Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 37


__ADS_3

Malam itu di kediaman Hendry, suara tangisan Ale menggema sejak 1 jam yang lalu. Hendry yang saat itu sedang menyelesaikan pekerjaan di ruang kerjanya, terpaksa harus turun tangan dan menghampiri Ale di kamar putrinya tersebut.


Di sana ada Julia dan baby sitter Ale yang tengah berusaha menenangkan tangis putrinya itu.


Hendry menghela nafas berat sambil menghampiri Ale dan mengambilnya dari gendongan Julia. Tangis Ale seketika mereda, tapis masih merengek dalam dekapan Hendry.


"Kamu boleh keluar." Titah Hendry pada Zira.


Baby sitter itu mengangguk patuh, lalu pamit pada Hendry dan Julia.


"Saya permisi Tuan, Nyonya." Ujarnya sebelum keluar dari kamar Ale.


"Lihat, ini gara-gara kamu yang sejak dulu tidak mau dekat dengan Ale.! Jadinya tidak mau di tenangkan oleh Mommynya sendiri.!" Omel Hendry yang menyalahkan sang istri karna seperti tidak ada ikatan batin antara Ibu dan anak. Sampai Julia kewalahan meredakan tangis putri kandungnya sendiri. Ale malah selalu tenang dalam dekapan Hendry, jadi sudah 3 hari ini Hendry punya tugas baru untuk menidurkan putrinya yang setiap malam rewel.


"Sayang, aku juga tidak mau seperti ini. Aku benar-benar menyesal tidak merawat Ale sejak dia lahir." Julia tertunduk lesu dan duduk di tepi ranjang. Wanita 30 tahun itu mengusap kasar wajahnya. Sekarang dia benar-benar menyesal telah mengabaikan putrinya. Tapi sebesar apapun penyesalan itu, waktu tidak akan bisa diputar kembali. Ikatan batin antara Ibu dan anak itu sudah terlanjur pudar. Ale benar-benar tidak mengenal sosok Julia sebagai Ibu kandungnya. Nyatanya balita 1 tahun itu malah menangisi kepergian Bella.


"Kalau sudah seperti ini, kita bisa diam saja Julia.! Badan Ale semakin kurus, dia seperti kehilangan semangat dan tidak ceria lagi." Keluh Hendry frustasi.


Mereka sudah membawa Ale ke dokter spesialis anak sampai psikolog anak, tapi tidak ada perubahan. Yang ada malah disarankan untuk mempertemukan Ale dengan Bella karna katanya Ale sedikit terguncang, balita itu belum siap kehilangan sosok Bella yang sudah seperti Ibu kandungnya sendiri.


Ketulusan hati Bella dalam merawat Ale, menumbuhkan ikatan batin antara Ale dan Bella.


Mungkin karna hampir 24 jam Bella yang selalu ada di samping Ale.


"Aku juga bingung harus bagaimana sayang." Sahut Julia. Sorot mata dan tatapannya terlihat sudah pasrah.


"Sebaiknya kamu telfon Bella dan suruh dia datang ke rumah.!" Tegas Hendry. Julia langsung mengangkat wajahnya, mendongak menatap Hendry yang berdiri di depannya.


Julia sengaja mengusir Bella agar wanita itu tidak muncul lagi di hadapannya, terutama Papa mereka, mana mungkin dia akan meminta Bella untuk datang kembali. Julia tidak mau mengambil resiko. Dia lebih baik melihat Ale menangis mencari Bella daripada rencananya berantakan karna kemunculan Bella.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu lupa kalau Bella sengaja meninggalkan rumah. Sekarang dia mungkin sudah tinggal di luar negeri untuk mengejar impiannya." Tutur Julia seakan-akan dia bukan dalang atas kepergian Julia dari rumah itu.


Hendry menggeleng tak habis pikir. 2 tahun pacarnya dengan Julia, lalu menikah sudah 5 tahun, nyatanya tidak menjamin bisa mengenali pasangannya luar dalam. Hendry baru merasakan kalau Julia memiliki kepribadian ganda. Istrinya itu terlihat sangat baik di matanya, tapi di mata orang lain, rupanya Julia sosok yang menakutkan dan kejam.


3 hari yang lalu saat kembali ke rumah, Hendry diam menginterogasi semua pekerja rumahnya disaat Julia sedang mandi. Dari sana, Hendry mendapatkan banyak informasi tentang kejahatan Julia pada Bella yang selama ini tertutup rapat


Hendry memilih keluar dari kamar Ale sambil menggendong putrinya itu. Tangis Ale sudah reda, tidak merengek ataupun merintih lagi, hanya saja masih tersegal-sengal.


Julia ikut beranjak, mengikuti langkah Hendry ke lantai dua dan berakhir di kamar utama.


