
Hendry meremas kuat ponsel di tangannya. Deretan pesan yang dikirim Julia membuatnya tersulut emosi. Dia terlalu percaya pada Julia, tanpa berfikir kalau Julia diam-diam sudah menyalin vidio itu dan sekarang dipakai untuk mengancamnya. Kini Hendry tidak punya pilihan lain, daripada vidio itu tersebar dan akan merugikan banyak orang karna sudah pasti berimbas pada perusahaannya dan perusahaan Baskoro. Lalu nama baik mereka serta Bella.
Hendry juga memikirkan kondisi Bella yang sedang hamil muda. Jika vidio itu benar-benar tersebar, kemungkinan akan mempengaruhi kondisi dan keselamatan 3 nyawa sekaligus.
Di atas ranjang, Bella memperhatikan kegusaran Hendry. Pria itu juga tampak buru-buru membereskan laptop dan berkas-berkas di atas meja. Sebenarnya Bella penasaran, ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi Bella enggan membuat interaksi lebih jauh dengan Hendry. Takut pria itu salah paham kalau diajak mengobrol banyak hal.
Bella memalingkan muka sebelum Hendry beranjak dari sofa. Pria itu menghampiri ranjang Bella tanpa sadar kalau sejak tadi gerak geriknya di perhatikan oleh Bella.
"Aku pulang dulu, ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Julia." Pamitnya seraya mengusap pucuk kepala Bella.
"Kamu tidak masalah sendirian.? Atau mau aku panggilkan ART untuk menemanimu.?" Tawar Hendry lembut. Sebenarnya tidak masalah meninggalkan Bella di rumah sakit besar itu, di sana sudah ada perawat khusus yang ditugaskan menjaga Bella 24 jam.
"Bukannya aku sudah menyuruh Mas Hendry pulang sejak tadi malam. Aku bisa mengurus diriku sendiri, tidak usah memperdulikanku." Sahut Bella dingin. Kekesalan Bella pada Hendry malah semakin bertambah setelah Hendry meminta ijin untuk pulang dan menyelesaikan masalah dengan Julia. Mengingat Hendry begitu mencintai Julia, Bella berfikir kalau rumah tangga mereka berdua pasti baik-baik saja.
Balas dendam yang ingin Bella lakukan pada Julia, malah menghancurkan dirinya sendiri karna mengandung anak Hendry.
Hendry menghela nafas pelan, dia sudah ekstra sabar menghadapi kemarahan Bella sejak semalam. Tapi mau bagaimana lagi, Hendry harus memaklumi kondisi dan perasaan Bella.
"Nanti sore aku datang lagi. Kamu ingin aku bawakan apa.?" Tanya Hendry lembut. Menghadapi wanita hamil yang sedang diselimuti amarah memang harus penuh kelembutan, jadi Hendry memasang muka tebal walaupun berulang kali di usir oleh Bella. Dia akan datang lagi ke rumah sakit sampai kondisi Bella membaik dan di perbolehkan pulang.
"Pulanglah, aku tidak ingin apapun."
"Temui saja Julia dan jangan datang lagi.!" Tegas Bella seraya memunggungi Hendry.
Bukannya tersinggung, Hendry malah mengulum senyum tipis. Kalau dilihat-lihat, Bella itu lebih mirip orang yang sedang cemburu di banding sedang marah.
"Baik,, aku tidak akan datang lagi." Jawab Hendry datar. Detik itu juga Bella langsung menoleh kebelakang dengan mata melotot tajam.
"Kenapa.?" Tanya Hendry yang memilih pura-pura tidak tau. Padahal Hendry tau kalau Bella sebenarnya kesal padanya yang tidak mau datang lagi.
"Tidak.! Silahkan keluar." Jawab Bella cuek, lalu kembali memunggungi Hendry.
Hendry sampai tersenyum sambil menggeleng heran. Dia kemudian sedikit menunduk agar bisa mengusap perut Bella dari belakang.
__ADS_1
"Daddy pulang dulu, kalian baik-baik ya dan jangan menyusahkan Mamamu." Ujar Hendry seolah nyata sedang berbicara dengan kedua anak kembarnya.
"Nanti sore Daddy datang lagi." Lirihnya seraya menarik tangannya dari perut Bella.
Bella tidak bergeming, dia diam saja tanpa ada respon. Entah tersentuh dengan perlakuan dan ucapan Hendry, atau justru sebaliknya.
Yang jelas, Bella baru menoleh setelah mendengar pintu di tutup. Ya, Hendry sudah meninggalkan ruangannya.
Bella segera meraih ponselnya di atas nakas, lalu menghubungi seseorang.
"Ya aku di rumah sakit, tolong jemput aku." Pintanya sendu.
"Hemm,, terimakasih,," Bella mengakhiri sambungan telfonnya, kemudian turun dari ranjang dengan hati-hati dan memilih duduk di sofa sembari menunggu seseorang yang akan menjemput dan membawanya pergi.
...*****...
