
1 minggu berlalu, kehidupan rumah tangga Hendry dan Julia justru mengalami kemajuan yang lebih baik. Makin kesini, keegoisan Julia semakin berkurang. Julia sudah tidak lagi mementingkan kesenangannya sendiri, wanita itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama Ale dan mengurus sendiri semua keperluan Hendry.
Tidak ada acara berkumpul dan bersenang-senang dengan geng sosialitanya lagi.
Semua perubahan dalam diri Julia tentu saja sangat di syukuri oleh Hendry. Setidaknya Julia sudah mulai berbah menjadi istri sekaligus Ibu yang lebih baik dari sebelumnya.
Terlepas bagaimana perlakuan buruk Julia terhadap orang-orang disekitar ataupun pada Bella, Hendry mencoba untuk tidak mencampur adukkan hal itu. Lagipula semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Hendry juga sadar bahwa dirinya tidak lebih baik dari Julia karna sudah mengkhianati pernikahan mereka.
Hendry merasa tidak pantas menghakimi perbuatan Julia, sedangkan dia sendiri juga melakukan kesalahan fatal.
"Sayang,," Julia muncul dari balik pintu ruang kerja Hendry. Wanita cantik itu mengukir senyum lebar seraya masuk ke dalam dan membawa secangkir teh hangat di tangannya untuk sang suami.
Hendry menatap sekilas dan membalas senyum Julia, pria itu kembali menatap layar di depannya karna sedang sibuk mengecek pekerjaan.
Padahal sudah jam 11 malam, tapi masih betah di ruang kerja. Julia sampai menyusulnya karna sudah terlalu lama menunggu Hendry di kamar.
"Masih lama ya.?" Tanya Julia seraya melirik ke arah laptop dan meletakkan teh hangat di atas meja.
"Sebentar lagi selesai. Kenapa belum tidur.?" Hendry mendongak, menatap Julia yang berdiri di sebelah kursinya.
Tiba-tiba Julia menunduk, tangannya merangkum kedua pipi Hendry dan mengecup singkat bibir suaminya itu.
"Tidak bisa tidur kalau tidak memeluk mu." Jawab Julia.
"Jangan lama-lama ya, aku tunggu di kamar." Ujarnya kemudian beranjak dari sana. Ucapnya penuh arti, Hendry sudah paham maksudnya.
Pria itu hanya menggeleng dengan senyum tipis, lalu buru-buru menyelesaikan pekerjaannya.
Sempat kecewa pada Julia, tapi tidak membuat rasa cintanya pada Julia luntur begitu saja. Apalagi Hendry tulus mencintai Julia, bukan hanya karna kesempurnaan fisiknya saja. Tapi memang ada sifat dan perlakuan Julia yang mampu menarik perhatian Hendry.
...******...
__ADS_1
Bella menyantap makan siang seorang diri di balkon apartemen. Pandangan matanya lurus ke depan, memikirkan sesuatu yang memenuhi kepalanya beberapa hari terakhir.
Sudah 5 hari ini Hendry tidak menemuinya, bahkan tidak sekalipun memberi kabar meski sekedar lewat pesan. Rasanya seperti ada yang kurang, namun Bella menahan diri untuk tidak menghubungi Hendry lebih dulu.
"Hentikan Bella, jangan jatuh cinta dulu sebelum berhasil membuat Hendry menceraikan Julia." Gumam Bella dengan tatapan tegas. Dia tidak mau jatuh ke dalam lubang galiannya sendiri.
Meski sejujurnya cukup sulit mengendalikan perasaan, mengingat semua kesempurnaan yang ada dalam diri Hendry.
Di tengah-tengah kesibukannya bergulat dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponsel Bella berdering. Bella langsung melirik ponselnya di atas meja, tanpa sadar senyumnya mengembang saat melihat nama Hendry yang tertera di sana. Buru-buru Bella mengambil ponsel dan menerima panggilan telfon dari Hendry, seolah takut Hendry akan berhenti menelponnya.
"Ya,,?" Lirih Bella setelah menerima panggilan.
"Aku di basement apartemen, kamu ada di dalam kan.?" Terdengar suara Hendry yang terdengar sedang berjalan cepat.
Bella cukup terkejut karna sebelumnya Hendry tidak mengabari lebih dulu kalau akan datang ke apartemen. Penampilannya sedang acak-acakan, wajah kusut tanpa make up, rambutnya juga hanya di cepol asal.
