Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 72


__ADS_3

Hendry mengajak Bella ke kamar karena sudah waktunya tidur. Udara di luar juga semakin menusuk, khawatir nanti Bella sakit karna sudah terlalu lama duduk di balkon kamar.


Kini keduanya sudah berada di dalam kamar, Bella mulai naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas kasur empuk miliknya.


Hendry ikut berbaring tanpa ragu, lalu menarik Bella dalam dekapan. Bella pasrah saja di peluk seperti itu. Tubuh kecil Bella tampak tenggelam dalam dekapan badan Hendry yang besar dan tinggi.


"I love you,," Bisik Hendry di tengah-tengah keheningan. Jadi meskipun berbisik, Bella bisa mendengarnya dengan jelas.


Wajah Bella sampai merona karna ungkapan cinta dari Hendry, untung saja wajahnya tenggelam di antara dada dan lengan kokoh Hendry.


Bella tidak membalasnya karna malu, tapi dia merespon dengan memeluk tubuh Hendry dan semakin terlihat nyaman dalam dekapan pria itu.


"Jauhkan sedikit paha mu,," Pinta Hendry lirih. Dia ketar-ketir saat merasakan paha Bella terlalu menempel di tubuhnya. Bukan, bukan di tubuh Hendry maksudnya. Lebih tepatnya menempel di antara kedua paha Hendry dan menimbulkan sensasi saat kaki Bella bergerak-gerak.


"Memangnya kenapa.?" Bella bertanya sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Hendry. Ekspresi wajah Bella terlihat sangat polos, sepertinya tidak sadar kalau pahanya berhasil membuat bagian tubuh Hendry sedikit mengeras.


Hendry yang tidak mau mengambil keuntungan dalam kesempitan, jadi berusaha agar tidak terpancing semakin jauh. Lebih baik dia menyuruh Bella menjauhkan pahanya, daripada terjadi sesuatu yang sebenarnya Hendry inginkan. Tapi Hendry tidak mungkin melakukannya dalam keadaan seperti ini, bisa-bisa Bella akan kecewa dan tidak mau dekat-dekat lagi dengannya.


"Kamu membangunkan sesuatu." Jawab Hendry yang mulai tidak nyaman, sudah terlanjur bangun. Pikirannya jadi berkelana kemana-mana.


"Maaf,," Lirih Bella canggung.


Paham dengan maksud Hendry, Bella buru-buru menggeser kakinya supaya tidak menempel dengan kaki Hendry. Lalu melonggarkan pelukan lantaran merasa canggung dalam situasi yang terasa asing dan aneh seperti itu. Walaupun sebelumnya mereka lebih parah dari sekedar berpelukan ataupun bersentuhan dengan daerah sensitif masing-masing.


"Sebentar, sepertinya harus jaga jarak dulu." Hendry melepaskan dekapannya, dia bergeser ke pinggir untuk menjaga jarak dengan Bella. Hendry butuh waktu meredam sesuatu yang sudah terlanjur bergejolak akibat intinya tidak sengaja tersenggol paha Bella.


Melihat Hendry sampai harus bergeser menjauh, Bella jadi menelan ludah dengan susah payah. Sepertinya memang berbahaya kalau tidur satu ranjang begini. Sinyal Hendry terlalu kuat, kesenggol sedikit saja sudah langsung on.


Bella jadi cemas, takut mengulangi kesalahan lagi dengan Hendry, sedangkan kesalahan mereka saja sudah terlalu banyak. Bella engga menumpuk dosa lebih banyak lagi. Dosanya saja mungkin sulit di ampuni.


"Di sebelah ada kamar kosong, Mas Hendry tidur di sana saja kalau tidak nyaman kita satu ranjang." Tutur Bella setelah melihat Hendry berusaha keras menahan diri agar tidak berbuat aneh-aneh. Daripada Hendry tersiksa sendiri, lebih baik menyuruhnya pisah kamar saja. Toh dia dan Hendry juga belum menikah.


"Aku jauh lebih tenang menemani kamu tidur disini. Kita letakan guling saja di tengah-tengah." Kata Hendry seraya mengambil guling dan di letakan di tengah-tengah kasur. Sekarang mereka terpisahkan oleh guling pembatas. Mungkin seperti itu lebih aman dan bagus untuk kesehatan Hendry agar tidak tersiksa batin akibat menahan gairah.


Malam itu, keduanya sepakat tidur satu ranjang dengan menjadikan guling sebagai pembatas.

__ADS_1


1 jam sampai 2 jam pertama masih terlihat aman-aman saja, Hendry dan Bella tidur dengan tenang pada posisinya masing-masing. Tapi di jam berikutnya, guling yang tadi ada di tengah-tengah untu pembatas, sekarang sudah merosot ke bawah.


Posisi Hendry dan Bella juga semakin ketengah, hampir menghapus jarak. Mungkin kalau keduanya geser ketengah sekali lagi, posisinya jadi saling menempel.


Benar saja, setelah beberapa menit, kini keduanya malah kedapatan saling memeluk. Bella pun semakin pulas tertidur di pelukan Hendry.


...******...


"Kamu yakin mau datang ke perusahaan.?" Hendry memastikan sekali lagi. Dia sebenarnya ingin melarang Bella ketika wanita itu mengutarakan niatnya untuk datang ke perusahaan lagi sebagai pemimpin sementara.


