
"Papa ingin apa.?" Tanya Bella lirih.
Entah apa yang diharapkan oleh Papanya itu dari anak sepertinya. Selama ini Bella tidak pernah memberikan apapun, hanya sebatas perhatian saja, itupun jarang. Kini melihat Papanya tampak tidak berdaya dan menginginkan sesuatu darinya, Bella berharap bisa mewujudkan permintaan sang Papa. Bagaimanapun, hanya Papanya yang selama ini bersikap baik padanya setelah kepergian mendiang sang Ibu.
"Sebentar, Papa menunggu seseorang." Baskoro menjawab sambil menatap ke arah pintu.
Melihat itu, Bella reflek mengikuti kemana arah tatapan Papanya dengan dahi berkerut. Penasaran siapa yang sebenarnya sedang di tunggu oleh Papanya itu. Sampai ingin meminta sesuatu darinya saja harus menunggu orang tersebut.
Pikiran Bella sudah macam-macam saja. Jangan-jangan Papanya menunggu Natalie atau Julia.
Tapi tak berselang lama, rasa penasaran Bella terjawab bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka dan memperlihatkan sosok pria yang tidak asing bagi Bella. Pria itu membungkukkan kepala seraya tersenyum ramah, dia menutup pintu ruangan dan berjalan mendekat. Dia membawa parsel buah di tangannya.
"Pagi Om, saya cukup terkejut dengan kabar ini. Semoga lekas sembuh." Ucapnya seraya meletakkan parsel buah di atas nakas.
Senyum Baskoro mengembang, menatap sosok pria do hadapannya. Pria yang menurutnya baik dan bertanggungjawab, hingga berfikir untuk menitipkan Bella pada pria itu jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Baskoro bukan pasrah pada sakit yang dia derita, bukan pula tidak yakin pada kesembuhan, pria paruh baya itu hanya mencoba bersikap realistis. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi di masa depan. Usianya juga tidak terbilang muda, hampir menginjak 56 tahun.
Jadi seandainya pengobatan di Amerika gagal, Baskoro bisa pergi dengan tenang karna putrinya sudah berada di tangan pria yang tepat.
"Terimakasih nak Arlan." Ucap Baskoro tulus.
Sementara itu, Bella sejak tadi mendongak, menatap pria di sampingnya yang berdiri tegak. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Apa Arlan yang sedang di tunggu oleh Papanya.? Tapi kenapa harus Arlan.? Apa hubungannya.
Bella menunjukkan ekspresi bingung yang kentara. Baskoro sampai tersenyum lembut dan menyentuh tangan putrinya di atas ranjang.
"Sayang, menikahlah dengan Arlan." Pinta Baskoro menatap keduanya bergantian.
Bella membeku, dia tidak terkejut dengan permintaan Papanya karna sebelumnya sudah pernah membahas hal ini. Tapi saat ini keadaan sudah berbeda. Bella tidak yakin bisa menikah dengan Arlan.
Perkataan Baskoro membuat Arlan dan Bella saling menatap, namun dengan sorot mata yang berbeda. Jika Bella merasa tidak yakin, Arlan justru ingin mendengar jawaban Bella secepatnya. Dia sudah lama tertarik pada Bella, hanya saja tidak terlalu gencar untuk mendekatinya, karna takut membuat Bella menjauh. Mengingat wanita itu sempat tidak mau ketika di jodohkan dengannya.
Kini setelah Baskoro sakit, Arlan seperti memiliki harapan. Bella mungkin akan menuruti permintaan Papanya yang sedang sakit keras.
”Maaf,," Lirih Bella dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
Baskoro menghela nafas berat, Arlan juga tampak kecewa. Hanya sebuah kata maaf, tapi sudah cukup mewakili jawaban Bella.
"Bella tidak bisa menuruti permintaan Papa kali ini." Ucapnya penuh sesal. Masa depannya sudah terlanjur hancur, Bella merasa tidak pantas untuk Arlan sekalipun status pria itu adalah duda.
Bella khawatir Arlan akan jijik padanya jika tau tentang kondisinya dan hubungan gelapnya dengan kakak iparnya sendiri.
"Kenapa nak.? Apa soal perasaan.?" Cecar Baskoro penasaran.
"Cinta bisa datang karna terbiasa, kenapa tidak mencobanya dulu. Papa akan memberi kamu waktu untuk lebih mengenal Arlan." Baskoro menatap penuh harap. Bukan maksud ingin memaksakan kehendak, Baskoro hanya ingin melihat putrinya berada di tangan pria yang tepat. Pria yang bisa mencintai dan melindungi Bella.
Bella menggeleng, tapi tidak memberikan penjelasan apapun. Bella bahkan bingung harus mengatakan apa, rasanya tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Selain malu, Bella takut kondisi Papanya memburuk. Dan bisa saja setelah ini dia akan di benci oleh Papanya karna sudah menggoda suami Julia.
