
Sambil berbaring memunggungi Hendry, Bella mengerucutkan bibirnya lantaran kesal. Sesekali terlihat komat-kamit tanpa suara, menggerutu dalam hati karna Hendry terlalu kaku dan tidak peka.
Bagaimana Bella tidak kesal dan uring-uringan sendiri. Tadi saat masuk ke kamar, Hendry bilang mau menemaninya sampai tidur. Tapi kenyataan pria itu malah sibuk memangku laptop sambil duduk di tepi ranjang. Terkadang tangannya mengusap punggung Bella, tapi itupun hanya sebentar. Jarinya lebih sering bergerak di atas keyboard.
Boro-boro Bella bisa tidur cepat, yang ada malah tidak mengantuk sama sekali karna diselimuti kegelisahan sekaligus kekesalan.
Hendry menoleh saat merasakan pergerakan di belakangnya yang tidak kunjungan berhenti. Rupanya Bella sedang berganti-ganti posisi, bergerak kesana kemari seperti mencari posisi yang nyaman.
"Tidak bisa tidur.?" Tanya Hendry dengan tampang yang tidak ada peka-pekanya sama sekali.
Jelas-jelas Bella kelihatan gelisah, bukannya mencari cara untuk membuat Bella nyaman, malah melontarkan pertanyaan yang tidak penting.
Bella menghela nafas kesal, lalu kembali memunggungi Hendry tanpa menjawab pertanyaannya.
Dia ingin tidur sambil di peluk Hendry dari belakang, di usap perutnya dan cium kepalanya. Tapi Hendry tidak ada inisiatif untuk melakukannya.
Sedangkan Bella, dia terlalu gengsi dan malu untuk mengutarakan keinginannya pada Hendry.
Mau di taruh dimana mukanya kalau sampai meminta langsung pada Hendry untuk di peluk. Sedangkan beberapa hari yang lalu, dia sudah menolak Hendry dan menghilang dari rumah sakit karna ingin menjauh darinya.
Bella malu di ledek Hendry ataupun di singgung masalah itu.
Hendry menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung sendiri melihat sikap Bella. Padahal tadi baik-baik saja setelah makan malam, masih mau menjawab saat di tanya. Sekarang kelihatan ketus, tidak mau menjawab dan membuang muka.
Walaupun sudah pernah menghadapi ibu hamil, tapi bukan berarti Hendry bisa tau penyebab mood Bella yang gampang berubah, jika Bella tidak memberi tau.
Hendry kemudian menutup laptopnya walaupun belum selesai mengurus masalahnya. Dia meletakkan laptop itu di atas nakas, lalu duduk menyamping di tepi ranjang sembari mengusap-usap perut Bella yang masih memunggunginya.
"Kamu kenapa.? Tidak nyaman aku disini.? Atau mau sesuatu.?" Tanya Hendry lembut.
Akibat mood Bella yang kurang bak, Hendry sampai takut salah bicara, jadi dia sangat hati-hati ketika mengajak Bella bicara.
Bella dalam hati kembali menggerutu. Padahal sudah lama mengenal Hendry, pria itu memang tidak peka dalam memahami keinginan wanita. Hendry hanya peka dalam kondisi tertentu saja, yaitu saat sedang bertukar keringat dan cairan.
__ADS_1
Kalau masalah yang satu itu, tidak perlu diragukan lagi kepekaan Hendry. Dia selalu tau apa yang diinginkan oleh lawan mainnya.
"Mas Hendry mau pulang kan.?" Tanya Bella dengan nada ketus.
"Sudah malam, kalau mau pulang silahkan saja." Sambungnya hampir tanpa jeda.
Hendry jadi berfikir keras. Dengan nada bicara Bella yang ketus seperti itu, Hendry merasa sedang disindir.
Bella terkesan mengusirnya, tapi dari nada bicara dan kalimatnya seolah tidak rela jika dia pulang.
Menyadari hal itu, Hendry langsung senyum-senyum sendiri. Mungkin itu juga yang menyebabkan Bella kelihatan gelisah sampai tidak bisa tidur sampai sekarang.
"Aku sudah mengantuk, terlalu beresiko kalau menyetir dalam kondisi mengantuk. Sepertinya malam ini aku akan tidur disini." Ujar Hendry yang tiba-tiba sudah berbaring di samping Bella.
Bella menoleh, bersamaan dengan Hendry yang memeluknya dari belakang. Bella jadi memalingkan wajah karna jaraknya terlalu dekat dengan wajah Hendry saat menoleh kebelakang.
"Kamu tidak keberatan kan aku menginap disini.?" Hendry setengah berbisik di belakang telinga Bella, lalu mengeratkan pelukannya karna Bella diam saja saat di peluk, tidak ada penolakan.
Bella tampak bahagia dan tenang dalam pelukan Hendry, sampai langsung memejamkan mata dan menikmati pelukan Hendry yang nyaman.
Begitu mendapat lampu hijau, Hendry semakin merapatkan tubuhnya ke punggung Bella dan memeluk erat.
