
Baskoro tidak muncul lagi setelah meninggalkan Hendry dan Bella berdua di ruang kerja. Pria paruh baya itu sedang menangkan diri di dalam kamarnya. Baskoro masih syok, sulit menerima kenyataan yang sudah terjadi di depan mata.
Kehidupannya terjerat banyak masalah akhir-akhir ini. Mulai dari terbongkarnya asal-usul Julia, kebohongan Natalie, perlakuan buruk Natalie dan Julia pada Bella. Seolah belum cukup di terjang masalah, kini Baskoro harus dihadapkan dengan scandal perselingkuhan antara Bella dan Hendry.
Beruntung kondisi Baskoro sudah pulih paska melakukan pengobatan sakit jantung di Amerika. Seandainya belum di tangani dan harus mendengar kenyataan buruk tentang putrinya, entah bagaimana kondisi Baskoro saat ini. Ada kemungkinan hanya tinggal nama karna terlalu syok dan kecewa berat.
Pasalnya tidak ada yang bisa di harapkan lagi oleh Baskoro selain Bella, putri kandung stau-satunya.
Jadi Baskoro sudah terlanjur menaruh harapan besar pada Bella. Kenyataan bahwa Bella hamil di luar nikah oleh kakak iparnya sendiri bisa membuat nama baiknya tercoreng. Belum lagi bisa berdampak pada perusahaannya.
Tapi mau dihindari sekalipun, semuanya sudah terlanjur terjadi. Satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan atas kekacauan ini adalah dengan menghadapi, mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur terjadi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Pekerja rumah sudah menghidangkan makan malam di meja makan. Bella dan Hendry juga sudah duduk bersebelahan di depan meja. Keduanya bingung harus bagaimana membujuk Baskoro supaya mau turun dan makan malam bersama.
Bella tadi sudah mencoba mengetuk pintu kamar utama, mengajak Papanya makan malam. Tapi Papanya menolak.
Jadi Bella menyuruh salah satu asisten rumah tangga untuk membujuk Papanya.
"Bagaimana kalau Papa tidak mau makan.? Papa baru pulih, seharusnya makan dengan teratur untuk menjaga kesehatannya." Ucap Bella khawatir.
Sejak tadi Bella tampak gelisah, duduk saja terlihat tidak tenang dan selalu melirik ke arah pintu.
Hendry jadi ikut gelisah melihatnya. Dia juga cemas, takut Bella terlalu stress dan berdampak buruk pada kehamilannya.
"Kamu harus tenang, terlalu banyak pikiran juga tidak baik untuk kehamilan." Kata Hendry sambil mengusap-usap punggung Bella.
Bella mengangguk paham. Apa lagi Hendry sudah mengatakan hal yang sama berulang kali. Tapi tetap saja Bella tidak bisa tenang. Siapa yang bisa tenang setelah membuat kekacauan ini dan mengecewakan orang-orang baik di sekitarnya.
Papa Baskoro dan kedua orang tua Hendry, semuanya kecewa. Padahal mereka bertiga yang selama ini bersikap baik pada Bella.
Tak berselang lama, Bik Dina muncul setelah pergi membujuk Baskoro.
Bella menatap penasaran dan langsung menyodorkan pertanyaan padanya.
"Bagaimana Bik.? Papa mau makan bersama.?" Tanyanya antusias.
Bik Dina diam sesaat, kemudian menggeleng pelan.
"Tidak mau Non, tapi Tuan minta makan malamnya di antar ke kamar." Sahut wanita berusia 38 tahun itu.
__ADS_1
Bella mengangguk lesu, tapi dia juga lega karna Papanya mau makan meski tidak mau satu meja dengannya.
Bik Dina kemudian menyiapkan makan malam untuk di bawa ke kamar Baskoro. Dia juga yang mengantarkan makanan itu sesuai perintah Baskoro. Mungkin Baskoro benar-benar butuh ketenangan, jadi memilih tidak bertatap muka ataupun berinteraksi dengan Bella untuk beberapa saat.
Akhirnya Bella hanya makan berdua dengan Hendry. Bella tampak tidak semangat menghabiskan makan malamnya, namun Hendry selalu mengingatkan Bella supaya makan lebih banyak untuk menjaga asupan anak-anak di dalam rahimnya.
Sudah pukul 9 malam, Hendry memutuskan pulang. Tidak mungkin juga dia menginap di sana setelah mengakui kesalahannya. Bisa-bisa Baskoro semakin kesal padanya kalau sampai menginap di rumah itu.
