
Hendry keluar dari ruang pemeriksaan sembari menggendong Ale menggunakan tangan kirinya. Sementara itu, di sisi kanan Hendry ada Bella yang di gandeng. Istrinya itu seperti tidak boleh jauh-jauh, sampai kelihatan sangat erat menggandeng tangannya. Mungkin takut Bella hilang, hilang ke pelukan pria lain. Gandengan tangannya cukup posesif. Bella jadi tidak leluasa berjalan karna harus mengimbangi langkah suaminya.
"Langsung ke ruangan Julia ya." Pinta Bella. Hendry langsung menoleh, menatap istrinya dengan tatapan bingung. Hendry pikir, Bella akan berubah pikiran. Tapi rupanya masih bersikeras ingin menemui Julia dengan membawa Ale.
Bukan apa-apa, Hendry hanya mencemaskan Bella dan Ale. Siapa yang tau jika nanti Julia mengamuk saat melihat mereka.
Dari informasi yang Hendry dapat, emosi Julia belum stabil. Masih suka membuat keributan di ruangannya. Apalagi kalau ada Dokter atau perawat yang masuk, ada aja ulah Julia yang buat geleng-geleng kepala. Di tenangkan juga susah.
"Tapi jangan terlalu dekat, kita tidak tau apa yang akan dilakukan Julia jika melihat kita datang." Ujar Hendry mengingatkan. Bella mengangguk paham.
Mereka bertiga kemudian pergi ke ruangan Bella. Di depan ruangan tampak ada Bik Inah yang duduk di sofa. Bella dan Hendry saling menatap, heran karna Bik Inah malah menunggu di luar. Seharusnya di dalam, untuk memastikan Julia tidak melakukan sesuatu yang bisa melukai dirinya sendiri.
Bik Inah langsung berdiri saat melihat Bella dan Hendry datang bersama Ale. Wanita paruh baya itu tampak senang melihat Ale. Mungkin karna sudah lama tidak ketemu.
"Non Bella, Tuan,," Sapa Bik Inah.
Bella tersenyum dan mengangguk samar.
"Julia sama siapa Bik.?" Tanyanya.
"Itu Non, ada Pak Dokter di dalam. Tadi Nyonya Julia membuang makan siangnya, sekarang sudah dibawakan yang baru." Tuturnya.
Julia menolak saat akan di suapi makan siang oleh Bik Inah, malah mengambil makanan itu dari tangan Bik Inah dan membuangnya ke lantai.
Alhasil Bik Inah minta tolong pada perawat agar membatu membujuk Julia supaya mau makan siang, sayangnya bujukan perawat juga tidak mempan. Sampai akhirnya Arseno turun tangan.
Sementara itu di dalam ruangan, Julia terlihat malas-malasan mengunyah makanannya. Kalau bukan karna di ancam Dokter menyebalkan itu, Julia lebih memilih tidak makan.
"Sudah, aku sudah kebayang.!" Ujar Julia sewot.
Arseno bersecih. Kenyang apanya, baru makan 4 suap sudah bilang kenyang.
"Kamu minta di cium lagi ya.!" Ketus Arseno. Julia melirik dengan mata melotot tajam. Mengingat ciuman itu membuat emosi Julia naik lagi. Bisa-bisanya dia di cium pria asing, walaupun pria itu adalah Dokter yang merawatnya di rumah sakit tersebut.
"Lihat saja, aku akan melaporkanmu ke polisi karna sudah melecehkan pasien.!" Omel Julia sewot.
__ADS_1
Arseno hanya tersenyum miring, seolah mengejek Julia. Pria itu sama sekali tidak takut dengan ancaman Julia.
"Aku tidak main-main dengan ucapanku.!" Gerutu Julia saat melihat Arseno tersenyum mengejek.
"Ya, ya, laporkan saja kalau bisa." Jawab Arseno. Bukannya menenangkan Julia, jawaban Arseno malah membuat Julia makin geram.
Wanita itu mengangkat tangannya, ingin melayangkan pukulan pada Dokter yang lumayan tampan itu.
Sebelum tangan Julia mengenai tubuh Arseno, pria itu sudah lebih dulu menahan tangan Julia. Arseno cukup waspada, apalagi sudah terbiasa menangangi pasien yang suka mengamuk seperti Julia.
"Bilang saja kalau ingin dicium, tidak usah cari perhatian seperti ini." Kata Arseno dengan percaya diri, dia malah sengaja membuat Julia senewen.
"Dasar Dokter mesum, Dokter sinting.!" Maki Julia kesal. Dia menarik paksa tangannya dari genggaman Arseno, lalu memilih berbaring memungggungi dokter itu. Lama-lama bukannya stress dengan masalah hidup yang meneimpanya, Julia malah stress dengan kelakuan Arseno. Bahkan Julia sampai lupa dengan masalah hidupnya setiap kali berhadapan dengan Arseno.
