Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 59


__ADS_3

Di antar Arlan, Bella memasuki rumahnya. Beberapa penjaga rumah dan bodyguard tampak mencemaskan keadaan Bella setelah 1 hari tidak mengetahui kondisinya secara langsung. Bella cuma memberikan kabar lewat telfon, mengatakan kalau dia baik-baik saja. Lalu meminta semua orang agar tidak memberitahukan hal tersebut pada Papanya.


Sekarang Bella pulang ke rumah karna harus mengambil beberapa barang pribadinya, untuk di bawa ke tempat tinggal yang baru. Tempat dimana dia bisa menjauh dari Hendry maupun Julia. Bukan untuk lari dari masalah, bukan.!


Bella hanya menginginkan ketenangan dengan pindah tempat tinggal, berharap bisa segera menemukan solusi terbaik atas masalah yang sedang dia hadapi saat ini.


"Tapi Nona, saya tidak mau mengambil resiko. Tuan pasti akan memecat kami kalau sampai tau Nona Bella meninggalkan rumah ini." Ungkap salah satu penjaga rumah di sana saat Bella mengutarakan keinginannya untuk tinggal di tempat lain, meski Bella sudah memberi tahu dimana dia akan tinggal. Bahkan keberadaan Arlan di sana juga tidak membuat penjaga rumah dan bodyguard itu menyetujui keinginan Bella.


Padahal mereka tau siapa Arlan, seorang pengusaha muda yang cukup dekat dengan Baskoro tentunya.


"Bukankah aku sudah meminta agar kalian tutup mulut sampai Papa sehat dan kembali ke Indonesia. Kecuali kalau kalian memang sengaja memberi tau Papa." Sahut Bella dingin.


"Yang terpenting aku masih dalam pengawasan dan penjagaan kalian bukan.?" Tegasnya yang mulai sedikit kesal.


Arlan menyentuh lembut bahu Bella seraya melempar tatapan teguh dan memberi kode agar Bella lebih tenang.


"Saya yang akan bertanggungjawab jika Om Baskoro menyalahkan atau akan memecat kalian. Semua ini demi kebaikan Bella dan Om Baskoro. Orang-orang itu bisa saja datang ke rumah ini setiap hari untuk mencari Bella. Memang lebih baik Bella tinggal di tempat lain untuk sementara." Tutur Arlan mencoba memberikan penjelasan agar mereka lebih mengerti situasinya.


Bodyguard yang ditugaskan menjaga Bella tampak saling pandang. Leon kemudian menganggukkan kepala pada Felix, bertanda dia menyetujui keinginan Bella.


"Baik, tapi kami berdua akan berjaga di sana 24 jam. Lalu membawa 2 ART dari rumah ini untuk menemani Nona Bella dan mengurus rumah." Ucap Leon. Dia menyetujuinya dengan beberapa syarat.


Bella menunjukkan ekspresi tidak setuju, takut mereka akan menyadari kehamilannya jika tinggal dalam 1 rumah.


Karna meski sudah memberi tahu situasinya, Bella tidak jujur soal hubungan gelapnya dengan Hendry ataupun tentang kehamilannya.


"Tidak apa, itu juga demi kebaikan kamu." Lirih Arlan yang seolah tau kekhawatiran Bella.


Bella menoleh dengan ekspresi bingung, setelah itu mengangguk pasrah pada Leon.


Sore itu juga, Bella segera meninggalkan rumah setelah barang pribadinya selesai di packing.


Masih di antar oleh Arlan, keduanya berada di dalam satu mobil. Sedangkan 2 bodyguard dan 2 ART ada di mobil lain, mengikuti mobil Arlan.


...*******...

__ADS_1


Sementara itu, sedang terjadi keributan besar di rumah sakit. Tepatnya di ruang rawat inap yang bari di tinggalkan oleh Bella 3 jam lalu. Hendry sedang meluapkan amarahnya pada Dokter, beberapa perawat, dan petugas rumah sakit karna mereka membiarkan Bella keluar dari rumah sakit tanpa meminta persetujuan darinya.


"Rumah sakit sebesar ini, bagaimana bisa melakukan kecerobohan.!" Maki Hendry dengan amarah yang bercampur kepanikan.


"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Bella dan kedua anakku, aku pastikan akan menutup rumah sakit ini.!" Ancamnya tidak main-main.


"Maaf Tuan, tapi orang itu mengaku sebagai keluarga pasien, Beliau,,,"


"Kalian lupa siapa yang membawa Bella ke rumah sakit ini dan menandatangani beberapa berkasnya.!" Sela Hendry sebelum Dokter itu menyelesaikan ucapannya.


Semua orang mendadak tertunduk lesu. Mereka hanya bisa pasrah menerima kemarahan dan ancaman dari Hendry.


"Dalam waktu 24 jam, kalau sampai aku tidak berhasil menemukan keberadaan Bella, rumah sakit ini akan aku tuntut.!" Hendry kembali memberikan ancaman, lalu bergegas keluar dari ruangan itu.


