Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 79


__ADS_3

Baskoro tidak punya pilihan lagi selain melempar Natalie ke penjara. Rasanya di asingkan ke suatu pulau juga percuma saja. Natalie masih punya keluarga, pastinya mereka akan membantu Natalie keluar dari pulau bagaimana pun caranya.


Jika di lempar ke penjara dengan semua bukti-bukti kejahatan yang ada, keluarga Natalie akan kesulitan membantunya keluar dari sana. Di tambah power Baskoro lebih kuat dari keluarga Natalie. Kepolisian pasti enggan mengusik Baskoro dengan membebaskan Natalie atas jaminan apapun.


"Tega kamu, Baskoro.!! Seperti ini balasan mu setelah aku menemanimu selama 29 tahun.?!" Bentak Natalie. Wajahnya memerah menahan amarah. Sayang sekali kedua tangan dan kakinya di ikat. Kalau tidak, Natalie pasti sudah menyerang Baskoro dengan membabi buta karna berani memenjarakannya.


"Jangan berteriak seolah-olah aku yang paling kejam, Natalie.!!" Sahut Baskoro tak terima. Tidak ada asap kalau tidak api. Natalie sendiri yang sudah memercikkan api dan membuat kekacauan.


"Apa perlu aku sebutkan satu-persatu perbuatan mu yang menjijikkan itu.?!!" Sentak Baskoro.


Natalie mungkin lupa berkaca, atau tidak mau berkaca karna merasa dirinya selalu benar.


padahal kalau di tarik kebelakang, Natalie yang lebih dulu menciptakan masalah karna bermain gila dengan pria lain sampai mengandung Julia.


"Kamu juga melakukan kesalahan.! Aku tidak pernah setuju kamu menikahi Selena, tapi diam-diam kamu tetap menikahi ja-lang itu.!" Natalie menekankan kata ja-lang seraya menatap tajam pada Baskoro.


Baskoro tampak menahan amarah dengan mengepalkan tangannya. Entah harus berapa kali dia menyadarkan Natalie bahwa yang dia lakukan pada Selena adalah bentuk tanggungjawab karna sudah menghancurkan masa depan gadis desa yang polos.


Rasanya tidak adil kalau hanya memberikan kompensasi saja pada Selena, sedangkan wanita itu sampai mengandung darah dagingnya.


"Sekali lagi kamu menyebutnya ja-lang, aku tidak segan-segan merobek mulutmu.!"


"Kamu yang lebih pantas di sebut ja-lang.! Benar-benar tidak tau malu.!" Ujar Baskoro lalu memilih pergi dari hadapan Natalie.


Hanya membuatnya semakin emosi saja jika terlalu lama berbicara dengan Natalie.


"Seret dia ke penjara.!" Titah Baskoro pada bodyguard yang berjaga di depan ruangan itu.


"Baik Tuan."


Mereka langsung menjalankan perintah Baskoro, membawa Natalie beserta semua bukti kejahatannya.


...*****...

__ADS_1


Hendry bergegas masuk ke dalam rumah, dia menghampiri Bella di ruang makan. Wajahnya tampak sendu dan lesu. Makanan piringnya masih utuh, sepertinya belum di sentuh sama sekali.


"Mas Hendry,," Bella berdiri ketika melihat Hendry datang. Ekspresinya juga sedikit lebih tenang. Bella mulai bergantung pada Hendry dalam setiap permasalahan yang dia hadapi. Dan seterusnya mungkin akan selalu seperti itu, mengingat Bella sudah nyaman dan yakin pada Hendry bahwa pria itu bisa menjadi pelindung dan garda terdepan dalam situasi sulit.


"Duduk, lebih baik kamu sarapan dulu." Titah Hendry lembut. Dia membantu Bella duduk di kursinya lagi, kemudian menarik kursi kosong untuk bergabung bersama Bella di sebelahnya.


Dia tadi di telfon Bella, mendapat laporan kalau Papa Baskoro sudah meninggalkan rumah sejak pukul 6 pagi. Bella gelisah sendiri karna mengira Papanya sengaja pergi agar tidak bertemu dengannya.


Hendry yang saat itu baru bangun tidur, langsung bergegas pergi menemui Bella. Jika dibiarkan begitu saja, Hendry khawatir dengan kondisi kesehatan Bella dan kedua anak mereka yang masih sangat rentan di dalam kandungan.


"Kamu terlalu over thinking, belum tentu Papa pergi karna sengaja menghindar. Siapa tau memang ada urusan penting." Ujar Hendry menasehati.


Tangannya meraih sendok di piring Bella, lalu menyuapkan makanan itu ke mulut Bella. Sekarang kesehatan Bella dan kandungnya menjadi prioritas bagi Hendry dalam situasi seperti ini. Tapi dia juga tidak melupakan Ale yang masih menginap di rumah orang tuanya.