"Bella, Papa ingin ada yang menjaga dan melindungi kamu selama Papa dirawat di Amerika. Hanya Arlan yang bisa Papa percaya." Tuturnya. Baskoro masih berusaha membujuk Bella supaya mau menikah dengan Arlan.
"Maaf Pah, tapi Bella tidak bisa." Sahutnya seraya menatap sendu.
"Jangan di paksa Om, mungkin Bella sudah punya kekasih." Ujar Arlan dengan senyum tipis, padahal sorot matanya menunjukkan kekecewaan.
Bella menatap Arlan, tatapan yang seolah menunjukkan rasa terimakasih karna Arlan bisa menerima keputusannya.
Baskoro menghela nafas berat, dia hanya bisa pasrah atas penolakan putrinya. Meski begitu, Baskoro akan tetap mengupayakan agar Bella dan Arlan bisa menikah suatu saat nanti.
...******...
Bella dan Arlan keluar dari ruangan Baskoro. Keduanya membiarkan Baskoro istirahat setelah dokter memberinya obat.
Kini keduanya sedang duduk di kantin rumah sakit, duduk berhadapan tanpa mengatakan apapun sampai minuman mereka datang.
Bella mengambil jus mangga dan menyesapnya sedikit. Begitupun Arlan, dia membuka botol air mineral dan meneguknya.
"Tolong jangan salah paham karna aku menolak permintaan Papa. Mas Arlan sangat baik, seperti yang selalu Papa katakan padaku. Wanita manapun pasti akan merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Mas Arlan." Tutur Bella jujur. Ya, Bella tidak memungkiri kalau Arlan sosok pria yang baik dan penyayang. Tapi keadaan membuatnya tidak bisa menjalani hidup dengan pria itu.
Di puji seperti itu, Arlan tidak merasa besar kepala sama sekali. Karna dia berfikir pujian yang keluar dari mulut Bella semata-mata untuk menghiburnya karna sudah menolak menikah dengannya.
__ADS_1
Entah Bella terlalu naif atau apa.
"Aku sudah terlalu dewasa untuk di hibur." Balas Arlan yang tampak bercanda. Mungkin ingin mencairkan suasana, karna sejak tadi cukup kaku dan tegang.
"Maaf,," Lirih Bella. Dia merasa bersalah melihat senyum Arlan yang tampak di paksakan. Pria itu jelas terlihat kecewa dengan keputusannya.
"Berhenti mengatakan maaf, aku merasa sangat menyedihkan di matamu." Protes Arlan seraya memasang wajah sebal.
Bella terkekeh kecil, lalu kembali menyeruput minumannya.
"Papa memintaku mengurus perusahaan selama di rawat di Amerika." Keluh Bella penuh beban.
"Aku benar-benar sangat awam dalam dunia bisnis. Keahlianku hanya mendesign." Tuturnya.
"Butuh bantuan.? Kamu bisa privat padaku, untukmu gratis." Ujar Arlan dengan candaan.
Bella sempat mengerucutkan bibir, tapi dia memang perlu bantuan Arlan. Karna meski baru berusia 30 tahun, Arlan cukup berpengaruh dalam dunia bisnis. Pria itu memiliki beberapa perusahaan, tidak hanya di Ibu Kota saja.
Bella akhirnya menerima tawaran Arlan. Dia bertekad terjun ke dunia bisnis agar bisa mengelola perusahaan Papanya. Sekaligus ingin menunjukkan pada Julia dan Natalie kalau perusahaan itu sudah jatuh ke tangannya.
Bella tidak sabar untuk mengejutkan dua wanita licik itu. Apalagi hampir semua aset Papanya sudah di alihkan secara diam-diam atas namanya.
...******...
"Aku harus kembali ke perusahaan, ada rapat 30 menit lagi. Kamu mau pulang atau masih mau disini.?" Ujar Arlan, dia sudah siap-siap beranjak dari duduknya.
"Disini saja, aku ingin menemani Papa." Bella kemudian beranjak lebih dulu, di susul oleh Arlan.
"Biar aku antar ke atas." Arlan menggandeng tangan Bella tanpa permisi. Anggap saja dia pura-pura tidak melihat reaksi Bella yang terkejut. Arlan tetap menggandeng tangan Bella meski Bella mengatakan tidak perlu di antar.
Bella sesekali melirik tangannya yang ada dalam genggaman Arlan. Pria di sampingnya itu memang sangat baik.
Rasanya Bella ingin menyesali balas dendamnya, tapi penyesalan tidak akan merubah apapun. Saat ini hanya perlu menyelesaikan apa yang sudah dia mulai.
__ADS_1