
Orang-orang yang tadi duduk satu meja dengan Bella kini saling bergosip setelah Bella meninggalkan meja. Sepertinya sejak tadi mereka ingin bergosip, tapi mempertimbangkannya karna di sana ada Bella. Jadi begitu Bella pamit pergi, mereka langsung mengungkapkan apa yang sudah lama mereka tahan-tahan.
"Aku tidak percaya Natalie berselingkuh. Julia bahkan bukan anak kandung Kak Baskoro." Ujar salah satu adik Baskoro dengan ekspresi geram.
Dulu dia berpihak pada Natalie dan Julia karna berfikir ipar dan keponakannya itu sangat baik.
Tapi setelah kebusukan Natalie terbongkar, bukan hanya adik Baskoro saja, tapi semua keluarga Baskoro jadi membenci Natalie.
Mereka pun merasa malu dan bersalah pada Bella dan Selena. Karna dari dulu mereka selalu menggunjing Bella dan Selena, mengucilkan dan tidak menganggap keberadaannya. Sebab kehadiran Selena dan Bella di pandang sebagai aib dalam keluarga Baskoro.
Walaupun Baskoro yang salah dalam hal ini karna sudah menyebabkan Selena hamil, tetap saja Selena yang di salahkan.
Di tambah dengan hasutan dari Natalie ki pihak keluarga Baskoro. Semua orang percaya dengan tuduhan-tuduhan yang di arahkan pada Selena.
Natalie memfitnah Selena di keluarga Baskoro. Dia mengatakan kalau Selena berusaha menguras harta Baskoro dan mempengaruhi Baskoro supaya menceraikannya. Padahal semua itu tidak benar. Tapi mereka percaya begitu saja dengan perkataan Natalie karna wanita itu pandai bersandiwara dan memprovokasi.
"Dia menuduh Selena ingin menguasai harta Baskoro, tapi nyatanya Natalie sendiri yang menginginkan harta itu.!" Sambung Brenda, Kakak Baskoro yang juga tak kalah geram dan merasa di tipu oleh Natalie.
"Aku rasa kita perlu menjenguk Natalie dan memberinya pelajaran.! Berani sekali dia membawa kekasihnya ke rumah ber cinta di kamar utama. Sangat tidak tau malu.!" Sahut adik bungsu Baskoro.
"Ide bagus, aku tidak sabar ingin menghinanya.!" Jawab keduanya kompak.
Terlahir sebagai anak laki-laki satu-satunya, Baskoro di kelilingi 3 saudara kandung perempuan. Tidak heran kalau Natalie selalu mendekati keluarga Baskoro, karna perempuan mudah di provokasi.
"Apa kalian tidak tau.? Kelakuan Julia juga sama seperti Natalie, dia berselingkuh dengan pria lain." Tutur Adik Farah. Mulutnya ikut gatal melihat keluarga Baskoro bergosip. Akhirnya dia membongkar kebusukan Julia di depan keluarga Baskoro.
"Apa.?!" Seru keluarga Baskoro. Mereka tampak terkejut dan tak habis pikir. Tapi setelah ingat perbuatan Natalie, mereka tidak heran kenapa Julia juga seperti itu. Anak dan Ibu sama saja.
"Pantas saja diceraikan." Komentar salah satu dari mereka.
Farah hanya bisa menelan ludah, sebab putranya juga bersalah. Sama-sama berselingkuh, tidak ada bedanya. Farah tidak mau memojokkan ataupun membela salah satunya.
"Sudah, tidak perlu di bahas." Tegur Farah.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu kemudian melirik ke arah Bella yang tadi pamit pergi, tapi rupanya Bella sedang di gandeng masuk ke dalam rumah oleh Hendry.
Seketika Farah geleng-geleng kepala melihat Hendry menggandeng tangan Bella. Sepertinya dalam hubungan terlarang mereka, putranya yang tidak bisa menahan diri. Terbukti beberapa kali Farah memergoki Hendry selalu menempel pada Bella, padahal Bella seperti menahan malu jika berdekatan dengan Hendry di depan orang lain.
"Sifatnya pasti di turunkan dari Sudibyo. Saat gadis aku tidak pernah punya pacar, menikah saja di jodohkan.!" Rutuk Farah dalam hati. Pokoknya sifat Hendry yang jelek-jelek selalu Farah limpahkan pada suaminya. Dia mau kebagian yang baik-baiknya saja.
...******...
