
Bella menatap nanar ke arah ranjang pasien di ruang VVIP itu. Julia terbujur lemah tak sadarkan diri dengan selang infus di tangannya. Wajah Julia tampak pucat, kusam dan tidak terawat. Jauh dari kata glowing. Padahal sebelumnya Julia biasa tampil dengan wajah glowing bak model kecantikan. Tapi kini, keadaan dan kondisi merubah penampilannya. Hal itu yang membuat Bella tak henti-hentinya menatap wajah Julia.
"Apa aku keterlaluan padanya.?" Lirih Bella pada suaminya. Pria yang berhasil dia goda dan akhirnya menceraikan Julia.
Lagi-lagi Bella selalu menyalahkan dirinya sendiri, merasa hanya dia penyebab kehancuran Julia. Bella lupa kalau Hendry juga ikut andil. Dan masih banyak lagi kejadian yang membuat Julia jadi seperti sekarang ini.
Hendry merangkul pundak Bella membawanya keluar untuk duduk di depan ruangan Julia. Dia khawatir Bella semakin kepikiran jika terlalu lama berada di dalam dan melihat kondisi Julia yang menyedihkan.
"Penyesalan dan rasa bersalah tidak ada gunanya, Bella." Ucap Hendry lembut.
"Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang bisa dirubah ataupun kembali. Lebih baik kamu fokus saja pada kehamilanmu, jangan membuat mereka merasakan beban pikiran sejak dini." Ujarnya menasehati.
Bella terdiam beberapa saat sebelum mengangguk samar. Dia paham, bahkan sangat mengerti bahwa penyesalan hanya sesuatu yang sia-sia, tapi melupakan kesalahan yang dia perbuat juga bukan perkara yang mudah. Sulit, bahkan sangat sulit. Terlebih untuk pertama kalinya Bella berbuat jahat pada seseorang.
"Ayo pulang, Papa sudah menunggu di lobby." Ajak Hendry sambil menyimpan ponselnya dalam saku celana setelah mendapat pesan dari Baskoro.
Keduanya kemudian beranjak dari sana untuk pulang. Julia biar di jaga oleh Bik Inah dan Zira secara bergantian. Tadi Baskoro baru saja menyelesaikan administrasinya sampai Julia di perbolehkan pulang dari rumah sakit.
Walaupun geram dengan kelakuan Natalie dan Julia, tapi Baskoro tidak bisa menutup mata dengan keadaan Julia saat ini. Itu sebabnya Baskoro yang akhirnya membayar administrasi rumah sakit. Dia melarang Hendry saat akan membayarnya.
...*****...
Bik Inah menatap iba pada majikannya. Julia memang menyebalkan, galak dan tempramen, tapi dalam kondisi lemah tak sadarkan diri seperti itu, Bik Inah jadi kasihan. Apalagi jika mengingat Hendry yang ternyata berselingkuh dengan Bella, bahkan sekarang mereka sudah menikah, kehidupan Julia terlihat sangat tragis di mata Bik Inah.
"Kalau saja Nyonya sedikit lebih baik, pasti tidak akan seperti ini." Lirih Bik Inah. Dia bukan membela perbuatan Hendry dan Bella, tapi mengingat perlakuan buruk dan kasarnya pada Bella, wajar saja kalau Bella jadi berniat jahat seperti itu.
Entah sudah berapa kali Julia mencekik, menampar dan mendorong Bella di depan para pekerja rumah yang lain. Perbuatannya tidak bisa di benarkan, terlebih Bella tidak melakukan kesalahan apapun saat itu. Tapi memang Julianya saja yang ingin menyiksa Bella.
Tokk,, tokk,, tokk,,,
Suara ketukan pintu membuat Bik Inah menoleh. Dia langsung berdiri saat melihat Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan. Bik Inah tersenyum seraya membungkukkan badan.
__ADS_1
"Ibu orang tuanya.?" Tanya Dokter.
Bik Inah menggeleng.
"Saya ART Dok, kedua orang tuanya di penjara." Lirihnya sendu.
Bik Inah juga sudah mengetahui semuanya, termasuk asal usul Julia dan permasalahan yang sedang menimpanya.
"Lalu siapa yang tadi datang ke ruang UGD.?" Tanyanya lagi. Tampaknya Dokter itu masih penasaran, terlebih dia merasa wajah Hendry dan Baskoro tidak asing. Seperti pernah melihat mereka di suatu acara-acara penting.
"Mantan Papa dan adik tirinya, lalu mantan suaminya." Jawab Bik Inah jujur. Bik Inah terlalu polos dalam menjawab pertanyaan dokter itu.
