Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 84


__ADS_3

Baskoro menahan tawa melihat wajah kusut menantunya. Dia bisa menebak bahwa rencananya menggagalkan malam pengantin Hendry berhasil. Kalau gagal, mana mungkin wajah Hendry sekusut itu. Kalau di perhatikan lagi, Bella juga lebih banyak diam dan sedikit menjaga jarak dengan Hendry. Baskoro bisa mengerti, istri mana yang tidak kesal karna di tinggal suaminya mengobrol sampai larut malam di malam pengantin mereka.


Hal itu membuat Baskoro tidak bisa menahan diri, akhirnya pria paruh baya itu senyum-senyum sendiri sambil menyantap sarapannya.


Tanpa sadar Baskoro merasa terhibur, di tengah-tengah permasalahan yang sedang dia alami. Mengerjai menantunya membuat Baskoro senang. Asal jangan tiap hari saja, bisa-bisa Hendry di amuk Bella.


Hendry sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mertuanya. Memang sejak semalam Hendry sudah menangkap sinyal-sinyal yang tidak beres dari mertuanya itu. Sekarang kecurigaannya semakin terbukti ketika melihat Papa mertuanya senyum-senyum sendiri seperti sangat puas menertawakan sesuatu.


"Bisa-bisanya mengerjaiku." Rutuk Hendry dalam hati. Dia lantas melirik istrinya, Bella masih badmood. Di ajak bicara tidak mau. Sepertinya bumil yang satu itu sedang menguji kesabaran Hendry. Semoga saja kesabaran Hendry tidak setipis tisu.


"Papa akan menjual rumah utama dan menempati rumah ini." Ucap Baskoro selesai menghabiskan makanannya.


Bella dan Hendry kompak menatap Baskoro.


Keduanya tau bagaimana sejarah rumah itu, terlebih Bella. Dia tau sudah puluhan tahun Papanya tinggal di sana. Ada banyak kenangan Baskoro bersama Natalie dan Julia, tapi Papanya itu tidak ragu-ragu menjual rumah utama.


Mungkin kecewa karna rumah itu dijadikan tempat perselingkuhan Natalie dengan ayah biologis Julia.


Bella mengangguk setuju, dia juga tidak keberatan Papanya tinggal di rumah ini. Toh rumah ini juga di beli pakai uang Papanya, walaupun sudah atas nama Selena.


"Kalian sudah memikirkan mau tinggal dimana.?" Tanya Baskoro. Dia tidak akan memaksa Bella dan Hendry untuk tinggal dengannya walaupun sebenarnya ingin. Mengingat statusnya sudah duda, dan anaknya juga cuma Bella, sudah pasti Baskoro akan kesepian kalau Bella dan Hendry tidak tinggal dengannya.


Bella menatap Hendry, dia seperti menyerahkan keputusan pada sang suami. Karna Bella paham, wanita yang sudah menikah harus ikut kemanapun suaminya tinggal. Meski dalam hati kecilnya berharap bisa tinggal bersama Papanya.


Sekalipun Papanya masih kelihatan gagah di usia 55 tahun, tapi tidak tega juga membiarkan Papanya tinggal sendiri hanya dengan pekerja rumah dan asisten rumah tangga.


Mendapat tatapan pasrah dari Bella, Hendry merasa punya kesempatan untuk mengajak Bella tinggal dengannya di rumah baru. Kalau sudah menikah,lebih baik memang pisah rumah dengan mertua ataupun orang tua. Kalau tidak mau kejadian semalam terulang lagi. Terlebih Hendry menyadari kalau mertuanya cukup jahil. Kalau memilih tinggal bersama, bisa-bisa dia jarang *** - *** dengan Bella karna dikerjai terus oleh Papa mertuanya.


Lebih baik Hendry modal bahan bakar mobil agar Bella bisa bolak-balik mengunjungi mertuanya seminggu 3 kali. Daripada harus tinggal bareng mertua. Lagipula hanya mengeluarkan uang untuk beli bahan bakar tidak akan membuat Hendry miskin. Uangnya sangat banyak, sampai tidak ber seri.


"Aku sudah menyuruh asisten ku untuk mencari rumah baru." Jawab Hendry sambil melirik Bella, takutnya Bella tidak setuju dengan rencananya. Tapi yang di lirik tampak biasa saja, tidak menunjukkan reaksi apapun. Sepertinya sudah pasrah kalau soal tempat tinggal.

__ADS_1


"Papa tidak masalah kalau kamu ingin membawa Bella keluar dari rumah ini, asal penjagaan di rumah kalian harus ketat. Kita tidak pernah tau, mungkin saja ada yang sedang merencanakan kejahatan." Tutur Baskoro.


Hendry mengangguk paham. Dia pasti akan melindungi Bella dan anak-anaknya, memastikan mereka semua aman dalam pengawasannya.


"Bella ke atas dulu Pah, Mas,," Bella langsung beranjak dari duduknya setelah pamit pada Baskoro dan Hendry.


