
Nada sambungan telepon masih berdering. Panggilan pertama tidak tersambung, “issh kemana perempuan itu.” kesal Mark.
Manajer Yoo mengelus punggung Mark, “sabar Mark, jadi suami itu harus sabar.”
Mark kembali mencoba menelepon Jennie.
“Halo ada apa?” Jennie mengangkat telepon dari Mark.
Mark bingung harus berkata apa. “Halo?” Jennie disana sudah kebingungan.
“Ehmmmmmmm.” Mark bergumam.
“Kamu sekarang dimana?” Mark bertanya.
Dilain tempat Jennie tersenyum, apa Mark benar benar bertanya karena hatinya? atau memang Mark disuruh oma Rose?. Sepertinya pilihan kedua itu yang paling benar. Walau karena dipaksa tapi Jennie merasa senang. Bahagia seorang perempuan sangat sederhana bukan? tapi laki laki saja yang kurang tau.
“Aku ada diapartemen.” jawab Jennie.
Mark menoleh kearah Manajer, alis Mark naik turun memberi kode Manajer untuk memberi ide percakapan. Mulut Mark sudah komat kamit meminta bantuan. Manajer Yoo tetap diam karena menginginkan agar Mark lebih mendekatkan diri dengan istrinya. Mark melototkan matanya, sungguh sekarang Mark menjadi canggung.
“Kamu menelepon cuman mau tanya itu?” Jennie membuka percakapan.
“Bukan.” Mark menjawab dengan spontan, Mark langsung menepuk dahinya kenapa harus berbohong sih? padahal Mark memang menelepon Jennie untuk bertanya itu.
“Lalu?”
__ADS_1
“Oma Rose udah tau kamu tidur diapartemen?” Mark mengalihkan percakapan.
“Pertamanya itu tidak boleh, kata oma aku harus ikut tinggal keapartemen kamu.” ucap Jennie.
“Jadi? kamu setuju tinggal diapartemen ku?”
“Tidak. Aku tau kamu kurang suka kalau ada aku. Jadinya mending aku tetep diapartemen lama aku.” ungkap Jennie.
“Kenapa gak kesini aja?”
Jennie terdiam sebentar, bentar bentar Mark sekarang sedang menawari Jennie untuk tinggal bersama? tidak bisa dipercaya sekali, yang sedang teleponan dengan Jennie beneran Mark kan? tidak mungkin orang lain.
“Kamu serius Mark?” Jennie tidak percaya jadi mencoba bertanya.
“Ehmm bukan begitu.” Mark ingin meralat ucapannya.
“Kita bahas dichat aja gimana? ada sesuatu yang penting yang haris aku katakan pada manajer ku.” Mark berbohong.
“Baiklah. Selamat malam.” Jennie memutus telepon.
Mark langsung membuang handphonenya dan mengelus dadanya. Mark merasa gugup karena banyak salah ucap.
“Tadi aku denger kamu menawari dia buat tinggal disini?” Manajer Yoo langsung bertanya.
Mark mengangguk, karena memang itu faktanya.
__ADS_1
“Kamu bodoh atau gimana Mark!” sentak Manajer kepada Mark.
“Memangnya kenapa?” Mark bertanya.
Manajer Yoo mengusap rambutnya karena frustasi. “Kalau istri kamu tinggal disini, dan fans yang ada didepan gedung apartemen tau. Wah kelar karier kamu Mark.” Ungkap Manajer Yoo.
Mark memikirkan ucapan dari Manajer Yoo, benar juga kalau fans fans Mark tau pasti akan ada skandal, berimbas kekarier yang sudah Mark bangun lama.
“Lalu aku harus bagaimana Manajer?”
“Kamu jangan bikin aku buat ikut ikutan mikir. Aku sudah terlalu pusing.” Manajer Yoo jadi kesal, kenapa masalah Mark banyak sekali sih.
“Kenapa masalah kamu banyak sekali sih Mark.”
“Aku jadi ikut ikutan pusing.” lanjut manajer Yoo.
“Manajer Yoo yang mendengarnya aja sudah pusing apalagi aku yang mengalaminya manajer.” Mark mencoba mengadu nasib.
Manajer Yoo mengelus punggung Mark, “kasian sekali kamu.”
Mark menghempaskan tangan Manajer yang ada dibahunya, “jadi mau gimana manajer? aku sudah menawari Jennie. Gengsi dong kalau mau batalin. Harga diri aku nanti jatuh.” ucap Mark.
“Baiklah baiklah aku akan memikirkannya.”
Ruangan tidak ada suara lagi karena kedua manusia ini masih sibuk bagaimana caranya agar Mark bisa serumah dengan Jennie tapi tidak diketahui oleh Fans.
__ADS_1