
"Akhirnya kamu ingat anak juga.!" Sindir Julia ketus. Dia bergabung di meja makan, duduk di depan Hendry yang sedang menyuapi Ale dalam pangkuannya.
Hendry cuek saja mendengar perkataan ketus Julia, justru malah Farah yang terlihat meradang.
Menantunya itu seperti tidak berkaca sebelum bicara, padahal dia juga sama saja, lupa sama anak. Sering keluyuran dan menghabiskan malam bersama pira lain.
"Berkas perceraian kita sudah lengkap. Setelah surat perceraiannya datang, kamu tinggal menandatanganinya saja." Ujar Hendry santai.
Julia membulatkan matanya, tangannya juga mengepal di bawah meja. Kalau saja di sana tidak ada Mama mertuanya, sudah pasti dia akan mengamuk pada Hendry.
"Sudah aku bilang, aku tidak mau cerai.!" Tegas Julia menahan amarah.
"Hanya karna wanita sialan itu, kamu sampai mengorbankan pernikahan kita dan Ale. Kamu sangat egois, Hendry." Suara Julia bergetar. Raut wajahnya yang tadi menahan amarah, kini berubah sendu dalam sekejap mata.
"Mama lihat sendiri kan, Hendry masih saja bersikeras menceraikan ku. Kalau bukan karna Bella yang meracuni otak Hendry, pasti rumah tangga kami baik-baik saja." Julia menatap memelas pada Farah, seperti minta pembelaan dari Mama mertuanya.
"Ck.! Lama-lama Mama muak melihat drama kalian berdua." Farah beranjak dari kursinya, dia mengambil Ale dari pangkuan Hendry dan membawa sarapan Ale untuk menyuapinya di tempat lain agar tidak mendengar perdebatan kedua orang tuanya.
"Lagipula kalian berdua sama saja, untuk apa saling menyalahkan.!" Ketus Farah sebelum akhir pergi dari ruang makan.
Julia melotot kesal menatap kepergian mertuanya. Bukannya menasehati putranya agar tidak mengakhiri pernikahan, malah marah-marah tidak jelas.
"Apa Mama mu sudah berpihak pada wanita sialan itu.? Kenapa membiarkan putranya mempermainkan pernikahan.!" Geram Julia jengkel.
Dia sudah berharap di bela oleh Mama mertuanya agar tidak di ceraikan oleh Hendry, tapi Mama mertuanya pergi dan lepas tangan begitu saja.
"Jangan bawa-bawa Mama dalam masalah ini.!" Tegas Hendry dengan tatapan tajam.
"Lagipula bukannya lebih bagus kalau kita bercerai.? Kamu juga bisa bersama dengan pria itu." Ujarnya santai.
Julia mengerutkan keningnya dan terlihat kebingungan.
"Apa maksudmu. Pria yang mana.? Jangan asal menuduh." Julia berani mengelak karna berfikir kalau Hendry tidak mengetahui perbuatannya dengan Rexy.
"Tidak perlu pura-pura Julia, aku geli melihat ekspresi mu." Ujar Hendry seraya menyodorkan ponselnya di depan wajah Julia. Hendry memutar rekaman cctv itu dengan ponsel yang masih ada di tangannya.
__ADS_1
Kini setelah melihat layar ponsel Hendry, wajah Julia seketika berubah pucat. Dia jelas ketakutan.
Julia tidak menyangka Hendry akan memiliki rekaman cctv dari apartemen tempat Rexy menginap.
Julia memutar otak untuk melakukan segala cara, karna setelah perselingkuhannya dengan Rexy juga terbongkar, Hendry pasti akan semakin yakin menceraikan.
Hendry menarik ponselnya dari hadapan Julia, lalu menyimpannya lagi dalam saku celana.
"Semakin cepat kita cerai, bukankah semakin bagus.? Kamu bisa hidup bersama dengan pria mu itu, begitupun aku dengan Bella."
"Sudahi saja semua ini Julia, kita mulai hidup yang baru dengan pasangan masing-masing." Tutur Hendry serius. Dia tidak sedang bernegosiasi, tapi ingin membuka mata Julia kalau pernikahan mereka memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Jika tetap di pertahankan, tentu tak akan sama seperti dulu lagi. Hati dan pikiran mereka sudah pada orang lain.
"Hendry, soal pria itu aku bisa jelaskan. Aku dan dia tidak punya hubungan apapun." Elak Julia. Walaupun Julia berkata jujur, tapi mana mungkin Hendry akan percaya.?
Hendry sudah mengantongi bukti kalau Julia dan pria itu bukan hanya 1 kali menghabiskan malam bersama. Mana bisa hanya di sebut bersenang-senang saja tanpa ada hubungan. Lagipula sekalipun hanya untuk bersenang-senang, Hendry sudah tidak peduli lagi. Dia tetap pada keputusannya, menceraikan Julia dan mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Bella.
"Jangan menutup mata Julia, kita sudah tidak bisa bersama lagi.!"
"Kalau kamu tidak mempersulit perceraian kita, aku akan memberikan 50 persen aset di luar perusahaan untukmu. Tapi jika kamu mempersulit, aku akan menggunakan bukti untuk menceraikan kamu dan tidak kompensasi sepeserpun.!" Tegas Hendry sedikit mengancam.
