
Sudah 3 hari Hendry tidak pulang ke rumah karna memutuskan menempati apartemen miliknya yang sempat di tempati Bella. Selain ingin menghindari Julia, memilih tinggal di apartemen itu sebenarnya untuk mengurangi sedikit kerinduan Hendry pada Bella yang tak kunjung ditemukan keberadaannya.
Hendry bukan tidak mau berusaha mencari keberadaan Bella. Dia sudah menyusuri setiap cluster di kawasan perumahan dimana Bella terakhir diketahui ada disekitar sana. Tapi Hendry dan orang-orang suruhannya cukup kesulitan menemukan tempat tinggal Bella.
Entah benar atau tidak, Hendry merasa ada pihak yang terlibat di dalamnya. Pihak yang membuat Hendry dan orang suruhannya kesulitan melacak keberadaan Bella. Bukan hanya cctv di daerah itu saja yang tidak bisa Hendry lacak, tapi data penghuni di sana juga tidak bisa sembarangan Hendry dapatkan.
"Jangan menghukum ku terlalu lama, aku merindukanmu dan anak-anak,," Lirih Hendry seraya memeluk batal yang sudah disemprot parfum milik Bella.
Hendry merasa bersyukur ketika mengetahui bahwa Bella meninggalkan beberapa barang pribadinya di apartemen, termasuk 1 botol parfum milik Bella yang masih utuh.
Sudah 3 hari terakhir Hendry selalu menyemprotkan parfum milik Bella di bantalnya sebelum tidur. Semua itu Hendry lakukan untuk mengurangi sara rindu pada sosok wanita yang tengah mengandung buah hati mereka.
Saat akan memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya berdering. Hendry langsung bangun untuk mengambil ponsel di atas nakas. Ekspresi wajahnya tampak tegang ketika melihat nama seseorang menghubunginya.
"Jangan coba-coba memberikan informasi tidak berguna lagi.!" Sentak Hendry begitu mengangkat panggilan telfonnya. Dia sudah sangat geram dan emosi dengan kinerja orang suruhannya yang terkesan lambat dan tidak becus dalam mencari tau keberadaan Bella.
"Saya sudah mendapatkan nomor rumahnya, Tuan." Ujar seseorang diseberang sana. Ekspresi wajah Hendry langsung berubah lebih santai dan tenang.
"Kirimkan alamatnya ke nomorku, sekarang.!" Tegas Hendry yang buru-buru memutuskan sambungan telfonnya karna sudah tidak sabar ingin mengetahui alamat rumah yang di tempati oleh Bella sejak beberapa hari lalu.
...*****...
Di sebuah club malam, seorang wanita dalam pengaruh alkohol sedang meliuk-liukkan tubuh seksinya mengikuti dentuman musik yang menggema. Dalam kondisi pencahayaan remang-remang, kedua tangannya bergelayut di leher seorang pria.
Pemandangan itu membuat sang pria tidak tahan, apalagi belahan dada si wanita cukup rendah, memperlihatkan bongkahan menggoda yang sejak dulu membuatnya candu untuk menye sap dan memainkannya.
"Rexy.!! Singkirkan tanganmu.!" Sentaknya saat merasakan salah satu asetnya di re mas kuat dari balik kain yang menutupinya.
"Ayolah Julia, aku sudah tidak tahan lagi." Rexy berbisik, lalu dengan sengaja menggigit kecil dan melu mat telinga mantan kekasihnya itu.
Sejak pertemuan terakhir kali di Paris beberapa bulan lalu, Rexy tidak bisa move on dari lekuk tubuh seksi Julia. Jujur saja, Julia 8 tahun lalu dengan Julia yang sekarang, sangat berbeda. Mulai dari fisiknya, rasanya, bahkan gaya ber cintanya yang mengalami banyak kemajuan. Hal itu membuat Rexy terus terbayang-bayang dengan Julia dan memutuskan terbang ke Indonesia demi menemui wanita itu untuk menghabiskan malam bersama di atas ranjang.
Tidak peduli dengan status Julia yang merupakan istri orang lain, lagipula Julia juga tidak menolak saat di ajak bertemu untuk ber cinta beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Tubuh Julia menegang akibat ulah Rexy yang menyentuh titik sensitifnya. Merasakan hal itu, Rexy justru kembali memberikan rangsangan di sekitar leher Julia. Sampai akhirnya bibir Julia mengeluarkan desa'han - desa'han kecil.
Tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan hanya bercumbu di keramaian tanpa bisa berbuat lebih, Rexy memilih menggendong tubuh Julia dan membawanya ke salah satu kamar.
Sampainya di kamar, Rexy menjatuhkan tubuh Julia di atas ranjang. Wanita itu tampak meracau tidak jelas karna dalam pengaruh alkohol.
Dalam keadaan Julia yang setengah sadar, Rexy mengajak mantan kekasihnya itu untuk merengkuh kenikmatan, menghabiskan malam bersama dengan bertukar keringat dan cairan yang lain.
