Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 54


__ADS_3

Julia buru-buru keluar dari ruang rawat inap Mamanya, wanita itu bergegas meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan laporan bahwa suaminya pergi ke gedung apartemen mewah dan masuk ke dalam salah satu unit apartemen dengan akses card yang dia bawa.


Dia sudah lama menunggu laporan dari orang suruhannya yang di tugaskan menguntit Hendry selama berada di perusahaan. Meminta orang suruhannya itu agar tidak kehilangan jejak Hendry saat keluar dari perusahaan.


Julia merasa beruntung karna semalam tidak sengaja menguping pembicaraan Hendry, jadi sudah tau kalau suaminya itu akan pergi menemui seseorang yang Julia yakini sebagai penggoda suaminya.


"Aku sangat penasaran, wanita seperti apa yang berani menggoda Hendry.!" Geram Julia sambil mencengkram kuat stir kemudi.


Dalam hal ini, sekalipun Julia mendengar sendiri suaminya mengatakan rindu pada seseorang, dia sama sekali tidak membenci Hendry. Bagi Julia yang merasa sudah mengenal sosok suaminya luar dalam, sangat mustahil kalau Hendry yang memulai perselingkuhan. Jadi Julia menyalahkan sepenuhnya kesalahan itu pada orang lain. Bukan pada suaminya, ataupun pada diri sendiri yang mungkin perlu introspeksi.


...******...


Sementara itu, Hendry tengah berada di kamar untuk mencari keberadaan Bella. Adik iparnya itu tidak menyahut setelah di panggil beberapa kali, jadi Hendry langsung masuk saja ke kamarnya.


Pira itu tersenyum tipis ketika mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Dia meletakkan tas kerja beserta jasnya di atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sana dengan kedua kaki menjuntai ke lantai.


Tatapan Hendry menerawang pada langit-langit kamar, sudah beberapa hari ini dia merasa gelisah, seperti ada yang mengganjal di hatinya. Namun Hendry sendiri tidak tau hal apa yang berhasil mengganggu hati dan pikirannya.


Mungkin karna dilema, bingung harus menentukan diantara dua pilihan. Melepaskan Bella, atau mempertahankan Julia.


Lamunan Hendry buyar ketika melihat Bella sudah duduk di sebelah. Rambut Bella masih basah, tubuhnya tampak segar dan hanya berbalut handuk kimono. Hendry jadi merasa dejavu, ingat kejadian kemarin.


"Sepertinya Mas Hendry sedang banyak pikiran. Sudah aku panggil dua kali tapi tidak dengar." Ujar Bella.


Hendry mengukir senyum teduh, dia segara mengubah posisi menjadi duduk di sebelah Bella.


"Hemm,, akhir-akhir ini kepalaku pusing karna banyak pikiran." Jawab Hendry tampa berniat menyembunyikan sesuatu dari Bella.


Hendry melirik handuk kecil di tangan Bella, dia mengambilnya dan langsung mengarahkan bahu Bella agar duduk membelakanginya.


Bella sudah tau apa yang akan dilakukan Hendry, jadi dia tidak memberi interupsi dan mengikuti arahan Hendry.


"Apa ada masalah.?" Tanya Bella.


Dia mulai merasakan kedua tangan Hendry mengusap pelan rambut basahnya menggunakan handuk kecil tadi.


"Bukan hal besar, ini soal perasaanku." Sahut Hendry pelan.

__ADS_1


Pria tampak santai mengeringkan rambut Bella, sesekali menaikan rambut panjang Bella yang masih basah itu.


"Mas Hendry sudah tidak menyukaiku lagi.?" Pancing Bella, padahal dia juga penasaran isi hati Hendry padanya.


"Aku rasa, aku semakin menyukaimu." Jawab Hendry jujur, meski ada kegelisahan dari nada bicaranya.


"Tapi aku juga tidak bisa mengorbankan pernikahanku." Lirih Hendry setelah memberikan jeda beberapa saat.


Ucapan Hendry mendapatkan respon yang tak terduga dari Bella. Dia berbalik badan, ekspresi wajahnya tampak biasa saja, malah terkesan santai.


"Kalau begitu kita akhiri saja hubungan ini, aku juga harus mempertimbangkan permintaan Papa untuk menerima perjodohan dengan Mas Arlan." Bella berucap tenang, walaupun dalam hatinya merasakan sakit dan harus menahan amarah karna tidak berhasil membuat Hendry meninggalkan Julia.


Hendry menggeleng tidak setuju. Tidak peduli meski Bella menilainya egois, tapi pada kenyataannya memang seperti itu.


"Sampai kapan Mas Hendry akan mempermainkan perasaanku.?" Bella bertanya dengan nada menyindir, tapi ekspresinya terkesan datar.


