
Bella tengah merapikan tempat tidurnya yang sedikit berantakan. Ale sudah bangun, balita itu sedang di jaga oleh ART di bawah. Sementara itu, Hendry baru saja masuk ke kamar mandi.
Tadi sempat mengajak Bella mandi bersama, tapi Bella menolak. Bukannya apa, Bella tidak yakin kalau Hendry sudah mengajak mandi bersama. Pasti nanti UUB, ujung-ujungnya bercinta. Walaupun semalam habis bergulat, tapi tidak menutup kemungkinan Hendry akan minta lagi.
Sebab tadi malam hanya satu ronde, pasti belum membuat Hendry puas. Tau sendiri bagaimana pria itu, urusan pisang tanduk nomor satu.
Selesai merapikan ranjang, Bella pergi menyiapkan baju kerja Hendry. Rutinitas seperti itu akan dilakukan oleh Bella setiap hari. Bella berusaha menjadi seorang istri yang baik untuk Hendry, setidaknya dengan menyiapkan keperluan dan kebutuhan suami menggunakan tangannya sendiri.
"Bella sayang,,,!!" Teriakan Hendry menghentikan aktifitas Bella di dalam walk in closet. Dia buru-buru menutup lemari dan meletakkan setelah jas lengkap beserta dasinya di atas sofa.
"Arabella,,," Suara teriakan Hendry kedua kali membuat Bella geleng-geleng kepala.
"Iya sebentar Mas,,!" Bella bergegas ke arah kamar mandi. Saat sampai di depan pintu, rupanya pintu kamar mandi sudah terbuka sedikit. Kepala Hendry menyembul di balik pintu.
"Ada apa.?" Bella bertanya dengan kening berkerut. Rasa-rasanya kok seperti ada sesuatu yang mencurigakan.
"Aku lupa bawa handuk, di lemari kamar mandi juga tidak ada handuk bersih." Tutur Hendry.
"Tolong ambilkan ya.?" Nada bicara Hendry terdengar memohon, tapi bukan itu yang menarik perhatian Bella. Senyum tipis dan tatapan mata Hendry seolah memaksa Bella untuk berfikir negatif.
"Mas Hendry mau modus ya.?" Tebak Bella. Suaminya itu pasti punya seribu satu cara untuk membuatnya mandi bersama walaupun sudah di tolak.
"Jangan sembarangan menuduh suami, cepat ambilkan handuk sebelum aku kedinginan." Kisah Hendry. Padahal gelagatnya sudah mencurigakan, tapi tidak mau mengaku.
Bella sedikit mencebik, dia kemudian berlalu untuk mengambilkan handuk bersih di lemari.
Saat kembali, pintu kamar mandi terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Hendry tidaj ragu-ragu memperlihatkan bagian atas tubuhnya yang di penuhi pahatan indah. Otot dada perutnya terbentuk sempurna. Yang pasti bisa membuat wanita menelan ludah jika melihatnya.
"Ini handuknya," Bella mengulurkan tangannya untuk memberikan handuk pada Hendry. Dia sengaja berdiri sedikit jauh dari depan pintu kamar mandi. Bella hanya berjaga-jaga, agar bisa menghindar jika sewaktu-waktu Hendry menarik tangannya.
Modus seperti ini sudah biasa di praktekan oleh para suami di luar sana, terutama oleh pasangan pengantin baru. Jadi Bella bisa membaca situasinya.
"Majuan sedikit sayang, tanganku tidak sampai." Pinta Hendry. Diam-diam pria itu sedang memutar otak supaya bisa menyeret Bella ke kamar mandi. Sebab Bella sudah curiga dengan akal bulusnya.
"Kamu benar-benar mencurigakan Mas. Handuknya aku lempar saja ya." Dalam hitungan detik, Bella langsung melempar handuk di tangannya ke arah Hendry. Mau tidak mau, Hendry terpaksa menangkap handuk itu daripada jatuh ke lantai. Pria itu tampak kecewa, modusnya gagal. Padahal otak mesumnya sudah membayangkan gaya ber cinta di bawah guyuran shower dengan sang istri.
__ADS_1
"Sayang,, kamu tidak mau ber cinta denganku.? Semalam masih kurang." Ujar Hendry merengek. Dia seperti anak kecil yang sedang meminta permen pada ibunya.
"Jangan terlalu sering menengok kembar, Mas Hendry kan tau sendiri kandungan ku sempat lemah. Setidaknya jangan setiap hari ya." Kata Bella mencoba negosiasi. Bukannya sengaja menolak, tapi kondisinya sedang hamil muda. Bahaya juga kalau setiap hari digempur pisang tanduk suaminya.