"Sudah aku bilang.! Jangan main-main dengan vidio itu.!! Apa kamu tau akibatnya jika vidio itu tersebar.?!! Bukan hanya Bella dan perusahaan papamu saja yang hancur, tapi aku dan perusahaanku juga akan ikut hancur.!" Sentak Hendry yang berhasil merebut paksa ponsel Julia, membuat wanita itu mengamuk dan mengeluarkan caci maki.
"Bilang saja kamu tidak ingin melihat ja-lang itu hancur.!!" Desak Julia penuh amarah.
Braaakk.!!!
Hendry membanting ponsel Julia ke tembok. Lemparannya sangat kuat, sampai ponsel Julia tidak berbentuk lagi karna hancur menjadi beberapa bagian.
Sekarang vidio itu benar-benar sudah lenyap, Julia tidak punya apapun lagi yang bisa dijadikan ancaman.
"Kamu keterlaluan Hendry.!! 5 tahun kita menikah, kamu lebih memilih untuk melindungi nama baiknya dibanding memikirkan perasaanku, istrimu sendiri.!!" Teriak Julia sambil memukuli dada Hendry berkali-kali.
"Cukup Julia.!! Aku muak dengan perdebatan seperti ini, kamu semakin tidak bisa dikendalikan.!" Hendry menepis tangan Julia dari dadanya.
"Lebih baik kita sudahi saja pernikahan ini." Ujar Hendry meski tampak berat hati.
Daripada mengorbankan 3 orang sekaligus, lebih baik mengorbankan 2 orang saja. Masalah Ale, Hendry bisa mengupayakan hak asuh anak agar Ale jatuh ke tangannya.
__ADS_1
Julia kehabisan kata-kata. Dia menatap Hendry dengan tatapan nanar, lalu tersenyum miris dibalik luka yang Hendry goreskan pada hatinya.
5 tahun menikah, semuanya sia-sia dan berakhir begitu saja hanya karna Hendry lebih memilih Bella.
"Tidak.! Aku tidak mau bercerai.! Jangan harap bisa menceraikanku.!" Julia berteriak di depan wajah Hendry, pria itu hanya memejamkan mata sekilas dan mengatur nafasnya.
"Julia, hubungan kita sudah lama tidak sehat. Aku,,"
Julia tertawa sinis, membuat Hendry menghentikan ucapannya.
"Hubungan kita tidak sehat.?!! Bukankah kamu dan ja-lang itu yang sudah merusak hubungan kita.?!!" Serunya sinis.
"Hentikan Julia.! Aku diam saja tapi bukan berarti membiarkanmu terus menyebut Bella dengan sebutan seperti itu.! Bagaimana bisa kamu menyebutnya ja-lang, sedangkan aku orang pertama bagi Bella.!" Tegas Hendry yang terkesan menyindir.
Julia sampai terdiam, dia ingat dirinya sudah tidak suci lagi saat pertama kali melakukannya dengan Hendry. Karna ke perawa nannya diberikan pada Rexy, lalu beberapa kali melakukan hubungan suami istri sampai akhirnya hubungan mereka berakhir.
Melihat Julia diam saja, Hendry bergegas keluar dari kamar. Sampai akhirnya Julia tersadar ketika Hendry menutup pintu dengan sedikit membantingnya.
"Aaaarrghhh.!! Sialan.!!" Umpat Julia geram.
...******...
Arlan terdiam sembari fokus melajukan mobilnya yang semakin jauh dari rumah sakit. Setelah melakukan negosiasi menandatangani perjanjian dengan pihak rumah sakit, akhirnya Bella bisa meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuan Hendry.
Kini Bella baru saja menceritakan semua yang terjadi padanya, termasuk aksi balas dendam pada Julia yang kini menghasilkan dua benih sekaligus di rahimnya.
"Kamu membuatku terkejut." Lirih Arlan. Hanya itu yang keluar dari mulutnya setelah terdiam cukup lama. Arlan kehilangan kata-kata setelah mendengar cerita Bella. Dia juga bingung harus berkomentar apa.
Harus menyalahkan atau mengapresiasi perbuatannya.? Sedangkan semuanya sudah terlanjur terjadi.
Bella sudah menentukan jalannya sendiri dengan melakukan balas dendam pada Julia menggunakan cara yang ekstrim, jadi yang Bella alami saat ini sudah menjadi konsekuensinya.
"Aku menyesal. Tapi menyesal pun hanya sia-sia, karna keadaan tidak akan berubah lebih baik dengan sebuah penyesalan." Ujar Bella dengan senyum kecut. Nasi sudah menjadi bubur, Bella harus pandai membuat bubur itu menjadi enak, jangan langsung menelannya begitu saja. Perlu di tambah dengan pelengkap agar lebih enak memakannya.
__ADS_1
Dalam arti, harus bisa mengubah kepahitan yang sudah terjadi, menjadi sebuah kebahagiaan meski tidak mudah dan akan memerlukan banyak proses.