Gagal

Gagal
79


__ADS_3

“Gimana kalau kamu beli rumah aja? rumah yang lumayan sepi tetangganya.” saran dari Manajer Yoo.


Mata Mark berbinar, wah ternyata tidak sia sia Manajer Yoo berpikir menggunakan otaknya sendiri.


Mark sudah berangan angan ingin membeli rumah semacam apa, terlintas dibenaknya bayangan JJ yang sedang tersenyum. Mark menggelengkan kepalanya.


“Kenapa Mark? kamu tidak setuju?” tanya Manajer Yoo.


“Tidak.” Mark menggeleng.


“Lalu kenapa?” Manajer Yoo kembali bertanya.


“Aku tiba tiba keinget dengan JJ, kalau JJ tau bagaimana?”


“Yah sebelum dia tau. Kamu harus menceraikan Jennie dengan catatan Jennie diceraikan setelah pernikahan.” usul Manajer Yoo.


‘Masuk akal juga.’ batin Mark setuju.


“Baiklah. aku setuju dengan usul manajer.”


Manajer Yoo dengan bangga menepuk dadanya kesombongan didirinya semakin memuncak. Memang manusia kalau sudah dipuji lupa dengan semuanya.


“Ouh yah kamu mau beli rumah model seperti apa? atau apartemen saja?” Manajer Yoo berusul.


“Aku juga masih bingung.” jawab Mark.


“Setidaknya katakan satu kata buat ngambarin rumah impian kamu Mark. Jangan terserah terserah aja. Kayak perempuan aja.” kesal Manajer Yoo.

__ADS_1


Mark terdiam sebentar, “aku ingin yang simple tapi elegan.” jawab Mark.


“Bentar mau tipe yang gimana? apartemen atau rumah?”


Mark menoleh kearah manajer, “kenapa dari tadi nanyanya itu sih.”


“Kalau gak nanya yah aku gak bakalan tau rumah seperti apa yang kamu mau beli. Kalau nanti asal beli gimana? takutnya kamu kecewa.” ungkap manajer Yoo.


“Tinggal beli aja. mau suka atau tidak sukanya juga gak penting. mungkin rumah itu hanya beberapa kali aja aku kesana, tempat yang biasa aku kunjungi tetap apartemen ku.”


“Oke. oke.”



Jennie menatap bangunan resto megah yang ada didepannya ini, lagi lagi Jennie kesini hanya untuk mendapatkan uang ganti rugi.  Jennie menghela nafas, semoga kali ini pihak restoran mau menampung biaya ganti rugi.


“Mbak gak ada kesibukan lain apa? sebulan sekali pasti kesini. nambah nambahin pekerjaan saya aja.”


Jennie berusaha tersenyum, “maaf pak kalau merepotkan, tapi bapak taukan kalau pihak resto gak mau diajak kerja sama.” ungkap Jennie.


“Yah  kalau gak mau. udah gak usah kesini lagi aja mbak. rugi energi mbak.” ucap satpam.


“Saya rugi energi gak apa apa pak. Asal saya gak rugi banyak uang.”


Didalam resto sudah banyak pandangan meremehkan dari para pelayan untuk Jennie. Ada salah satu pelayan yang sepertinya akan memanggil manajer restoran. Langkah manajer resto semakin cepat tat kala netranya benar benar melihat penganggu restoran. Manajer restoran sudah didepan bertemu dengan Jennie.


“Mau apa lagi nona?” Manajer masih berusaha sopan.

__ADS_1


“Saya cuman mau ngasih kertas kerja sama biar restoran ini kerja sama membayar kerugian bersama dengan hotel kami.” jawab Jennie dengan pd nya.


Sudah tidak aneh lagi jika Jennie dengan gampang menjawab itu tanpa malu, karena memang public speaking Jennie patut diacungi jempol.


“Maaf sekali lagi tapi restoran kami menolak nona.” tolak manajer resto.


“Kecuali kalo ada ide untuk kami memberikan pendapatan lebih untuk resto kami. Kami dengan senang hati akan bekerja sama dengan hotel anda.” lanjut manajer Yoo itu.


Jennie berusaha berpikir untuk menerima usulan itu atau tidak. “Baiklah saya akan berusaha untuk bekerja sama dengan menaikan pendapatan resto.” jawab Jennie.


Jennie siap mendapatkan omelan dari atasannya karena mengambil keputusan sepihat tanpa berdiskusi dulu. Jennie juga asal menjawab, bagaimana caranya pendapatan restoran itu naik? Jennie juga belum memikirkannnya lagian kenapa repot repot Jennie harus membantu mereka, bodoh sekali Jennie.


“Baiklah kalau begitu saya tunggu kedatangan anda dengan membawa kabar baik.” Manajer resto menyalami tangan Jennie, setelah itu manajer itu pergi.


Wah ini kontrak kerja sama tapi dilakukan dengan spontanitas, bahkan ruangannya saja diarea terbuka bukan tertutup. Serepot ini mencari uang ternyata.


Jennie mulai melangkah menjauh dari restoran, semoga besok Jennie mendapatkan ide untuk restoran itu. Setelah itu pendapatan restoran naik dan bisa membayar ganti rugi.


“Semoga saja Tuhan. Jangan bikin saya semakin repot.”


Jennie mengelus perutnya yang semakin membuncit, “maafin mama yah ngajak kamu panas  panasan.”



Brak.


Kertas kertas ditangan pak Bram terlempar kemuka Jennie.

__ADS_1


__ADS_2