
Hendry meninggalkan perusahaan lebih awal. Di antar supir pribadi, mobil mewah Hendry membelah jalanan Ibu kota dan berhenti di kawasan pinggiran kota. Tepat di depan sebuah rumah yang membuat Hendry selalu ingin berkunjung dan menginap.
Kemarin Hendry tidak datang ke rumah ini karna harus menginap di rumah orang tuanya. Di mana ada putrinya yang sedang menginap di sana. Jadi Hendry memutuskan menginap juga supa bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan putrinya itu.
Sekarang setelah puas menghabiskan waktu bersama putrinya, giliran menghabiskan waktu dengan anak kembarnya yang masih dalam kandungan. Sekalian pendekatan lagi sama Mamanya si kembar, supaya mau di ajak nikah dalam waktu dekat.
"Masuk saja kalau mau minum atau istirahat." Ucap Hendry pada supirnya saat akan keluar dari mobil. Ini pertama kalinya Hendry datang dengan supir pribadi, biasanya dia yang menyetir sendiri.
Tapi karna beberapa hari terakhir sering bolak balik untuk mengunjungi orang-orang berarti dalam hatinya, kondisi kesehatan Hendry jadi sedikit drop.
Jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, Hendry memutuskan menggunakan supir untuk beberapa hari ke depan.
Belum sempat supir itu menjawab perkataan Hendry, tapi bosnya itu sudah turun sari mobil dan buru-buru masuk ke dalam rumah tersebut.
Hendry memasuki rumah sambil menenteng beberapa paper bag berisi makanan, minuman dan empat macam dress untuk ibu hamil dengan model besar dan longgar di bagian perut. Jadi ketika perut Bella semakin membesar, dress itu masih bisa di pakai.
"Dimana Bella.?" Tanya Hendry pada Bik Dina di ruang keluarga. Wanita paruh baya itu sedang mengepel lantai.
"Di taman belakang Tuan, tadi katanya mau berenang." Jawabnya.
Hendry mengangguk-angguk samar, lalu meletakkan semua paper di atas meja ruang keluarga.
"Tolong bawa semua makanannya ke dapur, sisanya langsung di antar ke kamar Bella saja." Titahnya dan sudah bersiap menyusul Bella di taman belakang.
"Baik Tuan." Bik Dina langsung sigap mengerjakan perintah Hendry. Dia membawa semua paper bag tadi ke arah dapur untuk di pisah-pisah agar sisanya bisa langsung di simpan di kamar Bella.
...*****...
Di kolam renang yang tidak terlalu luas, Bella tampak sedang duduk di tepi kolam sembari menikmati potongan-potongan buah di tangannya. Kedua kaki jenjangnya mengayun-ayun di dalam air. Wajahnya tampak berseri-seri walaupun sejak kemarin tidak bertemu dengan Hendry. Tapi tidak pernah absen di hubungi Hendry dan di temani setiap kali makan, tentunya lewat vidio call.
Mungkin itu yang membuat Bella tidak uring-uringan lagi saat jauh dari Hendry, karna 3 kali sehari melakukan vidio call, sudah seperti minum obat. Jelas saja sekarang Bella segar bugar. Nafsu makannya juga meningkat. Berat badan yang semula turun, sudah mulai naik lain.
Dari kejauhan, Hendry mengulum senyum melihat Bella baik-baik saja dan tampak lebih sehat. Pria itu kemudian melepaskan jas, dasi dan menggulung kemejanya sampai sebatas siku. Tidak lupa membuka 2 kancing teratas kemejanya sebelum ikut bergabung di samping Bella.
__ADS_1
Melihat ada seseorang berdiri di sampingnya, Bella lantas mendongak. Dilihatnya Hendry melempar senyum teduh, lalu ikut duduk di sebelahnya.
"Sudah berenangnya.?" Tanya Hendry dengan sebelah tangan mengusap pucuk kepala Bella, seperti mengusap kepala anak kecil dan menatapnya gemas.
Bella mengangguk dua kali sebagai jawaban.
"Jam berapa sekarang.?" Bella sedikit melirik pada arloji mahal ditangan Hendry, penasaran karna Hendry sudah datang, padahal langitnya masih kelihatan cerah. Bella juga merasa baru sebentar di kolam renang, mungkin belum ada 1 jam.
"10 menit lagi jam 4." Jawab Hendry setelah melihat jam.
Bella manggut-manggut saja, lalu kembali menyantap buah di tangannya.
"Sudah mulai kelihatan besar,," Komentar Hendry dengan satu tangan mengusap perut Bella.
"Apa karna kamu mulai gemuk.? Kamu makan lebih banyak akhir-akhir ini." Godanya sedikit menahan tawa.
Bella melirik sebal dengan bibir mengerucut. Entah kenapa dia tidak suka mendengar kata gemuk. Ibu hamil itu kemudian meletakkan piring berisi buah di tepi kolam dan berhenti memakannya.
"Tidak makan lagi." Ujarnya malas.
"Aku hanya bercanda. Mau aku suapi.?" Hendry mengambil piring tadi lewat belakang tubuh Bella, lalu menyodorkan potongan buah. Bella diam sebentar, setelah itu melahap potongan mangga dari Hendry.
