
Hendry keluar dari kamar mandi pakai santai dan rambut yang masih setengah basah. Pria tampan berperawakan tinggi itu terlihat segar sehabis mandi.
Berjam-jam diluar ruangan untuk menyambut keluarga besar dan melangsungkan pernikahannya, rupanya cukup membuat Hendry lelah sampai wajahnya tampak kusut saat semua orang sudah meninggalkan rumah. Belum lagi Hendry juga harus memikirkan cara untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Julia agar kedepannya tidak mengganggu membahayakan keselamatan Bella.
Sebenarnya bisa saja Hendry bertindak tegas pada Julia, memberinya efek jera supaya tidak berbuat onar lagi setiap datang ke rumah ini. Tapi Hendry masih menghargai Julia sebagai ibu dari putrinya. Dia berharap suatu saat Julia bisa menerima kenyataan, lalu membuka lembaran baru dengan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mencari kebahagiaannya masing-masing karna sekarang sudah tidak bersama.
Hendry menghela nafas berat sebelum beranjak menghampiri Bella yang tertidur di atas ranjang.
Wajah damai Bella ketika tidur mampu membuat sudut bibir Hendry terangkat. Pria itu senyum-senyum sendiri menatap wanita yang baru beberapa jam lalu menjadi istrinya. Dia kemudian duduk di samping Bella. Niatnya mau membangunkan Bella dan menyuruhnya mandi karna sudah sore, tapi tidak tega membangunkannya.
Alhasil Hendry hanya diam saja menatap Bella. Sampai akhirnya tubuh Bella mulai menggeliat dan matanya perlahan terbuka sempurna sambil mengerjap beberapa kali. Bella kelihatan bingung, masih loading melihat Hendry ada di kamarnya.
Baru beberapa jam lalu menikah, apalagi sudah dibawa tidur sebelum keluarga pulang, wajar Bella lupa kalau dia dan Hendry sudah menikah.
"Mas Hendry kenapa disini.? Memangnya tidak ada Papa.?" Tanya Bella yang buru-buru mengubah posisi menjadi duduk di tepi ranjang seperti Hendry.
Walaupun sudah terlanjur menanam saham duluan, tapi sejauh ini Bella selalu menjaga jarak dengan Hendry ketika ada orang lain. Itu sebabnya Bella mengira Papanya tidak ada di rumah, jadi Hendry bisa masuk ke dalam kamarnya. Padahal yang sebenarnya terjadi, dia sudah menikah dengan Hendry. Mau berduaan di dalam kamar, di dalam kamar mandi, di hotel pun tidak jadi masalah.
Hendry mengernyitkan kening melihat Bella kebingungan karna dia ada di kamarnya. Dia langsung menduga kalau Bella lupa dengan status baru mereka. Seketika keluar ide jahil Hendry untuk mengerjai istrinya. Anggap saja untuk hiburan di saat sedang banyak masalah dan pikiran.
Hendry lantas merapatkan tubuhnya pada Bella, satu tangannya melingkar di belakang tubuh Bella dan satu lagi mendarat di pipinya yang mulai chubby.
"Mas, jangan begini. Bagaimana kalau Papa lihat." Bella mencoba melepaskan diri, tapi Hendry menahan pinggangnya.
"Papa sendiri yang mengijinkan ku tidur di kamar ini bersama mu." Bisik Hendry. Bella bergidik merinding. Bisikan Hendry membuat bulu-bulu halus di tangannya berdiri.
"Mas Hendry pasti bohong, mana mungkin Papa memberi ijin seperti itu." Sahut Bella tak percaya. Apalagi Papanya terlihat kesal pada Hendry setelah tau kabar kehamilannya. Jelas Bella tidak percaya omongan Hendry.
"Untuk apa aku bohong. Selagi Papa memberi ijin, bagaimana kalau main-main sebentar.? Aku sebenarnya,,," Hendry menggantungkan ucapannya, membuat Bella penasaran dan menerka-nerka sendiri. Jangan-jangan Hendry juga menginginkan hal itu, sama seperti dirinya.
__ADS_1
Tapi Bella masih bisa berfikir jernih, cukup sekali dia mengecewakan Papanya, dia tidak mau menambah kecewa lagi.
"Lepas Mas, sebaiknya kita keluar sekarang." Bella ingin berdiri, tapi di tahan oleh Hendry.
