
Hendry menepikan mobilnya ketika ponselnya berdering. Dia buru-buru mengambil ponsel dari saku jasnya dan mengangkat telfon dari orang suruhan.
"Bagaimana.?" Tanya Hendry dingin. Sudah lebih dari 12 jam dia menyuruh orang untuk mencari keberadaan Bella, tapi sampai pagi ini belum ada yang bisa menemukan keberadaan Bella.
Mereka sudah mengecek rumah milik mendiang Ibu Bella, tapi yang di cari sudah meninggalkan rumah sejak sore kemarin. Tepatnya setelah diam-diam keluar dari rumah sakit.
"Kami kehilangan jejak di kawasan perumahan pinggir kota." Jawab seseorang di seberang sana.
Hendry mendengus kesal. Sepertinya tidak bisa mengandalkan orang-orangnya untuk menemukan Bella lewat rekaman cctv lalu lintas. Satu-satunya cara adalah dengan menemui Arlan, pria yang sudah membawa Bella keluar dari rumah sakit dan mengantarnya pergi meninggalkan rumah.
"Cari informasi semua penghuni rumah di sana.! Bila perlu, kalian datangi satu persatu semua rumah yang ada di sana.!" Seru Hendry, dia kemudian memutuskan sambungan telfonnya dan kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan.
...******...
Kondisi Bella pagi ini tampak buruk, wajahnya lesu dan tidak bersemangat karna kurang tidur. Semalam dia baru tidur pukul 2 dan sudah bangun pukul 5. Itupun terpaksa bangun lantaran mengalami mual yang berakhir dengan muntah-muntah. Setelah beberapa kali mengeluarkan isi perutnya, Bella terlihat semakin lemas dan tidak bertenaga.
Ibu hamil itu akhirnya memilih istirahat di kamar, tidak keluar sejak tadi malam. Sampai sarapan dan minumannya di antar ke kamar oleh ART.
Makanpun jadi tidak berselera, Bella hanya makan beberapa suap saja.
"Minum dulu vitamin dan obat pereda mualnya Non." Kata Bik Lastri sembari menyodorkannya pada Bella. Vitamin dan obat itu dari rumah sakit tempat Bella di rawat kemarin.
"Terima kasih Bik." Jawab Bella lirih. Dia langsung meminumnya sekaligus.
Bik Lastri masih setia berdiri di sisi ranjang majikannya, menatap sendu wajah pucat Bella.
Dia merasa iba, kasihan pada majikannya yang entah hamil anak siapa. Bella hanya mengatakan sedang hamil, tanpa memberi tau siapa ayahnya.
"Non Bella ingin sesuatu.? Bilang saja sama Bibi kalau mau makan makanan tertentu." Tawarnya sebagai orang yang sudah pernah hamil 3 kali.
Biasanya saat sedang hamil muda, pasti ada saja permintaan yang aneh-aneh. Jadi Bik Lastri tidak segan-segan menawarkannya pada Bella, mengingat wanita hamil itu hanya tinggal bertiga dengannya dan juga Dina.
Bella terdiam. Tidak, dia tidak menginginkan makanan tertentu yang ingin dia makan.
Hanya saja, Bella ingin mencium aroma parfum maskulin langsung dari orangnya.
__ADS_1
Ya, Bella merindukan seseorang dengan pemilik aroma parfum maskulin yang selama ini cukup membuat nyaman indera penciuman.
Dan karna hal itu juga, semalam Bella gelisah sampai tidak bisa tidur.
Tapi mau bagaimana lagi, keputusannya untuk menjauh dari Hendry sudah bulat. Kini Bella hanya bisa menahan keinginan tanpa bisa merasakan aroma maskulin dari tubuh Hendry.
"Tidak, terimakasih Bik. Bik Lastri boleh melanjutkan pekerjaan yang lain." Ujar Bella dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Baik Non, saya ke bawah dulu."
Bella hanya mengangguk samar. Dia kemudian beranjak dari ranjang dan pergi ke balkon kamarnya. Berdiri di sisi pagar pembatas, menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang.
Memutuskan menjauh dari Hendry agar mendapatkan ketenangan, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ada perasaan rindu yang bahkan Bella sendiri tidak bisa mencegahnya. Kerinduan itu pada akhirnya menimbulkan kegelisahan karna tak kunjung terobati. Membuat Bella kesulitan tidur dan pikiran yang selalu gelisah.
Bella menghela nafas berat. Mungkin kerinduannya pada Hendry akibat hormon kehamilannya, hingga sulit dikendalikan ataupun di tepis.
Perlahan Bella menundukkan kepala, tatapannya berhenti pada perutnya yang masih rata. Tangannya reflek memberikan usapan lembut.
"Bukannya Mama tidak mau mempertemukan kalian dengan Papa, tapi bisakah kalian hanya merindukan Mama saja.? Jangan membuat situasinya semakin sulit." Lirih Bella dengan mata berkaca-kaca.
Dia mengajak kedua anaknya bicara dari hati ke hati, walaupun tau mereka tidak akan merespon. Tapi Bella percaya mereka bisa mendengar dan memahami perasaannya.
