.”


Jennie tersenyum dan mengangguk. “Baik pak Samuel saya akan membantu para


pelayan lainnya.” jawab Jennie.


“Saya tidak suka dipanggil pak. kita seumuran.”


“Saya merasa kurang sopan jika memanggil nama saja.”


“Tidak apa apa. saya sudah mengijinkan dan berbicara nyaman saja jangan terlalu


formal.” ungkap Samuel. Jennie mengangguk setuju.


“Kamu mulai besok boleh bekerja.”


“Terimakasih Sam.”


Jennie meninggalkan Samuel. Rasanya senang sekali mendapatkan pekerjaan yang


tidak terlalu menguras energi. Jennie juga harus pintar pintar menggelolah


waktu agar tidak terlalu kecapekan dan berimbas ke janin. Jennie memang harus


extra bekerja untuk melunasi hutang tapi kesehatan dan keselamatan janin harus


tetap number one.


Jennie mendekat kearah pelayan yang tadi mengantarkan


Jennie. “Halo.” Jennie menyapa.


“Ouh halo kak.”


Jennie tersenyum, “terimakasih yah saya keterima kerja disini.” ungkap Jennie.


“Wah. selamat yah.”


“Aku sangat berterimakasih sama kamu.” Jennie mengenggam tangan pelayan itu.


“Sudah tentu aku manusia jadi harus saling tolong menolong.” Jennie tersenyum


setuju dengan ucapan pelayan itu.


“Kalo begitu aku pamit dulu yah. besok aku baru mulai bekerja. sekali lagi


terimakasih.” Jennie melambaikan tangan dan membuka pintu keluar dari cafe.


Jennie membuka handphone terleboh dahulu setelah sampai diapartemen. Jennie


akan mengabari Shura dan Gabriel sang adik. Jennie membuka aplikasi telepon.


“Halo.” suara Shura terdengar dari speaker ponsel.


“Ada apa? tumben nelepon.” nada malas keluar dari suara Shura.


“Aku punya berita baik.” ucap Jennie.

__ADS_1


“Berita baik apa? Gabriel menerima cintaku?” antusias Shura.


“Enak aja. bukan itu. aku keterima kerja jadi manajer disebuah cafe dekat taman.”


“Kamu kerja apa lagi? gaji dihotel masih kurang?”


“Kan aku sudah bilang aku butuh uang untuk membayar kerugian hotel.”


“Kenapa cuman kamu? aku menyarankan untuk menuntut resto itu kenapa tidak


mengikuti saranku?” geram Shura.


“Kalo menuntut meraka aku juga harus keluar uang untuk menyewa pengacara.”


“Memangnya kenapa?”


“Aku masih kekurangan Shura. Aku juga harus mulai menabung untuk masa depanku


dan juga Gabriel.” jawab Jennie.


“Padahal aku merasa kebutuhan kamu sudah tercukupi.”


“Yah itu kan kelihatannya padahal masih banyak kekurangan.”


“Gaya hidup kamu yang harus dirubah Jen.” ucap Shura.


“Enak saja. bukannya aku biasa saja tuh.” Jennie kurang setuju dengan ucapan


Shura.


“Lihat saja lipstick milik mu semuanya mahal dan bermerk beda dengan lipstick


milikku.”


“Yah memang itu kebutuhan. aku harus tetap kelihatan cantik untuk memikat lawan


jenis.” ucap Jennie.


“Itu dulu sekarang berbeda.” jawab Jennie.


“Atau jangan jangan ada yang sedang kamu incar yah?” tebak Shura. “Gak.” jawab


Jennie.


“Aku tau kamu bohong.” Shura mengoda Jennie.


“Kalo aku jawab enggak yah enggak Ra.”


“Siapa yang lagi kamu incar?”


“Gak ada Ra. kamukan paling tau kalo aku itu paling males kalo berhubungan


dengan seorang pria.”


“Kamu malas tapi banyak yang ngerjar sedangkan aku malah


yang suka mengejar mereka.” Shura jadi curhat.


