Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 76


__ADS_3

Bella mengantar Hendry sampai ke depan pintu. Sudah jam 9 malam, Hendry memutuskan pulang setelah 4 jam menemani Bella di rumah. Tepatnya sejak pulang dari perusahaan sore tadi.


"Sudah malam, nanti langsung tidur saja." Pesan Hendry sambil mengusap sebelah pipi Bella dengan tatapan sayang. Perut Bella juga tidak luput dari usapan tangan Hendry.


Bella mengangguk patuh. Niatnya memang mau tidur setelah mengantar Hendry. Bella sudah kelihatan lelah dan mengantuk karna sejak pagi berada di kantor hingga sore, lalu dari sore sampai jam 9 malam tadi, dia mengobrol dengan Hendry.


Hendry lantas membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan perut Bella. Matanya selalu berbinar setiap kali membayangkan di dalam perut itu ada 2 darah dagingnya sekaligus.


Hendry cukup excited menunggu hari persalinan itu tiba, dia penasaran seperti apa rupa kedua anaknya kelak.


"Daddy pulang dulu. Selamat tidur anak-anak Daddy." Hendry mengusap dan mendaratkan kecupan di perut Bella.


Bella tidak protes, justru memejamkan matanya seolah merasakan kehangatan atas perhatian Hendry dan perlakuan manis Hendry pada anak-anaknya.


Sejak awal sudah berniat membawa pergi kedua anaknya dari kehidupan Hendry. Namun keadaan justru membuat Bella tidak bisa jauh dari pria tersebut. Karna hormon kehamilan, Bella selalu ingin menempel pada Hendry. Kedua anaknya seperti tidak rela berpisah dari ayah mereka.


...*****...


Suara bising di bawah menghentikan langkah Bella yang baru saja akan masuk ke dalam kamarnya setelah mengantar Hendry ke depan.


Bella pikir Hendry kembali lagi, mungkin karna ada barang yang tertinggal. Bella akhirnya turun lagi ke bawah.


"Papa.?" Lirih Bella melihat Baskoro bersama 3 orang memasuki rumah. Beberapa asisten juga menyambut kedatangannya. Tidak heran kalau Bella mendengar suara bising di lantai bawah.


Sudah terlanjur menuruni tangga, Bella terpaksa menghampiri Papanya meski harus menahan kegugupan. Dia gugup lantaran menyembunyikan masalah besar dari Papanya.


"Pah,," Bella memeluk Baskoro, di tengah-tengah rasa gugup yang menyelimuti, Bella cukup lega melihat keadaan sang Papa sudah sehat.


Baskoro tersenyum melihat putrinya baik-baik saja. Selama berada di Amerika, dia tetap mencemaskan Bella walaupun sudah menyuruh orang untuk menjaga Bella.


"Kenapa tidak bilang kalau pulang malam ini.? Harusnya aku ikut menjemput Papa di bandara." Protes Bella sambil melepaskan pelukannya.


Baskoro mengusap sayang pucuk kepala Bella, matanya tampak berbinar melihat wajah putrinya lebih bulat dari terakhir kali mereka bertemu.

__ADS_1


Baskoro menyangka kalau putrinya makan dengan baik dan menikmati hidupnya akhir-akhir ini. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Bella sedang mengandung dua cucu Baskoro sekaligus. Jadi tidak heran kalau berat badan Bella bertambah hanya dalam kurun waktu beberapa minggu saja.


"Papa tidak mau menganggu waktu istirahat kamu." Baskoro merangkul pundak putrinya dan mengajaknya naik ke lantai atas.


Sementara itu, orang-orang yang tadi datang bersama Baskoro, mereka bubar untuk berjaga di rumah dan menjalankan tugasnya masing-masing.


Ayah dan anak itu sekarang tengah duduk berdua di lantai atas. Baskoro minta di temani mengobrol sebelum mereka masuk ke kamar masing-masing. Bella menyanggupi, meski jantungnya bergemuruh lantaran takut.


Memang Bella sudah menyuruh semua orang tutup mulut demi kesehatan Papanya. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa Papanya tidak tau apapun soal kehamilannya dan hubungan terlarangnya dengan Hendry.


Hanya itu yang Bella takutkan.


"Selama 29 tahun Papa di bohongi oleh Natalie." Ujar Baskoro. Wajahnya yang tenang, tidak bisa menutupi kekecewaan dari sorot matanya.