"Nanti kalau Papa sudah pulang, kabari aku ya." Pinta Hendry. Dia juga ikut makan buah-buahan yang kelihatan segar. Melihat Bella mengunyah dengan lahap, Hendry jadi ingin makan juga.
Bella menghela nafas berat.
"Aku belum siap memberi tau Papa." Ujarnya gelisah. Mungkin ini akan menjadi kabar terburuk dalam hidup Papanya. Bella takut mengecewakan, dan belum siap melihat wajah kecewa Papanya.
"Kita tidak bisa menyembunyikan hal ini terlalu lama. Kedua orang tuaku bahkan sudah tau." Ucap Hendry yang tampak santai.
Sedangkan Bella, dia kelihatan syok berat saat Hendry mengatakan kedua orang tuanya sudah tau soal kehamilan ini. Pikiran Bella langsung berkecambuk, juga khawatir dengan tanggapan dan pandangan orang tua Hendry padanya setelah mengetahui semua ini.
Bella berfikir kalau orang tua Hendry pasti berfikir buruk tentangnya. Namun Bella tidak akan menepis pandangan buruk mereka, karna apa yang dia lakukan memang salah. Hamil dengan Kakak iparnya sendiri, membayangkannya saja sudah pasti membuat semua orang merasa jijik.
__ADS_1
Bella akan menerima konsekuensinya kalau memang harus di pandang buruk seperti itu.
"Aku sudah mengecewakan mereka." Lirih Bella dengan suara tercekat.
Dendam, semua ini gara-gara dendam. Andai saja Bella bisa menahan diri untuk tidak menaruh dendam setelah belasan tahun di perlakuan buruk oleh Julia dan Natalie, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Hidupnya pasti akan baik-baik saja, tidak menggoreskan kekecewaan di hati orang-orang yang benar-benar tulus padanya.
"Jangan terlalu membebani pikiranmu dengan rasa bersalah dan penyesalan, semuanya sudah terjadi. Kita hanya perlu menghadapinya dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita lakukan." Tutur Hendry untuk menenangkan pikiran Bella dan mengusir rasa bersalah yang ditakutkan bisa berdampak buruk bagi kehamilan Bella.
Bella menarik nafas dalam, dadanya jadi sesak dan sakit memikirkan orang-orang di sekitarnya akan kecewa atas perbuatannya.
Pada dasarnya Bella memang tidak di takdirkan menjadi jahat, dia jadi pendendam seperti itu karna terlalu sering di sakiti, ditindas dan dihina tanpa ada perlawanan. Bella hanya bisa memendam amarah dan rasa sakit hatinya selama belasan tahun, sampai akhirnya berfikir untuk balas dendam di saat amarah dan rasa sakit hatinya sudah tidak bisa di pendam lagi.
"Aku ingin bertemu Mama Farah dan Papa, aku harus minta maaf pada mereka." Ucap Bella dengan mata yang mulai berembun.
Hendry mengangguk setuju.
"Boleh, tapi tidak sekarang. Suasana hati mereka belum cukup baik, begitu juga dengan kamu. Kita tunggu dulu sampai situasinya lebih baik." Tutur Hendry penuh pengertian.
Bella mengangguk paham dan protes. Sepertinya memang butuh waktu untuk meredam perasaan masing-masing sebelum bertemu dan membicarakan masalah ini.
"Mau berenang lagi tidak.? Biar aku temani." Tawar Hendry.
Dia bertanya pada Bella tapi seolah tidak butuh jawaban darinya, karna Hendry langsung melepaskan satu persatu kancing kemejanya. Jadi sudah pasti setelah ini Hendry akan menceburkan diri ke kolam renang. Celana panjangnya saja sudah basah sampai ke paha karna tidak di gulung saat memasukkan kedua kakinya ke dalam kolam.
Detik berikutnya, Hendry berdiri dan menurunkan celana panjangnya di depan Bella. Wanita itu sontak memalingkan wajah, tapi sudah sempat melihat celana dal am warna hitam merk ternama.
Hendry hanya geleng-geleng kepala melihat Bella memalingkan wajah, padahal sudah sering melihat isinya.
"Ayo turun." Hendry merentangkan kedua tangannya di depan Bella, dia sudah masuk ke dalam kolam lebih dulu dan berdiri di depan Bella yang masih duduk di tepi kolam.
Bella menerima uluran tangan Hendry dan menceburkan diri ke dalam air.
Bukannya berenang, mereka berdua malah terlihat main-main saja di dalam kolam.
__ADS_1
Hendry selalu mengajak Bella bicara, tidak jarang wanita hilang itu mengembangkan senyum mendengar celotehan Hendry yang random.
Tidak terasa sudah 1 jam mereka bermain air. Interaksi di dalam kolam itu membuat Bella lebih mencair dan mau menanggapi obrolan Hendry dengan antusias. Tidak dingin seperti sebelumnya. Mungkin Bella mulai kehilangan gengsinya sedikit demi sedikit, jadi tidak malu lagi berinteraksi dengan Hendry.