"Mas, keluarga kita masih di belakang." Protes Bella saat Hendry menuntunnya menaiki tangga. Bella tidak enak pada keluarga Papa dan mertuanya yang masih asik mengobrol di halaman belakang. Padahal mereka datang untuk menghadiri acara pernikahannya dengan Hendry.
Bukan hanya tidak enak, Bella juga malu dengan pemikiran semua orang jika menyadari kalau dia dan Hendry tidak ada di sana. Sudah pasti mereka berfikir macam-macam, dikiranya sudah tidak tahan karna sudah meninggalkan tempat acara sebelum tamu bubar.
"Biarkan saja, nanti juga pulang." Jawab Hendry acuh.
"Kamu kelihatan lelah, sebaiknya istirahat saja. Aku akan turun lagi ke bawah setelah mengantarmu ke kamar." Tuturnya. Hendry berusaha menjaga kondisi kesehatan dan kehamilan Bella agar baik-baik saja, itu sebabnya dia menyuruh Bella untuk istirahat.
Tapi pikiran Bella malah mengarah ke hal lain. Dia sudah deg-degan sejak tadi, karna mengira akan di minta jatah.
Bella deg-degan bukan karna takut dan mau menolak, sejujurnya dia malah menginginkannya.
Keinginan Bella yang selalu ingin bertemu dan dekat-dekat dengan Hendry karna sebenarnya dia menginginkan sesuatu. Tapi Bella menahan diri untuk tidak berbuat kesalahan lagi.
Hendry membuka pintu kamar Bella dan mengajaknya masuk. Pria itu menutup pintu, lalu mengantar Bella sampai di dekat ranjang.
"Sebaiknya gaunnya di lepas saja, ganti baju santai. Mau aku bantu turunkan resletingnya.?" Tawar Hendry.
Bella terlihat kebingungan, pikirannya sudah kemana-mana. Dia bingung, sebenarnya Hendry mau mengajaknya ber cinta atau benar-benar menyuruhnya istirahat.
"Tidak usah, aku akan ganti di kamar mandi." Bella akhirnya menolak. Dia hanya ingin melihat reaksi Hendry saja, ingin tau apa yang akan Hendry lakukan setelah ini.
Tapi sampai Bella masuk ke kamar mandi, Hendry tidak melakukan apapun. Pria itu malah duduk di tepi ranjang menunggu Bella selesai sambil memainkan ponselnya.
"Astaga Bella, apa yang kamu pikirkan." Lirihnya sembari menepuk keningnya karna sudah berfikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
Bisa-bisanya dia ingin cepat-cepat belah duren, padahal baru 2 jam menikah. Mungkin karna efek hormon kehamilan. Terkadang memang membuat Ibu hamil jadi haus belain, gampang bergairah.
Kini Bella sudah berbaring di atas ranjang. Dia menatap pintu kamarnya yang baru saja tertutup karna Hendry keluar. Pria itu tidak melakukan apapun, hanya mengecup kening Bella dan mencium perutnya saja, lalu bergegas keluar dari kamar.
...******...
Hendry mengendurkan dasinya dan melepaskan jas yang sejak tadi dia kenakan. Semua keluarga sudah meninggalkan rumah, hanya tinggal Baskoro yang memang beberapa minggu terakhir tinggal di rumah ini.
Hendry buru-buru menaiki tangga, dia ingin mandi karna badannya terasa lengket setelah berjam-jam berada di luar ruangan.
"Hendry.!"
Baru akan mengetuk kamar Bella, Papa mertuanya malah memanggil.
Hendry segera menoleh, lalu tersenyum pada Baskoro.
"Ya Pah, ada apa.?"
Wajah Baskoro tampak serius. Tapi Hendry tetap bersikap santai karna sudah bertahun-tahun mengenal Baskoro.
"Ke ruang kerja sebentar, ada yang mau Papa bicarakan." Tegas Baskoro.
Hendry mengangguk patuh, dia kemudian berjalan mengekori Baskoro yang sudah lebih dulu beranjak.
Keduanya sudah duduk berhadapan, Baskoro tampak menarik nafas berat.
"Julia menaruh dendam pada Bella karna kamu lebih memilihnya. Ini akan menjadi ancaman, Bella mungkin tidak jika melakukan aktivitas di luar selama Julia bebas berkeliaran." Ujar Baskoro serius.
"Sekarang Bella sudah jadi istrimu, keselamatan Bella menjadi tanggungjawabmu."
"Sebaiknya kamu urus Julia, jangan sampai dia mencelakai Bella."
Hendry mengangguk paham.
__ADS_1
"Baik, aku mengerti Pah."
Hen juga sudah memikirkan hal itu. Dia masih mencari solusinya.