Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 80


__ADS_3

Masalah Natalie dan selingkuhannya sudah dibereskan. Keduanya sudah mendekam di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya atas beberapa pasal yang dilaporkan oleh Baskoro disertai barang bukti.


Tapi sepertinya keluarga besar Natalie tidak akan tinggal diam. Terutama Kakak dan Adik Natalie yang tidak terima saudara mereka di lempar ke penjara. Mereka tidak percaya kalau Natalie melakukan kejahatan, selingkuh dan berbohong soal asal usul Julia. Sampai saudara kandung Natalie menuduh Baskoro memfitnah, memalsukan barang bukti dan memanipulasi hasil tes DNA.


Namun Baskoro tidak ambil pusing, itu urusan keluarga Natalie mau percaya atau tidak. Lagipula mereka bukan orang-orang bodoh, kalau memang merasa Natalie tidak bersalah, pasti sudah membantu Natalie keluar dari penjara. Nyatanya sudah 3 hari, Natalie belum bergeser dari jeruji besi.


Sekarang yang perlu di hadapi adalah Julia. Julia terus mengamuk, membuat ulah di kediaman Bella dan kediaman orang tua Hendry.


Setiap hari Julia datang, memaki dan memberi ancaman pada semua orang karna merasa di perlakuan tidak adil. Julia merasa hidupnya hancur dan di tinggal semua orang. Mamanya di jebloskan ke penjara, Ale di bawa mertuanya dan belum di kembalikan. Pernikahannya dengan Hendry juga berantakan, sudah berakhir karna Hendry lebih memilih Bella.


Julia tidak terima melihat Bella bisa hidup tenang, bahagia, memiliki segala yang dulu dia miliki.


Entah suatu kebetulan atau karna hukum tabur tuai, kehidupan Julia saat ini benar-benar kacau dan memprihatinkan. Dia kehilangan segalanya, kehilangan keluarga dan harta.


Dua hal yang sejak dulu dia kejar-kejar, sampai menghalalkan segala cara, kini semuanya lenyap dalam sekejap. Harta dan keluarga sudah lepas dari genggaman.


Jika memang ini balasan untuk Julia dan Natalie, rasanya tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan karna sudah melenyapkan nyawa seseorang.


Seharusnya Julia juga mendapat hukuman atas perbuatannya. Karna tidak ada hukuman yang ringan untuk seorang pembunuh.


"Buka.!! Aku harus bicara dengan wanita sialan itu.!!" Bentak Julia pada penjaga rumah Bella.


Hampir 1 jam Julia berdiri di depan pagar tinggi yang di kunci rapat. Majikan mereka tidak mengijinkan Julia masuk. Justru diminta untuk mengusir Julia jika wanita itu mengamuk.


Tapi Julia cuek saja, dia tetap teriak-teriak walaupun sudah si usir.


Penjaga rumah tampak kewalahan menghadapi Julia. Mereka memutuskan menghubungi Tuannya karna Julia tidak mau pergi walaupun sudah di usir.


Baskoro terpaksa keluar untuk menemui anak dari istrinya itu. Baskoro sampai bingung harus menganggap Julia seperti apa. Di bilang putrinya, tapi Julia anak dari pria lain. Di bilang bukan, tapi Julia lahir dari pernikahannya bersama Natalie. Semua orang hanya tau kalau Julia adalah putri kandungnya, buah cintanya bersama sang istri. Kenyataan sang istri malah menampung benih dari pria lain.

__ADS_1


Membayangkan hal itu membuat kepala Baskoro mendadak berdenyut nyeri. Ternyata sejak awal pernikahan sudah di bohongi oleh Natalie.


Baskoro berhenti di depan pagar yang masih dikunci. Dia menatap Julia dengan sendu dan sesak di dada. Dulu Baskoro sangat bahagia menyambut kelahiran Julia. Saking bahagianya dan sebagai ungkapan rasa syukur, dia sampai memberikan bonus pada semua karyawan di perusahaan tanpa terkecuali.


Tak hanya itu saja, saat Julia sudah lancar berjalan, Baskoro tidak segan-segan membawa Julia ke perusahaan untuk sekedar menemaninya bekerja. Dia terlalu bahagia memiliki seorang anak dan selalu bangga mengenal Julia pada semua orang.


"Kamu mau apa lagi Julia.?" Tanya Baskoro tak habis pikir. Dia sebenarnya tidak ingin bersikap acuh pada Julia, karena bagaimana pun Julia sudah hidup bersamanya sejak puluhan tahun.


"Kenapa Papa tega padaku.?! Hanya karna tau aku bukan darah daging Papa, lalu Papa bisa membuang ku begitu saja.?! Aku juga tidak minta terlahir sebagai anak orang lain.!" Seru Julia kesal.


