Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 65


__ADS_3

Bella sudah tertidur pulas dari 1 jam yang lalu. Padahal suasana di kamarnya sedikit berisik karna Hendry sedang rapat. Tapi sepertinya Bella tidak terganggu sama sekali, justru tertidur pulas setelah hampir setengah jam mendengarkan Hendry bicara di depan laptop.


Mungkin karena sangat merindukan Hendry, jadi ketika mendengar Hendry rapat dengan bawahannya, Bella merasa sedang di bacakan dongeng pengantar tidur. Sekarang Bella bisa tidur nyenyak setelah beberapa hari kesulitan tidur.


Apalagi aroma parfum maskulin Hendry sudah menguar di seluruh sudut kamar, seolah menjadi aroma terapi yang menenangkan di indera penciuman Bella. Tidak heran kalau sekarang Bella tidur dengan damai dan nyaman.


Ternyata obat dari segala kegelisahan Bella akhir-akhir adalah Hendry. Kedatangan Hendry seolah menjadi obat paling ampuh untuk mengusir kegelisahan yang membuat jam istirahat Bella juga ikut berantakan.


"Sampai disini saja, akhiri rapatnya. Jika ada yang ingin di tanyakan, langsung temui asisten ataupun sekretaris saya." Ucap Hendry mengakhiri rapat dan memutuskan sambungannya.


Hendry kemudian buru-buru menyimpan kembali laptopnya dan beberapa berkas yang ikut di masukan juga ke dalam tas. Karna setelah ini dia harus pergi menemui rekan bisnisnya yang sengaja datang dari Singapura.


Sebenarnya jadwal Hendry hari ini memang cukup padat, untungnya rapat tadi dan pekerjaan yang lain masih bisa Hendry handle di luar perusahaan.


Jadi setelah bertemu dengan rekan bisnisnya, Hendry bisa kembali lagi ke rumah ini.


Beranjak dari tempatnya, Hendry mendekati Bella di ranjang sambil mengukir senyum. Hati dan perasaannya mendadak lebih tenang ketika melihat Bella tidur dengan nyenyak.


Hendry memberanikan diri mengecup pucuk kepala Bella dan memberikan usapan lembut pada perutnya. Hanya seperti itu saja sudut bibir Hendry langsung mengukir senyum lebar, sorot matanya tampak berbinar karna bahagia. Pada akhirnya bisa bertemu dengan Bella, memastikan kondisinya baik-baik dan bisa dekat dengan mereka bertiga tentunya.


Hendry sempat membetulkan selimut Bella, menariknya sampai sebatas bahu sebelum keluar dari kamar. Pria itu lalu mencari keberadaan ART yang ternyata sedang memasak untuk makan siang.


"Tuan butuh sesuatu.?" Bik Dina langsung menghampiri Hendry ketika menyadari kedatangan pria tersebut.


"Tidak. Saya akan keluar sebentar, ada urusan penting." Tutur Hendry.


"Bella sedang tidur, tolong hubungi saya kalau dia sudah bangun." Ucapnya sembari menyodorkan secarik kertas berisi nomor ponselnya.


"Baik Tuan,," Bik Dina sudah mengambil kertas itu dari tangan Hendry dan sempat melihatnya sekilas.


Pria yang memakai setelan jas itu kemudian bergegas pergi dari dapur setelah menitip pesan pada ART.


"Akhirnya Nona Bella bisa istirahat juga." Seloroh Bik Lastri yang mendengar percakapan Hendry dengan Bik Dina.


Dia merasa lega ketika majikannya bisa tidur. Sedangkan di hari-hari sebelumnya, Bella kesulitan tidur sampai muncul kantung mata yang sedikit menggelap.

__ADS_1


"Ternyata dugaan kamu benar juga Lastri, Nona Bella memang kangen sama Papanya kembar." Kata Bik Dina yang pada akhirnya percaya dengan dugaan Bik Lastri sejak beberapa hari lalu.


Kini mereka berdua ikut merasa lega ketika Bella dan Hendry bisa bertemu, walaupun mereka tidak tau seperti apa permasalahan mereka yang sebenarnya. Sekalipun tau bahwa Hendry sudah menikah dengan Kakak tiri Bella, tapi kedua ART itu berusaha untuk tidak berfikir buruk pada Bella. Karna sudah belasan tahun mereka mengenal Bella, jadi sudah tau bagaimana watak aslinya.


...******...


"Wanita itu.! Apa dia sering keluyuran seperti ini sampai tidak tau waktu.?!" Gerutu Farah di depan beberapa pekerja rumah Hendry.


Farah geram pada menantunya itu karna dari semalam sampai siang ini Julia belum kembali ke rumah.


Tiga orang ART itu hanya bisa menundukkan kepala. Mereka sebenarnya bisa saja membongkar tabiat buruk Julia selama ini, namun sadar diri dengan posisinya. Lagipula mereka juga takut kalau harus memperkeruh keadaan rumah tangga majikannya, jadi memilih diam saja.


"Ya ampun.!! Mereka berdua membuatku sakit kepala." Keluh Farah seraya memijat pelipisnya dan beranjak dari dapur.


