
Sudah 2 jam lebih Hendry tertahan di ruang kerja Papa mertuanya karna di minta membahas soal bisnis dan perusahaan yang nantinya akan di serahkan pada Bella.
Pria yang baru menikah itu kelihatan gusar, raganya ada di hadapan Baskoro, tapi pikirannya sudah melayang kemana-mana, tidak fokus lagi ketika Baskoro mengajak bicara.
Beberapa kali Hendry ingin mengumpat Papa mertuanya dalam hati, tapi dia takut kualat. Bagaimana Hendry tidak kesal, malam pertamanya malah di ajak bergadang membahas bisnis oleh Mertua. Benar-benar tidak pengertian.
Hendry sampai berfikir, sebenarnya Baskoro niat menikahkan putrinya atau tidak. Atau jangan-jangan Papa mertuanya itu sengaja membuatnya gagal melewati malam pertama bersama Bella.
Hendry melirik jam di pergelangan tangannya. Raut wajah Hendry tampak putus asa, alamat malam ini gagal malam pertama setelah menikah. Melihat sudah hampir pukul 11 malam, Hendry yakin Bella pasti sudah tidur. Terlebih sedang hamil, Bella jadi gampang tidur.
"Papa harap, kamu mendukung keputusan Bella kalau suatu saat ingin memimpin perusahaan. Cuma Bella satu-satunya anak Papa, siapa lagi yang akan memimpin perusahaan kalau bukan Bella." Tutur Baskoro penuh harap.
"Aku terserah Bellanya saja. Selama dia bisa membagi waktu untuk keluarga, itu tidak akan jadi masalah." Jawab Hendry cepat. Dia sebenarnya ingin menentang, karna berfikir lebih baik Bella di rumah saja mengurus dia serta anak-anak. Toh Hendry merasa masih sangat mampu menghidupi Bella dan ketiga anaknya kelak, bahkan mungkin hartanya masih bisa menghidupi cucu-cucunya.
Tapi karna tidak mau ada perdebatan, Hendry memilih jawaban yang aman. Nanti dia bisa membicarakannya langsung dengan Bella.
"Jangan khawatir, Bella pasti tidak akan mengabaikan keluarganya walaupun harus memimpin perusahaan." Sambung Baskoro.
Hendry hanya mengangguk. Dia kemudian menguap, sengaja tidak menutup mulut agar di lihat Baskoro. Hendry berharap Papa mertuanya mengakhiri obrolan dan menyuruhnya tidur setelah melihatnya menguap.
Tapi harapan hanya harapan, Baskoro malam membuka topik obrolan lain. Bukan karna dia tidak melihat menantunya menguap berkali-kali. Tentu saja Baskoro melihatnya, apalagi posisi Hendry didepannya. Tapi Baskoro pura-pura tidak tau, sebab dia sengaja mengerjai menantunya supaya gagal malam pertama. Salah siapa sudah siram benih duluan sebelum menikah, sampai membuat Bella hamil anak kembar pula.
Kalau saja Hendry belum bercerai dengan Julia, atau tidak berniat tanggungjawab, sudah pasti Baskoro akan memberi perhitungan pada Hendry.
Berhubung statusnya sudah duda, walaupun baru genap seminggu. Rela tidak rela, Baskoro setuju menikahkan Bella dengan Hendry.
__ADS_1
Sebenarnya sangat mudah Baskoro untuk membesarkan kedua cucunya, tanpa harus menikahkan Bella dengan Hendry. Namun Baskoro tidak bisa egois ketika melihat kilat cinta dari sorot mata keduanya. Mungkin memang sudah jalannya seperti itu mereka berjodoh. Kecewa, marah, sedih dan malu di rasakan oleh Baskoro, tapi mau bagaimana lagi.
Kini Baskoro hanya bisa menyelipkan doa agar pernikahan keduanya bahagia dan bertahan sampai maut memisahkan.
Hendry merebahkan tubuhnya di sebelah Bella yang sudah terlelap. Wajah Hendry kelihatan kusut, mirip jemuran kering yang di tumpuk-tumpuk. Harusnya malam ini bisa belah duren setelah libur hampir 1 bulan, tapi kenyataan hanya bisa telan ludah. Gara-gara Papa mertuanya, mendiskusikan bisnis tidak tau waktu dan keadaan. Hendry baru di perbolehkan pergi ke kamar setelah pukul setengah 12 malam. Jelas Bella sudah pulas, sudah terbang jauh ke alam mimpi. Hendry juga tidak tega membangunkan Bella.
