Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 39


__ADS_3

Pukul 7 pagi Hendry sudah pulang ke rumahnya. Dia menolak ajakan sarapan bersama dengan Bella karna ingin buru-buru pulang. Bagaimanapun, ada anak dan istrinya yang menunggu di rumah. Terlepas seperti apa peringai Julia pada orang lain, terutama pada Bella, Hendry merasa masih memiliki tanggungjawab atas Julia. Jadi meski sudah ada wanita lain yang menempati sebagian hatinya, Hendry mencoba untuk tidak begitu mengabaikan Julia. Karna wanita itu juga telah melahirkan seorang anak yang menggemaskan untuknya. Jadi sosok Julia tetap berharga dalam kehidupan Hendry.


"Sayang, kamu darimana saja.? Kemarin sudah janji akan pulang, kamu menginap dimana.? Ponselmu juga tidak bisa dihubungi."


Hendry bahkan baru menaikan satu kakinya pada anak tangga, tapi sudah di cecar banyak pertanyaan oleh Julia dengan nada menginterogasi. Hendry memejamkan mata sejenak dengan tarikan nafas dalam. Bukannya di sambut dulu dengan baik, malah sudah di suguhi banyak pertanyaan yang membuatnya sakit kepala.


"Aku baru sampai, mau mandi dulu. Kita bicara lagi nanti." Ucap Hendry pelan.


Julia langsung menggeleng, dia mau mendengar jawaban dari Hendry saat itu juga, tidak mau penasaran selama menunggu Hendry selesai mandi. Itu terlalu lama, sedangkan pikiran dan perasaannya sudah tidak karuan.


Bahkan semalam sampai kesulitan tidur gara-gara menunggu Hendry yang tidak kunjung pulang dan tanpa kabar.


"Apa susahnya jawab sekarang.? Aku hanya ingin tau kamu tidur dimana semalam.?" Nada bicara Julia naik sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.


Hendry sampai reflek mengedarkan pandangan, takut ada pekerja rumah yang mendengar perdebatan mereka. Apalagi posisinya di tangga, sedikit saja bicara kencang, sudah pasti akan terdengar ke semua sudut ruangan di lantai bawah.


"Kita bicara di kamar." Hendry menghampiri Julia, lalu menggandeng wanita itu dan membawanya ke kamar mereka. Di sana kedap suara, mau Julia berteriak sekalipun, tidak takut orang lain akan mendengarnya.


"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan, Hen.?" Tuduh Julia saat pintu kamar baru saja di kunci oleh Hendry.


Pria itu menghela nafas, dia khawatir karna Julia sudah mulai mencium bau-bau pengkhianatannya.


"Kamu ini bicara apa. Sudah aku bilang ada kunjungan di kantor cabang. Semalam sedikit tidak enak badan, jadi menginap di hotel terdekat." Jawab Hendry santai.


Terbiasa membohongi Julia untuk menutupi perselingkuhannya dengan Bella, membuat Hendry tidak gugup lagi setiap kali membohongi Julia.

__ADS_1


Julia tidak langsung percaya begitu saja, sekalipun dia sangat mengenal Hendry yang sejak dulu tidak pernah membohonginya, tapi kali ini perasaannya tidak bisa di bohongi. Julia merasakan ada gelagat yang sedikit aneh dari pria yang sudah 7 tahun mengisi hatinya.


Entah kenapa feelingnya mengatakan kalau diluar sana ada wanita yang berhasil menarik perhatian Hendry.


Semua ini bermula dari mimpinya tadi malam. Saat itu Julia sedang sibuk menenangkan Ale yang tidak mau berhenti menangis. Karna kewalahan menenangkan Ale, Julia akhirnya pergi ke kamarnya untuk meminta bantuan Hendry supaya menangkan Ale.


Tapi begitu masuk ke kamar, Julia dikejutkan dengan perbuatan suaminya yang tengah menggagahi wanita lain dibawah kungkungannya.


Julia tidak bisa melihat wajah wanita itu karna terhalang bahu lebar Hendry.


Suara percintaan panas keduanya terdengar jelas di telinga Julia. Hendry terlihat begitu bergairah dan bersemangat saat menggagahi wanita itu.


Bahkan beberapa kali mulut manis Hendry memuji lawan ber cintanya dengan kata-kata yang membuat Julia sakit hati.


"Hendry.!! Tega kamu.!! Siapa wanita ja lang itu."


Hendry menautkan alisnya karna Julia tiba-tiba melamun. Sorot matanya seperti penuh beban dan kesedihan.


Perlahan Hendry menyentuh lengan istrinya tanpa membuatnya kaget.


