
Nasi sudah menjadi bubur, putranya terlanjur menghamili adik tirinya sendiri, malah hamil kembar sekaligus. Mau bagaimana lagi.? Tidak mungkin Farah menyuruh menggugurkan dua janin yang tidak berdosa itu. Pernikahan Hendry dan Julia juga terlanjur berantakan, retak dan tidak bisa di satukan lagi.
Sekarang Farah hanya bisa pasrah menerima garis takdir putranya, tapi bukan berarti Farah mendukung putranya dalam masalah ini. Sekalipun Hendry adalah darah dagingnya, Farah tidak mau membenarkan apalagi mendukung perbuatan Hendry yang keliru.
Sesuatu yang salah akan tetap salah, walaupun kesalahan itu di lakukan oleh darah dagingnya sendiri.
"Kalian masih berhutang penjelasan dan maaf pada Pak Baskoro." Ujar Farah mengingatkan. Sejujurnya Farah dan Sudibyo lebih memikirkan perasaan dan kondisi Baskoro jika tau kelakuan putri dan menantunya yang tidak bisa menahan godaan nafsu bi rahi. Sampai mengadon hingga membuahkan hasil.
Dalam keadaan sakit keras, kabar itu mungkin akan lebih menyakitkan untuk Baskoro.
Farah bahkan tidak bisa membayangkan seandainya dia punya anak gadis yang hamil di luar nikah, hamil dengan suami orang lain pula. Pasti sulit untuk menerima kenyataan. Belum lagi harus menanggung malu lantaran putrinya tidak bisa menjaga diri.
"Kami akan membicarakan hal ini setelah kesehatan Papa Baskoro pulih." Jawab Hendry.
Farah tidak bicara lagi, dia beranjak dari ruang keluarga. Ada kekecewaan dan amarah yang tidak bisa Farah luapkan, jadi Farah memilih meredam sendiri untuk sesaat dengan pergi dari hadapan Hendry dan Bella.
"Sebaiknya kalian jangan terlalu sering bertemu kalau urusan dengan Julia belum selesai. Selesaikan dulu satu-satu supaya jelas." Tutur Sudibyo yang baru buka suara.
Sebagai seorang pria, Sudibyo tidak bisa se ekspresif istrinya ketika menghadapi permasalahan putra mereka. Jika Farah bisa menyampaikan unek-uneknya, Sudibyo hanya bisa menelan bulat-bulat untuk dirinya sendiri. Jadi dia tidak terlalu banyak berkomentar.
"Aku harus memastikan Bella dan anak-anakku baik-baik saja." Sahut Hendry.
Dia merasa harus selalu berada di samping Bella, menemani wanita berusia 22 tahun itu yang sedang mengandung anak-anaknya. Bella masih terlalu muda menjalani kehamilan, jika Hendry tidak sering menemui Bella, bagaimana wanita itu akan melewati kehamilannya.
"Kamu bisa menanyakan kabar lewat telfon, tidak harus dengan bertemu."
"Apa yang akan orang lain katakan kalau sering melihat kalian bersama.? Pikirkan juga dempak ke depannya." Kata Sudibyo. Pria paruh baya itu berusaha menghindari gosip di luaran sana tentang kedekatan Hendry dan Bella. Pasalnya orang-orang hanya tau kalau Hendry dan Julia masih baik-baik saja.
"Akan aku pertimbangkan." Ucap Hendry yang tidak sepenuhnya setuju dengan perkataan sang Papa.
...*****...
Hendry menggendong Ale, dia membawanya ke ruang keluarga untuk di bawa bertemu Bella. Tadi Bella sempat berbisik pada Hendry saat hanya ada mereka berdua di ruang keluarga. Bella minta bertemu dengan keponakannya itu.
Senyum Bella merekah ketika melihat Ale.
"Berikan padaku." Bella berdiri dan mengambil Ale dalam gendongan Hendry.
__ADS_1
Hendry agak worry melihat Bella menggendong Ale di perutnya. Takut anak kembarnya kenapa-kenapa. Masalahnya tubuh Ale sangat gembul, kehamilan Bella juga masih rawan karna baru beberapa minggu.
"Sayang, lebih baik duduk saja." Tegur Hendry seraya menggiring Bella agar duduk lagi di sofa. Bella menurut, kini Ale duduk di pangkuannya.
Balita itu terus memandangi wajah Bella, menatap lekat seperti sedang mengingat-ingat wajahnya. Ale mungkin sedikit lupa pada Bella setelah hampir 2 minggu tidak bertemu.
Tapi kebingungan Ale tidak berlangsung lama, dia dengan cepat mengenali Bella setelah di ajak bicara dan bercanda.
"Kamu semakin lucu saja." Bella mencium gemas pipi chubby Ale.
"Tih,, tih,," Ujar Ale sambil menyentuh wajah Bella dengan jemarinya yang berdaging.
"Ya sayang, Aunty disini." Tidak tahan melihat tatapan polos Ale dengan mata yang berbinar, Bella langsung memeluknya dan. menggoyang-goyangkan Ale dalam dekapannya. Anak itu terkekeh senang, suara tawanya terdengar lepas.