Bella mengangguk yakin, dia sudah memikirkan hal ini sejak kemarin. Hampir 1 minggu dia tidak datang ke perusahaan sejak di larikan ke rumah sakit. Bella merasa sudah waktunya kembali lagi ke perusahaan. Lagipula kondisinya kondisinya sudah baik-baik saja, sehat dan bisa diajak melakukan aktivitas.


"Aku sudah janji pada Papa untuk menggantikan posisinya sementara. Lagipula aku juga mau belajar bisnis." Sahut Bella sambil mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.


Hendry tidak menginterupsi, dia mendukung keinginan Bella asal Bella bisa menjaga kehamilannya agar tetap baik-baik saja selama bekerja.


Tapi Hendry menyuruh Bella supaya pindah lagi ke rumah yang dulu di tempati Bella dengan Ibunya. Karna kalau masih disini, Bella akan memakan banyak waktu di perjalanan untuk menuju perusahaan. Hendry khawatir dengan kondisi Bella kalau terlalu lama dalam perjalanan. Apalagi setiap hati harus pergi ke perusahaan.


...******...


"Harusnya dulu sekalian saja kita racuni anak sialan itu.!" Geram Natalie.


Dia seperti menyesal hanya melenyapkan nyawa Selena saja, tidak sekalian melenyapkan putrinya yang ternyata malah menjadi ancaman besar.


"Dia membuat hidup kita berantakan seperti ini.! Aku ingin cepat-cepat mem-bunuhnya.!" Sahut Julia tak kalah geram.


"Berani-beraninya dia menggoda Hendry dan menyuruhnya agar menceraikan ku.!" Julia tetap menyalahkan Bella sebagai penyebab hancurnya rumah tangganya dengan Hendry.


Padahal dia yang lebih dulu bermain gila dengan mantan kekasihnya. Mungkin Julia hanya menganggapnya bersenang-senang karna hanya melakukannya malam itu saja.


Tapi beberapa hari yang lalu Julia tidak menolak ajakan Rexy ketika pria itu datang ke Indonesia.


Dia dengan sadar ingin menghabiskan malam panas dengan mantan kekasihnya dan mengulangi lagi sampai ketiga kali.


Bukannya ikut introspeksi diri, Julia malah melimpahkan semuanya pada satu orang.

__ADS_1


"Kamu tentang saja, Mama pastikan anak sialan itu sudah lenyap sebelum menikah dengan Hendry." Ujar Natalie serius. Dia sudah menyusun rencana untuk mencari Bella dan melenyapkannya. Karna jika Bella lenyap, masih ada kemungkinan Natalie mendapatkan lebih banyak harta Baskoro.


Julia menyeringai puas, dia tidak akan kesulitan menculik dan melenyapkan Bella selama Mamanya juga berada di pihaknya.


...******...


2 hari berlalu, Bella juga sudah pindah lagi ke rumah Ibunya. Dia mempertimbangkan ucapan Hendry dan akhirnya setuju untuk pindah lagi demi menjaga kehamilannya tetap sehat dan baik-baik saja.


Tapi setelah pindah ke rumah itu, Hendry jadi tidak pernah menginap. Pria itu selalu pulang setelah Bella terlelap. Entah karna tidak enak dengan pekerjaan rumah di sana, atau mungkin karna alasan yang lain.


Sore ini Hendry yang menjemput Bella di perusahaan. Kemarin Bella minta pada Hendry supaya di pertemukan dengan kedua orang tuanya karna Bella ingin meminta maaf pada mereka.


Hendry menyetujuinya setelah melihat suasana hati Bella sudah jauh lebih baik. Jadi dia tidak terlalu khawatir untuk membawa Bella menemui orang tuanya.


Sampainya di perusahaan Baskoro, Hendry langsung pergi ke ruangan Bella. Pria itu sengaja datang lebih awal lantaran ingin menjemput Bella langsung dari ruangannya.


Bukan sesuatu yang sulit bagi Hendry untuk datang ke ruangan Bella, karna semua karyawan sudah mengenal Hendry sebagai menantu pemilik perusahaan. Jadi ketika Hendry bilang ingin bertemu Bella, tidak ada yang mencegahnya.


Hendry mengetuk pintu beberapa kali. Bella menyahuti dari dalam ruangan, menyuruhnya agar masuk. Bella mungkin tidak tau kalau Hendry yang datang.


Begitu membuka pintu, Hendry di suguhkan dengan pemandangan yang membuat hatinya panas. Namun dia berusaha bersikap biasa saja, menahan diri untuk tidak marah pada pria yang sedang tertawa renyah dengan Bella sambil mengacak rambutnya.


Apa-apaan ini.?! Pikir Hendry geram.


Bella tampak kikuk saat melihat Hendry yang masuk ke ruangannya. Berbeda dengan Arlan, pria itu seketika bersikap dingin. Gesture tubuh dan tatapan matanya seolah menolak kedatangan Hendry.


Bella lantas melihat arloji di tangannya. Baru pukul setengah 4, padahal dia minta di jemput jam 4.


"Sepertinya perusahaanmu kekurangan proyek." Ujar Hendry pada Arlan dengan nada menyindir.


Karna masih jam kerja, tapi Arlan asik mengobrol dengan Bella di perusahaan Baskoro.


Arlan hanya menyeringai tipis dan tidak menanggapi ucapan Hendry.


"Berangkat sekarang.?" Tanya Bella untuk mengalihkan tatapan Hendry pada Arlan.

__ADS_1


__ADS_2