
Flashback,,,
Kedatangan seorang pria berperawakan tinggi besar itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di salah satu meja sebuah club ternama. Terdapat 4 orang pria yang duduk di sana, semuanya tersenyum miring pada sosok pria yang baru datang itu.
"Ada angin apa Pak Dokter mampir ke club." Seloroh salah satu dari mereka, kemudian terkekeh dan ber tos ria dengan temannya itu.
Si Dokter hanya menatap malas tanpa berniat menanggapi perkataan temannya.
"Cuci mata memang perlu Bro, sekali-kali harus liat paha dan dada mulus, jangan liat alat medis terus." Sambung yang lain.
Terdengar sudah tawa renyah dari mereka karna baru saja melek temannya yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Berisik.! Aku hanya memenuhi panggilan penggemarku yang katanya rindu sudah lama tidak bertemu." Jawabnya kemudian duduk di sofa yang muat untuk 3 orang itu.
"Hey.! Aku berusaha peduli pada temanku yang sudah lama menduda. Kamu butuh hiburan Bro, jangan terlalu fokus dengan pekerjaan." Kata Mark ya g memang sering mengajak temannya itu untuk pergi ke club malam.
"Mark, kau jangan tanggung-tanggung jika ingin peduli padaku, kenapa tidak berbagi istri sekalian." Sahutnya bercanda.
Mark melotot tajam pada temannya, teman sejak masih duduk di bangku SMA itu.
"Mulutmu minta doa robek ya.?!" Sewot Mark.
Teman-temannya hanya terkekeh melihat Mark yang kesal.
"Disini banyak kupu-kupu malam, kau tinggal tunjuk kalau mau. Aku yang bayar untukku.!" Kata Mark tak main-main.
"Ck, kau seperti tidak tau saja selera Seno." Sambung Rayan. Dia yakin Seno tidak tertarik dengan wanita-wanita yang ada di club itu.
"Hei Dokter Arseno.! Kau tidak perlu jual mahal seperti itu, duda sepertimu yang penting hasrat tersalurkan." Goda Mark dengan candaan.
"Pakai pengaman saja kalau takut tertular penyakit." Sambungnya.
Arseno hanya melirik malas, dia malah mengambil gelas kosong dan menuangkan sedikit alkohol ke dalam gelasnya untuk di teguk.
Mereka berlima mulai asik mengobrol, sampai tidak terasa sudah 2 jam berlalu. Kini waktu menunjukkan pukul 12 malam.
Arseno memilih pamit lantaran besok pagi ada jadwal operasi jam 7.
"Lain kali kau harus datang lagi.!" Seru Mark.
Seno berdehem seraya menganggukkan kepala, pria itu lalu beranjak dari sana. Sebelum keluar club, Seno lebih dulu berbelok ke arah toilet. Pria itu mendadak ingin buang air kecil.
__ADS_1
Begitu selesai dan keluar dari toilet pria, langkah kakinya terhenti di lorong toilet. Dia berpapasan dengan seorang wanita yang jalannya sudah sempoyongan. Beberapa kali terlihat akan jatuh, tapi selalu berpegangan pada tembok.
Jarak keduanya semakin dekat, Arseno reflek menangkap tubuh wanita itu yang hampir tersungkur ke depan.
"Sorry,, kepalaku sedikit pusing." Kata si wanita sembari berusaha menegakkan tubuhnya, tapi kesulitan karna dipengaruhi alkohol. Dia terlalu banyak minum dan akhirnya mabuk berat.
"Kamu terlalu banyak minum." Kata Arseno dengan tatapan mata yang tak beralih sedikitpun dari wajahnya.
"Aku sudah biasa minum, kali ini kepalaku memang sedang sakit." Jawabnya meyakinkan, tapi tetap tidak membuat Arseno percaya.
"Kau mau ke toilet.? Biar aku temani." Arseno menuntunnya. Tidak ada penolakan, bahkan saat tangan Arseno merangkul bahunya dan membawanya masuk ke dalam toilet wanita.
Beberapa orang yang ada di dalam toilet langsung menatap Arseno, heran karna pria itu mengantar wanita sampai ke dalam toilet.