Yang terpenting Bella sudah lebih tenang dan makan dengan baik. Jadi Hendry tidak merasa khawatir walaupun harus pulang.
"Jangan terlalu di pikirkan, jaga kualitas tidurmu agar tetap sehat."
"Masalah Papa, besok kita pikirkan sama-sama. Kita berdua yang berbuat, jadi jangan hanya membebani dirimu saja. Kita akan berbagi beban sama-sama." Kata Hendry seraya menarik Bella dalam dekapan dan mencium pucuk kepalanya.
Bella menyandarkan kepalanya sejenak, membagi beban yang terasa berat pada pelukan Hendry yang menenangkan dan membuatnya lebih baik. Kegelisahan dan kekhawatirannya seakan berkurang ketika Hendry memeluknya.
"Hati-hati di jalan." Lirih Bella setelah melepaskan pelukannya.
Hendry mengangguk, lalu menyuruh Bella agar masuk ke kamar untuk istirahat. Hendry melarang Bella mengantar sampai depan.
...*****...
Hendry selalu ada di sampingnya dan selalu mengatakan untuk berbagi beban serta menghadapi masalah bersama-sama. Bella jadi tidak terlalu stress menghadapi masalahnya.
Namun pagi ini ada yang mengganjal pikiran Bella, membuat Bella bangun lebih awal. Masih ada yang harus Bella selesaikan dengan Papanya.
Selama belum mendapatkan maaf dari Papanya, Bella merasa tidak bisa tenang.
Tokk,,,
Tokk,,
Tokk,,,
Bella sedikit cemas mengetuk pintu kamar orang tuanya. Sekarang masih jam setengah 7, tapi Bella yakin Papanya pasti sudah bangun.
Sejak dulu Papanya selalu bangun awal, sekalipun hari libur.
Sudah 5 menit Bella berdiri di depan pintu kamar itu, entah sudah berapa banyak mengetuk pintu dan memanggil-manggil Papanya, tapi tidak ada jawaban. Bella menghela nafas berat, mungkin Papanya belum bangun gara-gara kemarin sore mendengar kabar mengejutkan.
__ADS_1
"Non,, Non Bella cari Tuan.?" Seru Bik Lastri yang kebetulan lewat dan melihat Bella beranjak dari depan kamar utama.
Bella menoleh, lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Tuan sudah pergi setengah jam yang lalu Non, katanya ada urusan penting." Tutur Bik Lastri.
Bella menautkan alisnya. Urusan penting apa sampai pergi pukul 6 pagi, padahal sekarang hari sabtu. Bella jadi bertanya-tanya sendiri.
"Pergi kemana Bik.?"
Bik Lastri menggeleng.
"Tuan tidak bilang mau pergi kemana." Jawabnya.
Bella mengangguk paham, lalu berterimakasih sebelum masuk lagi ke kamarnya untuk menghubungi Hendry.
...*****...
"Tidak Baskoro.!! Aku tidak akan memilih.!" Pekik Natalie kesal.
Baskoro tersenyum kecut, dia duduk di kursi sambil menyilangkan kaki. Di depannya ada Natalie yang duduk di lantai dalam keadaan tangan terikat.
Tidak peduli meski wanita di depannya pernah menemani hidupnya selama 29 tahun, amarahnya pada Natalie jauh lebih besar daripada perasaannya terhadap istrinya itu.
Terlalu banyak kebohongan dan perbuatan buruk yang dilakukan oleh Natalie. Baskoro tidak bisa mentolerir lagi.
"Kenapa.?! Apa kamu tidak ingin menyusul kekasihmu di tahanan.?" Ujar Baskoro ketus.
Dia sudah menyuruh anak buahnya untuk membawa selingkuhan Natalie ke kantor polisi.
Baskoro tidak bodoh, dia memasang beberapa kamera cctv tersembunyi di kamar pribadinya sebelum pergi ke Amerika.
Dalam rekaman cctv itu, Baskoro mengetahui apa saja yang dilakukan oleh Natalie selama dia ada di Amerika.
Termasuk mengetahui percakapan Natalie dan pria itu sebelum keduanya melakukan kegiatan panas.
Natalie dan ayah biologis Julia telah merencanakan kejahatan, mereka ingin menculik dan melenyapkan Bella. Mereka juga berniat melenyapkan Baskoro untuk menguasai semua hartanya.
...*****...
__ADS_1