Wajah dingin Bella sempat terekam oleh indera penglihatan Hendry, membuat pria itu menelan ludah susan payah. Sepertinya akan ada drama ratusan episode untuk mengembalikan mood bumil yang berantakan.


Enggan membuat kesalahpahaman berlarut-larut, Hendry memilih menyusul Bella. Dia beranjak dari kursi sembari pamit pada Papa mertuanya.


"Tunggu dulu, kenapa buru-buru.?" Cegah Baskoro sebelum menantunya pergi dari ruang makan.


"Papa belum selesai bicara." Ujarnya.


Hendry menatap curiga pada Papa mertuanya. Sepertinya pria paruh baya itu ingin mengerjainya lagi dengan tidak memberinya kesempatan untuk berduaan bersama Bella.


"Maaf Pa, aku ingin berduaan dengan Bella." Jawab Hendry sedikit tengil. Dia tidak ragu untuk menentang perintah Baskoro kali ini.


Hendry tidak meneruskan ucapannya karna kedua mata Baskoro melotot tajam.


"Dasar menantu kurang ajar.!" Gerutu Baskoro dengan kedua mata yang masih melotot.


Hendry malah terkekeh dan buru-buru pergi sebelum di amuk oleh mertuanya.


Baskoro hanya geleng-geleng kepala. Dia tidak tersinggung sama sekali dengan perkataan Hendry karna tau menantunya hanya bercanda. Karna niat jahilnya seperti bisa di baca oleh Hendry.


...*****...


Hendry mengetuk pintu kamar sebelum masuk, tapi tidak melihat keberadaan Bella di sana. Hendry tetap masuk dan mengunci pintunya.


Tak berselang lama, Bella keluar dari kamar mandi. Keberadaan Hendry di sofa hanya di lirik sekilas oleh Bella. Wanita itu malah berjalan ke arah pintu balkon kamar.

__ADS_1


Buru-buru Hendry menyusulnya. Bella menoleh kebelakang karna merasa di ikuti, tapi tidak bereaksi apapun ketika melihat Hendry mengekor di belakangnya.


"Saat ini Papa mu pasti sedang tertawa senang karna berhasil mengerjai ku." Ucap Hendry.


"Mas Hendry jangan menuduh Papa. Apa susahnya jujur, bilang saja Mas Hendry tidak mau tidur satu ranjang denganku." Jawab Bella dengan bibir cemberut. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca, dia meras tersinggung dan sakit hati ketika melihat Hendry lebih memilih tidur di sofa daripada tidur di ranjang yang masih luas.


Mungkin karna efek hamil, Bella merasa lebih sensitif.


Tapi kalau di pikir-pikir, istri mana yang tidak tersinggung saat melihat suaminya tidur di sofa. Padahal jelas-jelas ranjangnya masih luas.


"Memang kenyataannya Papa mengerjaiku semalam." Ucap Hendry sambil memeluk Bella dari belakang. Keduanya sudah berdiri di balkon yang menghadap taman samping rumah.


"Papa terus mengajakku bicara sampai tengah malam. Saat aku ke kamar, kamu sudah tidur pulas. Aku sebenarnya sudah tidur di sampingmu, tapi si Jonny tidak tahan. Daripada aku membangunkan kamu tengah malam dan mengajak ber cinta, lebih baik aku mengamankan Jonny dengan tidur di sofa." Jelas Hendry panjang lebar.


"Aku benar-benar tidak tega kalau harus membangunkan mu tengah malam." Lanjutnya ketika belum ada tanggapan dari Bella.


Bella kemudian berbalik badan. Dia ingin percaya pada Hendry, tapi tidak yakin kalau Papanya bisa sejahil itu. Selama ini dia mengenal Papanya sebagai sosok yang serius dan tegas. Rasanya sulit percaya kalau Papanya bisa menjahili Hendry.


"Sejak kapan Papa bisa jahil." Ujar Bella.


Hendry mengangkat kedua bahunya, dia juga tidak tau.


"Mungkin hanya iseng saja, ingin membalasku karna sudah menghamili putrinya sebelum menikah." Jawab Hendry sedikit bercanda.


Bella tampak berfikir, itu sedikit masuk akal. Daripada menghajar Hendry untuk melupakan kekecewaan, Papanya lebih memilih mengerjai Hendry.


Melihat Bella diam saja dan raut wajahnya tidak sedingin tadi, Hendry lantas merengkuh pinggang Bella mendekatkan wajah ke telinganya.


"Aku sudah menunggu sejak semalam, mau ber cinta tidak.?" Bisik Hendry tanpa basa-basi.


Pipi Bella langsung merona, wajah seketika menghangat karna bisikan maut dari suaminya.

__ADS_1


Tidak perlu di tanya apa yang selanjutnya terjadi. Karna setelah Hendry berbisik, kedua sejoli itu langsung masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu balkon serta menutup tirai.


__ADS_2