Baskoro tidak pernah menyangka sejak awal pernikahan, Natalie sudah berhubungan dengan pria lain sampai Natalie melahirkan seorang anak dari pria itu.


Anak yang sejak masih dalam kandungan selalu mendapatkan cinta dari Baskoro, terlebih ketika sudah terlahir ke dunia. Menjadi putri tunggal karna Natalie tidak bisa hamil lagi setelah melahirkan Julia, membuat Baskoro begitu meratukan putrinya. Memberikan apapun yang Julia inginkan dan difasilitasi segala kemewahan.


"Seandainya waktu bisa di putar, Papa ingin memberikan hak yang seharusnya pada kamu dan Selena." Ucapnya dengan suara yang bergetar menahan sesak.


Karna saat itu Baskoro tidak mengharapkan kehadiran wanita dan anak kandungnya sendiri, dia mengabaikan Selena dan Bella. Membedakan keduanya tanpa mem fasilitas yang sama.


Kini Baskoro selalu merasa berdosa pada Selena dan Bella setelah mengetahui bahwa Natalie berkhianat sejak awal pernikahan mereka sampai memiliki anak dari pria itu.


Seharusnya Selena dan Bella tidak mengalami banyak penderitaan dan hinaan dari keluarga besar Baskoro, karna pada kenyataan Natalie yang lebih hina dan membohongi semua orang.


"Maafkan Papa,,"


Bella menggeleng, dia memang pernah kecewa pada Papanya, tapi Bella cukup tau diri. Dia dan Ibunya sudah diberikan tempat tinggal yang layak saja sudah sangat bersyukur, walaupun semua keluarga Baskoro dan Natalie menatap dia dan Ibunya dengan tatapan hina.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, ini bukan salah Papa." Jawab Bella seraya memeluk Papanya dan diam-diam meneteskan air mata.


Dia yang seharusnya minta maaf karna sudah mengecewakan sang Papa. Namun Bella belum punya keberanian untuk mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"Yang terpenting saat ini aku dan Papa baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup."


Baskoro membalas pelukan Bella dan mengusap sayang punggung putrinya.


Sifat Selena menurun pada putri mereka, Bella memiliki hati yang lembut.


Selena pun dulu memaafkan kesalahan Baskoro walaupun sebenarnya bisa melaporkan Baskoro ke polisi atas tindakan pemer kosaan. Namun Selena lebih memilih untuk menghilang dari hadapan Baskoro, sampai akhirnya Baskoro mengetahui bahwa wanita yang dia per kosa mengandung darah dagingnya. Saat itu juga Baskoro memaksa Selena agar mau menikah dengannya.


Kini setelah semua kekacauan ini terjadi, Baskoro tidak akan ragu lagi untuk memberi hukuman pada Natalie dan selingkuhannya itu.


...******...


Sore itu terjadi keributan di luar rumah. Beberapa penjaga dan bodyguard sampai berkumpul di dekat pos keamanan. Mereka sudah berusaha mengusir, tapi orang itu tidak mau pergi dan terus berteriak memanggil Bella.


"Cepat panggil Bella.!! Panggil wanita sialan itu.!!" Sentak Julia dengan wajah memerah.


Dia mengamuk lantaran kehilangan kabar Mamanya. Di rumah utama pun tidak ada yang tau kemana Mamanya pergi.


Bella yang baru pulang dari perusahaan, terpaksa keluar menemui Julia. Begitupun dengan Baskoro yang mendengar suara keributan di luar.


"Julia, jangan membuat keributan disini." Tegur Baskoro. Dia menatap wanita berusia 28 tahun yang selama ini dia kira darah dagingnya.


Tidak bisa di pungkiri, Baskoro cukup sakit setelah dihadapkan dengan Julia.


Rasanya dia kehilangan harga dirinya sebagai suami karna membesarkan anak dari pria lain yang dia kira darah dagingnya sendiri.


Julia berdecak sinis.


"Kebetulan sekali Papa sudah kembali. Apa Papa sudah tau kalau Bella menggoda Hendry.! Gara-gara wanita sialan itu juga, Hendry sampai menceraikan ku.!!" Teriak Julia penuh amarah.


Saat itu juga Baskoro langsung menoleh pada Bella yang berdiri di sampingnya.


...***...

__ADS_1


Yang punya instagram, boleh follow akun othor ( Clarissa_ichaa )


__ADS_2