
Malam itu kediaman Hendry kedatangan tamu. Baskoro berkunjung untuk melihat anak serta menantunya. Walaupun di tuakan, tapi Baskoro rajin datang ke rumah mereka. Sekeder untuk mengobrol, mengobati rindu pada anaknya. Tak jarang membahas soal perusahaan juga dengan Hendry. Tapi malam ini kedatangan Baskoro bukan sekedar untuk bertemu dengan mereka, melainkan membawa kabar yang cukup mengejutkan bagi Bella dan Hendry.
"Papa yakin.?" Tanya Bella. Dia sampai dua kali memastikan keputusan yang telah di ambil oleh sang Papa. Bukannya tidak percaya ataupun menentang keinginan Papanya, Bella hanya khawatir saja Papanya salah langkah.
"Mira wanita yang baik dan tulus. Papa tidak akan sampai sejauh ini kalau dia bukan wanita baik-baik." Jawab Baskoro tanpa ragu.
Mendengar jawaban Papanya, Bella akhirnya tidak banyak komentar lagi. Dia menyerahkan semua pada Papanya dan mendukung apa yang menjadi keputusannya.
Walaupun cukup kaget karna Papanya akan menikahi janda berusia 35 tahun, terpaut 20 tahun dengan Papanya itu. Jarak yang cukup jauh, sudah seperti seorang anak dan Papanya.
Bella mencoba untuk memahami, sebagai seorang pria yang sudah pernah berumah tangga puluhan tahun, wajar jika Baskoro ingin mencari pendamping lagi yang bisa menjadi teman hidup sekaligus mengurus segala kebutuhannya.
"Lalu kapan Papa kenalkan tante Mira pada ku.?" Tanya Bella. Ibu hamil itu mulai penasaran dengan sosok wanita yang berhasil mengambil hati Papanya.
"Lusa, Papa akan ajak Mira bertemu dengan kamu. Malam ini dia tidak bisa ikut karna harus menjaga Ibunya di rumah sakit." Jawab Baskoro.
Bella mengangguk paham. Sementara itu, Hendry tidak banyak berkomentar. Lagipula statusnya hanya seorang menantu, dia merasa tidak punya hak untuk ikut campur urusan pribadi Papa mertuanya. Selama urusan itu tidak ada sangkut pautnya dengan sang istri, Hendry akan mendukung apapun keputusan Baskoro tanpa harus ikut campur.
"Apa belum ada tanda-tanda melahirkan.?" Tanya Baskoro. Pria paruh baya itu sudah tidak sabar menyambut kelahiran kedua cucu kandungnya.
Bella menggeleng pelan. Akhir-akhir ini dia memang sering merasakan kontraksi palsu, tapi tidak sampai ke tahap akan melahirkan. Rasa sakit dari kontraksi palsu itu masih bisa Bella tahan.
"Besok pergi saja ke rumah sakit, ini sudah mendekati HPL. Jangan menunggu sampai lewat." Kata Baskoro yang tampak khawatir. Sebagai orang tua dan calok kakek, Baskoro tentu ingin yang terbaik untuk Bella dan si kembar.
Bella langsung melirik suaminya.
"Besok Mas Hendry ke luar kota. Lusa saja kami ke Dokter." Jawabnya. Ada pekerjaan penting di kantor cabang, jadi Hendry harus turun tangan.
"Kita ke Dokter besok. Urusan di kantor cabang biar di handle asisten dan sekretarisku saja." Kata Hendry tanpa ragu. Istri dan anak-anaknya menjadi prioritas, walaupun urusan di kantor cabang juga sangat penting.
__ADS_1
"Bella tinggal menunggu hari untuk melahirkan, sebaiknya kamu tidak pergi ke luar kota. Jangan sampai kamu tidak ada di samping Bella saat dia melahirkan nanti." Kata Baskoro mengingatkan.
Hendry mengangguk patuh. Setiap suami pasti ingin mendampingi istrinya saat melahirkan buah hati mereka.
...****...
Pukul 9 pagi, Bella dan Hendry sudah ada di rumah sakit untuk bertemu dengan Dokter pribadi yang selama ini menangani Bella selama memeriksakan kehamilan.
Di antar suster, keduanya langsung di bawa ke ruang pemeriksaan untuk bertemu Dokter.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Hendry, silahkan duduk." Dokter itu langsung menyapa Hendry dan Bella begitu masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi Dok." Jawab Bella lantas menjabat tangan Dokter wanita tersebut. Sementara itu, Hendry hanya mengangguk kecil.