Dokter itu tampak mengangguk samar 2 kali. Sekarang dia paham kenapa kondisi pasiennya seperti ini, over dosis obat penenang. Rupanya permasalahan hidupnya cukup rumit.
"Tunggu 10 menit lagi, kalau masih belum bangun juga, kamu hubungi saya." Katanya pada perawat setelah memeriksa keadaan Julia yang belum sadarkan diri. Pasalnya sudah terlalu lama Julia tidur karna efek obat.
"Baik Dok."
"Hemm."
...*****...
Tak berselang lama, Julia membuka matanya perlahan. Wanita itu tampak linglung, dia mengamati ruangan yang didominasi warna putih tersebut dan menatap peralatan medis di sana. Tatapannya berakhir pada jarum infus yang menancap di punggung tangannya.
"Nyonya,, Nyonya sudah sadar." Bik Inah langsung beranjak dari sofa untuk menghampiri Julia, begitupun dengan perawat yang memang belum keluar dari ruangan Julia.
Dengan sigap, perawat itu langsung memeriksa kondisi Julia, memastikan kalau pasien baik-baik saja.
"Lepas.!!" Sentak Julia menepis kasar tangan suster tersebut.
Perawat itu tampak panik, pasalnya Julia bukan hanya membentak, tapi matanya juga melotot tajam dan wajahnya diselimuti amarah. Perawat itu mulai mencium sesuatu yang tidak beres, terlebih riwayat Julia pingsan karna over dosis obat penenang. Artinya Julia mengalami sedikit gangguan pada psikisnya. Tanda-tandanya Julia seperti akan mengamuk.
__ADS_1
"Nyonya, Nyonya harus diperiksa dulu." Ucap Bik Inah pelan. Dia tidak kaget lagi melihat Julia membentak dan berbuat kasar, bahkan sebelum sakit juga sudah seperti itu.
"Diam kamu, aku tidak sakit.!" Sahut Julia sewot.
Matanya langsung menatap selang infus, tatapannya seolah ingin melepaskan jarum infus itu dari tangannya.
Gerak gerik dan tatapan mencurigakan Julia bisa di tangkap oleh si perawat, dia lebih dulu menahan kedua tangan Julia sebelum berhasil di lepaskan oleh Julia.
"Apa yang kamu lakukan.! Beraninya memegang tanganku.! Cepat lepaskan.!" Teriak Julia penuh amarah.
"Bu, cepat panggil Dokter. Tekat tombol di sana." Titahnya pada Bik Inah.
Dengan sigap, Bik Inah langsung menekan tombol di dekap kepala ranjang untuk memanggil Dokter.
Melihat perawat itu kewalahan memegangi Julia, Bik Inah ikut membantu memenanginya. Keduanya tampak kewalahan, sampai akhirnya Dokter datang ke ruangan itu. Tapi keadaan Bi Inah dan perawat itu sudah tersungkur di lantai.
Ranjang tampak berantakan, satu bantal tergeletak di lantai dan jarum infus yang sudah lepas dari tangan Julia.
Wanita itu berniat kabur, tapi terlanjur ada yang datang dan menghalangi jalannya. Tentu hal itu membuat Julia sewot dan menatap tajam pada Dokter pria dihadapannya.
"Minggir.! Aku tidak sakit, aku mau pulang.!!" Teriaknya.
Dokter itu tidak menghiraukan ucapan Julia, dia malah bicara pada perawat dan Bik Inah agar keluar dari ruangan.
Begitu keduanya keluar, si Dokter langsung mengunci pintu.
"Hampir gila kau rupanya." Ucapnya dengan senyum miring.
"Kamu yang gila.! Dasar Dokter gila, buka pintunya.!!" Julia menarik-narik kerah jas Dokter itu. Sekuat tenaga menariknya, tapi Dokter itu tidak bergeser sedikitpun dari depan pintu karna kekuatan Julia tidak ada apa-apanya di banding tubuh tinggi dan besar itu.
"Hanya karna bercerai kamu hampir gila seperti ini.? Bukankah biasanya kamu bersenang-senang di club.?" Sindirnya.
__ADS_1
Kening Julia mengkerut, seketika menatap lekat wajah pria di depannya. Julia merasa tidak mengenalnya, tapi dari ucapannya, pria itu seolah mengenalnya.
"Tidak ingat padaku.? Kamu masih waras kan.?." Dia bukan meledek, tapi hanya tak habis pikir saja dengan wanita yang pernah dia lihat di salah satu club beberapa bulan lalu. Kondisinya benar-benar berbanding terbalik, dia bahkan hampir tidak mengenalinya. Butuh waktu lama untuk mengenali wajah wanita itu ketika berada di ruang UGD.