Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 60


__ADS_3

Dua ART langsung masuk ke dalam rumah, membawa barang-barang pribadi milik Bella untuk di bawa ke kamar. Lalu membereskan beberapa ruangan dan mengatur ulang lekat furnitur di bantu oleh dua bodyguard. Rumah itu tidak pernah di tempati sebelumnya, namun sudah lengkap dengan isinya.


Sementara itu, Bella tengah duduk dengan Arlan di ruang tamu yang tidak begitu luas dan cukup sederhana. Rumah yang diam-diam di beli oleh Bella 2 tahun setelah Ibu meninggal. Hanya untuk investasi saja, hasil dari mengumpulkan uang bulanan yang diberi oleh Papanya.


Dan ternyata rumah ini bisa dimanfaatkan dalam situasi yang tak terduga seperti sekarang. Dimana Bella membutuhkan tempat tinggal untuk menghilang sementara waktu.


Berharap di rumah yang akan Bella tempati saat ini, dia bisa menangkan pikiran, mencoba menerima keadaan, dan mencari solusi terbaik atas apa yang sudah terjadi.


"Terimakasih,," Bella berucap tulus, hanya itu yang bisa dia ucapkan pada Arlan karna sudah bersedia membantunya dalam keadaan sulit seperti ini.


"Jangan sungkan, katakan saja kalau butuh sesuatu. Semua ini pasti sulit untukmu, jadi jangan menghadapinya sendiri." Sahut Arlan dengan bijak.


Di tengah-tengah rasa kecewanya akibat kabar kehamilan Bella, Arlan masih bisa bersikap bijak dalam membantu Bella menghadapi masalah yang cukup rumit itu.


Padahal Arlan sendiri sebenarnya butuh waktu, butuh waktu untuk menerima kabar mengejutkan dari wanita yang sudah lama ingin dia jadikan istri.


Sekarang wanita itu sedang hamil, Arlan jadi di lema. Dia bingung mau tetep meminta Bella menjadi istrinya, atau merelakan Bella dengan pilihannya sendiri.


Arlan sebenarnya tidak mempermasalahkan kehamilan Bella, dia bisa menerima apapun kondisi Bella saat ini, termasuk menerima anak-anak Bella kelak. Namun ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Menikahi wanita yang hamil di luar nikah, apalagi hamil karna pria lain, tentu saja bisa berdampak buruk bagi kesuksesan Arlan.


Dan kemungkinan ada banyak orang terdekatnya yang akan menentang keputusannya untuk menikahi Bella, terutama kedua orang tuanya.


Arlan juga tidak mungkin membohongi semua orang dan kedua orang tuanya dengan mengakui anak-anak Hendry sebagai darah dagingnya. Karna suatu saat pasti akan terbongkar. Hendry pun pasti tidak akan tinggal diam jika ketiga darah dagingnya di akui oleh Arlan.


Lalu Arlan harus apa.? Dia hanya bisa membantu dan mendukung keputusan yang akan di ambil oleh Bella.


"Sepertinya aku harus pulang, ada jamuan makan malam di rumah orang tuaku." Ucap Arlan seraya melihat arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore.


Bella mengangguk dan kembali mengucapkan terimakasih pada Arlan. Dia juga meminta maaf jika sudah merepotkan Arlan dalam situasi seperti ini.


"Aku bukan orang lain, Om Baskoro sudah seperti Papaku sendiri. Jangan berfikir ulang untuk meminta bantuan padaku." Sahut Arlan. Satu tangannya mengusap pucuk kepala Bella dan melempar tatapan teduh.


"Hmm,, Hati-hati di jalan Mas,," Bella melambaikan tangan, menunggu sampai Arlan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Di dalam mobilnya, Arlan sempat menghela nafas berat sebelum melajukan mobil meninggalkan halaman rumah.


Dia masih bingung dengan jalan pikiran Bella. Entah bagaimana bisa Bella berfikir balas dendam menggunakan cara seperti itu. Selain harus mengorbankan sesuatu yang berharga dalam dirinya, cara balas dendam Bella juga hanya merugikan diri sendiri seperti saat ini.


Kalau sudah begini, apa yang didapatkan Bella dari balas dendamnya.? Pernikahan Julia dengan Hendry juga belum tentu hancur. Sedangkan kehancuran Bella malah di depan mata.


Hamil di luar nikah, apalagi dari hasil hubungan gelapnya bersama Kakak ipar, siapa yang tidak akan berfikir buruk pada Bella.


...******...


"Hendry akan menceraikan Julia.!" Pria berwajah tegas itu bicara dengan santainya di depan kedua orang tuanya dan juga Julia.


"Sudah tidak ada yang bisa di pertahankan lagi, perasaanku pada Julia sudah pudar." Sambungnya dan membuat orang tuanya tercengang dengan pengakuan putra mereka.