Dia sudah di tawari sebagian harta oleh Baskoro, dengan catatan tidak boleh mengusik kehidupannya lagi. Hal itu menimbulkan amarah dalam diri Julia. Dia semakin merasa di perlakukan tidak adil.


"Lalu kamu ingin diperlakukan seperti apa.? Selama ini kamu juga sudah tau asal usulmu, tapi sengaja tutup mulut."


"Terima saja tawaran kemarin, atau kamu tidak akan dapat sepeserpun.!" Seru Baskoro.


"Tidak.! Aku tidak akan menerimanya.!"


Akhir-akhir ini kesehatan mental Julia sedikit terganggu akibat permasalahan yang sedang menimpanya. Julia semakin sulit mengendalikan amarahnya. Hampir setiap hari pekerja rumah menjadi sasaran kemarahan Julia.


Sedikit saja ada yang melakukan kesalahan, Julia tidak segan-segan mengamuk.


Jiwanya mungkin terguncang, karna permasalahan yang dia hadapi datang bertubi-tubi.


"Aku sudah meminta maaf atas kesalahan putriku. Tapi bukankah kamu tau bahwa penyebab penderitaanmu itu ada pada dirimu sendiri dan Natalie.!"


"Bella bahkan tidak pernah mengusik kalian, tapi kamu memperlakukannya seperti sampah. Bagaimana bisa kalian tidak berkaca.?!" Seru Baskoro. Julia dan Natalie berteriak seolah-olah mereka adalah korban, padahal perbuatan mereka sendiri yang pada akhirnya menjatuhkan mereka kedalam lubang kehancuran.


"Sebaiknya kamu pulang. Aku tidak akan membiarkan mu menemui Bella.!"

__ADS_1


"Kamu pikirkan baik-baik tawaranku daripada tidak mendapat apapun.!" Tegas Baskoro kemudian bergegas pergi.


Julia teriak histeris dan memaki Baskoro. Kondisinya terlihat sangat menyedihkan. Sampai beberapa penjaga rumah itu menatap iba.


...******...


Hanya di hadiri beberapa keluarga dekat Baskoro serta keluarga orang tua Hendry. Acara pernikahan Bella dan Hendry di gelar sangat sederhana. Jangankan untuk mengadakan resepsi, di hadiri kerabat dekat saja sudah lebih dari cukup. Mengingat pernikahan mereka terjadi lantaran adanya hubungan terlarang yang mengakibatkan Bella berbadan tiga sekaligus.


Dari kejauhan, Hendry sudah memperhatikan istri barunya itu yang tampak murung. Pikiran Hendry jadi terusik melihat raut wajah Bella tidak diselimuti kebahagiaan, padahal mereka baru saja menikah. Harusnya wajah pengantin berseri-seri, tapi Bella malah sebaliknya. Hendry jadi berfikir macam-macam. Jangan-jangan Bella tidak senang menikah dengannya, tapi dia terpaksa karna sudah terlanjur hamil.


Apa yang dicemaskan Hendry sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Bella memang tampak murung, dia tidak fokus dan pikirannya melayang kemana-mana, padahal Mama mertua dan beberapa kerabat wanita sedang mengobrol di depan Bella. Posisi duduk mereka melingkar, mengikuti bentuk meja.


Sungguh bukan seperti ini pernikahan yang di harapkan oleh Bella. Apalagi dia juga sempat memiliki pikiran untuk tidak menikah.


Wajar kalau wajah Bella tidak memancarkan kebahagiaan layaknya mempelai pengantin pada umumnya. Tapi meski begitu, bukan berarti Bella menyesali pernikahan dengan Hendry. Dia hanya menyesal karna telah bertindak bodoh dengan balas dendam yang pada akhirnya membuat kisah hidupnya menjadi rumit.


Bella menghela nafas berat, kemudian dia pamit pada Farah dan kerabat yang lain untuk mengambil minuman.


Melihat Bella beranjak, Hendry yang sedang berkumpul dengan anggota keluarga pria, bergegas pamit dan menghampiri Bella.


Keduanya saling menatap, berdiri berhadapan dengan meja berisi makanan dan minuman di tengah-tengah mereka.


Cukup lama keduanya terdiam, hanya saling menatap dengan pikiran masing-masing.


"Menyesal menikah denganku.?" Tanya Hendry to the point. Dia tidak bisa basi, apalagi menyangkut hubungannya dengan Bella.


Bella menelan ludah susah payah. Sepertinya dia terlalu kentara menunjukkan kesedihan sampai Hendry berfikir seperti itu.


"Tidak." Jawabnya sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku hanya menyesali perbuatanku." Lirihnya sendu.


Hendry bisa memahami jawaban Bella, dia kemudian menggandeng tangan Bella dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2