
Gosip begitu cepat menyebar di seluruh penjuru perusahaan milik Baskoro. Dalam hitungan kurang dari 1 jam, gosip itu seperti virus yang menyebar dengan cepat. Padahal rapat barusan hanya di hadiri semua petinggi perusahaan, lalu semua karyawan tetap dengan posisi yang lumayan. Tapi kabar tentang Bella yang katanya hanya satu-satunya anak kandung Baskoro, sudah terdengar sampai ke telinga karyawan biasa, bahkan OB.
Kini setelah rapat selesai, semua orang malah sibuk bergosip di ruangan dan di divisinya masing-masing. Kabar itu cukup menggemparkan semua orang. Pasalnya selama ini Julia yang lebih menonjol, hampir semua orang mengetahui kalau Julia anak kandung Baskoro karna memang perlakuannya kedua orang tua Bella sedikit berbeda di banding memperlakukan Bella. Atau mungkin karna Bella jarang muncul di publik dan acara-acara besar perusahaan.
Jadi wajar kalau semua orang terkejut, hampir tidak bisa mempercayai ucapan Bos besar mereka.
Sekalipun Baskoro tidak menyebutkan langsung bahwa Julia bukan darah dagingnya, tapi kalimat yang mengatakan jika Bella adalah satu-satunya anak kandungnya, sudah cukup menjelaskan kalau Julia bukan anak Baskoro.
"Ini benar-benar mengejutkan. Aku justru lebih tertarik dengan kehidupan pribadi keluarga Tuan Baskoro. Apa mereka baik-baik saja selama ini.?" Gumam salah satu karyawan yang baru saja mendapatkan gosip terpanas sepanjang sejarah.
Bahkan lebih panas dari gosip pernikahan Julia dengan seorang CEO muda dan tampan beberapa tahun yang lalu.
"Husst,, Pikiranmu terlalu jauh." Tegur salah satu dari mereka.
"Kehidupan pribadi mereka bukan urusan kita. Aku justru takut hal ini akan berimbas pada perusahaan. Bagaimana kalau ada perbuatan kekuasaan.? Aku merinding membayangkannya." Celotehnya.
Beberapa orang terkekeh mendengarnya, ada juga yang menepuk pundak wanita itu seolah menyuruhnya sadar.
"Kau itu kebanyakan nonton drama.!" Ujarnya.
"Sudah-sudah, lebih baik selesaikan pekerjaan kita." Lerainya mengakhiri pergosipan.
...******...
Baskoro menyempatkan datang ke perusahaan karna ingin mengenalkan Bella dan memberi tahu semua karyawannya kalau posisinya akan digantikan sementara oleh Bella. Jadi begitu rapat selesai, kini Baskoro langsung meninggalkan perusahaan lantaran harus terbang ke Amerika.
Bella tentu ikut mengantarkan sang Papa ke bandara.
Kalau saja tidak diberi amanat untuk menjaga perusahaan, Bella lebih baik menemani Papanya selama pengobatan di Amerika. Menjaga dan merawat satu-satunya orang tua yang tersisa. Tapi mau bagaimana lagi, Bella tidak punya pilihan.
"Sudah jangan menangis, Papa pergi untuk kembali dengan kondisi yang lebih sehat supaya bisa mendampingi kamu saat menikah kelak." Ucap Baskoro seraya menepuk-nepuk punggung putrinya yang tengah menangis dalam dekapan.
Tangis Bella mendadak berhenti. Dia merasa terbebani dengan kata pernikahan. Bella tau kalau Papanya sangat berharap bisa melihatnya menikah dalam waktu dekat. Sampai berusaha keras menjodohkannya dengan Arlan.
__ADS_1
Setelah semuanya terjadi, Bella tidak berfikir untuk menikah. Lagipula dia takut masa lalunya akan menjadi masalah dikemudian hari. Takut suatu saat di ungkit bagaimana masa lalunya yang cukup buruk itu.
Bella menarik nafas dalam. Kini sudah tidak ada yang tersisa lagi dalam dirinya. Semuanya sudah di berikan pada Hendry, tapi hampir berakhir sia-sia.
"Papa harus cepat sehat dan kembali memimpin perusahaan, Bella tidak janji bisa menjaga perusahaan." Kata Bella setelah menetralkan perasaannya.
Baskoro mengangguk, lalu mengurai pelukan.
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan minta bantuan orang-orang kepercayaan Papa di perusahaan. Atau kamu bisa hubungi Arlan. Papa sudah memintanya untuk menjaga kamu selama Papa di Amerika, Arlan tidak keberatan untuk itu." Tutur Baskoro.
