Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 43


__ADS_3

Hendry keluar dari apartemen dengan wajah kusut. Padahal sudah mendapatkan apa yang dia inginkan dari Bella, tapi obrolan soal pernikahan membuat mood Hendry berantakan. Kepala bawahnya sudah tenang, kini giliran kepala atas yang nyut-nyutan. Dilema, Hendry merasakan di hadapkan dnegan pilihan yang sulit.


Sejujurnya Julia dan Bella sama-sama menempati ruang hatinya. Ada keinginan untuk memiliki keduanya. Biar saja di bilang egois dan serakah, tapi kenyataannya memang seperti itu. Karna melepas salah satu dari keduanya tidak mungkin bisa dia lakukan. Hati Hendry sudah terlanjur terbagi dua, pasti hampa kalau harus melepaskan salah satunya.


Hendry mengusap kasar wajahnya, dia tampak frustasi sampai memukul stir mobilnya.


Bella tadi sudah tidak mau di ajak bicara lagi. Wanita itu mengunci diri di dalam kamar mandi dengan alasan ingin mandi. Hendry tentu saja tidak percaya, dia tau kalau Bella sengaja menghindarinya agar tidak membahas hal itu lagi.


10 menit berdiam diri di dalam mobilnya yang terparkir di basement apartemen, Hendry kemudian menyalakan mobilnya dan pergi dari gedung apartemen itu.


Jam menunjukkan pukul 2 siang, jalanan cukup sepi. Mobil yang dikendarai Hendry sampai di perusahaan kurang dari 20 menit. Selain jalanannya yang sepi, Hendry juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Pikiran Hendry sedang kacau, pria itu sampai mengabaikan sapaan dari beberapa karyawannya. Jangankan menoleh ketika di sapa, telinga Hendry seolah tuli. Karyawan-karyawan itu juga seperti tak terlihat di mata Hendry. Pandangan matanya cukup tajam dan lurus ke depan.


"Siang Pak,," Sapa Darren yang sengaja menghampiri Hendry saat melihat atasannya itu akan masuk ke ruangannya.


Hendry hanya melirik sekilas, lalu membuka pintu untuk masuk ke dalam. Namun mengurungkan niat setelah mendengar ucapan Darren.


"Nyonya Julia datang ke perusahaan 2 jam yang lalu. Beliau meminta Tuan untuk segera menelfonnya." Ujar Darren yang berusaha menyampaikan pesan dari Julia walaupun suasana hati Hendry terlihat kacau.


Detik itu juga Hendry langsung merogoh ponsel dari saku celananya. Dia menghidupkan ponsel, tapi ternyata ponselnya mati. Sepertinya kehabisan baterai. Hendry juga tidak menyadari hal itu karna saat sampai di apartemen, dia membiarkan ponselnya tergeletak di atas meja.


...******...


Di tengah-tengah pikiran yang berkecamuk tentang gelagat mencurigakan suaminya, ponsel Julia tiba-tiba berdering. Wanita itu bergegas mengambil ponsel dan menerima panggilan dari suaminya itu. Mencoba untuk bersikap tenang, Julia tidak mau gegabah dengan menahan diri agar tidak lepas kendali. Karna kalau sampai langsung mencecar Hendry dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan, Julia takut Hendry akan semakin berhati-hati dalam bertindak. Bisa-bisa dia sulit menemukan kebenarannya kalau memang Hendry macam-macam di luar sana.


"Kenapa tidak bilang dulu kalau mau ke perusahaan.?" Tanya Hendry setelah menyapa dan menanyakan tentang Ale.

__ADS_1


"Aku ingin memberi kejutan, tapi malah terkejut karna kamu tidak ada di perusahaan dan ponselnya tidak bisa dihubungi." Sahut Julia dengan nada bicara setenang mungkin. Dia sudah yakin feelingnya tidak akan meleset. Perasaan seorang istri terkadang sesuai dengan kenyataan.


"Ada urusan mendesak dengan klien. Dan ponselku tiba-tiba mati. Aku akan pulang sekarang." Tutur Hendry.


Julia hanya bisa tersenyum kecut mendengar penjelasan Hendry yang sama sekali tidak meyakinkan. Bahkan sekretaris dan asisten pribadi Hendry saja tidak ikut, mana mungkin bertemu klien tanpa mengajak salah satu dari mereka. Julia semakin curiga saja dibuatnya, tapi berusaha untuk terlihat percaya.


"Baik, hati-hati di jalan. Aku dan Ale menunggu di rumah." Ujar Julia, lalu memutuskan sambungan telfonnya.