“Kodrat wanita itu dikerjar kejar bukan mengejar. kalo dia gak suka yah


tinggalin cari yang lain yang bisa memberikan kita cinta tulus,”


“Kenapa malah bahas cinta cintaan. mending kamu kasih semangat buat aku. mulai


besok aku akan bekerja dua kali lipat.” ucap Jennie.


“Gabriel belum pulang jen? bukannya biasanya jam segini kamu sibuk dengan


Gabriel?”


“Kenapa kamu tanya tanya tentang Gabriel?”

__ADS_1


“Sebagai calon istri yang baik tentu saja aku akan bertanya dimana Gabriel.


beneran Gabriel belum pulang jen? pasti sibuk yah disana.”


“Memang Gabriel belum pulang. lagian memang dia sangat sibuk dan ingat yah ra


kalau idol wanita yang dari seagensi Gabriel itu cantik cantik.”


“Yang bener Jen.” Jennie dan Shura malah jadi menghibah, memang perempuan itu


gak akan jauh jauh dari yang namanya saling ghibah.


“Aku nonton video banyak girl grup dan kebanyakan girl grup terkenal berasal dari agensi yang menaungi Gabriel.”


“Yahhh jadi gak semangat deh. Gak apa apa deh gue mau gatel sama Gabriel.”


“Heh. Gabriel gak suka cewek yang gatel.” Jennie kesal dengan Shura.


“Tenang aja jen gue bakal gatel dengan anggun.” setelah mengatakan ini Shura tiba tiba menutup telepon tanpa berbicara kepada Jennie. Tentu saja karena ulah Shura, Jennie jadi emosi untung Shura itu temen Jennie kalau bukan sudah pasti Jennie akan melabrak Shura.


Jennie menunggu Gabriel pulang dari tadi sore sampai pukul 8 malam, Gabriel belum kelihatan akan pulang. Jennie jadi khawatir kepada Gabriel, apakah Gabriel akan baik baik saja padahal selalu berangkat pagi dan pulang malam? apa Gabriel gak kecapekan?. Jennie saja sampai ngantuk karena lelah menunggu Gabriel. Karena kebosanan Jennie menghidupkan televisi dari pada ngantuk dan berakhir tertidur disofa.


Tidak lama Gabriel telah membuka pintu apartemen, Gabriel menatap Jennie dengan tatapan kebingungan.


“Kak kenapa belum tidur? biasanya jam segini sudah tidur.” Gabriel bertanya.


“Aku menunggu kamu pulang Gabriel.” jawab Jennie sejujur jujurnya.


“Bukannya aku memang biasa pulang jam segini? kenapa harus ditunggu?”


“Kakak khawatir sama kamu. takut kamu kecapekan dan pingsan ditengah jalan.”


“Gak mungkin aku itu sebelas dua belas sama ultramen jadi kuat.”


“Iyain deh biar seneng. kamu mau makan malam apa? pasti belum makankan?”


“Kok kakak bisa tau? padahal aku belum ngomong ataupun ngode.”


“Kakak itu tau seluk beluk agensimu. walaupun agensi besar tapi tetap saja gak


bakalan ngasih percuma cuma makanan dan pasti makanan yang dikasih harus


dijatah terlebih dahulu. kasian banget idol disana.”


“Yah namanya juga menghemat pengeluaran kak.”


“Kalo kakak jadi manajer kamu. udah kakak protes duluan.”


Jennie jadi ikut khawatir kepada Mark apakah Mark bisa makan sepuasnya


diagensi? ouh apakah karena makanan dijatah tubuh Mark jadi kurus dan banyak


roti perut?.


‘Tapi


kasian juga kalau tetep gak makan’ batin Jennie.


“Makanan dijatah itu diagensimu buat trainee aja atau seniormu yang sudah debut


juga dijatah?” tanya Jennie penasaran.


“Enggak semuanya dijatah apalagi idol yang udah debut kak. karena mereka harus


mengontrol makanan biar tetep punya tubuh proposional.” jawab Gabriel. Jennie


terdiam, apakah karena itu tubuh Mark jadi indah? dibalik tubuh itu ternyata


susah yah mendapatkannya.


“Kalau begitu mau makan apa? biar kakak masakin.”

__ADS_1


__ADS_2