
Julia harus menelan kekecewaan ketika datang ke perusahaan dengan membawakan makan siang untuk Hendry, tapi suaminya itu malah tidak ada di ruangannya. Kata sekretarisnya, Hendry sudah meninggalkan perusahaan sejak 2 jam yang lalu. Di mana Hendry harus bertemu dengan rekan bisnisnya di salah satu hotel, tapi setelah itu malah tidak kembali ke perusahaan. Katanya masih ada pekerjaan yang harus di urus.
"Tapi kenapa kamu tidak ikut juga.?" Tanya Julia pada sekretaris suaminya.
"Tuan Hendry yang menyuruh saya kembali ke perusahaan, Nyonya." Jawab Darren. Sebagai sekretaris, Darren menurut saja ketika atasannya itu menyuruhnya agar kembali ke perusahaan. Darren juga tidak bertanya mengenai apa yang akan di urus oleh Hendry, karna tidak ada dalam agenda. Darren pikir, itu adalah urusan pribadi sang Bos.
Julia menghela nafas. Dia kemudian kembali duduk di sofa yang ada di ruangan Hendry. Untuk keenam kalinya Julia menghubungi nomor ponsel Hendry, tapi tidak terhubung. Ponselnya mungkin mati.
Pikiran Julia mulai gelisah. Lama-lama gelagat Hendry mulai mencurigakan. Padahal Julia sudah berusaha percaya sepenuhnya pada Hendry, karna paham bagaimana karakter suaminya yang tidak pernah macam-macam. Tapi kalau terus menemukan kejanggalan seperti ini, mana mungkin Julia bisa berfikir positif.
Mulai dari tidak pulang ke rumah beberapa hari yang lalu, kemudian sering pulang terlambat. Sekarang pria itu malah tidak ada di kantor, padahal baru jam istirahat. Yang memperkuat kecurigaan Julia adalah sekretaris pribadi Hendry yang tidak tau kemana perginya peri itu. Bahkan tidak tau urusan apa yang sedang dikerjakan oleh Hendry. Sebagai sekretaris, harusnya Darren tau apa saja kegiatan Hendry di luar sana selama masih jam kantor.
Karna panggilan telfonnya tak kunjung terhubung, Julia akhirnya beranjak dari ruangan Hendry dengan membawa kembali makan siang yang dia siapkan khusus untuk suaminya itu.
"Kalau Hendry kembali, bilang padanya untuk menelfon ku." Julia berpesan pada Darren setelah keluar dari ruangan Hendry.
"Baik Nyonya, akan saya sampaikan." Jawabnya seraya membungkukkan badan.
Julia berlalu dari sana, wanita itu akhirnya kembali ke rumah dengan membawa kekecewaan.
...******...
Di tempat lain, tepatnya di salah satu unit apartemen mewah, seorang pria dan wanita sedang bermesraan di sofa ruang keluarga. Di saksikan oleh layar televisi yang menyala, si pria begitu semangat menjelajahi leher si wanita yang tengah duduk di atas pangkuannya dalam posisi saling berhadapan.
"Mas,, stop.!" Titah Bella dengan menahan kepala Hendry. Aksi Hendry membuat Bella reflek menjauhkan kepala Hendry karna berusaha menye- sap lehernya seperti drakula. Bella tidak mau kalau sampai Hendry meninggalkan jejak di lehernya. Karna akan membuat Bella repot untuk menutupi bekasnya jika ingin keluar apartemen.
Hendry terkekeh melihat kekesalan dan kepanikan di wajah Bella.
"Di leher belum pernah," Goda Hendry meledek.
"Mas Hendry ingin hubungan kita terbongkar ya.?!" Celetuk Bella sedikit kesal dan sekaligus menyindir.
__ADS_1
"Baik,, akan aku buat di tempat biasa saja." Jawab Hendry. Dengan santainya kedua tangan Hendry menurunkan tali spaghetti di kedua bahu Bella, membuat dress itu melorot sampai ke perut.
Bella sempat protes, Hendry sudah lebih dulu membenamkan wajahnya di antara gunung kembar Bella. Hendry dengan mudah bisa melahapnya karna Bella tidak memakai kain pembungkus.
Ulah Hendry berhasil membuat tubuh Bella menegang dan bergerak ke sana kemari di atas pangkuan pria tersebut. Jangankan berfikir untuk protes, sekarang Bella malah menuntut lebih. Kedua tangannya secara naluri menekan kepala Hendry agar menye sap lebih dalam.
Bella tidak peduli lagi dengan penilaian Hendry tentangnya. Dia hanya berusaha merasakan kenikmatan yang Hendry berikan padanya.
Sudah terlanjur balas dendam dengan cara seperti ini, Bella pikir tidak ada salahnya kalau dia berubah menikmati permainan.