Semalam, Farah sengaja datang ke rumah Hendry untuk mendamaikan anak dan menantunya itu. Berencana menginap beberapa hari sekalian menjaga Ale. Tapi saat tiba di sana, Hendry dan Julia malah tidak ada di rumah.


Farah bahkan baru tau kalau Hendry sudah tidak tinggal di rumah itu lagi sejak beberapa hari yang lalu. Hendry hanya datang untuk bertemu Ale saja selama beberapa jam, lalu pergi lagi.


Sementara dengan Julia, entah kemana perginya wanita itu. Katanya Julia hanya pamit pergi bertemu dengan teman-temannya, tapi malah tidak pulang sampai siang bolong begini. Bagaimana Farah tidak geram.


...******...


Entah berapa kali mereka merengkuh kenikmatan bersama. Mulai dari di club malam, sampai akhirnya tengah malam Rexy membawa Julia ke apartemen yang dia sewa sejak datang ke Indonesia. Lalu mereka kembali melanjutkan percintaan panasnya sampai pagi.


Tidak heran kalau keduanya baru bangun sesiang ini.


"Kamu tidak ingin melakukannya sekali lagi.? Aku suka membuatmu menge ram nikmat semalaman." Bisik Rexy dengan tangan yang mulai menjalar kemana-mana. Apalagi kondisi Julia masih ter lan jang bulat, jadi tangan Rexy bisa meraih benda favoritnya dengan mudah tanpa hambatan.


"Dasar maniak.! Aku sudah tidak sanggup lagi." Dengan sedikit kesal, Julia menyingkirkan tangan Rexy dari dadanya.


"Kalau begitu biar aku saja yang bekerja." Rexy langsung melempar selimut yang menutupi tubuh Julia, lalu mengambil posisi di atasnya.


Seketika Julia tidak bisa berkutik saat Rexy mengungkungnya dan memberikan serangan mendadak yang cukup rakus.


Awalnya Julia menolak, tapi terpengaruh juga dengan sentuhan Rexy yang memabukkan. Pria itu benar-benar pemain, dari dulu sampai sekarang kemampuannya semakin menggila saja.

__ADS_1


Di bawah kungkungan Rexy, Julia hanya bisa menikmati setiap hujaman yang membuatnya melayang. De sa han demi de sa han saling bersautan. Terkadang mulut Julia tanpa sadar memuji Rexy dan memohon agar melakukannya lebih cepat.


Dua sejoli itu sedang dimabuk gairah, tidak ada kata bosa mengeksplor tubuh masing-masing dan menikmatinya.


...******...


Di apartemen yang sama, Hendry sedang bertemu dengan rekan bisnisnya dari Singapura yang mempunyai 50 persen saham di apartemen tersebut. Di temani sekretarisnya, Hendry membahas soal kerja sama mereka dengan beberapa pihak penting pendiri apartemen.


Mereka ingin menggaet perusahaan Hendry untuk bergabung dengan proyek baru mereka, yaitu membangun pusat perbelanjaan di samping apartemen tersebut.


"Setelah lahan di kosongkan, kami akan segera melakukan proses selanjutnya." Kata Hendry.


"Paling lambat satu bulan dari sekarang lahan itu sudah kosong. Semua pemilik tahan sudah setuju dengan harga yang kami tawarkan." Kata salah satu dari pihak pendiri Mall.


"Baik, orang-orangku yang akan mengurus prosesnya nanti."


"Kalau begitu kami permisi, terimakasih atas jamuan makan siangnya." Hendry beranjak dari duduknya, di susul oleh sekretarisnya.


"Terimakasih Tuan Hendry, senang berbisnis denganmu." Ujarnya seraya menjabat tangan Hendry, begitu juga dengan yang lain.


Di antar salah satu dari mereka, Hendry di sekretarisnya keluar dari ruangan khusus tersebut yang terletak di lantai paling atas. Mereka juga turun menggunakan lift khusus.


Ketika sampai di lobby, Hendry menghentikan langkah karna melihat sosok wanita yang dia kenal.


Ya, dia adalah Julia. Wanita yang masih berstatus sebagai istrinya. Di sebelahnya ada seorang pria yang merangkul mesra pinggang Julia.


"Tuan.? Apa yang tertinggal.?" Bisik Darren, sekretaris Hendry.


Hendry menggeleng, tapi dia membisikkan sesuatu pada Darren. Pria itu agak terkejut, tapi kemudian menganggukkan kepala.


"Langsung kirimkan padaku jika sudah dapat rekamannya." Kata Hendry lalu bergegas meninggalkan Darren.


Sementara itu, Darren kembali naik untuk menemui orang-orang tadi karna ada pekerjaan penting yang harus dia selesaikan.


...******...

__ADS_1


Bella sudah bangun setengah jam yang lalu. Dia berdiri di balkon kamarnya meski udara di luar cukup panas. Wajahnya tampak murung, tidak seperti sebelumnya. Semua itu gara-gara keberadaan Hendry yang entah sekarang ada di mana. Pria itu tiba-tiba pergi tanpa pamit setelah datang tanpa di undang, membuat Bella jadi kesal dan gelisah sendiri.


__ADS_2