"Habiskan dulu makanannya." Arseno menarik pundak Julia, hanya sekali tarikan, Julia sudah menghadap ke arahnya.
"Jangan sampai aku menciummu lagi." Bisik Arseno. Julia mendadak cemberut, entah kenapa tiba-tiba menuruti perkataan Arseno. Julia kembali mengubah posisinya dengan duduk bersadar di ranjang, lalu menerima suapan dari Dokter yang sudah seperti perawat pribadinya itu.
Tokk,,,
Tokk,,
Suara ketukan pintu membuat Arseno meletakkan makanan diatas nakas dan beranjak membukakan pintu. Pintunya memang sengaja dikunci, bukan karena ingin berbuat macam-macam pada Julia, hanya saja Arseno khawatir ada yang memergokinya sedang menyuapi Julia. Bisa-bisa ada gosip hangat kalau sampai itu terjadi.
Bella dan Hendry menatap heran saat mendengar seseorang membuka kunci dari dalam. Pikirannya jadi travelling, kenapa pakai dikunci segala ruangannya.?
Keduanya semakin curiga saat Dokter itu membuka pintu dan memasang wajah tak suka.
"Saya ingin bertemu Julia." Ucap Bella sopan.
Tanpa mengatakan apapun, Arseno membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan ketiga orang itu masuk ke dalam.
Mata Julia membelalak sempurna. Ada amarah dan perasaan yang berkecamuk ketika melihat Hendry datang bersama Bella dan membawa Ale.
Wanita itu ingin mengamuk pada Hendry dan Bella karna sudah menghancurkan hidupnya, tapi saat melihat Ale yang senyum-senyum ke arahnya, perasaan Julia mendadak melow. Matanya sampai berkaca-kaca. Sudah lama dia tidak melihat putrinya. Putri yang dulu dia abaikan, sekarang menjadi satu-satunya penyemangat dan penguat bagi Julia.
__ADS_1
"Aku membawa Ale, semoga kamu cepat sehat agar bisa berkumpul dengan Ale lagi." Ucap Bella. Dia ingin lebih dekat lagi pada Julia, tapi Hendry menahannya.
"Kenapa.?! Apa kamu tidak mau merawat Ale setelah mengambil Daddynya.?!" Sinis Julia.
Bella menggeleng, dia justru senang bisa merawat Ale dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Apalagi sejak dulu Bella memang sudah jatuh hati pada balita menggemaskan itu, tidak peduli meski Julia sangat jahat padanya.
"Aku justru senang kalau bisa merawat Ale." Jawab Bella.
Julia berdecih.
"Omong kosong.! Kamu benar-benar mengerikan.!" Sinisnya tak percaya.
Bella tidak menanggapi omongan Julia, dia malah ingin mengambil Ale dari gendongan Hendry untuk diberikan pada Julia.
"Biar aku saja yang memberikan Ale." Lirih Hendry. Bella mengangguk patuh.
Hendry menghampiri Julia dan mendudukkan Ale di pangkuan mantan istrinya itu.
"Sepertinya keluarga kecil kita memang tidak ada artinya dimatamu.!" Sinis Julia pada Hendry, tapi matanya fokus menatap wajah Ale.
Hendry menghela nafas berat, dia menahan diri untuk tidak terpancing. Padahal Julia lebih dulu bersikap seperti itu, seolah-olah keluarga kecil mereka tidak berarti sampai mengabaikan Ale. Tidak mau mengurus Ale, tidak pernah mementingkan Ale dan hanya sibuk pada teman-temannya saja.
"Ale membutuhkan Mommynya, kamu harus sehat." Ucap Hendry.
Julia tersenyum miris sembari membelai wajah putrinya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain Ale. Semua orang meninggalkannya.
"Kamu dan wanita itu yang membuatku jadi seperti ini.!" Julia menatap tajam.
"Hentikan omong kosongmu, aku sudah cukup sabar dengan sikapmu beberapa minggu terakhir pada Bella. Jangan berteriak seolah-olah hanya kamu korbannya. Ingat baik-baik kesalahan apa saja yang sudah kamu perbuat di belakangku. Terlebih saat berlibur ke Paris.!" Hendry menekankan kalimat terakhirnya. Julia langsung memaku. Dia langsung ingat perbuatannya dengan Rexy saat di Paris. Jangan-jangan Hendry sudah tau semuanya.
"Kita tunggu di luar saja." Lirih Hendry pada Bella, dia menggandeng tangan Bella dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
Sejak tadi Arseno diam di tempat, dia berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Tapi belum sepenuhnya paham dengan permasalahan mereka.
Sekarang pria itu malah membisu melihat Julia menciumi balita dalam dekapannya. Arseno cukup terkejut, ternyata selain sudah pernah menikah, Julia juga sudah punya anak.
__ADS_1