Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 66


__ADS_3

Akibat gengsi dan malu bertanya, Bella jadi uring-uringan sendiri karna memikirkan Hendry yang entah pergi kemana. Pergi di saat dia sedang tidur, membuat Bella merasa kesal pada pria itu ketika bangun dan sudah tidak mendapati Hendry di kamarnya. Tadi Bella juga sudah turun, pura-pura pergi ke dapur untuk mengambil air hangat, padahal hanya alibi saja agar bisa sekalian mencari Hendry. Bella pikir Hendry mungkin sedang makan siang di bawah, tapi yang dicari tetap tidak ada di sana.


"Kenapa kalian cepat sekali merindukan Papa, padahal baru 2 jam yang lalu bertemu." Keluh Bella menatap perutnya. Kalau bisa di ajak negosiasi, mungkin Bella akan menyuruh anak-anak supaya tidak merindukan Hendry. Jadi dia juga tidak akan kerepotan meskipun harus jauh-jauh dari pria yang menanam benih di rahimnya.


Gara-gara twins yang ingin dekat-dekat Papanya, Bella jadi susah sendiri. Seperti tersiksa perlahan karna selalu gelisah, pikiran kemana-mana dan sulit tidur. Nafsu makan pun menurun drastis.


Ibarat raga tanpa jiwa, seperti itulah keadaan Bella selama jauh dari Hendry.


Kesal karna yang di tunggu tidak muncul-muncul, Bella akhirnya masuk lagi ke kamarnya. Dia memutuskan mandi karna sejak pagi dia belum sempat mandi. Jangankan mandi, sekedar untuk beranjak dari ranjang saja Bella tidak punya tenaga. Tidak heran kalau tadi pingsan sarapan beberapa suap, sampai akhirnya Hendry datang dan membuat Bella seperti memiliki tenaga lagi.


...*****...


Di tempat lain, Hendry sudah buru-buru melajukan mobilnya setelah membaca pesan yang mengatakan kalau Bella sudah bangun. Ternyata pesan itu masuk ke ponselnya sejak 30 menit yang lalu, tapi karna fokus menyetir dan mampir ke supermarket, Hendry tidak sempat mengecek ponselnya.


Kini di jok belakang sudah penuh dengan berbagai macam buah-buahan, lalu susu untuk ibu hamil berbagai rasa. Kebetulan saat tadi pagi mengambil sarapan di dapur, Hendry tidak melihat stok susu ibu hamil. Buah pun tinggal beberapa saja.


Hendry memasukkan mobilnya ke halaman rumah Bella. Kali ini tanpa ada perdebatan, kedua bodyguard yang berjaga di depan langsung membukakan gerbang begitu melihat mobil Hendry mendekat. Mungkin karna tidak ada larangan lagi dari Bella, jadi mereka membiarkan Hendry masuk.


"Tolong bawakan belanjaan ke dalam." Hendry bicara melalui jendela mobil yang dia turunkan sedikit kacanya.


Leon mengangguk patuh, lalu berjalan mengikuti mobil Hendry sampai berhenti di depan garasi mobil. Hendry kemudian turun dan membukakan pintu mobil belakang sebelum masuk ke dalam rumah, dia meninggalkan Leon yang sedang mengeluarkan belanjaan di dalam mobilnya.


Hendry menghampiri Bik Dina yang sedang membereskan ruang keluarga.


"Bella sudah makan siang.?" Tanyanya.


"Belum Tuan. Sudah saya tawari, tapi katanya nanti saja." Jawab Bik Dina.


"Siapkan makan siang untuk Bella saja, tolong bawakan ke kamar." Titah Hendry lalu beranjak menaiki tangga untuk menemui Bella.


Sementara itu, Bik Dina bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang yang diminta Hendry. Wanita paruh baya itu sempat mengukir senyum, dia ikut senang melihat perhatian Hendry pada Bella. Apalagi perlakuan Hendry terlihat tulus dan penuh kasih sayang dari tatapan matanya.

__ADS_1


Hendry duduk di tepi ranjang ketika tidak melihat keberadaan Bella di kamar, tapi ada suara gemercik air dari dalam kamar mandi.


Sambil menunggu Bella keluar dari kamar mandi, Hendry mengotak-atik ponselnya untuk mengirimkan pesan Darren. Sekretaris yang dia tugaskan untuk mendapatkan rekaman cctv di gedung apartemen tersebut.


Darren hanya membaca pesan Hendry, tapi setelah itu menelpon. Hendry langsung menerima telfon dari Darren sembari beranjak dari ranjang untuk berbicara di balkon kamar.


"Bagaimana.?" Tanya Hendry dingin.


"Hari ini pukul 2 pagi keduanya datang bersama ke apartemen dan baru keluar pukul 12 suang." Tutur Darren di seberang sana.


"Segera kirimkan rekamannya padaku. Kamu boleh kembali ke perusahaan jika sudah selesai." Ujar Hendry yang hendak mengakhiri panggilan, tapi Darren kembali berbicara.


"Tuan,,," Nada bicara Darren terdengar ragu, dia sampai menjeda beberapa detik.