Kini ibu hamil dalam dekapan Hendry perlahan terbang ke alam mimpi. Pelukan yang nyaman dan memenangkan itu mampu membuat Bella cepat tertidur.
Hendry mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat wajah Bella, ingin memastikan kalau Bella benar-benar sudah tidur. Karna mendengar hembusan nafas yang teratur.
"Apa susahnya bilang ingin tidur bersama." Lirih Hendry seraya menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Bella.
Hendry sampai menggeleng heran dengan sikap aneh Bella dalam kondisi sedang hamil.
...******...
Hendry sudah keluar dari kamar Bella di saat matahari belum menampakkan sinarnya. Pria itu bangun lebih awal dan bergegas meninggalkan rumah Bella karna harus menemui Ale sebelum berangkat ke kantor.
__ADS_1
Hendry sebenarnya ingin menunggu Bella bangun dulu, tapi sepertinya bisa kesiangan kalau menunggu Bella bangun. Bella terlihat sangat nyenyak, tidak ada tanda-tanda akan bangun. Hendry juga tidak tega membangunkannya untuk sekedar pamit. Jadi Hendry hanya meninggalkan pesan pada secarik kertas untuk Bella yang di. letakkan di atas nakas.
Sampainya di rumah, Hendry langsung menuju kamar Ale. Dia sedikit terkejut melihat Mamanya tidur di kamar Ale sambil memeluk cucu gembulnya itu.
Hendry berdiri di sisi ranjang, menatap wajah damai dan polos putrinya yang sedang terlelap dalam. pelukan sang nenek.
Mata Hendry tampak. berkaca-kaca, tatapannya berubah sendu ketika di ingatkan dengan nasib Ale yang akan tinggal terpisah dari kedua orang tuanya.
Tidak sampai 5 menit Hendry diam berdiri di samping ranjang, Ale tiba-tiba menggeliat, melepaskan diri dari delapan neneknya.
Bocah yang baru berusia 1 tahun itu tampak mengerjapkan mata dan akhirnya terbangun, memperlihatkan mata bulatnya yang gening dengan sorot mata polos.
"Da dih,, dih,," Ale langsung merubah posisi menjadi duduk. Gerakan Ale membuat Farah jadi terbangun dan reflek memegangi Ale saat cucunya itu berusaha berdiri.
Melihat Ale terus menatap ke arah belakangnya sambil memanggil Daddy, Farah kemudian menoleh ke belakang. Wanita paruh baya itu seketika menghela nafas berat melihat putranya, lalu memberikan Ale agar di gendong Hendry. Karna cucunya itu terlihat sangat merindukan Daddynya.
Hendry menggendong Ale, mendekap erat tubuh bulat Ale dan menciumi pipinya berkali-kali. Ale sampai terkikik geli dan berusaha menjauhkan wajah Hendry.
Pemandangan itu membuat mata Farah terasa perih. Jika Hendry sudah menceraikan Julia, kemungkinan Ale pasti si bawa pergi oleh Julia.
"Apa kamu tidak memikirkan kebahagiaan Ale.? Dia akan menjadi korban keegoisan orang tuanya." Ujar Farah dengan tatapan iba pada sang cucu.
"Aku tidak bisa menyatukan gelas yang sudah pecah." Bukannya menjawab, Hendry malah mengucapkan kata-kata perumpamaan yang secara tidak langsung Hendry mengungkapkan kalau mempertahankan pernikahan dengan Julia adalah sesuatu yang tidak mungkin. Layaknya menyatukan kembali gelas yang sudah pecah berkeping-keping.
"Lagipula Julia juga bersenang-senang dengan pria lain. Rumah tangga kami memang sudah tidak bisa di lanjutkan." Ujar Hendry seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan rekaman cctv yang memperlihatkan Julia bersama pira lain menginap di apartemen.
"Ya ampun, jadi kemarin Julia bermalam dengan pria ini." Seru Farah dengan mata yang membulat sempurna. Dia melihat tanggal di sana dan itu baru kemarin. Tepat saat menantunya tidak pulang ke rumah. Rupanya karna sedang bersenang-senang, menghabiskan malam bersama pria lain.
"Bukan hanya kemarin, tapi 2 hari yang lalu juga menginap di sana. Buka saja rekaman selanjutnya." Ucap Hendry santai.
Dari ekspresi dan sikap Hendry saat mengetahui Julia bersama pria lain, perasaan Hendry terkesan biasa saja. Seperti tidak merasa sakit hati ataupun kecewa atas perbuatan Julia. Mungkin karna perasaan Hendry pada Julia sudah mati, sudah tergantikan oleh Bella. Jadi Hendry biasa saja melihat Julia bermalam dengan pria lain, malah ingin menjadikan vidio itu untuk memproses perceraiannya.
"Mama tidak habis pikir dengan kalian berdua. Apa kalian sudah gila sampai sama-sama berselingkuh." Farah mengembalikan ponsel putranya. Dia sudah kehilangan kata-kata untuk mengomentari kelakuan anak dan menantunya.
__ADS_1