Keduanya lantas duduk di depan meja Dokter.
"HPLnya 3 hari lagi ya,," Kata Dokter seraya menatap catatan pemeriksaan rutin milik Bella di laptopnya.
Melihat pasiennya cemas, Dokter itu lantas tersenyum lembut agar tidak membuat Bella semakin khawatir. Mengingat usia Bella juga masih sangat muda, Dokter itu enggan membuat Bella jadi berfikir aneh-aneh tentang melahirkan.
"Tidak apa. Kita lakukan USG dulu ya untuk melihat kondisi si kembar." Kata Dokter seraya beranjak dari kursinya.
"Mari berbaring di sana." Ujarnya menunjuk ranjang pemeriksaan.
"Mari saya bantu Nyonya." Dengan sigap, seorang suster membatu Bella beranjak ke ranjang dan menuntunnya naik. Hendry juga ikut dan berdiri di samping ranjang karna ingin tau bagaimana kondisi si kembar di dalam perut Bella.
Suster membatu mengoleskan gel di atas perut Bella, lalu Dokter menempelkan alat USG dan mulai menjelaskan apa yang terlihat di layar monitor.
"Babynya baik-baik saja. Mereka sangat aktif." Tuturnya. Hendry dan Bella tersenyum lega.
__ADS_1
Namun detik berikutnya, raut wajah Dokter itu berubah cemas.
"Air ketubannya sudah mulai keruh. Saya sarankan untuk melakukan operasi sesar sebelum air ketubannya semakin keruh dan bisa membahayakan si kembar." Ujarnya dengan berat hati. Padahal dia tau kalau pasiennya ingin melahirkan secara normal. Tapi demi keselamatan si kembar, operasi sesar adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan nyawa mereka. Khawatir air ketuban itu akan tertelan dan bisa membahayakan janin karna sudah keruh.
Wajah Bella seketika pucat, pelipisnya mulai berkeringat seiring dengan detak jantung yang berpacu cepat. Dia lantas menatap suaminya yang juga sedang menatap ke arahnya. Tatapan Bella tampak sendu dan banyak beban.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak-anak saya Dok." Tegas Hendry seraya menggenggam tangan Bella.
"Jangan khawatir, kalian akan baik-baik saja." Lirih Hendry kemudian mengecup kening Bella.
"Sita, siapkan ruang operasi secepatnya.!" Titah Dokter itu pada asistennya.
"Baik Dok." Sita bergegas menelepon ke bagian bedah untuk menyiapkan ruang persalinan sesar.
...******...
Di ruangan serba putih, Bella sedang berjuang untuk melahirkan darah daging Hendry. Dua buah hati yang hadir tanpa di rencanakan, kini akan segera lahir ke dunia. Terlahir dalam keadaan suci tanpa dosa, meski kedua orang tuanya tak luput dari dosa yang mereka perbuat.
Di ruangan yang sama, Hendry terus memanjatkan do'a dalam hati untuk keselamatan istri dan kedua anaknya. Tangannya tak pernah lepas menggenggam sebelah tangan Bella. Sesekali mengecup kening Bella dan membisikkan kata-kata indah untuk menyemangati istrinya itu.
Hendry menahan rasa gugupnya, dia juga tidak menunjukkan kecemasan di depan Bella agar Bella lebih rileks.
"Sebentar lagi kita akan bertemu dan melihat wajah anak-anak. Aku sudah tidak sabar. Mereka pasti tampan dan cantik seperti Mamanya." Kata Hendry lirih. Dia tidak pernah berhenti mengajak Bella bicara selama proses persalinan.
Sesekali bercanda, walaupun tawa Bella tidak bisa tertawa lepas.
Beberapa saat kemudian, suara tangisan bayi terdengar nyaring dan memenuhi ruang operasi. Hendry lantas berdiri dari duduknya untuk melihat anaknya. Matanya seketika berbinar melihat jagoan kecilnya yang lebih dulu lahir.
"Laki-laki, dia sangat tampan." Bisik Hendry pada Bella yang kelihatan penasaran.
__ADS_1
Selang 2 menit, bayi perempuan berhasil dilahirkan dalam keadaan selamat, sehat dan tanpa kekurangan satu apapun. Sama seperti Kakak laki-lakinya.
Rasa haru dan bahagia tidak bisa di bendung. Hendry dan Bella sama-sama meneteskan air matanya ketika melihat kedua anaknya dari jarak dekat.