Sejak Hendry pulang dan mendapati Ale sering menangis histeris, Hendry selalu membawa Ale tidur dikamar mereka. Julia sebenarnya sedikit keberatan, apalagi Ale tidur di tengah-tengah mereka, menjadi pemisahan antara dia dan Hendry. Alhasil sejak Hendry pulang dari Batam, tidak sempat ber cinta. Saat pagi-pagi mengajak Hendry ber cinta, yang ada malah di tolak dengan alasan cape.


Hendry membaringkan Ale di ranjang. Balita cantik itu sudah tertidur. Memang hanya Hendry saja yang bisa meredakan tangis Ale setiap kali balita itu menangis. Tapi saat Hendry sedang berada di kantor, tetap saja penghuni rumah di buat kewalahan ketika tidak bisa meredakan tangisnya.


Selesai meletakkan Ale, Hendry kemudian pergi ke kamar mandi. Julia langsung menyusulnya, tidak mau membiarkan malam ini terlewatkan begitu saja setelah 10 hari mereka libur ber cinta karna Hendry pergi ke Batam.


Saat akan menutup pintu kamar mandi, Hendry tampak terkejut karna tiba-tiba Julia menyelonong masuk sambil mengukir senyum lebar penuh arti.


"Sayang, kamu yakin tidak rindu padaku.?" Bisikan Julia di belakang telinga Hendry. Tangan Julia sudah melingkar erat di pinggang Hendry, memeluk dari belakang dan menempel di punggung Hendry.


Hendry terdiam, dia juga heran karna mendadak tidak ingin ber cinta lagi dengan Julia. Mungkin karna 3 hari yang lalu baru saja menghabiskan malam panas yang panjang bersama Bella.


Atau mungkin, sudah tidak ada ketertarikan lagi untuk ber cinta dengan Julia. Hendry sendiri tidak bisa memastikan hal itu. Dia hanya malas saja, entah apa yang membuatnya malas.


"Pekerjaan di kantor sangat banyak, belum lagi setiap malam harus menenangkan Ale. Aku butuh istirahat lebih banyak, Julia." Kilah Hendry beralasan.


"Lain kali saja ya." Buruknya seraya melepaskan tangan Julia yang melingkar di perutnya.


Sayangnya Julia tidak menyerah begitu saja, dia terus merayu Hendry sampai berinisiatif untuk memberikan rangsangan. Malam itu Julia berkali-kali lipat lebih agresif dan liar dari biasanya, demi bisa mengajak Hendry ber cinta.

__ADS_1


...******...


"Hari ini mungkin aku pulang terlambat, ada kunjungan ke kantor cabang di Bandung." Pamit Hendry pada sangat istri.


Sudah 4 hari berlalu setelah ber cinta dengan Julia, Hendry malah semakin malas saja setiap Julia memaksanya. Akhirnya selalu mencari-cari alasan supaya bisa pulang malam untuk menemui Bella. Untungnya Ale sudah lebih baik, sudah tidak terlalu sering menangis. Mungkin perlahan mulai bisa melupakan Bella.


"Baik, tapi jangan pulang terlalu larut." Sahut Julia seraya bergelayut di lengan Hendry.


Hendry hanya mengangguk dan bergegas meninggalkan rumah untuk berangkat ke kantor.


...****...


Sore itu Bella sudah wangi, wajahnya terlihat lebih segar dan cantik dengan polesan lipstik merah muda. Berbalut dress bunga di atas lutut, penampilan Bella membuatnya seperti ABG yang masih duduk di bangku SMA.


Bella duduk santai di sofa ruang tamu sejak 10 menit yang lalu, tentu saja sedang menunggu kedatangan Hendry yang katanya sudah hampir sampai. Bella tampak tidak sabar, bukan tidak sabar bertemu Hendry, tapi tidak sabar untuk merayunya agar Hendry semakin tergila-gila padanya dan akhirnya sulit lepas.


Detik berikutnya, Bella reflek berdiri karna pintu apartemen di buka dari luar.


Belum sempat masuk, tapi Bella sudah menghambur ke pelukan Hendry dan mengalungkan tangan di lehernya.


Hendry tersenyum hangat melihat tingkah Bella yang bergelayut seperti anak kecil. Kedua kaki Bella bahkan melingkar erat di pinggang Hendry.


"Kenapa lama sekali, apa terjebak macet.?" Ujar Bella sedikit merajuk.


"Tadi mampir sebentar di restoran depan, pesan makanan untuk makan malam nanti." Sahut Hendry.


Pria itu menopang tubuh Bella dengan satu tangannya, kemudian menutup pintu dan menggendong Bella masuk ke dalam.


"Kenapa sudah mandi.? Apa tidak baca pesanku.?" Tanya Hendry yang terdengar kecewa.

__ADS_1


Bella menautkan alis. Dia tadi langsung mandi setelah panggilan telfonnya terputus dengan Hendry, setelah itu dia tidak melihat ponsel lagi.


__ADS_2