Enggan dibuat selalu curiga dan dihantui rasa penasaran, Julia lantas menghubungi seseorang.


"Hallo Justin, aku punya pekerjaan untukmu,,," Kata Julia setelah panggilan telfonnya terhubung.


Julia kemudian bicara lumayan lama dengan seseorang yang bernama Justin itu.


...*****...


4 hari setelah bertemu membahas soal pengalihan aset, Papanya tiba-tiba mengirimkan pesan yang membuatnya terkejut. Bella mendadak berfikir macam-macam walaupun sang Papa tidak mengatakan apapun soal keadaannya.


Dalam pesan yang di kirimkan oleh Papanya itu, Bella hanya diminta datang ke rumah sakit untuk menemuinya.


Sudah di telfon dan bertanya siapa yang sakit, Papanya itu malah menjawab tidak ada yang sakit. Katanya hanya ada sesuatu yang perlu di bahas di sana.


Tapi Bella tidak percaya begitu saja. Kalau memang hanya ingin membahas sesuatu, banyak tempat lain yang lebih baik untuk bertemu, untuk apa juga membahasnya di rumah sakit. Walaupun di dalam kamar VIP sekalipun.


Selesai bersiap dan memesan taksi, Bella bergegas keluar dari apartemen dengan wajah muram. Akhir-akhir ini Bella terlalu banyak berfikir. Memikirkan balas dendamnya yang justru semakin tidak terarah. Beberapa waktu lalu sudah sangat yakin bahwa dia bisa merebut Hendry dari Julia, tapi sekarang-sekarang ini malah pesimis.


Bella merasa Hendry mulai dilema, tidak bisa memilih antar dia dan Julia.

__ADS_1


Sekarang Hendry juga tidak memberinya kabar lagi setelah 4 hari membahas soal pernikahan. Hendry kembali menghilang bak ditelan bumi.


Orang yang biasa mengisi stok makanan dan membersihkan apartemen ini juga tidak pernah datang lagi. Sedangkan hanya Hendry yang bisa menyuruh orang tersebut. Itu artinya, Hendry juga tidak menghubungi orang tersebut.


...******...


Di sebuah kamar hotel bintang 5, tepatnya di Bali. Julia tengah memeluk dengan posesif tubuh kekar yang semalam mengajaknya ber cinta sampai pagi. Pria itu masih terlelap, tidak terusik meski sinar mata hari sudah mulai naik.


Sementara itu di box bayi yang terletak di sebelah ranjang besar mereka, ada balita gemuk nan menggemaskan yang masih tertidur juga.


Ini adalah hari ke 2 mereka bertiga liburan di Bali.


"Sayang,,," Bisik Julia seraya mengusap rahang Hendry mengunakan jemarinya. Setelah dibuat curiga berhari-hari, kini kecurigaan itu mulai pudar dengan sikap manis Hendry yang selalu di berikan oleh Hendry 4 hari terakhir.


Apalagi setelah Julia menyuruh seseorang untuk mengikuti Hendry dari keluar rumah sampai kembali ke rumah. Julia jadi percaya kalau Hendry memang tidak berbuat macam-macam di luar sana. Karna selama 2 hari gerak-gerik Hendry di awasi, Julia tidak me dapatkan laporan yang mencurigakan. Suaminya itu benar-benar hanya pergi kekantor, atau meeting di luar dengan klien, setelah itu kembali lagi ke kantor dan pulan ke rumah tepat waktu.


"Hemm,," Sahut Hendry tanpa membuka mata, namun tangannya menghentikan gerakan jari Julia di rahangnya. Gerakan itu cukup mengangguk karna terkesan sedang menggodanya.


"Sudah jam 8, apa tidak mau sarapan di luar.?" Tanya Julia manja. Julia kembali menggoda dengan satu tangannya lagi, menyusup ke balik selimut san mengusap perlahan perut sixpack Hendry.


"Hentikan Bella, apa semalam masih kurang." Gumam Hendry dengan suara serak khas bangun tidur. Pria itu belum sepenuhnya sadar, karna matanya juga masih terpejam. Sampai Hendry tidak sadar kalau dia salah menyebut nama.


Mata Julia membuat sempurna, seketika langsung menyingkirkan kedua tangannya dari perut dan wajah Hendry. Julia bahkan sampai membuat jarak, sampai Hendry membuka mata karna pergerakan Julia yang tiba-tiba.


Hendry semakin kebingungan melihat raut wajah istrinya yang tidak bersahabat, padahal tadi bicara dengan suara manjanya.


"Kamu bilang apa tadi.?!" Tegas Julia penuh selidik.

__ADS_1


__ADS_2