Malah Hendry yang berdiri dan mengangkat tubuh Bella untuk di letakan di tengah-tengah ranjang. Bella sempat protes dan menyuruh Hendry berhenti, tapi Hendry tidak menghiraukan.
Kini Bella sudah ada di bawah kungkungan Hendry. Pria itu sejak tadi menahan tawa melihat ekspresi wajah Bella yang panik bercampur kesal.
"Mas, stop.!" Bella menahan gerakan tangan Hendry yang menjalar kemana-mana. Nalurinya sebagai pria dewasa sudah terlatih cukup baik.
Bella jelas semakin panik. Karna kalau Hendry sudah on, sudah pasti dia akan hanyut oleh permainan Hendry yang memabukkan.
"Kamu menolak ku?" Tanya Hendry dengan wajah pura-pura sedih.
Bella menelan ludah, bingung sendiri harus menjawab apa. Sedangkan Bella sendiri sudah lama menginginkannya.
"Tapi ada Papa, aku,,
Hendry kembali melancarkan aksinya, dia membuka kancing piyama Bella dengan satu tangan, karna sebelah tangannya menopang tubuh agar tidak menimpa Bella yang ada di bawahnya.
"Mas." Tegur Bella, tapi hanya sekedar ucapan saja karna tidak menghentikan gerakan tangan Hendry.
"Benar-benar menginginkanku ya.?" Bisikan Hendry karna Bella tidak mencegahnya.
Pipi Bella memerah seperti tomat, dia mau menolak tapi sudah terlanjur bergairah akibat perlakuan Hendry.
Hendry kemudian membenamkan wajah di leher Bella, dia merasakan tubuh Bella langsung memegang. Dalam hati, Hendry tertawa lucu. Dia tidak menyangka kalau Bella benar-benar ingin melakukannya, terbukti dari respon tubuhnya.
"Tahan, sekarang baru jam 5 sore. Ber cintanya nanti saja setelah makan malam." Bisikan Hendry kemudian menyingkir dari atas tubuh Bella sambil terkekeh gemas.
__ADS_1
Bella menatap bingung, tapi dia menerima uluran tangan Hendry yang ingin membantunya bangun.
"Kamu tidak senang ya menikah denganku.? Bahkan baru beberapa jam sudah lupa kalau kita baru saja menikah." Ujar Hendry seraya mencubit gemas pipi Bella.
"Astaga,,!" Pekik Bella. Dia menepuk keningnya sendiri. Bisa-bisanya dia lupa dengan pernikahannya sendiri.
Mungkin efek pusing karna memikirkan permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini.
Hendry terkekeh, dia lantas menunduk untuk mengecup sekilas bibir Bella.
"Mandi dulu biar segar." Titah Hendry. Bella mengangguk patuh dan langsung beranjak ke kamar mandi.
...******...
Di meja makan sudah ada Baskoro, Hendry dan Bella yang sedang menikmati makan malam dalam keadaan hening. Hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, itupun sangat pelan.
Hendry masih menyesuaikan diri, walaupun sebelumnya sudah menjadi menantu Baskoro selama 5 tahun. Tapi kali ini dengan istri yang berbeda. Tentu hal itu membuat Hendry merasa canggung dengan Baskoro.
Bella pun sana, bedanya dia merasa malu pada Papanya karna sudah membuat aib.
"Tugas Papa susah selesai sampai menikahkan kamu dengan Hendry." Ucap Hendry ketika mereka sudah selesai makan.
"Setelah ini, Papa tidak akan ikut campur lagi apa yang menjadi masalah kalian. Kalian sudah dewasa, harus bisa bertanggungjawab atas apa yang sudah kalian lakukan." Tegas Baskoro.
Dia bersikap seperti itu agar Bella dan Hendry tau konsekuensi yang harus di terima atas perbuatan mereka. Dengan begitu, Baskoro berharap keduanya bisa belajar dari kesalahan dan kedepannya tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Jangan hanya menuruti perasaan, apalagi amarah.
"Papa harap kalian tidak mengecewakan Papa lagi." Pinta Baskoro.
Kami mengerti Pah. Maaf sudah membuat Papa kecewa." Ucap Hendry tulus.
__ADS_1
Sementara itu, Bella tampak menunduk sendu.
Dia belum membahagiakan Papanya, tapi sudah menorehkan kekecewaan.