Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 97


__ADS_3

Bella bangun lebih awal dari Ale dan Mama mertuanya. Ibu hamil itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah membuka pesan. Selesai membersihkan diri, Bella langsung keluar dari kamarnya, dia membiarkan Ale dan Mama Mertuanya istirahat tanpa membangunkan mereka. Lagipula sekarang masih pukul 6 pagi, Ale juga belum waktunya bangun. Balita itu selalu bangun lebih siang.


Baru mau menutup pintu kamar, Bella di kejutkan dengan dua tangan yang melingkar di perutnya dari belakang. Untung saja Bella sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi saat dia keluar dari kamarnya, jadi tidak membuat Bella sampai berteriak kaget.


"Kenapa kamu membiarkan Mama tidur di dalam.? Dia kan sudah disiapkan kamar sendiri." Bukannya menanyakan kabar atau mengungkapkan rindu setelah 4 hari tidak bertemu, Hendry malah protes gara-gara Mamanya tidur di kamar utama. Mungkin karna kesal. Seharusnya tadi malam bisa mesra-mesraan dengan istrinya, yang ada malah pisah kamar akibat ranjangnya sudah diisi Mama Farah.


Bella memutar badan hingga Hendry melepaskan tangannya dari perut Bella.


"Aku tidak mungkin menolak saat Mama minta tidur di kamar kita." Terang Bella. Kalau sampai berani menolak, Bella khawatir di pecat jadi menantu. Selain itu, dia juga tidak mau membuat Mama mertuanya berfikir lebih buruk lagi tantangnya. Takut di kira sok karna jadi Nyonya besar di rumah Hendry. Lagipula Farah hanya minta tidur bersama cucu dan menantunya, aneh saja kalau di larang.


"Ckk,, aku jadi tidur sendirian di kamar sebelah." Keluh Hendry cemberut. Bella terkikik geli, satu tangannya reflek mengusap rahang tegas suaminya itu.


"Maaf ya,," Ucap Bella yang tidak mau melihat kekesalan suaminya berlarut-larut.


"Sampai jam berapa semalam.? Mau dibuatkan teh hangat.?"


Hendry meraih tangan Bella yang sempat mengusap rahangnya. Bukannya menjawab pertanyaan Bella dulu, Hendry malah menggandeng tangan Bella dan menuntunnya ke kamar sebelah. Kamar itu terbuka lebar, Hendry kemudian langsung menutup dan menguncinya setelah berhasil membawa istrinya masuk ke dalam kamar.


"Aku tidak butuh teh hangat, tapi butuh kehangatan." Kata Hendry. Bella hanya menggelengkan kepala. Apa sih yang ada di pikiran Hendry kalau bukan urusan bercocok tanam.


"4 hari tidak bertemu, rasanya menyiksa sekali." Keluhnya sambil membuka kancing piyama Bella.


Tidak ada penolakan ataupun protes, Bella terlihat pasrah saja. Mungkin karna dia tau tidak akan bisa menghindar ataupun melepaskan diri dari Hendry yang haus belain. Apalagi pintunya sudah di kunci.


Ketika rindu dan gairah sudah berada di ujung, Hendry langsung mengeksekusi istrinya, mumpung gangguan belum datang karna masih tidur. Karna kalau Mamanya sudah bangun, Hendry tidak yakin bisa mengisi baterai. Yang ada akan membuatnya uring-uringan.

__ADS_1


"Kembar pasti senang sering di tengok Daddynya." Seloroh Hendry begitu selesai menyirami benih-benihnya yang sedang berkembang.


Bella menahan tawanya. Lama-lama Hendry semakin lucu dengan omongan yang sedikit asal. Filternya mungkin sudah berlubang, jadi ucapan yang keluar dari mulut Hendry terkadang terdengar aneh dan menggelikan.


"Aku pikir Daddynya jauh lebih senang setelah menengok kembar." Balas Bella sedikit menyindir.


Hendry malah terkekeh, dia kemudian menarik Bella dalam dekapannya dan menghujani banyak kecupan di kening serta pucuk kepalanya.