Mungkin dengan sedikit penawaran yang menggiurkan, Julia bisa berfikir lebih logis dan tidak menghambat proses perceraian.
Diceraikan tanpa mendapatkan kompensasi apapun.? Membayangkannya saja sudah membuat Julia bergidik ngeri.
Dia dan Mamanya sudah terancam tidak akan mendapatkan harta dari Baskoro. Lalu jika tidak mendapatkan harta juga dari Hendry, bisa-bisa hidupnya terjun bebas ke dasar jurang. Berubah miskin dan tidak punya apa-apa.
Tapi jika menyetujui penawaran Hendry untuk bercerai dan mendapatkan 50 persen asetnya, tetap saja Julia merasa kalah dari Bella. Wanita yang sering dia sebut sebagai anak ja-lang itu akan mendapatkan Hendry dan semua harta Baskoro.
"Aku beri kamu waktu 1 jam untuk berfikir, jika dalam waktu 1 jam kamu belum menentukan pilihan, maka keputusan ada pada nomor 2.!" Tegas Hendry kemudian beranjak dari ruang makan meninggalkan Julia yang tersulut amarah.
Hendry tidak main-main dengan ancamannya.
"Bella ja-lang sialan.!! Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia.!" Geram Julia penuh amarah. Kedua tangannya sampai mwngepal kuat, tidak terima Bella mendapatkan semuanya dan hidup bersama Hendry.
...******...
__ADS_1
"Aku titip Ale, Mah. Sudah siang, aku harus berangkat sekarang." Ucap Hendry seraya berjongkok di depan putrinya yang sedang di pangku Farah.
Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela nafas berat, tidak tega memikirkan nasib cucunya yang mulai terabaikan. Kedua orang tuanya sudah tidak tinggal satu rumah, lalu sibuk masing-masing rnegan urusannya.
"Daddy berangkat dulu sayang, baik-baik dengan Oma ya." Hendry mencium gemas kedua pipi bulat Ale bergantian. Balita cantik itu tampak senyum-senyum, tangan gemuknya meraih wajah Hendry dan menepuk-nepuk pelan.
Ale juga berceloteh, tapi masih belum jelas bicara apa.
Sekali lagi Hendry mencium wajah putrinya. Dia tampak biasa saja di luar, tapi sebenarnya sedih dan merasa bersalah pada Ale. Tapi mau bagaimana lagi, keputusan berpisah dengan Julia sudah bulat.
"Mama sudah tua Hendry, kamu malah membuat Mama pusing seperti ini." Keluh Farah dengan helaan nafas berat. Satu tangannya mengusap-usap pucuk kepala Ale.
"Hendry minta maaf sudah mengecewakan Mama." Lirih Hendry. Farah tidak menjawab, dia kembali sibuk menyuapi Ale.
Melihat sang Mama tidak merespon, Hendry memilih pergi dari sana. Dia harus datang ke perusahaan karna ada beberapa berkas penting yang menunggu tanda tangannya. Lalu bertemu dengan kuasa hukum dan pengacara untuk mempercepat proses perceraiannya.
...******...
Setelah tadi malam bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman dalam pelukan Hendry, bukan berarti Bella akan tersenyum bahagia ketika bangun tidur. Yang ada malah kebalikannya. Bibirnya cemberut, sesekali menggerutu lantaran Hendry selalu pergi di saat dia masih tertidur.
Bangun tidur bukan segar dan happy, ibu hamil itu malah badmood. Dia bersembunyi di bawah selimut yang menutup seluruh tubuhnya.
Matanya sudah berkaca-kaca, ingin menangis tapi di tahan-tahan. Bella merasa malu sendiri kalau sampai menangis hanya gara-gara Hendry sudah tidak ada di sampingnya ketika membuka mata.
"Awas saja.! Aku tidak mau melihatmu lagi.!" Gerutunya sebal. Bella mungkin hanya asal bicara karna posisinya sedang kesal, jadi sekedar meluapkan lewat ucapan. Padahal yang sebenarnya, dia tidak bisa jauh-jauh dari Hendry.
Kedua anaknya seperti tidak merestui jika dia dan Hendry berjauhan.
Tok,,
Tok,,
Tok,,
Bella reflek menyibak selimutnya kwtika mendengar ketukan pintu. Kepalanya menyembul dari balik selimut, lalu menatap pintu kamarnya dan berharap orang di balik pintu itu adalah Hendry. Namun Bella harus menelan kecewa saat suara Bik Lastri terdengar di balik pintu.
__ADS_1
"Non Bella, ini Bibi mau mengantar sarapan." Serunya.
Bella menjawab lesu, menyuruh Bik Lastri masuk ke kamarnya, lalu kembali menggulung dirinya dengan selimut. Bella tidak bersemangat sama sekali, dia lebih memilih rebahan dan tidak beranjak dari ranjang sedikitpun. Sarapan yang dibawakan Bik Lastri saja hanya di biarkan di atas nakas, tidak di lirik, apalagi disentuh.