Dia tidak akan khawatir meninggalkan Bella sendirian di Jakarta karna ada pengawal dan orang-orang kepercayaannya yang akan melindungi Bella dari segala kemungkinan buruk yang akan terjadi di depan mata. Baskoro sudah menebak akan ada masalah besar yang akan dia dan Bella hadapi setelah rapat tadi. Belum lagi dengan surat perceraian yang pagi ini akan di kirimkan pada Natalie.
Baskoro sadar jika tindakannya bisa memicu rasa sakit hati dan dendam Natalie. Karna diam-diam akan di ceraikan dan hampir seluruh asetnya dipindah tangan atas nama Bella.
...******...
Di rumahnya, Julia sedang ketar-ketir setelah mengetahui kabar bahwa perusahaan di pimpin sementara oleh Bella. Yang membuat Julia semakin syok adalah ucapan Papanya. Julia tidak bisa menutupi rasa takutnya karna Papanya itu seolah sudah tau rahasia besar yang selama ini mereka tutup rapat-rapat.
"Zira, tolong kamu jaga Ale dulu." Titah Julia seraya beranjak dari sofa ruang keluarga sembari membawa ponsel di tangannya.
Zira menatap kepergian Julia dengan dahi berkerut, karna raut wajah majikannya itu tiba-tiba berubah tegang seperti ketakutan.
Julia masuk ke dalam kamar dna mengunci pintunya. Dia langsung menghubungi nomor ponsel Mamanya untuk memberitahu kabar mengejutkan ini. Lalu harus mengambil tindakan agar rahasia besar mereka tidak terbongkar ke publik.
"Sh*iit,,! Kenapa tidak aktif.!" Umpat Julia kesal. Dia kembali menghubungi nomor Mamanya, tapi lagi-lagi tidak aktif.
Tidak mau menunggu terlalu lama, Julia memutuskan untuk pergi ke rumah Mamanya. Lebih baik memang di bicarakan secara langsung agar lebih leluasa menyusun rencana.
Bella mengambil tas dan kunci mobil miliknya, dia kembali turun ke bawah dan pamit pada Zira.
"Aku ada urusan mendadak, mungkin sedikit lama di luar. Jaga Ale baik-baik,," Pamitnya pada baby sitter Ale. Tak lupa Julia mengecup kedua pipi chubby putrinya.
"Iya Nyonya, jangan khawatir." Balas Zira.
__ADS_1
Julia bergegas pergi dengan tergesa-gesa. Zira yang biasanya masa bodo dengan urusan majikannya, seketika jadi kepo.
"Nyonya Julia kelihatan aneh sekali." Gumamnya saat Julia sudah menjauh.
...*****...
Begitu sampai di rumah orang tuanya, Julia langsung turun dari mobil dan setengah berlari memasuki rumah.
"Mah,, Mamah,,!!" Julia sampai teriak-teriak karna tidak sabar menceritakan kabar itu pada Mamanya.
Teriakan Julia malah mengundang salah satu asisten rumah tangga di sana.
"Non Julia," Sapanya. Wanita paruh baya itu datang dengan wajah panik.
"Dimana Mama dan Papa.?!" Seru Julia.
"Tuan pergi ke luar negeri pagi tadi. Kalau Nyonya,, Nyonya,," Ucapnya gugup.
"Cepat katakan, jangan buat saya menunggu.!" Bentak Julia kesal.
"10 menit yang lalu saya sudah mencoba menelfon nomor Nona Julia, tapi tidak di angkat." Tuturnya.
ART itu kemudian menyodorkan dua amplop berwarna putih dan coklat yang sejak tadi ada di genggamannya.
"Ini Nona Julia. Setelah membaca surat ini, Nyonya Natalie jatuh pingsan. Sekarang Beliau sudah dibawa ke rumah sakit." Tuturnya dengan wajah tertunduk sedih.
Julia buru-buru membuka salah satu amplop berwarna coklat yang menarik perhatiannya karna dari pengadilan. Baris demi baris tak satupun dilewatkan oleh Julia saat membuka surat tersebut. Belum hilang keterkejutannya tentang posisi Bella yang menjadi pemimpin perusahaan, kini Julia kembali di buat terkejut dengan gugatan cerai yang dilayangkan Baskoro pada Mamanya.
"Tidak,, ini tidak boleh terjadi.!!" Teriak Julia frustasi.
Dia melempar surat itu begitu saja, kemudian beralih pada amplop putih.
Jantungnya sudah bergemuruh membaca tulisan nama rumah sakit ternama yang ada di depan amplop.
__ADS_1
ART itu buru-buru mengambil surat yang baru saja dilempar oleh Julia. Jangankan Natalie dan Julia, semua penghuni rumah itu juga syok mengetahui masalah itu. Selama ini mereka melihat rumah tangga majikannya baik-baik saja, bahkan sangat harmonis. Tapi rupanya ada rahasia besar yang terungkap dan seketika menghancurkan semuanya.