Bagaimana pun Hendry punya tanggungjawab penuh pada darah dagingnya, meski sudah resmi bercerai dengan Julia, Ale harus tetap di prioritaskan juga.


Bella makan dengan lahap dari suapan Hendry. Dia tidak protes ketika Hendry menyuruhnya menghabiskan sarapan, makan buah dan minum susu. Lengkap dengan vitamin dan obat dari dokter.


"Menyingkir dari hadapanku sialan.! Kau benar-benar menipuku.!" Geram Julia sambil mendorong kuat bahu Rexy agar tidak menghalangi jalannya.


Pagi-pagi Julia sudah di buat naik darah oleh Rexy karna merasa di tipu dan hanya di manfaatkan.


Kemarin malam Julia menghubungi Rexy untuk meminta bantuan, tapi Rexy menyuruhnya datang langsung ke apartemen karna tidak mau membahas lewat panggilan teflon.


Keduanya sudah sepakat bekerja sama untuk menghancurkan Hendry karna Julia sudah sangat sakit hati pada mantan suaminya itu. Julia tidak terima dicampakkan setelah 5 tahun menjadi istri dan sudah memberi Hendry seorang anak. Tapi Hendry malah menceraikannya dan lebih memilih Bella.


Tapi untuk menyepakati kerja sama itu, Rexy meminta imbalan agar malam itu di layani oleh Julia.


Julia sudah melakukannya sesuai permintaan Rexy, seharusnya pagi ini Rexy sudah melancarkan aksinya untuk membuat Hendry hancur. Tapi saat bangun tidur, Rexy malah minta di layani lagi dan lagi.


Kesabaran Julia yang setipis tisu malah di permainan oleh Rexy. Tidak heran kalau sekarang Julia marah-marah dan memaki Rexy.


"Ayolah Julia, jangan munafik.! Kamu bahkan sangat menikmati."

__ADS_1


"Kita lakukan sekali lagi sebelum aku membuat perhitungan dengan mantan suami mu itu." Bujuk Rexy dengan tidak tau malu.


Dia tidak menyerah walaupun sudah di tolak berkali-kali oleh Julia, malah semakin gencar menempel pada Julia seperti bayi yang kehausan dan ingin minum dari sumbernya.


Jika bukan karna wajah tampan dan kehebatan Rexy dalam membuatnya melayang, sudah pasti Julia tidak akan melempar tubuhnya pada Rexy.


"Pembohong.! Aku tidak tertipu.!" Sinis Julia kemudian berlalu dari hadapan Rexy dan buru-buru keluar dari apartemen.


Rexy tersenyum kecut saat melihat punggung Julia menghilang di balik pintu. Dia sebenarnya malas membantu Julia, tapi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati tubuh Julia. Kapan lagi dia mendapat full service tanpa harus mengeluarkan banyak uang.


Cuma Julia yang bisa memberikan itu padanya.


...******...


Bella berserta Hendry dan Baskoro tengah duduk di ruang keluarga. Baskoro sedang menunggu kedatangan orang tua Hendry karna harus membahas langkah selanjutnya atas apa yang sudah terjadi di antara anak-anak mereka.


Bella sudah terlanjur berbadan dua. Hendry juga sudah mengorbankan pernikahannya. Mau tidak mau, keduanya harus segera dinikahkan. Bukan untuk sebuah pengakuan di depan publik, tapi sebagai bentuk tanggungjawab atas apa yang sudah mereka berdua lakukan.


Beberapa menit berlalu, kedua orang tua Hendry datang bersama Ale. Baskoro kemudian meminta Bik Lastri supaya menjaga Ale karna mereka akan membahas hal serius.


Farah dan Sudibyo terduduk lesu di depan Baskoro. Keduanya tampak tidak bersemangat, begitu juga dengan Baskoro.


Pasalnya kedua anak mereka sudah membuat aib. Beruntung saja aibnya masih tertutup rapat. Orang-orang di luar sana belum ada yang tau tentang skandal saudara ipar itu.


"Nyonya dan Tuan Sudibyo, saya meminta maaf atas nama putri saya. Maaf sudah membuat kekacauan ini." Ucap Baskoro penuh sesal.


Bella langsung menatap sang Papa dengan perasaan yang hancur dan sakit. Karna perbuatannya, sang Papa jadi ikut menanggungnya. Sampai meminta maaf atas perbuatan yang tidak dia lakukan.


"Kegilaan ini tidak akan terjadi kalau Hendry menahan diri. Putra kami juga bersalah." Jawab Sudibyo.


"Semuanya sudah terjadi, lebih baik nikahkan mereka secepatnya."


Tidak ada yang keberatan, semua orang setuju dengan solusi tersebut. Terutama Hendry, dia yang paling lega saat tau akan menikah dengan Bella secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2