
“Maaf kak saya mau tanya.” orang disamping Jennie menoleh.
“Tanya apa?” to the point orang itu.
Jennie menunjuk kedepan dimana para idol sibuk bercengkrama dengan para fans, “dari semua idol disana siapa yang namanya JJ?”
Orang yang diajak bicara Jennie mengerutkan kening, “saya juga gak tau kak, saya kesini karena tertarik kenapa ramai.”
Mata Jennie membola, ternyata orang ini sama aja kayak Jennie, dia bukan fans, Jennie harus bertanya kepada siapa lagi, atau semua yang disini sebenarnya bukan fans? mereka hanya sekedar menonton tanpa tau didepan mereka itu siapa.
“Kakak bisa tanya kepada mereka,” orang itu menunjuk orang lain yang ada dibaris paling depan.
“mereka membawa spanduk dari para member mungkin mereka fans dan pasti tau siapa siapa saja idol yang ada didepan.” saran orang itu.
Benar juga saran orang ini, pasti orang barisan depan adalah para fans. Dilihat dari kejauhan juga orang itu menyoraki para idol. Gak mungkinkan kalau tidak kenal idola mereka.
“Terimakasih, kalau begitu aku mau kesana.” Jennie meninggalkan orang tiu setelah mengucapkan terimakasih.
Jennie menoel salah satu pundak dari orang dibarisan depan, orang itu menoleh dan jennie kaget karena make up orang itu terlalu warna warni. Kalau jennie make up warna warni jatuhnya pasti seperti orang gila.
“Selamat siang.” jennie menyapa terlebih dahulu.
“Siang kak ada apa?” nada girang keluar dari mulut orang yang diajak bicara Jennie.
‘Sepertinya orang ini ramah.’ batin Jennie.
“Saya mau tanya dari idol didepan siapa yang namanya JJ?” tanya Jennie to the point.
Orang itu menyipitkan matanya, “kakak pembenci JJ yah?” curiga.
Jennie mengibas ibaskan tanganya menandai bahwa Jennie bukan pembenci, mungkin belum sih.
“Tidak, tidak.” terang Jennie.
“Aku belum percaya sekarang banyak yang menyamar seperti penggemar tapi ternyata dibalik itu mereka pembenci.”
__ADS_1
“Tidak tidak aku hanya tertarik dengan member yang bernama JJ.”
“Tertarik?” nada orang itu sedikit nyiyir.
“Kakak tanyakan tadi yang mana namanya JJ, tapi kakak sekarang ngomong tertarik dengan idol JJ tapi tidak tau wajahnya,”
“sudahlah kak kalau mau bohong pintar dikit napa.” Jennie menutup matanya, ternyata jennie salah bicara, hadeuh lain kali Jennie akan berpikir dulu sebelum bebrbicara.
“Aku melihat wajah wajah mereka dan ingin mengikuti tren kencantikan mereka.” Jennie berbohong semoga orang didepannya ini percaya.
Orang itu lagi lagi memincingkan matanya, kesan pertama Jennie ternyata salah, orang ini memang ramah pertama tama tapi bakal penuh ketelitian saat diajak berbicara. Memang seharusnya jangan terlalu percaya pada kesan pertama bertemu orang, bisa jadi itu salah dan berbeda ketika kita telah mengenal orang itu lebih dalam.
“JJ itu orang yang memakai bando pink dia adalah visual dari grup girlband ini, cantik bukan?” Jennie mengikuti tunjukan dari orang itu dan mengamati wanita dengan bando pink, ternyata JJ memang cantik, berbanding terbalik dengan Jennie. Pantes sekali Mark setia dengan JJ, kalau melepaskan JJ pasti Mark akan menyesal.
“Terimakasih.” orang itu membalas dengan senyuman.
Jennie melangkah menjauhi kerumanan dan termenung, apakah Jennie secantik JJ? menurut diri Jennie sendiri Jennie kalah jauh dari JJ, apalagi JJ seorang publik figur pasti lebih unggul dari pada Jennie yang hanya seorang manajer.