"Ada satu rekaman lagi di hari yang berbeda." Ujarnya dengan hati-hati, mungkin takut bosnya itu akan marah jika mengetahui fakta bahwa istrinya sudah 2 kali mendatangi apartemen itu dengan pria yang sama.


"Hemm, kirim saja semuanya. Aku tunggu." Jawaban datar Hendry membuat Darren kebingungan di seberang sana.


Ada apa dengan bosnya itu.? Sudah jelas istrinya bermain gila di belakang dengan pria lain, sampai 2 kali menginap di apartemen pria itu, tapi reaksi Hendry malah biasa saja.


Hendry menyimpan ponsel di saku celana, kemudian masuk ke dalam kamar. Bersamaan dengan itu, Bella juga baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe warna putih di atas lutut. Tatapan keduanya sempat bertemu, tapi Bella buru-buru masuk ke walk in closet.


Hendry menghela nafas berat dengan wajah tertunduk lesu ketika Bella buru-buru pergi saat melihatnya. Hendry pikir, Bella masih marah dan tidak mau melihatnya.


Padahal yang sebenarnya di rasakan Bella justru kebalikannya. Wanita itu buru-buru masuk ke walk in closet lantaran ingin menyembunyikan rona bahagia yang tidak bisa dia tutupi ketika melihat Hendry. Bella tidak mau membuat Hendry besar kepala dengan menunjukkan ekspresi senang di depannya.


Lamunan Hendry buyar ketika seseorang mengetuk pintu kamar. Hendry bergegas membukakan pintu, ada Bik Dina yang mengantarkan nampan berisi makan siang Bella dan beberapa potongan buah segar.


"Terimakasih,," Hendry menerima nampan itu untuk di bawa masuk ke dalam kamar.


"Sama-sama Tuan, saya permisi." Bik Dina beranjak pergi dari sana.

__ADS_1


Tak berselang lama, Bella keluar dengan pakaian lengkap dan rambut yang sudah di keringkan. Wajahnya jauh lebih segar dari sebelumnya, di tambah polesan lipstik tipis warna merah muda.


"Kemari,," Hendry menepuk sisi kosong di sebelahnya, meminta Bella duduk di sofa yang sama.


Bella yang memang tidak bisa mengontrol diri akibat twins ingin selalu dekat-dekat dengan Papanya, kini menurut saja saat diminta mendekat. Bella sempat menatap makanan di atas meja yang sepertinya baru di siapkan oleh Hendry.


"Kenapa belum makan siang.? Anak-anak pasti sudah kelaperan." Kata Hendry seraya mengusap sekilas perut Bella yang sudah duduk di sampingnya.


"Belum lapar," Jawab Bella bohong. Terlalu gengsi, terlalu malu untuk mengakui kalau sebenarnya kehilangan selera makan gara-gara Hendry pergi diam-diam tanpa sepengetahuannya. Jadi jangankan mau makan siang, yang malah melamun dan berharap Hendry datang lagi.


"Jangan menunggu lapar baru makan. Kamu sedang hamil, usahakan makan tepat waktu." Tutur Hendry penuh kelembutan.


"Mau makan buah.? Ini bagus untuk kehamilan." Hendry menusuk potongan apel dan menyodorkannya ke mulut Bella.


Dengan malu-malu, Bella membuka mulutnya dan menerima suapan dari Hendry.


"Bagaimana kabar Papa.? Apa pengobatannya belum selesai.?" Tanya Hendry.


Dia tidak tau kabar terbaru tentang kondisi Papa mertuanya yang sedang melakukan pengobatan di Amerika.


"Sedang proses pemulihan, mungkin 1 minggu lagi kembali ke Jakarta."


Hendry mengangguk-angguk paham sambil menyuapi Bella lagi.


"Nanti biar aku yang memberitahu Papa soal kehamilan kamu. Tunggu sampai kondisi Papa benar-benar pulih." Ujar Hendry. Bella langsung melirik, seolah ingin memberikan protes. Tapi Hendry lebih dulu berbicara lagi.


"Jangan bilang kamu akan menyembunyikan kehamilan ini dan menutupi apa yang sudah terjadi di antara kita." Cecar Hendry saat melihat wajah terkejut Bella.


Hendry tentu tidak akan membiarkan Bella menyembunyikan kehamilannya di depan Baskoro. Justru Hendry ingin mengakui kesalahannya dan menyampaikan niatnya untuk bertanggungjawab dengan menikahi Bella.


"Tidak dalam waktu dekat, mungkin 1 atau 2 bulan lagi." Lirih Bella dengan suara berat.

__ADS_1


Mengakui kehamilan di luar nikah bukan perkara yang mudah. Banyak hal yang harus Bella pertimbangkan matang-matang, apalagi dengan riwayat sakit yang diderita Papanya. Bella takut terjadi sesuatu dengan Papanya jika tau anak semata wayangnya hamil di luar nikah.


"Lebih cepat lebih baik, jangan menunda terlalu lama." Tegas Hendry yang tidak setuju dengan rencana Bella. Hendry ingin masalahnya cepat selesai, tidak berlarut.


__ADS_2