Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 77


__ADS_3

Baskoro terpaksa mengusir Julia lantaran wanita itu semakin menjadi-jadi. Julia mengamuk, mengeluarkan kata-kata kasar dan sumpah serapah pada semua orang. Jika dibiarkan ada di sana, Baskoro takut dia kehilangan kendali dan berbuat kasar pada wanita yang selama 28 tahun ini dia kira anak kandungnya. Jadi Baskoro mengusir Julia dengan ancaman tidak akan memberikan sepeserpun harta kekayaan padanya.


Tidak sulit membuat Julia patuh, cukup di ancam atau di tawarin sesuatu yang berbau uang.


Baskoro pikir, Julia sama saja seperti Natalie. Yang ada di otak mereka hanya uang, uang dan kekuasaan.


Kini setelah situasi lebih kondusif, Baskoro mengajak Bella bicara empat mata di ruang kerja.


Ada perlu di klarifikasi oleh putri kandungnya atas tuduhan Julia. Meski rasanya tidak mungkin putrinya memiliki hubungan gelap dengan Hendry.


"Papa tidak akan bertanya, kamu cukup memberikan klarifikasi tuduhan Julia tentang hubungan kamu dengan Hendry." Ujar Baskoro.


Akan terkesan menuduh dan tidak mempercayai putrinya sendiri jika melontarkan pertanyaan, jadi Baskoro memilih agar Bella mengklarifikasi tuduhan Julia. Masalah benar atau tidak, itu urusan belakangan.


Bella sudah keringat dingin. Yang membuatnya gugup dan takut bukan karna pengakuannya, tapi dampak setelah dia mengakui perbuatannya. Bella mengkhawatirkan kondisi kesehatan Papanya karna sembuh setelah melakukan pengobatan di luar negeri. Rasanya tidak akan tega memberikan beban dan kekecewaan sebegitu besar pada Papanya.


Bella menatap ponsel di tangannya, memastikan kalau Hendry akan sampai dalam waktu dekat. Tadi saat Julia masih mengamuk dan membongkar hubungannya dengan Hendry, Bella sempat mengirimkan pesan pada Hendry supaya datang ke rumah. Karna Hendry selalu melarangnya agar tidak mengakui sendirian, sebab mereka berdua yang melakukan kesalahan itu, jadi harus mengakuinya sama-sama.


"Boleh tunggu Mas Hendry sebentar.?" Pinta Bella lirih. Wajahnya sudah pucat. Bella tidak bisa menutupi ketegangan dan kekhawatirannya di depan sang Papa.


Ekspresi wajah Baskoro langsung berubah. Bella bahkan belum memberikan klarifikasi apapun, tapi Baskoro seolah sudah tau jawabannya. Jika tuduhan itu salah, Bella tidak akan repot-repot memintanya untuk menunggu Hendry.


Tidak bisa berkata-kata, Baskoro hanya mengangguk samar. Kini keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai suara ketukan pintu terdengar dan membuyarkan lamunan.


Bella beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu. Hendry muncul dengan wajah yang tidak kalah cemas. Dia memindai Bella dari ujung kepala sampai kaki, memastikan tidak ada luka di tubuh wanitanya setelah kedatangan Julia yang mengamuk.


"Aku tidak bisa melihat Papa kecewa." Lirih Bella takut. Hendry melempar tatapan teduh, dengan cepat mengusir kekhawatirannya supaya Bella juga bisa tenang.


"Kita akan bicara pelan-pelan." Sahut Hendry.

__ADS_1


Keduanya menghampiri Baskoro, duduk sebelahan di sofa yang sama. Berhadapan dengan Baskoro.


"Papa tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi." Ujar Baskoro menatap Bella dan Hendry bergantian. Gestur tubuh mereka cukup jelas menunjukkan bahwa ada hubungan spesial di antara keduanya.


Bella menunduk bersalah. Sekedar menatap sang Papa saja tidak berani. Dia belum siap melihat kekecewaan di mata Papanya.


"Bella telah melewati banyak masa sulit yang menyakitkan," Tutur Hendry melirik sendu pada Bella, lalu meraih tangan di atas pangkuan Bella untuk di genggam.


Bella awalnya menolak, tapi Hendry menggenggam kuat tangannya.


"Aku tidak pernah tau Julia dan Mamanya merundung dan menyiksa Bella selama bertahun-tahun, menimbulkan luka batin dan psikis yang hanya hanya dia pendam sendiri." Ada amarah yang terpancar dari sorot mata Hendry saat mengungkap penderitaan Bella selama ini.