"Kalau cara manual bagaimana.? Sudah terlanjur tegang." Tawar Hendry dengan wajah memelas.
Bella sampai menahan tawa, antara lucu dan kasian melihat ekspresi suaminya.
Apalagi saat Hendry membuka pintu lebar-lebar, tubuh polosnya jadi kelihatan dan memamerkan pisang tanduk yang berdiri tegak.
Tidak tega melihat suaminya tersiksa menahan gejolak, Bella akhirnya masuk ke kamar mandi tanpa paksaan.
Tanpa harus di arahkan, Bella sudah tau tugasnya. Dia mampu membuat suaminya mengerang nikmat, membuat kamar mandi menjadi bising karna suara Hendry.
"Terimakasih sayang." Ucap Hendry seraya memeluk tubuh Bella dari belakang. Keduanya sudah keluar dari kamar mandi, Bella akhirnya ikut mandi juga karna terlanjur basah.
Bella mengangguk dengan seulas senyum yang mengembang di bibirnya. Nyatanya ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat Hendry puas oleh permainannya.
"Cepat pakai bajunya, setelah ini kita sarapan." Bella lepaskan tangan Hendry yang melingkar di perutnya. Pria itu mengangguk patuh. Kini keduanya sama-sama sedang memakai baju.
Terlebih Bella sedang hamil, Hendry jadi over protective.
...******...
Siang itu sebelum datang ke rumah anak dan menantunya, Farah memutuskan mampir ke rumah sakit untuk menjenguk mantan menantunya. Sejak mendengar kabar bahwa Julia di rawat, Farah belum pernah menjenguknya. Terlepas bagaimana hubungan Julia dan Hendry yang berakhir dengan cara tidak baik, Farah merasa bahwa dirinya harus tetap memiliki hubungan yang baik dengan mantan menantunya itu. Karna seperti apapun Julia, wanita itu adalah Ibu dari cucu pertamanya.
Lagipula Julia dan Hendry sama-sama salah, jadi tidak adil kalau Julia di jauhi.
"Nyonya,,?" Bik Inah langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Farah datang.
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarnya Bik.?" Tanya Farah. Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Bik Inah.
"Saya baik Nyonya. Mau menjenguk Nyonya Julia ya.?" Tanyanya. Bik Inah sempat melirik parsel buah di tangan kiri Farah.
Farah mengangguk.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Julia.? Sudah ada kemajuan.?"
Bik Inah mengangguk cepat dan mengulas senyum lega.
"Nyonya Julia sudah lebih baik, sejak kemarin tidak mengamuk lagi. Sepertinya berkat Pak Dokter tampan." Ujar Bik Inah penuh keyakinan. Pasalnya sejak Dokter itu sering masuk ke ruangan Julia dan menyuapinya dengan cara paksa, Julia jadi tidak gampang emosi lagi.
"Dokter tampan.?" Farah mengulang perkataan Bik Inah dengan dahi berkerut.
"Dokter yang menangani Nyonya Julia, Nyonya." Jelas Bik Inah. Farah mengangguk paham.
"Dokter itu ada di dalam, sedang menyuapi Nyonya Julia." Ujarnya lagi.
Farah mendadak penasaran dengan Dokter itu. Kalau sudah sampai menyuapi Julia segala, pasti statusnya bukan hanya Dokter yang menangangi Julia. Farah seketika berharap Julia dan Dokter itu memiliki hubungan. Terlebih Dokter itu seperti memberikan dampak positif untuk Julia.
"Apa tidak masalah kalau saya masuk.?" Tanya Farah. Dia jadi ragu untuk menemui Julia, takut mengganggu kebersamaannya dengan Doker itu.
"Tidak apa Nyonya, biar saya yang ketik pintunya." Bik Inah lantas berdiri dan bergegas mengetuk pintu kamar rawat inap Julia.
Terdengar Dokter di dalam memberikan ijin pada Bik Inah untuk masuk.
"Silahkan Nyonya,," Kata Bik Inah seraya membukakan pintu.
"Makasih Bik."
Farah lantas masuk ke dalam. Detik itu juga dia langsung disuguhkan pemandangan seorang Dokter muda sedang menyuapi pasiennya.
"Mama Farah.?" Lirih Julia terkejut sekaligus malu. Mantan mertuanya melihatnya sedang di suapi.
"Apa Mama mengganggu.?" Tanya Farah kikuk.
Julia menggeleng cepat.
"Tidak, masuk saja."
Farah kemudian menutup pintu dan menghampiri Julia. Arseno kelihatan bingung menatap Farah, penasaran dengan sosok wanita paruh baya yang di panggil Mama oleh Julia. Sedangkan yang Arseno tau dari penuturan Bik Inah, Mama kandung Julia sedang dipenjara.
__ADS_1