1 jam berlalu. Ruangan yang sempat rapi, kini terlihat berantakan. Dua bantal sofa tergeletak di lantai, baju dan pakaian da lam juga berceceran. Sudah menjadi kebiasaan Hendry, pria itu suka melempar baju ke sembarang arah saat sedang ber cinta.
Kini di atas sofa panjang, tubuh tanpa penutup itu saling menempel. Nafas keduanya masih memburu setelah mengakhiri permainan panasnya. Bella tampak tidak berdaya, entah berapa kali dibuat melayang oleh Hendry. Berbeda dengan Hendry yang hanya 2 kali mendapatkan pelepasan.
"Mas,," Lirih Bella dengan nafas yang mulai teratur. Bella terlihat sangat nyaman dalam dekapan Hendry tanpa ada penghalang. Kulit bertemu kulit.
"Hemm,," Respon Hendry hanya berdehem. Dia kelelahan setelah menggempur Bella, mencoba berbagai gaya di atas sofa. Tenaganya cukup terkuras karna mendominasi permainan.
Dulu Hendry memang tidak cukup 1 kali jika ber cinta dengan Julia, tapi sejak memiliki hubungan terlarang dengan Bella, rasanya sudah cukup 1 kali saja merengkuh kenikmatan bersama Julia.
"Papa menyuruhku agar segera menikah." Ucap Bella seraya menatap lekat wajah Hendry. Seketika mata Hendry terbuka lebar, dia jelas terkejut. Namun tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Hendry, membuat Bella kembali berbicara.
"Mas Hendry masih ingat dengan Mas Arlan.?" Ujar Bella untuk mengingatkan Hendry pada sosok pria itu. Hendry mengangguk samar.
"Papa bermaksud menjodohkan kami. Bagaimana menurut Mas Hendry.?" Tanyanya.
Bella sengaja bercerita dan meminta pendapat pada Hendry untuk melihat reaksinya.
Dalam lubuk hati Bella, dia berharap Hendry akan melarang dan mengajaknya menikah diam-diam di belakang Julia. Seperti yang pernah Hendry tawarkan waktu itu.
Dulu Bella menolak ajakan Hendry karna merasa ajakannya terlalu cepat dan dia juga belum berubah pikiran untuk benar-benar merebut Hendry dari tangan Julia.
__ADS_1
"Kamu ingin mengakhiri hubungan ini.?" Bukannya menjawab, Hendry justru balik bertanya. Bella jadi kebingungan harus menjawab apa. Padahal ekspektasinya tidak seperti itu.
Bella terdiam beberapa saat untuk memikirkan jawabannya. Sampai akhirnya dia melepaskan pelukannya dan menyambar dress di lantai untuk di pakai.
"Memangnya apa yang bisa aku harapkan dari hubungan kita.?" Ujar Bella menatap kecewa.
"Mas Hendry sudah menikah dan mungkin tidak akan pernah meninggalkan Kak Julia. Lalu bagaimana dengan ku.? Mas Hendry tidak berniat menjadikanku simpanan selamanya kan.?" Cecar Bella. Dia sekarang sudah duduk di sofa lain, sedangkan Hendry tengah memakai celananya.
"Aku sudah pernah mengajakmu menikah tempo hari kalau kamu lupa." Jawab Hendry tenang. Padahal nada bicara Bella semakin meninggi.
"Kalau kamu mau, aku bisa mengurusnya. Tapi hubungan kita mungkin akan tetap seperti ini. Sembunyi-sembunyi." Tuturnya.
Bella terdiam, tampak sedikit kecewa mendengar jawaban Hendry. Sangat jelas kalau Hendry tidak bisa melepaskan Julia demi dirinya.
Bella pikir, dia sudah berhasil mendapatkan lebih banyak cinta dan perhatian dari Hendry. Tapi ternyata pria itu masih ingin mempertahankan pernikahannya dengan Julia.
Bella mendadak putus asa. Dia sudah berbuat terlalu jauh, sampai hal yang paling berharga sudah dia korbankan. Tapi masih kesulitan merebut Hendry seutuhnya.
Tidak mau memperpanjang pembahasan yang membuatnya kehilangan semangat, Bella memilih beranjak dari sana tanpa mengatakan apapun.
Daripada berdebat, lebih baik memikirkan cara lain agar Hendry mau menikahinya dengan mengorbankan rumah tangganya bersama Julia.
"Bella,," Panggil Hendry tegas. Dia kemudian beranjak menyusul Bella.
"Kita belum selesai bicara," Ujarnya sambil memegang pergelangan tangan Bella.
Bella terpaksa berhenti dan berbalik badan.
"Apa kita perlu mengakhiri semua ini.?" Ucap Bella dengan tatapan sendu.
Hendry terdiam cukup lama, pria yang sudah beristri dan memiliki 1 anak itu di buat dilema oleh sosok adik iparnya.
__ADS_1