Mendengar tawa cucunya, Farah buru-buru mengintip dari kejauhan. Dia ikut tersenyum bahagia melihat cucunya bisa tertawa lepas lagi seperti itu.
Ketulusan hati Bella pada Ale memang tidak perlu diragukan lagi, itu sebabnya Ale sangat nyaman dan terlihat bahagia saat bersama Bella.
Hendry tidak tahan hanya melihat keseruan mereka saja, dia tiba-tiba merentangkan kedua tangannya dan menarik Bella serta Ale dalam dekapan.
Mungkin belum puas mendapat nasehat dari orang tuanya, jadi berusaha melakukan kesalahan lagi supaya kembali di nasehati.
"Lepas Mas, bagaimana kalau di lihat Mama atau Papa." Protes Bella memelas.
Hendry langsung melepaskan dekapannya lantaran merasa bersalah. Bella pasti takut terlihat semakin buruk di depan orang tua Hendry.
Tapi percuma saja Hendry buru-buru melepaskan pelukannya, Farah sudah terlanjur melihat.
Wanita itu sampai geram sendiri melihat tingkah putranya. Disini jadi terlihat siapa yang gatel. Putranya itu mungkin sudah tergila-gila dengan dara muda yang masih fresh.
"Aku dan Sudibyo bahkan tidak seperti itu saat muda. Anak itu sebenarnya mirip siapa.!" Gerutu Farah yang memilih pergi dari sana, dia tidak mau sakit jantung melihat kelakuan putranya.
...******...
Bella masih ada di rumah orang tua Hendry hingga menjelang makan malam. Sebenarnya Bella sudah minta pulang, karna tidak nyaman dan masih malu pada orang tua Hendry. Tapi tidak di ijinkan pulang sebelum makan makan malam, alhasil Bella tidak pernah jauh-jauh dari Hendry agar tidak di ajak bicara berdua dengan Farah. Bella takut di interogasi.
Pintu kamar Ale di ketuk, Farah masuk ke dalam tanpa menunggu jawab.
__ADS_1
Bella langsung bergeser, menjaga jarak dengan Hendry begitu melihat Farah datang. Khawatir Farah berfikir macam-macam, meskipun di dalam ada Ale jga.
"Makan malam dulu, Ale biar sama Mbak." Kata Farah, lalu membuka pintu kamar Ale lebih lebar dan menyuruh ART supaya menjaga Ale di kamar.
Bella dan Hendry tidak protes, kini mereka sudah duduk di meja makan bersama Farah dan Sudibyo dengan posisi berhadapan.
Piring milik Bella sudah terisi dengan makanan. Dia hanya mengambil secukupnya, paling sedikit di antara ketiga orang itu. Bella sebenarnya bisa makan 3 kali lipat lebih banyak karna nafsu makannya sudah meningkat sejak dekat lagi dengan Hendry. Sayangnya situasi saat ini tidak mendukung untuk makan lebih banyak. Bella merasa canggung, ini saja karna dipaksa Hendry supaya makan malam bersama keluarganya.
Farah melirik piring Bella, porsi makannya sudah seperti Ale, sangat sedikit.
Farah mengambil potongan ikan salmon yang paling besar dan meletakannya di atas piring Bella.
"Kamu sedang hamil, harus makan lebih banyak." Ucap Farah. Ekspresinya tampak biasa saja, lalu fokus ke piringnya sendiri.
Bella sampai mengulum senyum. Bella pikir Farah tidak akan peduli padanya karna masalah ini, apalagi sikap Farah jadi jutek dan dingin padanya. Tapi diam-diam Farah sangat perhatian. Bella jadi terharu menatap potongan salmon di piringnya.
Dia bersyukur karna kedua anak dalam kandungannya tidak di benci oleh Farah, justru di perhatikan.
"Terimakasih Mah,," Ucap Bella tulus.
Farah hanya mengangguk samar dan sibuk menyantap makan malamnya.
Sekesal dan se kecewa apapun perasaan orang tua pada anaknya, tidak mungkin
seorang nenek tega mengabaikan cucunya sendiri. Walaupun Hendry menghamili wanita di luar nikah, anak kembar itu tetap keturunan Sudibyo. Ada darah mereka yang mengalir dalam janin tersebut.
...******...
Hendry sesekali mengusap pucuk kepala Bella sambil menyetir. Dia cukup lega melihat Bella lebih ceria setelah bertemu dengan kedua orang tuanya. Pikirannya mungkin sudah plong, bebannya berkurang setelah mengakui kesalahannya di depan kedua orang tu Hendry.
"Aku senang melihatmu ceria seperti ini." Ujar Hendry.
Bella menoleh, lalu melempar senyum lebar seolah ingin menunjukkan bahwa suasana hatinya memang sedang baik.
"Mama peduli dengan anak-anak ku, aku merasa lega sekarang." Kata Bella memberi tau.
"Tentu saja, mereka juga cucunya." Sahut Hendry seraya mengusap lembut perut Bella dengan sayang.
__ADS_1