Farah mulai memegangi kepalanya lagi yang semakin nyeri. Dia pikir Julia tidak serius saat mengatakan Hendry akan menceraikannya.


"Apa karna Bella.? Apa benar kalian memiliki hubungan.?!" Bada bicara Farah meninggi. Tidak peduli meski Hendry anaknya, jika Hendry benar-benar melakukan kesalahan, Farah tidak akan membela apalagi melindunginya.


Kalau Julia sudah mengadu lebih dulu pada orang tua Hendry, mereka pasti akan membenci Bella tanpa melihat dari sisi yang lain.


Melihat putranya hanya diam dan melirik Julia, Farah jadi ikut-ikutan melirik menantunya itu.


Jangan-jangan menantunya itu berbohong soal perselingkuhan Hendry agar mendapat pembelaan darinya supaya menyuruh Hendry tidak menceraikan Julia.


Julia seketika geram melihat semua orang menatapnya dengan tatapan menyelidik. Papa mertuanya juga sama saja.


"Mah, aku tidak bohong. Hendry dan Bella memang berselingkuh di belakangku sejak dua bulan yang lalu. Bahkan mereka sudah sering melakukan hubungan suami istri.!" Teriak Julia penuh emosi.


"Julia.! Pelan kan suaramu.!" Tegur Hendry tegas.


"Aku tidak akan seperti ini kalau kamu tidak berbuat gila dengan wanita ja-lang itu.!" Bukannya mengontrol emosi dan nada bicaranya, Julia malah semakin mengamuk di sana.


"Astaga, aku bisa terkena serangan jantung kalau seperti ini." Farah memegangi dadanya dan memilih beranjak dari ruang keluarga.

__ADS_1


Perdebatan Hendry dan Julia membuatnya stress dan sakit kepala.


"Mah, Mama mau kemana.?! Mama belum meminta Hendry untuk meninggalkan wanita itu agar tidak menceraikanku." Seru Julia yang ingin mencegah langkah Farah dari ruang tamu.


"Julia, Mama bisa mati mendadak kalau kalian berdua berdebat seperti itu. Sebaiknya kamu bicara dulu dengan Hendry, biar nanti Mama sendiri yang akan bicara empat mata dengan suamimu." Sahut Farah dan memilih beranjak dari sana, dia juga mengajak Sudibyo agar meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga.


"Hendry.! Papa tidak pernah mengajarimu menyakiti siapapun, apalagi istrimu sendiri.!" Tegas Sudibyo ketika ber diri dari duduknya.


Perkataan Sudibyo membuat Julia merasa besar kepala, setidaknya salah satu mertuanya bisa berada di pihaknya.


"Pikirkan baik-baik keputusanmu, jangan mengambil keputusan dalam keadaan sedang emosi." Tuturnya kemudian segera menyusul sang istri yang sudah pergi dari sana.


...*******...


"Hubungan kita masih bisa di perbaiki, aku akan memaafkan kesalahan kamu demi Ale dan rumah tangga kita." Kata Julia seraya bergeser mendekat pada Hendry.


Hendry menarik nafas dalam. Jika mempertahankan rumah tangganya bersama Julia, lalu bagaimana nasib Bella dan kedua anaknya.? Hendry tidak mungkin tega membiarkan Bella melalui semua itu sendirian.


Terlepas niat Bella mendekatinya hanya untuk menghancurkan perasaan Julia, tapi Hendry juga sadar akan kesalahannya. Dia benar-benar sadar ketika memutuskan menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya itu. Jadi tidak adil kalau hanya Bella saja yang menanggungnya.


"Maaf Julia, aku tidak bisa.!" Tegas Hendry setelah terdiam beberapa saat.


"Lagipula sudah tidak ada yang bisa kamu harapkan padaku."


Julia tampak semakin meradang mendengar perkataan Hendry. Sorot matanya langsung berkabut amarah dan dendam pada sosok Bella tentunya. Wanita yang sudah berani bermain apa dengannya karna merebut Hendry.


"Kamu lupa dengan perkataanmu waktu itu.? aku sudah memberikan vidionya padamu, kenapa masih berfikir untuk mengakhiri pernikahan kita.?!Entah apa yang sudah ja-lang itu racuni ke otakmu sampai kamu mengorbankan pernikahan kita dan Ale.!" Sentak Julia penuh amarah.


"Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Ale melihat orang tuanya berpisah.! Kenapa kamu jari setega ini Hendry.!!" Julia memukul Hendry berulang kali. Bukannya menghindar, Hendry malah membiarkan Julia terus memukulinya untuk meluapkan kekesalan.


Sebenarnya dia juga tidak tega melihat Julia hancur seperti ini, tapi mau bagaimana lagi.?


Memaksakan untuk mempertahankan rumah tangannya juga hanya akan sia-sia, karna perasaan Hendry lebih condong pada Bella saat ini. Di tambah ada dua darah daging Hendry di rahim Bella. Membuat Hendry terus memikirkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2