Selepas kepergian Hendry, semua orang di dalam ruangan itu mendadak saling melempar kesalahan. Tidak ada yang mau mengakui kesalahannya, karna memang mereka juga mendapat tekanan dari Bella dan pria yang mengaku sebagai Kakaknya.


...******...


Braaakkk.!!


Hendry membanting pintu mobil dengan kasar. Dia duduk di depan kemudi dan mencengkram stir. Dia sudah menahan diri untuk tidak mengamuk di ruang VIP itu. Kini meskipun sudah meluapkan amarahnya dengan perkataan, Hendry masih di selimuti emosi.


Hendry kemudian merogoh ponsel, dia tampak menghubungi seseorang.


"Cek semua rekaman cctv di rumah sakit internasional dan jalanan di sekitarnya, temukan keberadaan mobil yang membawa Bella pergi dari rumah sakit.!" Titahnya tegas.


Setelah di sanggupi oleh seseorang di seberang sana, Hendry langsung memutuskan sambungan telfonnya.


Dengan perasaan yang berkecambuk dan diselimuti kekhawatiran, Hendry meninggalkan basement rumah sakit.


...******...


Di saat Hendry memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Julia dan kini sedang cemas memikirkan keberadaan serta kondisi Bella, hal sebaliknya justru di lakukan oleh Julia.


Wanita itu mendatangi kediaman orang tua Hendry sambil berderai air mata, menjual kesediaannya untuk mendapatkan simpati dsn dukungan dari mertuanya agar rumah tangannya dengan Hendry bisa diselamatkan.

__ADS_1


"Julia, tenang dulu. Sebenarnya ada apa.?" Tanya Farah bingung. Menantunya itu tiba-tiba datang, lalu langsung memeluknya sambil menangis pilu.


"Jangan membuat Mama takut." Ujarnya lagi.


Farah sudah berfikir negatif saja, takutnya terjadi sesuatu dengan Hendry ataupun Ale, karna Julia datang sendirian.


"Ada apa ini.?" Sudibyo tak kalah bingung melihat istrinya di peluk oleh Julia yang sedang menangis.


Faraj menggeleng sebagai jawaban, dia juga belum tau karna Julia masih menangis.


"Sini duduk dulu. Katakan sesuatu, jangan buat kami khawatir." Farah menuntun menantunya agar duduk di sofa.


"Bella Mah, Bella menggoda Hendry. Mereka berselingkuh sejak 2 bulan yang lalu." Tutur Julia sambil terisak.


Farah dan Sudibyo sampai syok mendengarnya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, anak yang selama ini mereka didik dengan baik dan tidak pernah menyakiti siapapun, tiba-tiba terkena kasus perselingkuhan. Rasanya sulit untuk di percaya. Mereka tau betul karakter Hendry, anaknya itu tipe orang yang setia. Jadi mana mungkin bisa selingkuh, apalagi dengan adik iparnya sendiri.


Farah dan Sudibyo juga mengenal Bella dengan baik. Di mata mereka, Bella anak yang baik, memiliki kepribadian dan adab yang bagus.


Lalu bagaimana bisa Farah dan Sudibyo bisa percaya keduanya berselingkuh.


"Julia, jangan asal mengambil kesimpulan seperti itu tanpa bukti. Mungkin kamu salah paham." Ucap Farah lembut.


Julia sangat geram mendengarnya. Mertuanya bicara seperti itu seolah tidak mempercayai ucapannya, atau mungkin menganggap Bella dan Hendry terlalu baik sampai tidak mungkin berselingkuh.


Tapi Julia juga tidak bisa memberikan bukti, karna barang bukti satu-satunya sudah di hancurkan oleh Hendry.


"Salah paham.? Aku bahkan memergoki Mas Hendry datang ke apartemen Bella. Mereka berdua juga sudah mengakuinya, dan sebentar lagi Hendry akan menceraikan ku demi wanita tidak tau diri itu." Tutur Julia tanpa berhenti mengeluarkan air matanya.


Farah dan Sudibyo saling pandang. Mau tidak percaya, tapi Julia sampai membawa-bawa perceraian. Kalau salah paham, rasanya tidak mungkin.


"Papa akan menghubungi Hendry dan memintanya datang kesini." Sudibyo beranjak dari ruang keluarga, dia pergi kamar untuk menghubungi Hendry menggunakan ponselnya.


Julia tersenyum lega melihat tindakan Papa mertuanya. Kemudian Julia kembali beralih pada Farah dengan memasang wajah sedih.


"Aku tidak mau cerai Mah, bagaimana nasib Ale kalau kedua orang tuanya berpisah." Rengeknya.

__ADS_1


"Tolong bujuk Hendry agar tidak menceraikan ku demi wanita penggoda seperti itu." Julia memohon, lalu tangisnya kembali pecah.


Farah hanya bisa memijat pelipisnya, kepalanya mendadak pusing mendengar kabar mengejutkan ini. Untung saja jantungnya masih sehat.


__ADS_2