"Arabella, aku tidak pernah berfikir untuk mempermainkan perasaanmu. Kalau aku tidak menyukaimu, mana mungkin kita sampai sejauh ini." Hendry meraih jemari tangan Bella untuk di genggam, lalu menatapnya dalam.


"Beri aku waktu, ada beberapa hal yang harus aku pertimbangkan untuk hubungan kita, dan pernikahanku dengan Julia." Pinta Hendry memohon.


Bella meresponnya dengan senyum samar, lalu menarik tangan dari genggaman Hendry.


Hendry hanya bisa menghela nafas berat melihat Bella menghindari obrolan itu.


...******...


Kini mereka berdua tampak biasa saja, seolah tidak pernah ada pembahasan apapun sebelumnya. Hendry dan Bella malah asik menikmati makanan dan minuman yang di beli oleh Hendry saat akan ke apartemen Bella.


"Aku sebenarnya ingin memastikan kabar yang beredar di perusahaan." Ujar Hendry.


Bella berhenti mengunyah, dan langsung menatap Hendry.


"Beberapa orang ingin aku mengonfirmasi kabar tersebut, tapi aku sendiri bahkan tidak tau kebenarannya." Hendry menunjukan ekspresi bingung sekaligus penasaran.


Tanpa di sebutkan inti pembahasannya, Bella sudah tau apa yang ingin diketahui oleh Hendry.


"Aku merasa tidak punya hak untuk tau lebih dalam, karna itu bukan urusanku. Mas Hendry bisa tanya langsung pada Kak Julia atau Mama Natalie, itupun kalau mereka berani jujur." Jawabnya santai.

__ADS_1


"Tapi yang jelas, Papa tidak akan bicara omong kosong di depan publik, apalagi yang menyangkut keluarganya." Bella berkata tegas, seolah ingin membuat Hendry percaya kalau Julia memang bukan anak kandung Papanya.


...******...


"Aku pulang dulu,," Pamit Hendry. Pria itu tidak segan-segan mengecup bibir Bella meski posisi mereka di luar pintu apartemen.


Bella sontak mengerucutkan bibirnya karna ulah Hendry yang tidak tau tempat.


Hendry terkekeh gemas dan mencubit hidung Bella.


"Kamu bahkan tidak mau aku cium sejak tadi, hanya dikecup saja sudah mencebik." Ujarnya.


"Aku sedang tidak enak badan. Kalau aku tidak menolak di cium, pasti akan berakhir di ranjang. Dasar mesum.!" Gerutu Bella.


Bisa dibayangkan kalau dia pasrah mendapat ciuman dari Hendry, pasti pria itu akan membawanya keranjang. Sedangkan kondisinya mendadak lemas setelah mandi.


"Baik, masih ada hari lain untuk menciummu." Seloroh Hendry bercanda. Lagi-lagi Bella hanya mencebik kesal.


"Setelah ini langsung istirahat saja, hubungi aku kalau butuh sesuatu." Hendry mengusap lembut wajah Bella dengan tatapan khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Bella setelah mengeluh tidak enak badan.


"Ya, aku mengerti. Sudah sana, ada yang menunggu di rumah." Ledek Bella menyindir.


Hendry menghela nafas, lalu beranjak dari sana setelah menyuruh Bella masuk ke dalam dan mengunci pintu.


"Kenapa mendadak pusing dan lemas,," Bella memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, dia buru-buru duduk di sofa ruang tamu karna kepalanya terasa semakin berdenyut.


Bella tadinya akan langsung ke kamar untuk istirahat, tapi baru beberapa langkah saja sudah tidak punya tenaga lagi. Akhirnya malah membaringkan tubuhnya di sofa.


Baru saja merebahkan tubuhnya, seseorang membunyikan bel. Bella sontak menautkan alisnya, penasaran siapa yang datang ke apartemennya. Rasanya tidak mungkin kalau Hendry kembali dan menekan bel, sedangkan pria itu punya akses card.


Beberapa saat memilih diam dalam posisinya, Bella akhirnya beranjak karna orang itu semakin sering menekan bel.


Sampai di depan pintu, Bella melihat pada layar kecil. Senyumnya tiba-tiba merekah, memamerkan senyum devil. Bella mendadak tidak pusing dan terlihat segar.


Dia membuka pintu apartemen tanpa pikir panjang.


"Sayang,,, apa ada yang tertinggal.?" Seru Bella yang sengaja mengeraskan suaranya setia membukakan pintu.

__ADS_1


Senyumnya makin merekah begitu disuguhkan pemandangan yang sudah lama ingin dia lihat.


__ADS_2