Frustasi memikirkan malam pertama yang gagal, Hendry sampai kesulitan tidur. Sudah ganti-ganti posisi, sudah dipaksakan memejamkan mata, tapi tetap saja tidak bisa tidur karna pikirannya kemana-mana. Apalagi ada Bella di sampingnya yang memakai baju tidur serba pendek, tapi tidak bisa di sentuh. Yang ada malah membuat Hendry makin tidak tahan.
"Papa mu benar-benar keterlaluan." Lirih Hendry yang memilih turun dari ranjang sambil mengambil bantal dan selimut miliknya.
Hendry beranjak dari ranjang, dia melempar bantal di atas sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.
Daripada nanti membangunkan Bella dan mengajaknya ber cinta tengah malam karna tidak tahan, lebih baik menjauhkan diri dari Bella supaya sinyalnya melemah.
...******...
Alih-alih tidur satu ranjang dengannya, Hendry malah memilih tidur di sofa. Padahal sudah menikah, tadi sore juga sudah janji mengajaknya ber cinta setelah makan malam. Tapi malah keasikan mengobrol dengan Papanya. Jelas Bella kesal. Dia jadi berfikir, Sebenarnya Hendry niat menikahinya atau tidak. Belum genap sehari sudah membuatnya kesal.
Bella turun dari ranjang, dia sedikit menghentakkan kakinya saat berjalan ke kamar mandi.
Braakk.!
Bella sedikit kencang menutup pintu kamar mandi sampai menimbulkan suara dan langsung membangunkan tidur nyenyak Hendry.
Pria itu kelihatan kaget, dia bengong beberapa saat seperti sedang mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi. Bangun karna suara pintu yang di banting, jelas saja membuat Hendry linglung sesaat.
__ADS_1
Pria itu kemudian tersadar, dia langsung bangun dari sofa dan menatap ranjang yang sudah kosong. Detik itu juga Hendry langsung menelan ludah dengan susah payah. Sepertinya dia sudah paham kenapa tadi mendengar suara pintu yang di banting. Bella pasti marah dan salah paham karna melihatnya tidur di sofa.
Hendry mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Sudah 20 menit sejak mendengar bunyi pintu di tutup, Bella belum keluar juga dari kamar mandi. Sudah di ketuk dan diminta membuka pintu, tapi jawaban Bella hanya hamm hemm hamm hemm saja. Terakhir malah bilang dia belum selesai mandi dan masih lama. Lalu menyuruh Hendry menggunakan kamar mandi di kamar lain.
Tidak salah lagi, Bella pasti marah gara-gara melihatnya tidur di sofa, alih-alih tidur di sampingnya.
"Belum genap sehari tinggal dengan mertua, tapi sudah perang dingin seperti ini. Besok aku bawa pergi saja putrinya." Gerutu Hendry kesal.
Hendry kemudian duduk di tepi ranjang, memilih menunggu di sana. Lama-lama capek juga mondar-mandir di depan kamar mandi.
10 menit berlalu, Hendry reflek berdiri setelah mendengar pintu kamar mandi di buka. Dia buru-buru menghampiri Bella yang justru membuang muka ke arah lain dan jalan melewatinya begitu saja.
Hendry tidak menyerah, dia tetap mengekori Bella yang masuk ke dalam walk in closet.
Merasa di ikuti, Bella kemudian menoleh kebelakang.
"Aku mau pakai baju, kenapa Mas Hendry ikut masuk." Ujar Bella. Walaupun bicaranya datar, tapi terdengar dingin di telinga Hendry. Bella benar-benar marah, sampai menghindari bertatap mata juga dengannya.
"Semalam Papa baru menyuruhku pergi pukul setengah 12. Aku bahkan sudah menguap berkali-kali di depan Papa, tapi masih saja mengajakku bicara. Kamu jangan salah paham dulu, bukannya aku,,,"
Hendry menghentikan ucapannya karna di potong oleh Bella.
"Bicaranya nanti saja, aku sudah kedinginan." Potong Bella seraya mendorong Hendry keluar dari walk in closet. Bella menutup pintu dan menguncinya.
"Bilang saja tidak mau tidur denganku, malah mengkambing hitamkan Papa." Gerutu Bella lirih.
__ADS_1
Dia mengabaikan suara gedoran pintu dan panggilan Hendry di balik pintu.
Sudah tau istrinya sedang hamil, moodnya gampang naik turun, tapi malah di buat kesal. Terima saja resikonya.