"Bella tidak tau apapun, bukan salahnya jika dia terlahir dari anak seorang pria yang sudah beristri. Tapi apa pantas dia mendapatkan perlakuan buruk seperti itu.? Seolah-olah dia yang meminta untuk dilahirkan." Nada bicara Hendry masih santai, tapi penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Baskoro terdiam mendengar penuturan Hendry. Dia juga mendengar sendiri carita memilukan itu dari mulut putrinya. Bella telah di siksa lahir dan batinnya oleh kedua manusia tanpa hati itu.


Sebagai seorang ayah, Baskoro tentu merasa sakit dan sangat menyesal tidak bisa menjadi pelindung untuk putrinya.


Melihat tidak ada reaksi yang berlebihan dan mengkhawatirkan, Hendry kembali bicara.


"Aku sudah menceraikan Julia. Aku harap, Papa tidak menentang hubungan kami setelah ini."


Saat itu juga Bella memberanikan diri mengangkat wajah untuk menatap Papanya.


Baskoro menghela nafas berat, dia bersandar pada sofa dan memijat pelipisnya. Pria paruh baya itu kemudian mengatur nafasnya. Dadanya sedikit sesak. Kepalanya berdenyut nyeri mengetahui Bella memiliki hubungan dengan Kakak iparnya sendiri.


"Bella minta maaf Pah,," Lirih Bella. Suaranya tercekat, matanya tampak berkaca-kaca.


"Bella tidak berfikir panjang. Yang ada di pikiran Bella saat itu adalah bagaimana caranya membuat Julia hancur dan sakit hati." Bella menangis, air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi.

__ADS_1


"Dengan cara menghancurkan pernikahan orang lain dan mengorbankan kebahagian anak yang tidak bersalah.? Ale masih butuh kedua orang tuanya." Sahut Baskoro tak habis pikir.


Bagaimana bisa putrinya yang selama ini baik dan penurut, berubah sejahat itu karna perlakuan buruk Julia dan Natalie. Baskoro tidak menyangka dampaknya akan sebesar itu ketika orang yang disakiti berulang kali hanya diam saja tanpa berusaha melawan.


"Tidak sepenuhnya kesalahan ada pada Bella ataupun padaku. Rumah tangga ku dengan Julia sudah bermasalah sebelumnya. Saat ini Julia pun memiliki hubungan dengan pria lain. Jadi keputusan untuk bercerai sudah tepat." Tutur Hendry.


Seandainya tidak ada Bella sekalipun, Hendry yakin rumah tangganya bersama Julia lambat laun akan berakhir juga.


"Lalu apa yang kalian inginkan sekarang.?" Tanya Baskoro kecewa.


"Kami sudah melakukan kesalahan besar hingga ada dua nyawa yang tidak berdosa hadir di rahim Bella." Lirih Hendry seraya menatap teduh perut Bella. Menegaskan pada Baskoro bahwa di dalam perut Bella ada darah dagingnya.


"Untuk itu, aku ingin menikahi Bella secepatnya." Sambungnya setelah diam beberapa detik.


Baskoro bahkan masih sibuk mencerna ucapan Hendry, dia masih berfikir keras, disisi lain Baskoro juga ingin menyangkal apa yang dia pikirkan.


"Kamu menghamili Bella.?!" Seru Baskoro tak percaya. Kegilaan macam apa yang dia dengar.?


"Sudah sejauh apa hubungan kalian sampai berbuat segila ini.?!" Bentaknya meski masih menahan diri agar tidak lepas kendali, mengingat kondisinya baru pulih.


"Bella minta maaf sudah mengecewakan Papa." Tangis Bella semakin pecah, dia terus menundukkan kepalanya.


"Astaga Bella.! Ibumu yang jauh lebih kecewa. Apa kamu tidak tau bagaimana pengorbanan Ibumu dalam membesarkan dan mendidik mu dengan sangat baik. Kamu benar-benar membuat kami kecewa." Tutur Baskoro lesu. Dia kemudian beranjak dari duduknya, memilih keluar dari ruangan itu untuk menenangkan diri.


Dibohongi Natalie selama 29 tahun, lalu di khianati juga oleh istrinya itu. Sekarang Baskoro harus menerima kenyataan bahwa anak kandungnya hamil di luar nikah dengan Kakak iparnya sendiri.


Apa mungkin semua ini adalah balasan untuknya karna sudah memper kosa wanita sebaik Selena dan membuat hidupnya menderita selama belasan tahun dengan mengabaikannya. Padahal masa depan Selana sudah di hancurkan Baskoro, tapi masih diperlakukan tidak baik olehnya.


"Selena, apa kau yakin sudah memaafkan ku.?"

__ADS_1


Tanya Baskoro sambil menatap figura besar di dalam kamar utama.


Senyum teduh Selena begitu menenangkan, membuat Baskoro nyaman dan tenang saat melihatnya.


__ADS_2