...******...
Sebenarnya Hendry sudah pernah beberapa kali bertemu dengan Arlan, tapi hanya sebatas pertemuan biasa di acara-acara resmi. Jadi tidak begitu dekat, hanya sebatas mengenal saja.
Hendry datang lebih awal dari jam yang sudah mereka tentukan.
Dia mengajak Arlan bertemu karna ingin menanyakan keberadaan Bella, hal itu membuat Hendry tidak sabar dan ingin buru-buru mengetahui dimana tempat tinggal Bella saat ini.
Sambil mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari telunjuk, Hendry sesekali melihat ke arah pintu, lalu menatap arloji di tangannya. Begitu seterusnya, entah berapa kali Hendry melakukannya sampai akhirnya pintu terbuka dan Arlan muncul dari balik pintu. Seketika Hendry langsung berdiri menyambut kedatangan Arlan dan mengulurkan tangan untuk berjabatan.
"Maaf menganggu waktumu." Ucap Hendry.
Arlan hanya mengangguk kecil dan tersenyum samar.
__ADS_1
"Silakan duduk. Kita pesan makanan dulu saja." Ajak Hendry sopan.
"Terimakasih, aku baru saja makan siang. Cukup minuman dingin saja." Arlan menolak halus. Dia kemudian memutari meja dan duduk di seberang Hendry, agar lebih leluasa untuk mengobrol dengan posisi berhadapan.
Hendry mengangguk, lalu memanggil pelayan yang menunggu di luar ruangan.
Keduanya sama-sama pesan minuman saja, padahal Hendry belum makan siang. Tapi karna Arlan hanya pesan minuman saja, Hendry jadi sungkan kalau harus memesan makan siang.
"Aku dengar, kamu sedang mengerjakan proyek dengan perusahaan Papa Baskoro." Ujar Hendry sekedar basa-basi sambil menunggu minuman mereka datang. Dia ingin bicara serius dengan Arlan, jadi menunggu situasinya memungkinkan tanpa ada gangguan di tengah jalan saat sedang bicara.
"Hemm,, Hanya pembangunan mall kecil di luar kota." Jawab Arlan.
Dia sebenarnya sudah tau tujuan Hendry mengajaknya bertemu, namun mencoba bersikap santai dan enggan membahasnya lebih dulu sebelum Hendry sendiri yang bicara.
Mereka hanya membahas soal perusahaan masing-masing sampai pelayan datang untuk mengantarkan pesanan. Begitu pelayan itu keluar, barulah Hendry mengutarakan tujuannya kenapa mengajak Arlan bertemu.
"Aku sedang mencari Bella." Ucap Hendry tanpa basa-basi.
"Sepertinya aku tidak bisa membantumu." Jawab Arlan santai. Tidak peduli meski Hendry terlihat sungguh-sungguh mencari keberadaan Bella, sampai mengajaknya bertemu di restoran, tapi semua itu tidak akan membuat Arlan mengingkari janjinya pada Bella. Selama Bella tidak mengizinkannya memberi tahu keberadaan pada Hendry, Arlan pastikan akan tutup mulut.
"Kamu yang terakhir kali bersama Bella. Bahkan kamu juga yang membantu Bella keluar dari rumah sakit. Jadi biarkan aku tau dimana Bella tinggal. Dia sedang mengandung anak-anakku, aku ingin memastikan dia selalu baik-baik saja." Ujar Hendry menatap dengan penuh harap.
Arlan hanya diam saja, malah meneguk minumannya dan menatap arloji di tangannya.
Dia bisa apa kalau sudah di ancam Bella agar tutup mulut. Lagipula Arlan merasa tidak berhak ikut campur masalah Bella. Dia hanya membantu Bella sesuai permintaan Bella, tidak lebih dari itu.
Jadi jika ada sesuatu di luar permintaan Bella, Arlan tidak akan buka suara.
"Aku harus kembali ke perusahaan, ada rapat 1 jam lagi." Ujar Arlan sembari beranjak dari duduknya. Dia punya alasan untuk tidak berlama-lama bicara dengan Hendry, karna memang harus memimpin rapat di perusahaannya.
"Apa kamu tega membiarkan Bella melewati kehamilannya seorang diri.?" Seru Hendry. Perkataan Hendry berhasil menghentikan langkah Arlan, kini pria itu berbalik badan menatapnya.
"Aku tidak punya hak untuk ikut campur, menjauh darimu sudah menjadi keputusan Bella." Sahut Arlan tegas.
"Kalau memang kamu benar-benar khawatir padanya, berusahalah lebih keras lagi untuk menemukannya keberadaan Bella." Ujarnya yang terdengar seperti sindiran di telinga Hendry.
__ADS_1
"Permisi." Arlan pamit dan keluar begitu saja dari ruangan itu.
Hendry mengepalkan tangannya karna kesal. Padahal Hendry sudah menahan diri untuk bersikap tenang di depan Arlan dan meminta dengan cara baik-baik, tapi Arlan malah tidak mau memberikan petunjuk apapun tentang keberadaan Bella.