"Mas,,," Panggil Bella seraya mendongak.


"Hemm, ada apa.?" Hendry menatap lekat wajah serius istrinya. Baru di panggil dan di tatap saja Hendry sudah bisa menebak kalau ada hal penting yang ingin Bella bicarakan padanya.


"Kemarin Julia menelfon Mama, dia minta Mama mengantarkan Ale padanya." Tuturnya.


Detik berikutnya wajah Bella berubah sendu.


Apalagi sekarang sudah menjadi anak sambungannya, Bella semakin menyayangi balita menggemaskan itu.


"Nanti kita ikut antar Ale ya.?" Pinta Bella.


Tidak ada respon, Hendry malah keliatan melamun. Hal itu membuat pikiran Bella berkecambuk. Dia seolah bisa mengerti apa yang dirasakan Hendry. Pasti sangat berat jika harus berpisah dengan anak kandungnya.


Seketika rasa sesal kembali menyeruak. Bella merasa bersalah karna sudah menghancurkan keluarga kecil Hendry. Membuat seorang anak dan orang tuanya berpisah.


"Aku minta maaf, harusnya aku tidak menaruh dendam dan membalas perbuatannya." Suara Bella tercekat, dia melepaskan diri dari pelukan Hendry dan berbalik badan memunggunginya. Bella juga menarik selimut sampai leher.

__ADS_1


Sadar istrinya lepas dari dekapan dan memunggunginya setelah mengatakan maaf, kini Hendry juga ikut menyesal. Menyesal karna sudah membuat Bella sedih dan berfikir macam-macam.


"Aku bahkan sangat bahagia bisa hidup denganmu, jadi jangan berfikir macam-macam."


"Wajar kan kalau aku sedih karna harus pisah dengan Ale. Tapi aku tidak pernah menyesal mengakhiri pernikahan dengan Julia. Semuanya sudah berlalu." Hendry merapatkan tubuhnya dan memeluk Bella dari belakang.


"Kamu sudah jadi untuk tidak menyesal ataupun merasa bersalah soal masalah ini, kita akan melalui dan menjalani pernikahan ini dengan perasaan yang lega dan bahagia." Ucapnya.


Bella mengangguk. Dia sebenarnya hanya butuh waktu agar terbiasa menjalani hidupnya tanpa harus dibayang-bayangi penyesalan.


...******...


"Kamu sudah berumur, Mama benar-benar geli melihatmu manja seperti itu." Komentar Farah saat melihat Hendry menempel pada Bella. Mereka sedang duduk di sofa ruang keluarga. Hendry selalu dekat-dekat dengan istrinya. Padahal posisi Hendry sedang memangku Ale dan mengajaknya bercanda, tapi Bella tidak dibiarkan bergeser sedikitpun dari samping Hendry.


"Berumur apanya.? Aku baru 32 tahun Mah, dua bulan lagi 33 tahun.!" Protes Hendry yang tidak terima di bilang sudah berumur.


"Tapi sifat dan tingkah bucin kamu lebih cocok untuk ABG umur 13 tahun.!" Balas Farah.


Bella hanya terkekeh, apalagi ketika suami dan Mama mertuanya masih berdebat. Alih-alih memiliki hubungan dekat sebagai anak dan Ibu, mereka berdua malah terlihat seperti musuh. Mirip kucing dan tikus kalau bertemu.


...*****...


Hendry melajukan mobilnya menuju kediaman Julia. Di sampingnya ada Bella yang duduk dengan pandangan lurus ke depan. Sedangkan di jok belakang ada Mama Farah dengan Ale.


Sore ini mereka akan mengantarkan Ale ke rumah Julia. Mereka memberikan kesempatan pada Julia untuk merawat Ale lagi setelah keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


Untungnya kondisi Julia sudah stabil. Bik Inah juga bilang kalau Julia sudah tidak pernah membuat masalah ataupun mengamuk lagi.


Situasi di rumah sudah kondusif. Itu sebabnya Mama Farah langsung memberi ijin saat Julia minta mengurus Ale lagi.


__ADS_2