Hanya dalam hitungan menit, suara desa'han sudah memenuhi kamar tersebut. Pakaian keduanya tampak berserakan di lantai. Rexy beberapa kali mengeram nikmat, merasakan service Julia yang tidak tanggung-tanggung.
Sampai pukul 1 pagi, keduanya masih mengulangi percintaan panas itu lagi. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya. Seolah tidak ada puasnya.
Rexy bahkan sudah menghabiskan beberapa pengaman yang sengaja dia siapkan saat akan bertemu dengan Julia.
Dia hanya ingin bersenang-senang dengan tubuh Julia, jadi tidak sebisa mungkin menghindari kehamilan agar tidak diminta bertanggungjawab.
...*****...
Pagi-pagi sekali, Hendry sudah bersiap untuk mendatangi alamat yang dia dapatkan dari orang suruhannya. Sebenarnya tadi malam Hendry bisa saja langsung pergi ke rumah Bella setelah mendapatkan alamat rumah tersebut. Tapi karna saat itu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan kemungkinan Bella sudah tidur, alhasil Hendry mengurungkan niatnya untuk pergi kesana karna takut menganggu waktu istirahat Bella.
Setelah kurang lebih 1 jam menempuh perjalanan, Hendry akhirnya sampai di depan sebuah rumah lantai 3 bergaya eropa yang dinominasi cat warna putih dengan beberapa pilar besar di depannya.
Pria itu bergegas turun dari mobilnya, berjalan mendekati gerbang menjulang tinggi yang tampak di jaga oleh dua orang di pos security.
Saat Hendry mendekat, dua orang itu langsung siap siaga. Mereka menunjukkan kewaspadaannya begitu melihat Hendry yang memang sedang di hindari oleh anak majikannya tersebut.
"Ada kepentingan apa Pak.?" Tanya Felix yang berlagak tidak mengenali Hendry.
"Biarkan aku masuk, aku harus bertemu Bella." Tegas Hendry.
"Anda mungkin salah alamat. Tidak ada yang bernama Bella di rumah ini." Sangkal Leon cepat.
Hendry berdecak sinis, mana mungkin dia salah alamat. Bahkan Hendry mengenali bodyguard itu meski hanya melihatnya dari rekaman cctv.
__ADS_1
"Aku sedang tidak main-main.! Cepat buka gerbangnya.!" Hendry mulai geram karna berusaha di halangi bertemu Bella.
Leon dsn Felix saling pandang, lalu salah satu dari mereka merogoh ponsel untuk menghubungi pihak keamanan di sana.
"Ada orang asing yang berbuat onar di rumah majikan kami, kenapa kalian membiarkannya masuk.!" Seru Leon tegas. Dia kemudian meminta pihak keamanan untuk datang dan mengusir Hendry.
Mendengar hal itu, Hendry jelas tidak terima.
"Jangan membuatku kehilangan kesabaran.!" Sentaknya.
Leon dan Felix hanya diam saja, mereka mengabaikan kemarahan Hendry dan memilih menunggu petugas keamanan yang akan mengusir Hendry.
"Leon,, Felix.!!!" Suara teriakan terdengar dari kejauhan. Ketiganya kompak menatap ke sumber suara. Dilihatnya Bik Lastri setengah berlari keluar rumah menghampiri pos security.
"Nona Bella,, Nona Bella pingsan.!!" Serunya dengan wajah panik dan tampak berkeringat.
"Apa.?!!" Semua orang mendadak ikut panik, terlebih Hendry.
"Sebaiknya kita bawa Nona Bella ke rumah sakit." Kata Felix.
"Leon, siapkan mobil.!" Titahnya dan hendak beranjak ke dalam rumah, tapi teriakan Hendry membuat mereka menghentikan langkah.
"Buka gerbangnya.!! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Bella, aku tidak akan melepaskan kalian.!!" Ancamnya penuh amarah.
Beberapa saat saling pandang tanpa ada respon, sampai akhirnya Bik Lastri menyuruh Leon membukakan gerbangnya.
"Buka saja, sepertinya Nona Bella harus di pertemukan dengan Tuan Hendry." Lirih Bik Lastri.
Dia seolah bisa merasakan keinginan Bella beberapa hari terakhir, yang membuat anak majikannya itu selalu murung dan tidak nafsu makan.
Kini mereka sudah berada di kamar Bella. Hendry langsung mendekap tubuh lemas Bella yang tidak berdaya. Saat akan menggendongnya, tiba-tiba Bella membuka mata.
"Ambilkan air hangat dan panggilkan dokter sekarang juga.!" Titah Hendry. Dia mengurungkan niat membawa Bella ke rumah sakit karna Bella sudah sadar.
__ADS_1
Bik Lastri langsung ke dapur untuk mengambil air, lalu Bik Dina yang menghubungi dokter.
Kini di dalam kamar tersebut hanya tinggal Hendry dan Bella saja. Suasananya mendadak hening. Keduanya hanya saling menatap tanpa mengatakan apapun, masih sibuk dengan pikiran masing-masing.