"Wanita ku tidak bisa jalan dengan benar." Kata Arseno pada orang-orang di dalam, walaupun tidak di tanya, tapi Arseno tidak segan memberikan penjelasan akibat tatapan mereka yang terlihat keheranan. Dia juga tidak ragu mengakui wanita asing itu sebagai wanitanya. Padahal tau namanya pun tidak.
Arseno membuka pintu toilet yang kosong dan menyuruh wanita itu masuk.
"Jangan lama-lama, aku tunggu di sini.!" Tegasnya.
"Pergi saja, aku tidak apa-apa." Kata wanita itu sambil menutup pintu.
Arseno berdecak, dia baru menyadari tindakan konyolnya itu. Sejak kapan dia jadi orang yang peduli pada orang lain selain pasien di rumah sakit tempatnya bekerja.?
"Kau masih disini.? Sudah aku bilang aku tidak apa-apa." Ujarnya seraya berlalu dari hadapan Arseno, pria itu sontak mengekori dari belakang untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.
Nyatanya saat berjalan di lorong toilet, tubuh wanita itu kembali oleng. Buku-buku Arseno menangkapnya dari belakang.
"Ini yang kau bilang tidak apa-apa.!" Sinis Arseno.
"Kepalaku pusing." Racaunya dan membiarkan Arseno memapahnya menjauh dari toilet, bahkan membawanya keluar dari club.
"Tunggu disini.!" Titah Arseno setelah mendudukkan wanita itu di salah satu kursi depan club.
Arseno kembali dengan air mineral dingin di tangannya yang sudah dia buka.
"Minum ini." Titahnya.
"Hmm," Wanita itu menurut dan langsung meneguk setengah air mineral di tangannya.
"Beb,, lu disini ternyata." Seorang wanita tiba-tiba datang dan tampak khawatir pada kondisi teman wanitanya itu.
__ADS_1
Arseno memilih pergi dari sana, tidak peduli meski mendapat tatapan curiga dari wanita yang baru datang tersebut.
"Boleh juga,," Gumam Arseno begitu masuk ke dalam mobil. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membayangkan wajah wanita cantik yang dia tolong itu.
Flashback Off
...****...
Kini wanita itu ada di depannya dalam keadaan dan kondisi yang berbanding terbalik. Tampak sangat menyedihkan dan memprihatinkan.
"Sepertinya kamu terlalu sering minun, jadi ingatanmu tidak berfungsi dengan semestinya." Ujar Arseno pada pasiennya itu.
"Jangan berlagak mengenalku.! Kenyataannya kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya."
"Sekarang jangan halangi jalanku, biarkan aku keluar dari sini.!" Teriak Julia sewot.
Arseno malah mengangkat tubuh Julia bak karung beras yang diletakkan di pundak. Julia tentu saja meronta dan memukuli punggung Arseno.
"Dokter kurang ajar.!! Lepaskan aku.!!" Cibir Julia geram.
Bruukkk.!!
Arseno menurunkan Julia di ranjang pasien.
"Kau harus di obati.! Jangan membantah atau aku akan mengikat kaki dan tanganmu agar tidak bisa kabur.!" Tegas Arseno.
Dia meraih tangan Julia untuk di pasang jarum infus yang baru.
"Aku tidak mau, aku baik-baik saja.!" Tolaknya berusaha menarik paksa tangannya dari genggaman Arseno.
"Kau itu berisik sekali.! Mau diam atau aku cium.!" Ancamnya asal.
"Kau.?!! Kau berani melecehkan pasien disini.?!" Mata Julia melotot tajam.
Arseno berdecak malas.
"Khusus untuk pasien sepertimu yang sulit di atur.!" Jawab Arseno.
"Ckk.! Coba saja kalau berani, aku pastikan kamu dipecat.!" Tantang Julia yang semakin sewot.
Kali ini Arseno tidak merespon karna sibuk memasang jarum infus di tangan Julia.
__ADS_1
"Jangan dilepas lagi.! Atau kamu akan aku cium.!" Ancam Arseno begitu selesai memasang jarum infus. Julia melengos sebal, dia memutar badan memunggungi Arseno. Diam-diam Julia terisak tanpa suara, air matanya membanjiri pipi. Tiba-tiba melow, ingat dengan hidupnya yang berantakan dan di tinggal orang-orang tercinta.