"Julia, kamu baik-baik saja.?" Tanya Hendry pelan.


Julia terkesiap, dia mengerjapkan mata beberapa kali untuk membuang bayangan mengerikan itu dari pikirannya. Untung saja hanya mimpi, entah apa jadinya kalau dia benar-benar melihatnya secara nyata.


"Aku benar-benar menginap di hotel karna tidak sanggup memaksakan pulang. Ponselku mati dan tidak sempat meminjam charger karna langsung tidur begitu sampai hotel. Jangan bicara dan menatapku dengan kecurigaan seperti itu. Aku tidak pernah macam-macam." Tuturnya. Hendry kemudian menarik Julia dalam dekapan dan membisikkan sesuatu yang membuat suasana Julia langsung membaik, hanya ini satu-satunya cara untuk mengalihkan kecurigaan Julia terhadapnya.

__ADS_1


Hendry belum siap menyeret nama Bella, tidak mau membuat Bella di salahkan banyak orang. Sedangkan Hendry sadar sepenuhnya kalau dia yang tidak bisa menjaga hati dan hasratnya ketika bersama Bella.


...****...


Di tempat lain, Bella sedang menerima telfon dari Papanya. Bella di marahi habis-habisan oleh Baskoro lantaran pergi dari rumah Julia tanpa memberitahunya. Bahkan Bella tidak memilih untuk pulang ke rumahnya.


"Lalu kamu tinggal dimana.? Jangan membuat Papa khawatir." Ujar Baskoro. Pria baruh baya itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, terdengar dari nada bicaranya yang sedikit bergetar. Mungkin bukan hanya khawatir saja, melainkan takut tidak bisa menjaga putrinya di luar sana. Sedangkan Baskoro sudah berjanji pada Selena untuk menjaga dan melindungi putri mereka.


"Papa jangan khawatir, Bella baik-baik saja. Nanti Bella temui Papa, tapi tidak di rumah." Sahutnya tanpa bisa memberitahu tempat tinggalnya. Bella belum siap melihat kekecewaan sang Papa jika tau dia tinggal di apartemen Hendry dan memiliki hubungan gelap dengannya.


Di seberang sana, pikiran Baskoro mendadak kalut. Dia yakin putrinya menyembunyikan sesuatu darinya. Selama ini hubungan dia dengan putrinya memang dekat, tapi belum di tahap saling terbuka satu sama lain. Bella juga tertutup, hampir tidak pernah menceritakan masalahnya.


"Kalau begitu kita bertemu sekarang, Papa tunggu 1 jam lagi di rumah Ibumu. Papa matikan dulu telfonnya, ada yang harus di urus di perusahaan." Baskoro memutuskan sambungan telfonnya begitu saja, padahal Bella ingin menolaknya karna belum siap di cecar banyak pertanyaan oleh sang Papa.


...*****...


1 jam kemudian, Bella sudah sampai di rumah yang dulu di tempati dia bersama mendiang Ibunya. Sudah hampir 2 bulan Bella menginjakkan kakinya di sana. Rumah itu tidak berubah sama sekali, masih dipenuhi berbagai macam bunga di halaman rumah. Dulu mendiang Ibunya sangat suka menanam dan merawat tanaman, membuat suasana rumah terlihat asri dan sejuk karna di tumbuhi banyak bunga dan tamanan.


Kini setelah 5 tahun kepergian sang Ibu tercinta, rumah itu masih tetap asri seperti dulu. Itu karna sang Papa membayar 2 pekerja rumah yang tinggal di sana untuk merawat rumah dan taman kesukaan milik Selena.


Bella menarik nafas dalam. Dadanya tiba-tiba sesak mengingat mendiang Ibunya dan kebersamaan yang mereka lewatkan di rumah tersebut. Terlalu banyak kenangan indah di dalam sana, juga kenangan menyesakkan dada saat Bella sering melihat Ibunya menangis diam-diam tengah malam.


Bella tau bagaimana hubungan Ibunya dan Papanya yang memang cukup dingin, karna tidak ada cinta di antara mereka. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa perhatian dan kasih sayang sang Papa begitu besar untuknya. Di mata Bella, sang Papa orang tua yang bertanggungjawab dan penuh kelembutan.


Meski begitu, Bella bersyukur karna Ibunya sempat merasakan cinta dan perhatian dari pria yang sudah lama menjadi suaminya itu.

__ADS_1


3 tahun merasakan dicintai dan perhatikan, memang bukan waktu yang lama. Tapi setidaknya di sisa hidup sang Ibu, beliau bisa merasakan kebahagiaan yang utuh.


__ADS_2