"Kenapa mendadak.? Aku sedang tidak enak di lihat." Keluh Bella. Tanpa sadar dia khawatir penampilannya yang acak-acakan itu akan membuat Hendry ilfil padanya.
"Tidak masalah, kamu tetap enak menurutku. Malah sangat enak." Ucap Hendry penuh arti. Bella membulatkan mata, mulut Hendry benar-benar mesum. Semesum pikiran dan perbuatannya.
"Ish.! Dasar mesum.!" Gerutu Bella.
"Nanti langsung masuk saja ya, aku mau ke kamar mandi dulu. Byee,,," Bella memutuskan sepihak sambungan telfonnya, lalu berlari kecil menuju kamarnya. Sebelum Hendry sampai, dia sudah harus terlihat lebih segar dan rapi, setidaknya Hendry tidak akan sakit mata saat melihatnya nanti.
Hendry menggeleng lucu sembari menatap ponsel di tangannya karna Bella mengakhiri sambungan telfonnya. Pria itu kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan memasuki lift menuju unit apartemen miliknya.
5 hari tidak bertemu, tidak menghubungi Bella, ternyata membuat Hendry sangat merindukan wanitanya itu. Sampai-sampai tidak bisa menahan diri lagi untuk menemuinya. Padahal masih jam makan siang, tapi Hendry sudah meninggalkan kantor demi menemui Bella.
...*****...
5 menit kemudian, Hendry sudah sampai di apartemen. Pria itu meletakkan tas dan ponsel miliknya di atas sofa ruang keluarga, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Tadi Bella sempat pamit mau pergi ke kamar mandi, jadi Hendry bermaksud menyusulnya.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, Bella di buat kaget dengan kemunculan Hendry yang tiba-tiba dan tanpa ada suara sama sekali. Apalagi kedua tangan Hendry melingkar begitu saja di perutnya.
"Ya ampun, Mas Hendry membuatku kaget saja.!" Protes Bella. Dia reflek memukul pelan lengan Hendry di atas perutnya.
"Aku pikir kamu sedang mandi, sepertinya segar mandi tengah hari begini." Lirih Hendry tepat di telinga Bella. Entah Hendry sengaja menggoda Bella atau tidak, yang jelas tubuh Bella langsung meremang hanya karna hembusan nafas Hendry di telinganya.
Namun sebisa mungkin Bella berusaha tidak terpengaruh, dia ingin bermain-main dengan Hendry yang sudah 5 hari ini tidak menemuinya dan tanpa kabar.
"Mas Hendry masih ingat padaku.?" Tanya Bella seraya menyingkirkan kedua tangan Hendry dari perutnya.
Bella membenarkan ikatan rambutnya agar lebih rapi, lalu beranjak untuk keluar dari kamar mandi karna sudah selesai memoles tampilan wajahnya.
Hendry mengikuti langkah Bella di belakangnya.
"Aku sibuk, ada yang harus aku urus." Sahut Hendry.
"Sesibuk apa sampai tidak sempat memberi kabar. Tidak mungkin juga aku yang menelfon Mas Hendry kan.?" Tanya Bella seraya berbalik badan. Dia menunjukkan wajah cemberut dan tatapan kesal.
Hendry bukannya merasa bersalah, dia malah terkekeh gemas sambil mencubit kedua pipi Bella.
"Maaf sayang,, tapi aku benar-benar sibuk." Hendry merengkuh pinggang Bella dan menariknya lebih dekat.
"Jangan marah seperti ini, kamu membuatku ingin." Ucap Hendry jujur. Dia kemudian menyambar bibir Bella untuk di cium sekilas.
Bella memukul pelan dada Hendry karna menciumnya begtu saja, belum lagi ucapan Hendry yang menjurus.
"Sangat mesum.!" Cibir Bella. Hendry hanya terkekeh.
"Mau nonton film tidak.?" Tawar Hendry. Seperti terhipnotis, Bella mengangguk setuju dan mengikuti langkah Hendry yang menuntunnya ke arah sofa panjang di kamar itu.
Kini Bella sedang berbaring di sofa dengan pahan Hendry sebagai bantalnya. Keduanya sedang memutar film romantis. Sambil menatap layar televisi berukuran 55 inc itu, Hendry membelai lembut pipi Bella.
__ADS_1