Jennie duduk dikursi pojokan mall, Jennie kembali membuka ponselnya dan mengecek apakah ada pesan yang masuk, setelah dicek tidak ada pesan masuk dari siapapun. Bahkan didunia ini tidak ada yang peduli Jennie yang sedang insicure.
berpaling.” gumam Jennie.
Ternyata setelah dipikir pikir Jennie memiliki niat buruk yah, membuat Mark tidak lagi mencintai JJ, tapi apakah Jennie bisa? Tentu hal itu sangat susah apalagi ditambah Mark dan JJ satu agensi.
“Gabriel aku berharap kamu tidak jadi rebutan para wanita.” gumam Jennie.
Mark menghempaskan tubuh diranjang apartemen miliknya, manajer Yoo datang dengan tangan penuh paper bag.
“Lama lama aku ingin sekali resign menjadi manajer mu mark.” ucap manajer Yoo.
Mark langsung bangkit dari tidurnya dan menggeleng tidak setuju, “jangan berpikir begitu, aku tidak akan setuju jika manajer ku diganti.” ungkap Mark.
“Aku akan memaksa CEO agar menyetujui rencana resign ku.” manajer yoo mengancam balik Mark.
“Tidak, atau aku akan berkata kepada seluruh dunia bahwa manajer ku pernah berutang sebesar satu miliar dan sampai sekarang manajer ku belum membayarnya.” Mark mengancam.
__ADS_1
Manajer Yoo langsung bermuka masam, “akukan sudah bilang akan melunasi utang itu segera, nanti setelah utang itu lunas aku akan resign.”
“Apa kamu tidak betah menjadi manajer ku?” tanya Mark.
“Tentu, coba manajer mana yang dijadikan pembantu seperti ini, suruh membawa paper bag hadiah dari fans, dan kadang disuruh membeli makanan, aku bersama mu bukan seperti manajer tapi menjadi seorang pembantu.” ungkap isi hati manajer yoo.
“Memangnya aku seperti itu? aku tidak memaksa mu untuk membawa semua itu kalau bisa paper bag itu ditinggal disana juga tidak apa apa, apartemen sini sudah penuh hadiah.”
“Kalau kita tinggal dijalan, pasti banyak fans yang akan membencimu karena tidak menghargai pemberian dari mereka, come on Mark bersikap dewasalah sebentar lagi bukannya kamu mau menikah? kamu harus berpikir dulu sebelum bertindak.” Manajer Yoo memberi nasehat.
“Memangnya aku kekanak kanakan?” manajer Yoo mengangguk membenarkan.
“Kalau aku kekanak kanakan maka kemarin kemarin jangan paksa aku menikahi wanita itu.” kesal Mark.
“Ckckck bahkan nama calon istri saja tidak tau, mau dijadikan apa pernikahan kamu kedepannya Mark.” manajer Yoo menggeleng tidak percaya.
Mark langsung bangun dan membuka lemari pendingin mengambil minuman jus buah. “Tumben kamu minum itu Mark.” Manajer yoo mencoba bertanya.
Mark mengangguk, “ya, setelah kejadian itu aku sepertinya menghindari alkohol daripada mabuk dan berakibat seperti kejadian kemarin, aku tidak bisa bayangkan.” Mark menggeleng menghapus ingatan tentang malam itu, walaupun ingatan itu samar samar karena Mark dibawah kendali alkohol.
“Wah aku tidak bisa bayangkan Mark kalau nanti kamu mabuk dan berakhir seperti kemarin pasti istri mu sudah banyak.” manajer yoo tertawa. Mark mengambil bantal dan melayangkan bantal itu tepat pada muka sang manajer.
“Aku tidak bisa bayangkan gimana reaksi JJ setelah tau kamu menikah.”
“Aku belum menikah, aku hampir menikah.”
“Come on man sadarlah pernikahan mu cuman tinggal menghitung hari.”
“Aku belum bisa menerimanya manajer, tolong mengertilah.”
“Andai yang menghamili itu aku, pasti aku akan menikahi wanita itu karena yakin pasti wanita itu yang didatangkan Tuhan untuk aku.”
“Aku bahkan ingin komplen kepada Tuhan, kenapa bukan JJ saja yang hamil.”
“Kalau JJ pasti banyak fans yang akan membenci mu Mark.”
__ADS_1
Next gak nih?